Masa pengasuhan sementara berlangsung enam bulan.
Lila mulai bersekolah di sekolah dekat rumah mereka. Ia mengikuti terapi dua kali sebulan. Dan pada suatu sore biasa, tanpa pengumuman apa pun, ia meninggalkan buku gambarnya di meja ruang tamu, lalu pergi mandi.
Valeri memandangi buku itu lebih lama daripada yang wajar. Selama berbulan-bulan, benda itu tidak pernah lepas lebih dari satu meter dari tubuh Lila. Sekarang buku itu tergeletak begitu saja, terbuka di halaman rumah beratap merah, seperti orang yang akhirnya percaya barangnya tidak akan hilang.
Jason melihat arah pandangnya. "Jangan dipindahkan."
"Aku tidak akan menyentuhnya."
Namun ketenangan itu tidak bertahan lama.
Sebuah foto mereka bertiga tersebar. Diambil dari jauh, di depan toko buku, saat Lila memegang tangan Valeri dan Jason membawakan kantong belanjaan.
Sebuah artikel menyebut Jason dan Valeri sebagai pasangan dermawan yang menyelamatkan anak panti. Judulnya dicetak besar. Kata "menyelamatkan" diberi tanda kutip, seolah itu hal manis yang layak dibagikan.
Valeri membacanya di pagi hari, dan tangannya mengeras di sekitar ponsel.
Siang itu juga ia menelepon yayasan.
"Turunkan semua foto Lila," katanya kepada pengelola komunikasi. "Semuanya. Termasuk yang ada di arsip internal."
"Bu, foto itu justru membantu citra program..."
"Lila bukan bukti kebaikan kita." Suara Valeri tidak naik, tetapi setiap katanya jatuh keras. "Kisah hidupnya bukan materi citra perusahaan."
Ia menolak semua permintaan wawancara. Tiga stasiun televisi, dua majalah, satu podcast. Jawabannya sama untuk semuanya.
Namun internet tidak bisa ditarik sebersih itu.
Di sekolah, seorang teman menunjukkan artikel tersebut kepada Lila di layar ponsel, lalu bertanya dengan nada yang mungkin tidak dimaksudkan jahat, tetapi tetap melukai.
Lila pulang dengan wajah murung. Ia tidak membuka buku gambarnya. Ia duduk di kursi ruang makan dan mengayunkan kakinya yang belum sampai ke lantai.
"Kalau aku dibawa ke rumah ini," katanya akhirnya, "aku harus terus bilang terima kasih, ya?"
Valeri berhenti menata piring.
Jason berjongkok agar sejajar dengannya. Lututnya berbunyi, dan ia tidak peduli.
"Kau tidak berutang kepada kami," katanya. "Orang dewasa yang memilih merawat anak bertanggung jawab atas pilihannya sendiri. Itu keputusan kami, bukan utangmu."
Lila menunduk. Suaranya makin kecil.
"Kalau aku nakal, aku dikembalikan?"
Valeri menahan air mata. Ia menarik kursi dan duduk di depan anak itu, cukup dekat, tanpa langsung menyentuh.
"Kau boleh membuat kesalahan dan kami boleh menegurmu," katanya. "Tapi kasih sayang bukan hadiah untuk anak yang selalu menurut. Kau tidak perlu jadi anak baik supaya boleh tinggal."
"Semua orang bilang begitu dulu."
"Aku tahu. Karena itu kami tidak akan hanya bilang."
Malam itu Lila memecahkan piring saat membantu mengangkat cucian ke rak. Bunyinya keras di dapur yang sepi, dan anak itu langsung berdiri kaku, menunggu sesuatu.
Valeri hanya mengambil sapu. "Mundur sedikit, ada pecahan."
"Aku tidak dimarahi?"
"Kau akan dimarahi kalau menyembunyikan pecahannya di bawah karpet. Bukan karena piring pecah."
Lila memandanginya, lalu ikut memegang serokan. Ia tidak berkata apa-apa lagi sampai dapur bersih, tetapi malam itu ia tidur tanpa bertanya soal panti.
Proses penetapan keluarga permanen kemudian dimulai.
Berkasnya tebal, jadwalnya panjang, dan di tengah-tengahnya muncul sesuatu yang tidak mereka perkirakan. Seorang kerabat jauh Lila tiba-tiba datang dan meminta hak asuh.
Lelaki itu mengaku baru mengetahui keberadaan Lila. Ia berbicara tentang darah, tentang kewajiban, tentang nama keluarga yang tidak boleh terputus.
Tetapi penyelidikan menunjukkan hal lain. Ia juga tertarik pada dana peninggalan ibu Lila, dan pertanyaan pertamanya di kantor pengacara bukan tentang sekolah anak itu.
Valeri ingin langsung melawannya. Ia sudah menyiapkan nama pengacara, sudah menghitung kekuatan berkas, sudah membayangkan bagaimana rasanya menang.
Pekerja sosial menahannya.
"Bu Valeri, saya mengerti marah Anda," katanya. "Tapi keputusan ini harus berpusat pada kepentingan Lila, bukan pada ketakutan Anda kehilangan dia."
Kalimat itu membuat Valeri diam lama sekali.
"Saya takut," akhirnya ia mengaku.
"Itu wajar. Yang tidak boleh adalah rasa takut itu yang menyetir."
Lila mendapat pendamping hukum sendiri. Seseorang yang tugasnya hanya satu, yaitu memastikan suara anak itu terdengar tanpa disetir siapa pun.
Pendapatnya didengar dalam ruang yang aman, tanpa kehadiran orang dewasa yang berkepentingan. Di sana ia mengatakan dua hal sekaligus.
Ia ingin tetap bersama Valeri dan Jason. Dan ia juga ingin mengetahui siapa keluarga kandungnya.
Valeri membaca laporan itu di mobil, lalu menyerahkannya kepada Jason tanpa berkata apa-apa.
"Dia ingin dua-duanya," kata Jason.
"Dan kita tidak boleh memaksanya memilih salah satu."
Mereka mendukung dua keinginan tersebut. Pertemuan dengan kerabat dilakukan di bawah pengawasan, di ruang layanan anak dengan meja rendah dan mainan di sudut.
Lelaki itu datang tiga kali.
Pada pertemuan pertama ia membawa cokelat dan bicara terlalu keras. Pada pertemuan kedua ia menanyakan nama bank, bukan nama guru kelas. Pada pertemuan ketiga, ia lebih banyak bertanya kepada pendamping hukum daripada kepada Lila.
Lila sendiri lebih sering menunduk ke meja, menyusun ulang pensil warna berdasarkan panjangnya.
Setelah mengetahui bahwa ia tidak dapat menguasai dana Lila, ia berhenti datang. Tidak ada perpisahan. Hanya kursi yang kosong pada jadwal berikutnya.
"Dia tidak datang lagi?" tanya Lila.
"Tidak," jawab Valeri jujur.
"Karena aku?"
"Bukan karena kau. Karena dia."
Pengadilan akhirnya menyetujui permohonan adopsi.
Ruang sidangnya kecil dan terang. Hakimnya perempuan, suaranya pelan, dan ia berbicara langsung kepada Lila, bukan kepada orang dewasa di belakangnya.
"Kau tahu apa arti keputusan hari ini?"
Lila mengangguk sedikit, lalu berpikir. Jari-jarinya meremas ujung roknya.
"Aku tetap boleh ingat Mama yang dulu?" tanyanya.
"Tentu," jawab hakim.
Lila memandang Valeri cukup lama. Valeri memaksa dirinya tidak mengangguk, tidak memberi kode, tidak melakukan apa pun yang bisa membuat anak itu merasa dipandu.
"Kalau begitu," kata Lila, "aku mau mereka jadi Mama dan Papa yang sekarang."
Tidak ada mata yang tetap kering di ruang sidang. Panitera menunduk ke berkasnya. Pekerja sosial mengusap wajahnya dengan cepat, seolah tidak ada yang melihat.
Setelah dokumen ditandatangani, Jason berlutut di dekat Lila, tetapi tangannya tetap di sisi tubuhnya. Ia menunggu.
Baru ketika anak itu merentangkan tangan lebih dahulu, Jason memeluknya.
Keluarga mereka tidak terbentuk karena dua orang kaya menyelamatkan seorang anak. Keluarga itu terbentuk karena seorang anak diberi waktu, suara, dan hak memilih tempat yang membuatnya merasa aman.