Hari pertama Valeri memimpin program Asia dimulai tanpa kantor mewah.
Gedung permanen belum selesai direnovasi, sehingga timnya bekerja dari ruang sementara di lantai tiga sebuah bangunan lama: meja lipat, kursi plastik, satu pendingin ruangan yang berbunyi seperti sedang batuk, dan jaringan internet yang terputus rata-rata empat kali sehari.
Valeri datang membawa laptopnya sendiri dan sebuah stopkontak cabang lima, karena di ruangan itu hanya ada tiga colokan.
"Maaf, Bu," kata staf administrasi. "Seharusnya gedungnya sudah jadi dua bulan lalu."
"Tidak apa-apa. Meja lipat juga meja."
Sebagian anggota tim mengenalnya dari berita sebagai istri Jason. Ia tahu itu dari cara mereka melirik, dari kalimat yang berhenti tiba-tiba saat ia lewat, dari satu orang yang bertanya sopan apakah "Pak Jason" akan berkunjung.
Valeri tidak mencoba menghapus kenyataan itu.
Dalam rapat pertama, ia berdiri di depan papan tulis putih yang spidolnya kering dan berkata terus terang, "Saya tahu sebagian dari kalian membaca nama saya di berita hiburan sebelum membaca berkas lamaran saya. Saya tidak bisa mengubah itu."
Beberapa orang tersenyum canggung.
"Yang bisa saya atur adalah ini," lanjutnya. "Penilaian kerja di tim ini berlandaskan hasil, bukan nama pasangan siapa pun—termasuk nama pasangan saya. Kalau ada keputusan saya yang kalian curigai dipengaruhi orang luar, katakan langsung. Saya tidak akan tersinggung. Saya akan menunjukkan berkasnya."
Tidak ada yang bertanya hari itu. Tetapi tiga minggu kemudian, seorang analis muda benar-benar mempertanyakan salah satu keputusannya di rapat terbuka, dan Valeri menyadari bahwa itu tanda baik.
Tantangan pertama datang dari proyek pendidikan di sebuah pulau terpencil.
Mitra lokal mengirim surat keberatan sepanjang empat halaman. Isinya mengeluhkan rancangan yang dibuat kantor Jenewa tanpa memahami kebutuhan penduduk. Mereka diminta membangun ruang kelas digital lengkap dengan dua puluh komputer dan papan pintar—padahal listrik di pulau itu hanya menyala beberapa jam setiap hari, biasanya dari pukul enam sore sampai tengah malam.
"Anak-anak sekolah pagi," kata kepala desa dalam sambungan telepon yang putus dua kali. "Komputernya nanti menyala waktu mereka sudah tidur."
Valeri menunda pencairan dana pada hari itu juga, lalu memesan tiket untuk pergi meninjau lokasi.
Perjalanannya dua jam pesawat, empat jam mobil, dan satu setengah jam kapal kayu. Ia sampai dengan sepatu basah dan rambut kaku karena angin laut. Sekolah itu ternyata bangunan dua ruang dengan papan tulis yang catnya sudah mengelupas, dan dua puluh tujuh anak yang duduk berdesakan.
"Kalau ada komputer, anak-anak mau belajar apa?" tanya Valeri kepada guru di sana.
"Apa saja, Bu," jawab guru itu. "Asal bisa dinyalakan."
Keputusan itu membuat atasannya kesal karena dianggap menghambat target tahunan.
"Laporan pusat menyatakan proyek siap," kata seorang direktur melalui panggilan video, dengan latar belakang kantor Jenewa yang rapi.
"Laporan itu tidak membuat listrik menyala," jawab Valeri. "Saya berdiri di sekolahnya kemarin. Kabelnya ada, tiangnya ada, tapi genset desa kehabisan solar tiga hari sekali."
"Target kuartal kita—"
"Saya paham target kuartal," potongnya. "Tapi kalau kita mencairkan dana sekarang, enam bulan lagi kita akan punya ruangan berisi dua puluh komputer berdebu dan satu foto peresmian yang bagus. Kita tidak boleh membangun sesuatu hanya agar terlihat bagus di presentasi."
Sambungan itu berakhir dengan dingin, dan Valeri sempat duduk lama menatap layar yang sudah gelap, memikirkan berapa banyak orang yang akan menyebut keputusannya sebagai kegagalan di laporan tahunan.
Lalu ia membuka dokumen baru. Malam itu ia menulis ulang seluruh proposal sampai pukul dua pagi.
Ia mengubah rencana menjadi pusat belajar bertenaga surya: panel di atap, baterai penyimpan, sepuluh komputer hemat daya alih-alih dua puluh, dan ruang baca yang bisa dipakai meskipun listrik desa mati total. Ia juga melibatkan guru setempat dalam pengelolaannya—bukan sebagai penjaga, tetapi sebagai pemegang keputusan harian, lengkap dengan pelatihan perawatan panel.
Biayanya sedikit lebih besar. Tetapi fasilitas itu dapat digunakan tanpa menunggu jaringan listrik nasional yang entah kapan sampai.
Jason mendengar persoalan itu saat makan malam. Ia sedang mengupas mangga ketika nalurinya segera bekerja.
"Aku mengenal pemasok panel surya yang bisa memberi harga khusus," katanya. "Mereka berutang budi padaku sejak proyek pabrik."
Valeri meletakkan sendok.
"Apakah kau sedang menawarkan kontak atau mencoba masuk ke proyekku?"
Jason berhenti mengupas. Ia berpikir sejenak—benar-benar berpikir, bukan sekadar menyiapkan jawaban yang enak didengar.
"Menawarkan kontak," katanya akhirnya. "Tapi aku akan menyimpan nomornya kecuali kau meminta."
"Terima kasih."
"Itu jawaban yang benar, kan?"
"Itu jawaban yang benar," kata Valeri. "Dan aku tetap tidak akan memintanya."
Jason mengangguk, lalu kembali mengupas mangga dengan ekspresi orang yang baru saja lulus ujian yang tidak ia ketahui sedang berlangsung.
Valeri akhirnya memakai proses tender terbuka. Pengumumannya dipasang di situs lembaga, syaratnya sama untuk semua, dan penilaiannya dilakukan tim yang tidak boleh ia pengaruhi.
Perusahaan yang dikenal Jason ikut mendaftar. Mereka kalah di penilaian teknis karena tidak menyertakan pelatihan perawatan untuk guru setempat.
Jason menerima hasilnya tanpa menelepon siapa pun. Ia hanya berkomentar singkat saat membaca pengumumannya, "Mereka memang malas membuat modul pelatihan," lalu berganti topik.
Tiga bulan kemudian pusat belajar dibuka.
Hari itu panas dan berdebu. Panel di atap memantulkan matahari sampai orang harus memicingkan mata. Di dalam, sepuluh komputer menyala serentak pukul sembilan pagi, jam yang selama bertahun-tahun tidak pernah ada listrik di pulau itu.
Anak-anak menyalakan komputer untuk pertama kalinya menggunakan listrik dari atap. Seorang anak perempuan menekan tombol daya, mundur satu langkah ketika layarnya menyala, lalu tertawa keras sampai seluruh ruangan ikut tertawa.
Valeri berdiri di belakang ruangan, bersandar di dinding, membiarkan guru desa memimpin acara. Ketika panitia menawarkan mikrofon kepadanya, ia menggeleng dan menunjuk kepala sekolah.
Foto pembukaan tersebar di media daerah dan dua media nasional. Yang disebut di dalamnya: nama lembaga, nama sekolah, nama guru yang mengelola, dan nama koperasi ibu-ibu yang menyediakan konsumsi. Nama Jason tidak disebut satu kali pun.
Saat melihat berita itu di ponselnya, ia mengirim pesan singkat.
"Aku bangga kepada Direktur Valeri. Boleh aku mentraktirnya makan malam?"
Valeri membalas, "Boleh. Asalkan tidak membeli restorannya."
"Aku sudah sembuh dari kebiasaan itu."
"Buktikan dengan membayar pakai kartu, bukan akta."
Ia menyimpan ponselnya, lalu kembali menatap ruangan yang penuh suara anak-anak. Meja kerja barunya masih meja lipat, pendingin ruangannya masih berbunyi seperti batuk, dan internetnya masih putus empat kali sehari.
Meja kerja baru itu mungkin sederhana, tetapi di sanalah Valeri membuktikan bahwa dirinya tidak membutuhkan bayang-bayang siapa pun untuk menciptakan perubahan.