Jason semakin sering mengunjungi panti setelah meninggalkan jabatan CEO.
Awalnya karena ia tidak tahu harus ke mana pada Selasa pagi. Lama-lama karena ia menyukainya. Ada bau kayu dan sabun cuci di ruang depan panti, ada suara anak-anak berebut giliran main, dan tidak ada seorang pun di sana yang memanggilnya Pak Direktur.
Di sanalah ia mengenal Lila.
Anak itu berusia delapan tahun, jarang berbicara, dan selalu membawa buku gambar yang sampulnya sudah melengkung karena terlalu sering dipeluk.
Lila baru tinggal di panti selama enam bulan. Ibunya meninggal. Kerabat yang sempat merawatnya tidak mampu melanjutkan, dan kata "tidak mampu" itu diucapkan pengurus panti dengan nada yang menandakan tidak ada yang perlu dihakimi.
Setiap kali calon keluarga datang, Lila bersembunyi di perpustakaan. Bukan menangis, bukan berteriak. Ia hanya pindah ke ruangan paling sepi dan duduk membelakangi pintu.
"Dia tidak menolak orang," kata pengurus panti. "Dia menolak berharap."
Valeri tidak langsung mendekatinya.
Pada kunjungan ketiga, ia masuk ke perpustakaan, mengambil kertas, dan duduk di meja lain. Cukup jauh untuk tidak mengganggu, cukup dekat untuk terlihat.
Ia menggambar rumah. Hasilnya miring, atapnya terlalu berat ke satu sisi, dan jendelanya seperti dipasang oleh orang yang sedang terburu-buru.
Ada gerakan kecil di ujung ruangan. Lila mengintip dari balik rak.
Valeri pura-pura tidak melihat. Ia menambahkan pintu, yang justru membuat rumah itu makin tampak seperti akan jatuh.
Beberapa menit kemudian, langkah pelan mendekat. Lila mengambil pensil merah dari kotak, mencondongkan badan, lalu memperbaiki atapnya dengan garis-garis rapat.
"Rumahnya bisa roboh," kata Lila pelan.
"Aku memang tidak pandai menggambar."
"Om Jason juga tidak pandai."
Valeri menahan senyum. "Aku tahu. Jangan katakan kepadanya."
Untuk pertama kalinya, sudut bibir anak itu naik sedikit.
Hubungan mereka tumbuh melalui kunjungan rutin. Setiap Sabtu, jam yang sama, tanpa pengecualian. Kalau Valeri harus dinas, ia menelepon panti sehari sebelumnya supaya Lila tidak menunggu di jendela.
Valeri dan Jason tidak pernah menjanjikan akan membawa Lila pulang. Itu bagian yang paling sulit.
Mereka belajar dari pekerja sosial bahwa anak yang pernah kehilangan membutuhkan konsistensi, bukan harapan yang diumumkan terlalu cepat.
"Janji yang batal lebih menyakitkan daripada tidak ada janji sama sekali," kata pekerja sosial itu. "Datang saja terus. Itu bahasa yang mereka percaya."
Beberapa bulan kemudian, pekerja sosial bertanya apakah mereka bersedia menjadi keluarga asuh sementara.
Pertanyaan itu membuat mereka diam di mobil sepanjang perjalanan pulang. Bukan karena tidak mau, melainkan karena pertanyaan lama yang belum selesai mereka jawab tiba-tiba kembali duduk di antara mereka.
"Aku takut kita melakukannya karena alasan yang salah," kata Jason malam itu. "Kita baru kehilangan. Bagaimana kalau aku hanya sedang mencari tambalan?"
Valeri menatap langit-langit. "Dan aku takut aku melihat diriku sendiri di anak itu. Aku pernah di panti. Tapi ceritaku bukan cerita Lila."
"Itu bukan hal yang sama?"
"Bukan. Aku kehilangan sesuatu yang tidak pernah kumiliki. Lila kehilangan ibu yang dia ingat wajahnya."
Mereka membawa kekhawatiran itu ke ruang konseling, lalu ke pekerja sosial, tanpa menutupinya.
Mereka menjalani asesmen, pelatihan, dan wawancara tanpa meminta perlakuan khusus. Tidak ada jalur cepat, tidak ada telepon ke siapa pun.
Rumah mereka diperiksa. Seseorang mengukur jarak tangga, memeriksa pagar kolam, dan menanyakan di mana obat-obatan disimpan.
Jadwal kerja Valeri dipertanyakan. Berapa malam dalam sebulan ia tidak di rumah. Siapa yang menggantikan. Apa rencananya kalau penerbangan tertunda.
Riwayat Jason yang pernah sangat mengendalikan juga dibahas secara terbuka. Pertanyaannya tajam dan tidak sopan-sopan amat, dan Jason menjawabnya tanpa membela diri.
"Saya tidak bangga pada semua keputusan masa lalu saya," katanya kepada pekerja sosial. "Namun saya menjalani konseling dan masih terus belajar."
"Belajar itu tidak ada ijazahnya, Pak."
"Saya tahu. Itu sebabnya saya masih datang setiap dua minggu."
Pekerja sosial itu menulis sesuatu, lalu bertanya lagi. "Kalau anak ini menolak Anda, apa yang akan Anda lakukan?"
Jason berpikir cukup lama. "Tetap datang. Tanpa memaksanya mengubah perasaannya."
"Kalau dia menolak selama satu tahun?"
"Berarti saya datang selama satu tahun."
Pertanyaan untuk Valeri lebih menusuk. "Anda pernah tinggal di panti. Apa yang akan Anda lakukan kalau Lila menceritakan sesuatu yang membuat Anda teringat pada masa lalu Anda sendiri?"
"Saya akan mendengarkan dulu," jawab Valeri. "Bukan menjawabnya dengan cerita saya."
Pada akhir proses, mereka disetujui sebagai keluarga asuh.
Lila menginap pertama kali selama akhir pekan.
Ia datang membawa satu tas kecil. Isinya baju tiga potong, buku gambar, dan kotak pensil. Tas itu tidak ia lepaskan sampai masuk ke dalam rumah.
"Aku pulang ke panti kapan?" tanyanya di mobil.
"Minggu sore," jawab Valeri.
Pertanyaan yang sama ia ulang saat makan malam. Lalu saat menyikat gigi. Lalu sekali lagi ketika lampu kamar dinyalakan.
Valeri tidak menunjukkan rasa lelah. Ia mengambil kalender kecil, menunjuk kotak hari Minggu, dan menuliskannya di sana dengan spidol.
"Ini harinya. Kalau kau lupa, lihat ini. Kau boleh bertanya sebanyak yang kau mau."
Ia tidak menambahkan janji apa pun tentang minggu berikutnya. Bukan karena tidak ingin, melainkan karena belum berhak.
Malam pertama, Lila tidak mau tidur sendiri.
Jason membawa kursi kecil ke depan pintu kamar, membuka buku cerita, dan membaca dengan suara pelan. Ia tidak masuk. Ia tidak duduk di ranjang tanpa izin.
Dua kali Lila memanggil untuk memastikan ia masih di sana.
"Om Jason?"
"Masih di sini."
"Belum pergi?"
"Belum."
"Kalau aku bangun nanti, Om masih ada?"
Jason menurunkan bukunya. Ia sempat ingin menjawab dengan kalimat besar, kalimat yang menenangkan dan terdengar pasti. Tetapi ia ingat nasihat pekerja sosial.
"Aku ada sampai pagi," katanya. "Kalau kau bangun, panggil saja."
Bacaan itu berlanjut sampai napas anak itu berubah panjang dan teratur. Jason menutup buku, tetapi tetap duduk beberapa menit lagi, entah untuk Lila atau untuk dirinya sendiri.
Keesokan paginya, saat matahari baru masuk lewat jendela dapur, Lila menggambar.
Tiga orang berdiri di depan rumah beratap merah. Atapnya rapi, jauh lebih rapi daripada gambar Valeri di perpustakaan. Ia tidak memberi nama pada gambar tersebut.
"Ini siapa?" tanya Jason hati-hati.
Lila mengangkat bahu, lalu mendorong kertas itu ke arahnya dan langsung sibuk dengan sarapannya, seolah tidak terjadi apa-apa.
Valeri menempelkannya di lemari es dengan magnet berbentuk lemon.
Bukan sebagai pengumuman bahwa mereka sudah menjadi keluarga. Melainkan sebagai tanda bahwa seorang anak mulai merasa cukup aman untuk membayangkan kemungkinan itu.