Bulan madu mereka hanya berlangsung lima hari di sebuah vila tenang di daerah pegunungan. Tidak ada jadwal, tidak ada pemandu, tidak ada foto yang harus diunggah. Pagi pertama mereka habiskan dengan tidur sampai pukul sepuluh, sesuatu yang belum pernah dilakukan Jason sejak umur dua puluh tiga.
Pada hari kedua, Valeri terbangun dan mendapati sisi ranjang sebelahnya kosong. Ia mendengar suara air dari kamar mandi, lalu kembali memejamkan mata.
Empat puluh menit kemudian, suara air masih terdengar.
Ia turun dari ranjang, berjalan pelan, dan berhenti di depan pintu. Tidak ada uap. Tidak ada bau sabun. Yang ada hanya suara pancuran yang mengalir ke lantai kosong—dan suara ketikan.
Ponsel Jason jatuh ke lantai keramik tepat ketika lelaki itu berusaha keluar tanpa suara. Bunyinya nyaring sekali.
Valeri berdiri di ambang pintu, bersedekap.
"Kau bilang sedang mandi," katanya.
"Aku memang berniat mandi setelah menjawab satu pesan."
"Satu pesan selama empat puluh menit?"
Jason membuka mulut, lalu menutupnya. Ia memungut ponselnya, memeriksa layarnya yang retak di sudut, lalu menyerahkannya kepada Valeri.
"Maaf," katanya. "Itu memang bukan satu pesan."
"Berapa?"
"Dua puluh tiga. Dan satu panggilan yang kumatikan karena kau bergerak di kasur."
Valeri menatapnya lama. Ia bisa marah, dan Jason jelas sedang menunggu kemarahan itu. Tapi ia justru mengambil ponsel itu, menekan tombol daya sampai layarnya gelap, lalu meletakkannya di laci meja rias.
"Sampai kita pulang," katanya.
"Sampai kita pulang," ulang Jason.
Ia menepati janjinya, meskipun pada hari ketiga Valeri memergokinya sedang menatap laci itu seperti orang yang sedang berpuasa menatap kulkas.
Kehidupan sebenarnya dimulai ketika tiga koper memenuhi kamar tidur rumah baru.
Jason terbiasa memiliki staf yang merapikan barang. Koper akan hilang dari kamarnya dalam satu jam, dan pakaiannya muncul tergantung rapi, disetrika, diurutkan berdasarkan warna. Ia tidak pernah bertanya siapa yang melakukannya.
"Kita panggil saja orang," katanya di hari pertama.
"Tidak," jawab Valeri. "Kamar tidur itu ruang kita berdua. Aku tidak mau ada orang asing yang lebih tahu isi lemariku daripada aku sendiri."
Jason menghabiskan dua jam berikutnya belajar bahwa menggantung kemeja ternyata membutuhkan keputusan.
"Berdasarkan warna atau bahan?" tanyanya dari dalam lemari.
"Terserah kau."
"Aku tidak suka jawaban itu."
"Aku tahu," kata Valeri sambil melipat bajunya sendiri. "Tapi kalau aku yang menentukan, nanti kau mencariku setiap kali butuh dasi."
Jason menggantungnya berdasarkan warna, lalu mengubahnya berdasarkan bahan, lalu mengembalikannya lagi ke warna.
Perdebatan pertama sebagai pasangan menikah terjadi karena sebuah panci kotor.
Jason meninggalkannya di bak cuci sebelum berangkat rapat—panci bekas merebus mi, airnya masih ada setengah, dengan bumbu yang mulai mengeras di pinggirnya. Valeri pulang larut malam setelah menyelesaikan tiga pertemuan berturut-turut. Ia masuk ke dapur untuk mengambil air, menyalakan lampu, dan berhenti.
Bak cuci penuh. Kompor berbekas tumpahan. Bungkus mi masih di meja.
Ia tidak membereskannya. Ia duduk di ruang tamu, menunggu Jason menyadarinya.
Jason pulang setengah jam kemudian, melewati dapur, membuka lemari es, mengambil air, menutup lemari es, lalu duduk dan membuka laptop.
"Kau tidak melihat sesuatu?" tanya Valeri.
Jason memandang sekeliling dengan dahi berkerut. "Tanamannya perlu disiram?"
Sesuatu di dada Valeri putus.
"Panci itu sudah di sana sejak pagi," katanya.
"Ya, dan besok pagi akan dicuci."
"Oleh siapa?"
"Oleh siapa pun yang lewat duluan."
"Yang lewat duluan selalu aku."
Jason menutup laptopnya. "Valeri, ini satu panci."
"Ini bukan satu panci."
"Lalu ini soal apa? Aku bekerja empat belas jam hari ini."
"Aku juga bekerja," kata Valeri, suaranya naik. "Bedanya aku pulang lalu bekerja lagi, dan kau pulang lalu istirahat, dan kau tidak pernah sadar karena seumur hidupmu ada orang yang membereskannya sebelum kau bangun."
Percakapan itu berubah menjadi pertengkaran tentang pekerjaan rumah, staf, dan siapa yang lebih sibuk. Dua kalimat berikutnya sudah tidak ada hubungannya dengan panci sama sekali.
Lalu Jason berdiri, berjalan ke jendela, dan berkata, "Berhenti. Aku hampir mengatakan sesuatu yang bodoh."
Valeri menutup mulutnya. Dadanya masih naik turun, tetapi ia mengangguk.
Mereka tidur dengan punggung saling membelakangi malam itu, dan keduanya sama-sama tidak nyenyak. Pukul dua pagi, Valeri mendengar suara air mengalir di dapur. Ia tidak bangun untuk melihat. Paginya, panci itu sudah bersih tetapi diletakkan terbalik di tempat yang salah, dan entah kenapa hal itu justru membuat dadanya sesak.
"Kau mencucinya tengah malam," katanya saat sarapan.
"Aku tidak bisa tidur."
"Itu bukan penyelesaian."
"Aku tahu," kata Jason. "Tapi aku belum tahu apa penyelesaiannya."
Dalam sesi konseling berikutnya, mereka menyadari panci itu memang bukan sekadar panci.
Bagi Valeri, rumah bersama berarti tanggung jawab bersama; kalau ia mengerjakan semuanya sendiri, rumah itu perlahan berubah menjadi tempat kerja tanpa upah. Bagi Jason, pekerjaan rumah selama ini tidak terlihat karena selalu dikerjakan orang lain—ia tidak sedang malas, ia benar-benar tidak melihatnya.
"Kau tidak bisa membagi sesuatu yang tidak kau anggap ada," kata konselor.
Jason mencatat kalimat itu. Benar-benar mencatat, di ponselnya.
Mereka membuat pembagian tugas, ditulis di kertas dan ditempel di pintu lemari es dengan magnet berbentuk nanas. Jason belajar mencuci—mesin cuci sempat berbusa sampai ke lantai pada percobaan pertama—memasak dua menu sederhana, dan memesan layanan kebersihan hanya setelah dibicarakan berdua.
Valeri juga berjanji satu hal: menyampaikan kekesalan sebelum mengubahnya menjadi ujian diam-diam.
"Kau menungguku gagal malam itu," kata Jason.
"Ya," aku Valeri. "Dan aku merasa menang saat kau gagal. Itu tidak sehat."
Seminggu kemudian Jason memamerkan panci bersih dengan bangga, mengangkatnya seperti piala.
"Aku juga membersihkan kompornya," katanya.
"Kau ingin penghargaan?"
"Sebuah ciuman cukup."
Valeri menciumnya, lalu menunjuk tumpukan pakaian yang belum dilipat di sofa.
"Itu juga bagian dari perjanjian," katanya.
"Aku baru saja diberi ciuman."
"Anggap itu uang muka."
Jason mengerang, tetapi tetap duduk dan mulai melipat—dengan cara yang salah, sehingga semua kausnya berbentuk gulungan aneh. Valeri membiarkannya.
Pernikahan mereka ternyata lebih banyak berisi jadwal belanja dan perdebatan suhu pendingin ruangan daripada makan malam romantis. Ada malam ketika mereka bertengkar soal siapa yang lupa membeli beras. Ada pagi ketika cucian putih berubah merah muda karena satu kaus kaki.
Anehnya, Valeri menyukai kehidupan biasa itu.
Di dalam rumah tersebut, ia tidak menjadi calon istri CEO atau perempuan yang harus diselamatkan. Ia menjadi pasangan yang boleh marah karena panci, tertawa karena cucian berubah warna, dan membangun kebiasaan bersama seorang lelaki yang mau belajar.