Kesehatan Jason membaik. Hasil pemeriksaan terakhir menunjukkan angka-angka yang akhirnya kembali ke batas aman, dan dokter menyampaikannya sambil tersenyum tipis, seperti orang yang sudah terbiasa memberi kabar baik dengan hati-hati.
Namun yang menempel di kepala Jason justru kalimat setelahnya.
"Tubuh Anda sudah memberi peringatan sekali," kata dokter. "Peringatan kedua biasanya tidak sesopan yang pertama."
Sejak sore itu, ada pertanyaan yang tidak mau pergi dari kepalanya. Bukan pertanyaan tentang obat atau jadwal kontrol, melainkan pertanyaan yang jauh lebih sederhana dan justru lebih sulit: berapa lama lagi ia ingin menjadi pusat dari setiap keputusan di JYS Corp?
Selama bertahun-tahun jawabannya selalu sama, yaitu selamanya. Ia membangun perusahaan itu dari ruangan sewaan dengan pendingin rusak. Ia hafal bunyi lift di lantai delapan belas. Ia tahu meja mana yang kakinya goyang sejak tahun kedua dan tidak pernah benar-benar diperbaiki.
Tetapi sekarang, setiap kali ia membuka kalender kerjanya, Jason melihat sesuatu yang dulu tidak pernah ia lihat, yaitu bahwa hampir tidak ada satu pun baris di sana yang ia pilih karena menginginkannya.
Dewan menawarkan perpanjangan masa jabatan lima tahun. Suratnya datang dalam map kulit, disertai kalimat pembuka yang sopan dan angka-angka yang menyenangkan.
Dulu Jason pasti menandatanganinya tanpa berpikir. Ia bahkan mungkin menandatanganinya di dalam mobil, di antara dua pertemuan, sambil menelepon orang lain.
Kini ia meminta waktu.
Map itu tergeletak di meja ruang kerjanya di rumah selama hampir dua minggu. Valeri melihatnya setiap malam, tetapi tidak pernah bertanya lebih dulu. Ia menunggu sampai Jason sendiri yang membuka pembicaraan.
Malam itu hujan turun pelan di luar jendela. Jason duduk dengan map yang masih tertutup, jarinya mengetuk-ngetuk sampulnya.
"Kalau aku mundur, orang akan mengira aku sakit atau perusahaan sedang bermasalah," katanya kepada Valeri.
Valeri meletakkan cangkirnya. "Mungkin. Tapi keputusan hidupmu tidak harus dibentuk oleh dugaan orang."
"Dugaan orang menggerakkan harga saham."
"Harga saham bergerak karena banyak hal. Salah satunya kepercayaan bahwa perusahaanmu bisa berjalan tanpa satu orang." Valeri menatapnya. "Kau yang selalu bilang begitu di depan karyawan baru."
Jason tertawa kecil. "Aku tidak menyangka kalimatku sendiri akan dipakai untuk menyerangku."
"Aku tidak menyerangmu. Aku hanya mengingatkan."
Ia mulai menghitung kemungkinan lain. Menjadi ketua non-eksekutif, menyerahkan jabatan CEO kepada Niko. Tetap hadir di ruang dewan, tetapi berhenti menjadi orang yang harus memutuskan warna sampul laporan tahunan.
Perubahan itu akan memberinya waktu untuk mengembangkan yayasan panti yang selama ini hanya ia sentuh di sela-sela jadwal. Juga waktu untuk mendampingi perusahaan rintisan sosial yang sering meminta pertemuan, lalu ia batalkan karena ada rapat lain yang dianggap lebih penting.
"Kalau aku melakukannya," katanya pelan, "aku tidak tahu siapa aku di hari Senin pagi."
Valeri mendekat dan duduk di lengan kursinya. "Kau akan tahu. Mungkin tidak di Senin pertama. Tapi kau akan tahu."
Beberapa komisaris menentang.
Mereka menganggap nama Jason masih menjadi jaminan kepercayaan investor. Salah satunya bahkan mengatakan Niko belum memiliki wibawa sebesar pendiri perusahaan, dan ia mengatakannya di depan Niko, tanpa merasa perlu menurunkan suara.
Niko tidak menjawab. Wajahnya datar, tetapi jarinya mengeras di atas pulpen.
Dalam rapat dewan berikutnya, Jason menjawab dengan tenang. Ia tidak meninggikan suara, tidak menggebrak meja, tidak melakukan hal-hal yang dulu menjadi tanda tangannya di ruangan itu.
"Kalau JYS Corp hanya dipercaya ketika saya duduk di kursi ini, berarti saya gagal membangun perusahaan," katanya.
Ruangan sunyi cukup lama.
"Selama dua puluh tahun saya memastikan semua jalan bermuara ke meja saya," lanjut Jason. "Saya pikir itu tanda saya bekerja keras. Ternyata itu tanda saya tidak pernah membangun jalan cadangan."
Komisaris yang tadi bicara keras menunduk ke berkasnya.
Niko menoleh kepada Jason dengan pandangan yang sulit dibaca. Nanti, di lift, ia baru berkata satu kalimat.
"Pak, saya belum tentu sebaik Bapak."
"Bagus," jawab Jason. "Yang saya khawatirkan justru kalau kau ingin jadi sepertiku."
Transisi diumumkan enam bulan kemudian.
Harga saham sempat turun. Dua hari pertama Jason memaksa dirinya tidak membuka aplikasi bursa, dan gagal setiap dua jam sekali. Lalu Niko memaparkan rencana kerjanya di hadapan analis, lengkap dengan angka, tenggat, dan bagian yang jujur ia akui belum siap.
Harga saham kembali stabil. Jason membaca laporan itu di dapur, masih memakai sandal rumah, dan merasa lega dengan cara yang aneh, seperti orang tua yang melihat anaknya menyetir sendiri untuk pertama kali.
Pada hari terakhirnya sebagai CEO, staf memenuhi lobi.
Jason mengira akan ada acara resmi. Ia sudah menyiapkan pidato tiga paragraf, sudah memilih dasi yang tidak terlalu mencolok, sudah menghitung berapa lama ia harus berdiri agar semuanya terasa pantas.
Tetapi yang terjadi bukan itu.
Layar besar di lobi menyala, lalu memutar kumpulan video tentang kebiasaannya. Tentang rapat mendadak yang ia panggil pukul sepuluh malam. Tentang caranya mengoreksi presentasi sampai huruf terakhir. Tentang kebiasaannya lupa makan siang, lalu ditemukan minum kopi ketiga di ruang pantry.
Ada bagian ketika seorang staf junior menirukan cara Jason mengangkat alis sebelum bertanya. Seluruh lobi tertawa. Jason ikut tertawa, meski telinganya terasa panas.
Valeri datang tanpa memberi tahu. Ia berdiri di antara karyawan, di barisan ketiga, bukan di panggung. Jason baru menyadarinya di menit terakhir video.
Setelah menyerahkan kartu akses CEO kepada Niko, Jason menghampirinya. Kartu itu kecil, plastik biasa, tetapi tangannya terasa aneh setelah tidak memegangnya.
"Sekarang kau menikah dengan pengangguran," katanya.
"Ketua non-eksekutif bukan pengangguran."
"Jam kerjanya jauh lebih sedikit." Jason menaikkan alis. "Aku mungkin mulai mengganggumu di kantor."
"Aku punya petugas keamanan."
"Aku kenal mereka semua."
"Mereka lebih takut padaku sekarang."
Malam itu Jason menyimpan papan nama CEO di lemari, di antara kotak sepatu dan map lama. Ia sempat berdiri agak lama di depan lemari yang terbuka, menunggu sesuatu yang berat datang.
Tidak ada kesedihan besar seperti yang ia takutkan.
Jabatan itu pernah menjadi hampir seluruh identitasnya. Dulu, kalau seseorang bertanya siapa dirinya, jawabannya selalu berupa nama perusahaan. Kini ia memiliki kehidupan yang tidak berhenti ketika pintu kantor tertutup.
Valeri tetap memanggilnya Boss sesekali, terutama ketika ingin menggodanya. Biasanya saat Jason terlalu lama memilih sayur di pasar, atau saat ia berusaha mengatur ulang isi lemari es.
Bedanya, gelar itu tidak lagi berarti Jason berkuasa atas siapa pun. Gelar tersebut menjadi pengingat tentang lelaki yang pernah belajar bahwa kepemimpinan terbaik juga mencakup keberanian untuk menyerahkan kursi.