Proses pengadilan pengasuhan dimulai sebulan kemudian.
Ruang sidangnya dingin karena pendingin yang terlalu kencang, dan bau kertas lama menempel di mana-mana. Valeri datang lebih awal setiap kali, selalu memilih kursi yang sama, selalu membawa botol air yang jarang ia sentuh.
Damar menyewa pengacara.
Lelaki berjas abu-abu itu bekerja dengan cara yang rapi dan dingin. Ia menyoroti kesibukan Valeri, membacakan jumlah hari perjalanan dinas dalam satu tahun, lalu berhenti sejenak supaya angka itu menggantung di udara.
Ia menyoroti riwayat kesehatan Jason. Rawat inap. Peringatan dokter. Kata "berisiko" diulang tiga kali.
Dan ia mengangkat artikel lama tentang George, mencetaknya besar-besar, menggambarkan rumah Valeri dan Jason sebagai lingkungan penuh bahaya.
Valeri hampir berdiri. Jari-jarinya sudah menekan meja.
Ia ingin membalas setiap tuduhan. Ia ingin menjelaskan bahwa George sudah tidak bisa mendekat, bahwa jadwalnya sudah ia potong setengah, bahwa Jason menjalani kontrol rutin dan tidak pernah melewatkannya.
Ratih menyentuh lengannya dari samping.
"Jangan," bisiknya.
"Dia berbohong tentang rumahku."
"Dia sedang memancing Anda. Perkara ini bukan pertarungan untuk membuktikan siapa orang dewasa terbaik." Ratih menatapnya. "Pusatnya harus tetap Lila."
Valeri duduk kembali. Ia menulis sesuatu di kertas, lalu mencoretnya, lalu menulis lagi.
Di sebelahnya, Jason memandang lurus ke depan. Ia tidak bereaksi sama sekali ketika namanya disebut bersama kata "berisiko", dan justru itu yang membuat Valeri khawatir.
"Kau baik-baik saja?" bisiknya.
"Dia benar soal satu hal," jawab Jason pelan. "Aku memang pernah membuat rumah itu berbahaya. Bukan George saja."
"Itu dulu."
"Aku tahu. Tapi aku tidak akan berpura-pura itu tidak pernah ada."
Lila menjalani wawancara dengan psikolog anak.
Tidak ada Valeri, tidak ada Jason, tidak ada Damar. Ketiganya menunggu di ruang berbeda, dan itu diatur begitu supaya tidak seorang pun bisa memberi kode lewat pandangan mata.
Sebelum masuk, Lila berhenti di depan pintu.
"Kalau aku menjawab salah," katanya, "ada yang jadi benci aku?"
Psikolog itu berjongkok. "Tidak ada jawaban salah. Tugasmu hanya mengatakan apa yang kau rasakan."
"Kalau perasaanku berubah-ubah?"
"Itu juga boleh. Perasaan memang begitu."
Wawancaranya berlangsung hampir dua jam. Ketika keluar, Lila membawa gambar baru dan tidak menceritakan isi percakapannya kepada siapa pun. Tidak ada yang memaksanya bercerita.
Hasil asesmen dibacakan pada sidang berikutnya.
Lila memiliki ikatan aman dengan Valeri dan Jason. Ia ingin tetap tinggal di rumah mereka, tetapi juga ingin mengenal Damar sebagai pamannya. Pemindahan mendadak dinilai berisiko memperburuk trauma kehilangan yang belum lama ia alami.
Damar tersinggung.
"Tentu saja dia memilih mereka," katanya. "Rumahnya besar. Mainannya banyak. Anak kecil mana yang tidak terpengaruh kemewahan?"
Jason mengangkat tangan meminta izin bicara. Suaranya tenang, lebih tenang daripada yang ia rasakan.
"Dia bahkan menolak kamar yang lebih besar selama dua bulan," katanya. "Dia tidur di kamar paling kecil karena jendelanya menghadap lampu jalan dan dia tidak suka gelap. Apa pun yang membuatnya merasa aman tidak bisa dibeli."
Hakim mengetuk pena ke meja.
"Saya menegur kedua pihak," katanya. "Ruangan ini bukan tempat untuk saling menghina. Kalau ada yang ingin menang, silakan menang dengan menunjukkan apa yang baik bagi anak itu."
Pengasuhan sementara tetap pada Valeri dan Jason. Damar mendapat jadwal kunjungan bertahap, dengan pengawasan pada tahap awal.
Seusai sidang, Damar menghampiri mereka di koridor.
Langkahnya cepat, tetapi bahunya turun, seperti orang yang kalah dan belum menemukan kalimat yang tepat untuk itu.
"Kakakku pasti ingin anaknya bersama keluarga sendiri," katanya.
Jason ingin menjawab. Valeri menahannya dengan sentuhan di pergelangan tangan.
Ia menatap Damar tenang. "Mungkin. Tapi kita tidak dapat menanyakan keinginannya sekarang." Ia diam sebentar. "Kita masih bisa mendengarkan keinginan Lila."
Damar membuka mulut, lalu menutupnya lagi. Ia pergi tanpa membalas, dan langkahnya bergema di koridor yang panjang.
Di dalam mobil, Jason menggenggam setir tanpa menyalakan mesin.
"Aku hampir memukulnya di koridor tadi," katanya.
"Aku tahu."
"Kau selalu tahu."
"Karena aku juga hampir." Valeri menghela napas. "Bedanya, kita tidak melakukannya. Itu yang akan dibaca Lila nanti, bukan isi kepala kita."
Kunjungan Damar berlangsung setiap akhir pekan kedua.
Pada awalnya ia datang dengan hadiah berlebihan. Sepeda yang terlalu besar. Boneka yang masih dalam kotak. Sekali ia bahkan datang dengan rencana perjalanan tiga hari yang sudah dicetak lengkap dengan jadwal jam.
Lila menerima semuanya dengan sopan, lalu bertanya apakah mereka boleh menggambar saja.
Pada kunjungan kelima, Damar tidak membawa apa-apa. Ia hanya duduk di meja dapur dan bertanya apa makanan yang paling Lila rindukan.
"Sup buatan Mama."
"Paman ingat baunya," kata Damar pelan. "Tapi tidak ingat caranya."
Mereka mencoba membuatnya siang itu. Damar salah menakar garam, lupa membuang busa kaldu, dan memasukkan seledri di waktu yang salah. Dapur berbau aneh sampai malam.
Namun untuk pertama kalinya, Lila tertawa keras saat bersama pamannya.
"Paman payah," katanya.
"Paman tahu."
"Lain kali aku yang pegang garam."
"Boleh."
Perlahan Damar memahami bahwa ia tidak dapat mengganti waktu yang hilang dengan uang. Hadiah bisa dibeli dalam satu jam. Kepercayaan tidak punya toko.
Ia juga mulai melihat sesuatu yang tidak ia duga. Valeri dan Jason tidak mencoba menghapus hubungan biologis Lila. Tidak ada foto yang disembunyikan. Tidak ada nama yang dilarang disebut. Nama ibu Lila diucapkan di rumah itu dengan wajar, seperti nama orang yang memang bagian dari keluarga.
Suatu sore Lila pulang membawa album foto keluarga ibunya.
Album itu tebal, sampulnya kusam, dan beberapa sudut fotonya sudah lepas dari perekatnya. Damar menyerahkannya sendiri di depan pintu, lalu pulang tanpa masuk.
Lila membukanya di lantai ruang keluarga dan memanggil Valeri dengan suara yang jarang seramai itu.
"Bunda Val, lihat. Ini Mama waktu kecil. Ini waktu Mama sekolah. Ini waktu Mama pakai baju kuning jelek."
Valeri duduk di lantai di sebelahnya. "Kenapa jelek?"
"Karena kuning."
Mereka membolak-balik halaman satu per satu. Ada foto seorang perempuan muda tersenyum di depan sepeda motor. Ada foto bayi yang dibedong terlalu ketat.
"Aku mirip Mama, ya?" tanya Lila.
Valeri memandangi foto itu lama, lalu memandang wajah anak di sebelahnya.
"Matamu sangat mirip," jawabnya.
Lila tersenyum dan kembali menunduk ke album.
Valeri tidak merasa kedudukannya terancam. Ada sesuatu yang menekan di dadanya, ia tidak akan berbohong soal itu, tetapi ia mengenali rasa itu sebagai rasa takut, bukan sebagai kebenaran.
Ia pernah belajar bahwa hati seorang anak cukup luas untuk menyimpan lebih dari satu keluarga.
Kini ia harus membuktikan pelajaran itu melalui tindakannya sendiri.