Pertanyaan itu pertama kali muncul dalam makan malam keluarga.
Mejanya panjang, penuh mangkuk, dan terlalu banyak orang berbicara sekaligus. Seorang kerabat Jason yang duduk di ujung tiba-tiba mengangkat suaranya di sela tawa.
"Jason, kapan kalian memberi kami cucu? Usia itu tidak menunggu, lho."
Sendok Valeri berhenti di udara sepersekian detik. Ia tersenyum, senyum yang kaku dan sopan, senyum yang sudah ia latih sejak remaja untuk menutupi hal-hal yang tidak ingin ia bagi.
Jason segera menjawab, "Itu bukan urusan meja makan, Om."
"Aku hanya bertanya."
"Dan aku hanya menjawab."
Suasana kembali ramai setelah seseorang menawarkan sup. Tidak ada yang membahasnya lagi.
Namun pertanyaan itu tetap mengikuti mereka pulang. Ia duduk di kursi belakang mobil sepanjang perjalanan, ikut masuk ke rumah, dan tidak mau keluar.
Valeri melepas antingnya di depan cermin tanpa berkata apa-apa. Jason melonggarkan dasi dengan gerakan yang terlalu lambat.
Selama ini mereka selalu menunda pembicaraan tentang anak. Selalu ada alasan yang sah. Ancaman George. Pekerjaan yang tidak pernah selesai. Pernikahan yang harus dirapikan lebih dulu.
Kini kehidupan mulai stabil, dan justru di situlah masalahnya. Alasan untuk menunda habis, tetapi keinginan mereka sendiri belum jelas.
Valeri takut menjadi ibu yang tidak cukup baik.
Ia tidak pernah mengatakannya dengan lantang, bahkan kepada Jason. Masa kecilnya membuat kata keluarga terasa indah sekaligus rapuh, seperti gelas tipis yang bagus dipajang tetapi selalu membuat tangan waspada. Ia tahu bagaimana rasanya dititipkan. Ia tidak tahu bagaimana rasanya menjadi tempat seseorang dititipkan selamanya.
Jason menginginkan anak. Ia yakin soal itu. Yang tidak ia yakini adalah dirinya sendiri.
"Aku takut jadi ayahku," katanya suatu malam, hampir berbisik. "Dia tidak memukul. Dia hanya mengatur segalanya sampai tidak ada yang tersisa untuk dipilih."
"Kau sudah tidak seperti itu."
"Aku masih seperti itu kalau sedang takut."
Mereka membahasnya dalam konseling. Ruangannya kecil, ada tanaman di sudut, dan kotak tisu yang selalu penuh.
Tidak ada tuntutan untuk segera mengambil keputusan. Konselor justru meminta mereka membedakan keinginan pribadi dari tekanan keluarga serta masyarakat.
"Coba jawab tanpa membayangkan siapa pun di meja makan," katanya. "Kalau tidak ada yang bertanya, apa yang kalian inginkan?"
Keduanya diam cukup lama.
"Aku ingin," kata Valeri akhirnya. "Tapi aku tidak tahu apakah aku menginginkannya, atau aku hanya tidak ingin mengecewakan orang."
"Itu dua hal yang berbeda," kata konselor. "Dan tidak apa-apa kalau Anda belum bisa memisahkannya hari ini."
Jason menjawab lebih lambat. "Aku ingin. Tapi setiap kali membayangkannya, yang muncul di kepalaku bukan bayi. Yang muncul adalah aku yang mengatur jadwal tidurnya seperti mengatur rapat."
Konselor tidak menghakimi. Ia hanya mencatat, lalu berkata bahwa orang yang menyadari pola lamanya biasanya punya peluang lebih besar untuk tidak mengulanginya.
Beberapa minggu kemudian, Valeri terlambat datang bulan.
Ia menghitung ulang di kalender ponsel tiga kali, lalu membeli alat tes dalam perjalanan pulang dan menyimpannya di dasar tas seperti orang menyimpan rahasia.
Hasilnya menunjukkan dua garis.
Valeri duduk di lantai kamar mandi cukup lama. Lantainya dingin. Ia bisa mendengar suara televisi dari ruang keluarga, samar, dan rasanya seperti suara dari dunia lain. Ada sesuatu yang naik ke dadanya, tetapi ia tidak bisa memberi nama pada sesuatu itu.
Baru setelah kakinya kesemutan, ia memanggil Jason.
Jason masuk setengah berlari, lalu berhenti begitu melihat Valeri di lantai. Ia berlutut di hadapannya dan melihat alat tes itu, lama, seolah angka dan garis di sana bisa berubah kalau ditatap terlalu keras.
"Apa yang kau rasakan?" tanyanya.
"Senang. Takut." Valeri menelan ludah. "Aku tidak tahu mana yang lebih besar."
"Aku juga."
Mereka duduk di lantai kamar mandi itu sampai lampu terasa terlalu terang.
Mereka membuat janji pemeriksaan ke dokter. Jason mencatat tanggalnya di dua tempat. Ia juga diam-diam membaca artikel tentang minggu keberapa jantung mulai berdetak, lalu menutup ponselnya karena merasa terlalu cepat berharap.
Namun dua hari sebelum jadwal tersebut, Valeri mengalami pendarahan.
Dokter memastikan kehamilannya tidak berkembang. Kalimatnya diucapkan dengan hati-hati, dengan jeda-jeda yang jelas sudah sering dipakai untuk kabar semacam itu.
Kehilangan itu datang terlalu cepat untuk dikenali orang lain. Tidak ada perut yang membesar, tidak ada nama yang sudah dipilih, tidak ada foto yang pernah dikirim ke siapa pun.
Tetapi bagi mereka berdua, kehilangan itu nyata.
Valeri menyalahkan kesibukannya. Penerbangan malam. Rapat yang menembus jam makan. Kopi yang menggantikan sarapan.
Dokter berulang kali menjelaskan bahwa keguguran dini biasa terjadi dan bukan disebabkan pekerjaannya. Valeri mengangguk setiap kali, lalu mengulang pikiran yang sama begitu keluar dari ruangan.
Jason mencoba terlihat kuat. Ia mengurus administrasi, menjawab telepon, memastikan Valeri makan.
Sampai suatu malam Valeri menemukannya menangis sendirian di ruang kerja, lampu mati, punggung membungkuk di depan meja yang kosong.
Valeri tidak langsung masuk. Ia berdiri di ambang pintu, lalu melangkah pelan.
"Kau tidak harus menyembunyikannya demi aku," kata Valeri.
Jason menyeka wajahnya dengan telapak tangan. "Aku pikir kalau aku ikut hancur, tidak ada yang memegangmu."
"Aku tidak butuh dipegang. Aku butuh ditemani."
Mereka berduka dengan cara berbeda.
Valeri ingin berbicara, mengulang cerita yang sama, mencari kalimat yang pas untuk sesuatu yang tidak punya kalimat. Jason kadang membutuhkan diam, dan diamnya sering disalahartikan sebagai sudah selesai.
Mereka belajar bertanya sebelum memeluk. "Boleh?" menjadi kata yang sering terdengar di rumah itu selama beberapa minggu.
Mereka juga belajar tidak menjadikan kesedihan sebagai perlombaan tentang siapa yang paling kehilangan.
"Aku sempat berpikir aku tidak berhak sedih," kata Jason suatu sore. "Bukan tubuhku yang mengalaminya."
Valeri menggeleng. "Kau kehilangan hal yang sama. Cuma pintunya berbeda."
Kepada keluarga, mereka hanya mengatakan membutuhkan waktu. Jason menolak semua pertanyaan lanjutan, termasuk dari kerabat yang dulu bertanya di meja makan.
"Kalian sehat?" tanya kerabat itu lewat telepon.
"Kami sehat. Selebihnya bukan urusan siapa-siapa."
Suatu malam, ketika hujan baru berhenti dan jendela masih berembun, Valeri berkata pelan.
"Aku masih ingin mencoba menjadi ibu suatu hari nanti. Tapi aku tidak ingin hidup kita berubah menjadi pengejaran terhadap kehamilan."
Jason menggenggam tangannya. Jarinya dingin, tetapi genggamannya mantap.
"Aku menginginkan keluarga bersamamu. Bentuknya bisa kita temukan nanti."
Jawaban itu tidak menghapus duka. Duka tidak bekerja seperti itu; ia tidak pergi karena dijawab dengan baik.
Namun Valeri memahami satu hal malam itu. Keluarga mereka sudah ada, bukan belum dimulai hanya karena kamar anak masih kosong.