Hujan belum berhenti ketika Valeri bangun pada hari pernikahannya.
Ia membuka mata pukul lima dan hal pertama yang didengarnya adalah air di talang. Langit berwarna kelabu rata, tanpa satu pun celah terang. Di kamar sebelah, ibunya sudah bangun dan menyetrika sesuatu.
Ibunya masuk membawa gaun yang tergantung di pundak, lalu berdiri di ambang pintu sambil memandangi hujan.
"Tidak akan berhenti," kata Valeri.
"Biar saja," jawab ibunya. "Yang penting atapnya tidak bocor."
Tetapi aula sekolah di belakang panti tetap dipenuhi kesibukan sejak subuh.
Anak-anak menempelkan hiasan terakhir dengan lem yang menempel di jari mereka sendiri. Alena berjalan di antara barisan kursi sambil memeriksa bunga di botol kaca, menggeser satu-dua botol yang menurutnya miring, lalu menggesernya kembali karena ternyata tidak miring. Ethan membantu memasang papan penunjuk dan menyusun batako sebagai jalan setapak agar tamu tidak menginjak halaman yang berlumpur.
Mira datang paling awal di antara para tamu. Ia memakai kebaya sederhana berwarna cokelat muda dan duduk di barisan paling belakang bersama orang tua Valeri, tampak gugup dan berusaha tidak mengambil tempat yang bukan miliknya. Setiap kali ada orang lewat, ia menggeser duduknya sedikit ke pinggir.
Ibu Valeri akhirnya menepuk tangannya. "Duduk saja yang benar, Bu Mira. Kursinya memang untuk Ibu."
Jason menunggu di depan ruangan dengan setelan sederhana—abu-abu yang akhirnya ia pilih, tanpa bunga di saku, tanpa jam mahal. Ia berdiri terlalu tegak, dan Alena harus berbisik menyuruhnya bernapas.
Ketika Valeri masuk menggandeng kedua orang tuanya, suara hujan di atap seolah menjadi musik yang tidak pernah mereka rencanakan. Tidak ada organ, tidak ada biola. Hanya air yang jatuh rata di atas seng, dan suara langkah di lantai kayu tua.
Valeri berhenti di ujung lorong.
Ia melihat semuanya sekaligus: anak-anak yang berdiri di kursi supaya bisa melihat, Alena yang sudah menangis padahal acara belum dimulai, kain putih di dinding yang di satu sudut terpasang agak miring, dan Jason yang menatapnya seperti orang yang lupa caranya berkedip.
Dulu ia pernah berjalan mendekati Jason dengan ketakutan bahwa lelaki itu akan menentukan seluruh hidupnya—ke mana ia tinggal, dengan siapa ia bicara, kapan ia boleh pulang. Hari ini ia melangkah karena keputusannya sendiri, dan perbedaan itu terasa sampai ke telapak kakinya.
Ayahnya menyerahkan tangan Valeri kepada Jason, lalu menahan tangan itu sebentar lebih lama.
"Jaga dia," katanya.
"Saya akan mendengarkannya," jawab Jason. "Itu janji yang lebih bisa saya tepati."
Ayahnya mengangguk, puas.
Mereka mengucapkan janji yang ditulis masing-masing di kertas yang sudah lecek karena berkali-kali dilipat.
"Aku tidak berjanji akan selalu tahu cara melindungimu," kata Jason. Suaranya bergetar di kata ketiga, dan ia berhenti sebentar. "Aku berjanji akan bertanya apa yang kau butuhkan, mendengar jawabanmu, dan menghormatinya bahkan ketika aku takut."
Valeri menahan air mata. Ia menunduk sebentar, menarik napas, lalu mengangkat wajahnya.
"Aku tidak berjanji tidak akan pernah takut atau menjauh," katanya. "Aku berjanji akan mengatakan ketika aku takut, memberi kita kesempatan untuk memperbaiki kesalahan, dan tetap menjaga diriku saat mencintaimu."
Di barisan belakang, terdengar suara ibu Valeri membuang ingus ke sapu tangan.
Saat cincin dipasang, listrik aula padam.
Ruangan itu langsung gelap. Anak-anak berseru bersamaan—setengah kaget, setengah senang karena akhirnya ada kejadian seru. Beberapa detik kemudian, semua lampu telepon dinyalakan sekaligus, dan aula berubah menjadi lautan titik-titik putih kecil yang goyang.
Jason tertawa. Tawanya terdengar jelas di antara suara hujan.
"Sepertinya hidup kita memang tidak menyukai acara yang berjalan sesuai rencana," bisiknya sambil memasukkan cincin ke jari Valeri dengan cahaya dari ponsel seorang anak berumur tujuh tahun.
"Setidaknya kali ini tidak ada sabotase."
"Jangan menyebutnya. Nanti dia datang."
Generator menyala beberapa menit kemudian dengan suara berdengung dari halaman belakang. Lampu kembali hidup, dan semua orang bertepuk tangan seolah itu bagian dari acara.
Mereka menandatangani dokumen pernikahan di atas meja tua milik panti—meja yang permukaannya penuh goresan nama anak-anak yang pernah belajar di situ. Penghulu menahan kertasnya dengan dua tangan supaya tidak bergeser. Tidak ada panggung mewah atau kamera televisi, hanya orang-orang yang mengetahui betapa panjang perjalanan mereka menuju hari itu.
Di acara makan siang, yang digelar di ruang makan panti dengan meja panjang dan nasi kotak, Mira mendekat sambil memegang sesuatu di telapak tangannya.
"Ini milik ibumu," katanya. "Aku menyimpannya terlalu lama."
Gelang kain itu terlihat semakin kecil di ruangan yang terang. Valeri menerimanya. Kain itu terasa ringan sekali, hampir tidak ada, dan ujungnya sudah berjumbai. Ia mengikatkannya pada tangkai buket bunganya dengan simpul sederhana, dua kali, supaya tidak lepas.
"Terima kasih, Bu."
Mira menunduk. "Aku tidak berani minta lebih dari hari ini."
Valeri memeluknya singkat. Pelukan itu kaku pada detik pertama, lalu melunak sedikit sebelum berakhir. Itu bukan pengampunan atas seluruh tahun yang hilang, tetapi sebuah awal—dan keduanya sama-sama tahu itu.
Hujan mereda menjelang sore. Awalnya hanya menjadi gerimis, lalu berhenti sama sekali, meninggalkan suara tetesan dari ujung atap.
Anak-anak berlari ke halaman tanpa menunggu izin, langsung menginjak genangan, membuat lumpur menempel sampai ke lutut. Tidak ada satu pun orang dewasa yang melarang.
Matahari muncul di antara awan tepat ketika Jason serta Valeri keluar dari aula. Cahayanya rendah dan kekuningan, memantul di genangan air, membuat seluruh halaman berkilat.
"Kau melihatnya sebagai pertanda?" tanya Jason.
Valeri menggeleng. "Tidak. Kalau hujannya tetap turun, aku juga tetap menikah denganmu."
Jason menoleh kepadanya. "Kau tahu, kau benar-benar tidak romantis."
"Aku realistis."
"Itu yang kubilang tadi."
Ia menggenggam tangan Valeri, dan mereka berdiri sebentar di teras, membiarkan anak-anak berfoto dengan ponsel Alena sampai baterainya hampir habis.
Mereka meninggalkan panti tanpa iring-iringan panjang. Hanya satu mobil, dikemudikan Jason sendiri, dengan sandal Valeri yang basah ditaruh di lantai kursi belakang. Beberapa anak berlari mengejar sampai ujung gang, lalu berhenti dan melambai.
Di dalam mobil, Valeri melepas sanggulnya, menyandarkan kepala di bahu suaminya, dan memejamkan mata.
"Capek?" tanya Jason.
"Sangat."
"Kita belum menentukan mau ke mana."
"Ke rumah," kata Valeri. "Rumah kita."
Hari itu bukan akhir bahagia yang menutup segala persoalan. Itu adalah hari pertama bagi dua orang yang akhirnya memahami bahwa janji cinta harus hidup dalam keputusan-keputusan setelah pesta selesai.