Sehari sebelum pernikahan, hujan turun tanpa henti sejak pukul empat pagi.
Valeri sampai di panti pukul sembilan dan langsung tahu bahwa rencana mereka selesai. Halaman panti tergenang sampai mata kaki. Tenda utama bocor di tiga titik, dan air mengumpul di atas kainnya seperti perut yang menggantung, siap jatuh kapan saja. Seorang petugas menusuk genangan itu dengan galah, dan air tumpah ke kursi-kursi yang sudah disusun rapi sejak kemarin.
Perkiraan cuaca menunjukkan badai akan berlangsung sampai esok siang.
"Kami punya solusi," kata ketua panitia, sambil menunjukkan layar ponselnya. "Hotel milik rekan Pak Jason. Ballroom-nya kosong besok. Mereka bersedia menyiapkan malam ini juga."
Semua mata berpindah ke Jason.
Ia berdiri di bawah atap teras, rambutnya basah di bagian depan, tangan di saku. Ia tidak mengeluarkan ponsel. Tidak menelepon siapa pun. Tidak memesan apa pun diam-diam.
"Bagaimana?" tanya Valeri.
"Ini hari kita berdua," jawabnya. "Tapi tempatnya kau yang pilih sejak awal. Aku menunggu."
Valeri memandangi halaman yang tergenang, lalu memandangi anak-anak yang berdiri berjajar di teras dengan wajah cemas, seolah merekalah yang bersalah karena langit bocor.
"Aku ingin menikah di panti," katanya. "Tapi aku tidak ingin anak-anak serta tamu kehujanan hanya demi mempertahankan gambaran sempurna."
Kepala panti berdeham. "Ada aula sekolah lama di belakang bangunan utama," katanya. "Sudah lama tidak dipakai. Catnya kusam, ruangannya sempit. Tapi atapnya kokoh. Tidak pernah bocor sekali pun."
Mereka berjalan ke sana beramai-ramai menembus hujan. Aula itu berbau debu dan kayu tua. Lantainya kelabu, dindingnya penuh bekas tempelan poster, dan di sudut ada tumpukan bangku yang kakinya sudah karatan.
Valeri berdiri di tengah ruangan, memutar badan sekali.
"Ini muat," katanya.
Anak-anak langsung bergotong royong membersihkannya bahkan sebelum ada yang memberi aba-aba. Sapu, ember, lap, kain pel—semuanya muncul entah dari mana. Seorang anak laki-laki berumur sepuluh tahun berteriak mengatur teman-temannya seperti mandor.
Jason melepas jas, menggulung lengan kemeja, dan ikut memindahkan bangku. Para direktur yang datang untuk membantu berdiri kaku di pintu, jelas terkejut melihat CEO mereka mengepel lantai dengan celana bahan yang basah sampai lutut.
"Kalau ada yang memotret, aku akan menyangkalnya," kata Jason.
"Aku sudah memotret," jawab Alena sambil mengangkat telepon.
"Hapus."
"Tiga puluh dua foto, Kak. Salah satunya kau sedang memeras kain pel dengan ekspresi orang menandatangani kontrak."
Jason menyerah dan kembali bekerja.
Salah satu direktur akhirnya melepas dasinya juga, lalu yang lain mengikuti. Dalam setengah jam, enam orang yang biasanya hanya duduk di ruang rapat lantai dua puluh sudah berjongkok mengelap kaki bangku dengan koran bekas.
"Ini akan jadi cerita kantor selama sepuluh tahun," gumam salah satu dari mereka.
"Dua puluh," sahut Jason tanpa menoleh.
Menjelang malam, aula berubah. Kain putih menutupi dinding yang kusam. Lampu-lampu kecil dipasang di langit-langit oleh dua pengasuh yang naik tangga sambil berdebat soal jarak pemasangan. Bunga dari halaman—yang selamat dari genangan—ditempatkan dalam botol kaca bekas sirop dan disusun di sepanjang lorong tengah.
Tempat itu tidak megah. Tetapi ketika lampu dinyalakan dan semua orang diam sebentar untuk melihat hasilnya, Valeri merasa ruangan itu dipenuhi jejak tangan orang-orang yang menyayangi mereka.
"Lebih bagus dari tenda," kata seorang anak perempuan.
"Jauh lebih bagus," jawab Valeri.
Kepala panti menyuruh semua orang berhenti pukul delapan dan memaksa mereka makan nasi bungkus di lantai aula. Tidak ada yang menolak. Anak-anak duduk melingkar, seseorang menyalakan radio kecil, dan untuk beberapa saat tempat itu terasa seperti perayaan yang sudah dimulai lebih awal.
Ia pulang ke rumah orang tuanya sesuai rencana. Hujan masih turun ketika Jason mengantarnya ke mobil, memegangi payung dengan miring sehingga bahunya sendiri basah.
Sebelum berpisah, Jason terlihat ingin mengatakan sesuatu. Ia membuka pintu mobil, lalu menutupnya lagi setengah.
"Apa?" tanya Valeri.
"Kau masih bisa berubah pikiran," katanya akhirnya. "Tentang pernikahan, bukan hanya tempatnya. Aku akan tetap menghormati keputusanmu."
Hujan mengetuk payung di atas mereka. Valeri menatap lelaki yang dahulu selalu yakin bahwa keinginannya adalah keputusan akhir—lelaki yang dulu memindahkannya ke mansion tanpa bertanya, yang mengatur jadwalnya, yang mengira melindungi berarti menentukan. Kini Jason berdiri basah di halaman panti dan memberinya jalan keluar bahkan pada malam sebelum pernikahan.
"Kau mau aku berubah pikiran?" tanyanya.
"Tidak," jawab Jason cepat. "Sama sekali tidak. Tapi aku ingin kau tahu pintunya tidak dikunci."
"Aku tidak ingin keluar," jawab Valeri. "Aku ingin masuk ke aula itu besok dan menikah denganmu."
Jason tersenyum lega, senyum yang membuat wajahnya tiba-tiba terlihat jauh lebih muda. "Baik. Sampai besok."
"Sampai besok. Ganti bajumu, kau basah kuyup."
"Aku CEO. Aku kebal flu."
"Kau bersin dua kali sejak tadi."
Di kamar lamanya, Valeri sulit tidur. Kamar itu masih sama seperti bertahun-tahun lalu: rak buku yang sudah miring, stiker bintang di langit-langit yang tinggal separuh, dan lemari yang pintunya berderit kalau dibuka cepat.
Ia membuka kotak peninggalan ibunya, menyentuh foto Larasati, lalu meletakkannya berdiri di meja. Di sebelahnya tergeletak dua kunci: kunci apartemen pertamanya—yang dulu ia genggam erat-erat setiap kali pulang malam—dan kunci rumah yang kini dimiliki bersama Jason.
Dua kunci itu terlihat sederhana. Tetapi jarak di antara keduanya adalah seluruh hidupnya.
Pintu diketuk pelan. Ibunya masuk membawa segelas susu hangat dan duduk di tepi ranjang.
"Takut?" tanyanya.
"Sedikit."
"Takut apa?"
Valeri memandangi langit-langit. "Takut aku kembali menjadi orang yang mengalah terus-menerus. Takut aku hilang pelan-pelan di dalam hidupnya."
Ibunya mengusap rambutnya. "Takut bukan tanda keputusanmu salah. Kadang-kadang itu tanda keputusanmu besar."
"Ibu takut waktu menikah dengan Ayah?"
"Setengah mati. Aku menangis di kamar mandi selama dua puluh menit." Ibunya tertawa kecil. "Lalu aku keluar, dan tiga puluh lima tahun berlalu."
"Bagaimana Ibu tahu itu keputusan yang benar?"
"Aku tidak tahu," jawab ibunya. "Tidak ada yang tahu. Yang bisa kaupastikan cuma satu: apakah kau masih boleh bicara jujur di rumah itu. Kalau jawabannya iya, sisanya bisa diperbaiki sambil jalan."
Valeri bersandar di bahu ibunya dan membiarkan dirinya diam di sana lama sekali. Di luar, hujan masih mengetuk jendela dengan irama yang tidak berubah sejak pagi. Ia tidak tahu apakah matahari akan muncul saat upacara dimulai.
Namun ia tidak lagi membutuhkan langit cerah sebagai pertanda. Besok ia akan berjalan menuju Jason bukan karena membutuhkan seseorang untuk menyelamatkannya, melainkan karena mereka telah belajar berjalan bersebelahan.