Setelah enam bulan tinggal bersama Valeri dan Jason, Lila mulai memanggil mereka dengan sebutan yang dipilihnya sendiri.
Bunda Val dan Om Jason.
Tidak ada yang mengajarinya. Suatu pagi ia hanya memanggil begitu dari depan pintu kamar mandi, seolah panggilan itu memang sudah lama ada dan baru sekarang diucapkan.
Jason mendengarnya dari dapur. Ia berhenti menuang kopi.
"Om," katanya kemudian kepada Valeri, dengan nada orang yang sedang membaca laporan keuangan. "Setelah enam bulan, aku masih om."
"Dia memilih sendiri. Itu bagus."
"Kau Bunda. Aku om."
"Nama panggilan bukan target perusahaan," kata Valeri.
"Aku hanya melakukan evaluasi perkembangan."
Valeri tertawa. Namun ia tahu Jason tidak akan pernah meminta Lila menggantinya. Lelaki itu boleh mengeluh di dapur, tetapi di depan anak itu ia menjawab panggilan "Om Jason" secepat orang menjawab namanya sendiri.
Suatu siang, pekerja sosial bernama Ratih datang membawa kabar.
Ia tidak langsung bicara. Ia menerima teh, menanyakan sekolah Lila, lalu meletakkan map di meja dengan cara yang membuat Valeri langsung mengerti bahwa ini bukan kunjungan biasa.
"Ada seseorang mengajukan permohonan pengasuhan," katanya. "Namanya Damar. Paman biologis Lila. Adik almarhumah ibunya. Selama ini ia bekerja di luar negeri."
Ruangan terasa mengecil.
Jason langsung bertanya, "Kenapa dia baru muncul sekarang?"
"Alamatnya tidak tercatat di berkas mana pun. Ia mengaku baru mengetahui kematian kakaknya."
"Mengaku."
"Itu yang akan diperiksa, Pak Jason. Bukan dipercaya begitu saja, bukan juga ditolak begitu saja."
Jason memajukan badannya. Tangannya tertaut terlalu erat.
"Apakah dia bisa membawa Lila begitu saja?"
"Tidak," jawab Ratih tenang. "Akan ada asesmen dan keputusan pengadilan. Yang utama adalah kepentingan Lila."
Mereka menyampaikan kabar itu kepada Lila malam harinya, dengan bahasa yang sesederhana mungkin, tanpa kata-kata hukum, tanpa nada yang menakutkan.
Anak itu menunduk sambil meremas ujung bajunya. Kain itu sampai terpelintir di jarinya.
"Kalau aku bertemu Paman Damar, Bunda Val marah?"
"Tidak," jawab Valeri. Ia menahan suaranya supaya tetap rata. "Kau boleh mengenal keluargamu."
Lila diam beberapa detik.
"Kalau aku suka dia, Om Jason sedih?"
Jason berlutut di depan Lila. Ia tidak menjawab cepat, karena jawaban cepat biasanya jawaban yang tidak jujur.
"Mungkin aku akan takut kehilanganmu," katanya akhirnya. "Tapi rasa takutku bukan tanggung jawabmu. Kau tidak perlu menjaga perasaan orang dewasa."
Lila memandanginya, lalu mengangguk sekali, dan meminta susu.
Permintaan itu terdengar biasa, tetapi Valeri tahu artinya. Setiap kali anak itu kewalahan, ia meminta sesuatu yang kecil dan bisa dipastikan. Susu. Selimut. Lampu koridor dinyalakan.
Malam itu Valeri menyalakan lampu koridor tanpa diminta.
Pertemuan pertama berlangsung di pusat layanan anak.
Ruangannya dicat kuning pucat, ada karpet dan rak mainan, dan kaca besar yang membuat semua orang tahu mereka sedang diamati.
Damar datang membawa boneka mahal dan sekantong hadiah. Kotak-kotaknya masih berpita. Ia meletakkannya di meja seperti orang meletakkan kartu nama.
Lila mengenali wajahnya dari foto ibunya. Hidungnya sama. Alisnya sama. Anak itu memandanginya lama, tetapi tidak melangkah maju.
"Halo, Lila. Paman datang dari jauh sekali."
Lila tidak menjawab. Tangannya mencari tangan Valeri dan menggenggamnya.
"Kalian boleh main berdua," kata Ratih pelan.
"Tidak mau," kata Lila.
Damar terlihat kecewa. Kekecewaan itu berubah menjadi sesuatu yang lain ketika ia menoleh ke arah Valeri dan Jason.
"Keluarga sedarah seharusnya lebih berhak daripada orang asing," katanya.
Jason menegang. Rahangnya mengeras dan ia sudah menarik napas untuk bicara.
Tetapi Valeri mendahuluinya.
"Hak tidak ditentukan oleh siapa yang paling keras mengaku keluarga," katanya. Nadanya datar, tidak menantang. "Biarkan proses menilai siapa yang mampu memberi Lila rasa aman."
Damar tidak menjawab. Ia kembali menghadap Lila dan menawarkan boneka itu sekali lagi, dan anak itu menerimanya dengan sopan, lalu meletakkannya di kursi kosong di sebelahnya.
Damar mengikuti asesmen.
Hasilnya tidak buruk. Ia memiliki pekerjaan tetap dan tempat tinggal yang layak. Riwayatnya bersih. Ia bahkan sudah menyiapkan kamar.
Yang menjadi catatan adalah rencananya. Ia ingin membawa Lila ke luar negeri sesegera mungkin, secepat dokumen selesai, tanpa masa penyesuaian.
"Anak ini baru enam bulan merasa tempatnya tidak akan diambil lagi," kata Ratih dalam pertemuan berikutnya. "Saya menyarankan proses perkenalan bertahap."
"Berapa lama?"
"Sepanjang yang dibutuhkan Lila. Bukan sepanjang yang nyaman untuk kita."
Damar menolak angka yang tidak pasti. Ia bicara tentang cuti yang terbatas, tentang tiket, tentang pekerjaan yang menunggunya.
"Saya tidak bisa menunggu selamanya."
"Saya tidak meminta selamanya," jawab Ratih. "Saya meminta Anda menunggu selama anak itu belum siap. Dua hal itu berbeda, Pak Damar."
Malam setelah pertemuan itu, Lila mengalami mimpi buruk.
Valeri terbangun karena suara tangis pendek dari kamar sebelah. Ia masuk tanpa menyalakan lampu besar, hanya lampu tidur yang kecil.
Lila duduk di ranjang, napasnya cepat, rambutnya menempel di dahi.
Valeri tidak langsung memeluknya. Ia duduk di lantai dekat ranjang, punggung bersandar ke sisi kasur, dalam jarak yang bisa dijangkau tetapi tidak menekan.
"Aku di sini," katanya.
Butuh beberapa menit sampai napas anak itu tenang. Di luar, angin menggoyang daun, dan jam dinding berdetak terlalu keras.
"Aku harus memilih siapa?" bisik Lila.
Valeri menutup matanya sebentar. Ada jawaban yang ingin sekali ia ucapkan, jawaban yang akan membuat dirinya lega, dan ia menelan jawaban itu.
"Kau tidak harus memilih malam ini," katanya. "Orang dewasa yang harus memastikan keputusan itu baik untukmu. Itu bukan pekerjaan anak delapan tahun."
"Kalau aku salah pilih?"
"Tidak ada yang akan menyuruhmu memilih sendirian."
Lila berbaring lagi. Tangannya menggantung ke bawah, dan Valeri membiarkannya menemukan tangannya sendiri.
Di luar kamar, Jason menunggu. Ia bersandar ke dinding lorong, tidak masuk, karena tahu terlalu banyak orang dewasa di satu kamar hanya akan membuat anak itu merasa sedang dijaga terlalu ketat.
Ketika Valeri keluar, mereka berdiri berhadapan tanpa bicara cukup lama.
"Aku sempat berpikir untuk menelepon pengacara terbaik yang kukenal," kata Jason akhirnya, suaranya serak. "Malam ini juga."
"Aku tahu."
"Aku tidak melakukannya."
"Aku tahu itu juga." Valeri menyandarkan kepalanya ke bahu suaminya. "Tapi aku memikirkan hal yang sama."
Mereka berdiri di lorong yang gelap, di depan pintu yang setengah terbuka, mendengarkan napas anak yang tidur di dalamnya.
Untuk pertama kalinya, mereka merasakan betapa menyakitkannya mencintai seorang anak tanpa menjadikan cinta itu alasan untuk memilikinya.