Hubungan yang mulai membaik itu berubah hanya dalam satu hari.
Damar membawa Lila keluar kota tanpa izin.
Jadwal kunjungan sudah mengatur semuanya dengan jelas. Wilayahnya ditentukan, jamnya ditentukan, dan setiap perubahan harus dilaporkan lebih dulu kepada Ratih. Damar mengetahui aturan itu. Ia menandatanganinya.
Tetapi pagi itu ia memutuskan bahwa memperkenalkan Lila kepada kerabat lain lebih penting daripada satu lembar kertas. Rumah kerabat itu di lereng, dua jam perjalanan, dan ia berpikir mereka akan kembali sebelum sore.
Pukul empat, Lila belum pulang.
Pukul empat lewat sepuluh, Jason mulai menelepon.
Pukul setengah lima, ponsel Damar tidak aktif.
Jason berdiri di ruang tamu dengan ponsel menempel di telinga, wajahnya kehilangan warna. Lalu ia melakukan apa yang paling ia kuasai, yaitu mengubah ketakutan menjadi perintah.
"Kirim semua tim keamanan," katanya ke telepon. "Semua. Sekarang. Aku mau jalan keluar kota diperiksa satu per satu."
Valeri mencabut ponsel itu dari tangannya.
"Jangan," katanya.
"Valeri..."
"Kalau kau kirim dua puluh orang ke sana, kau bukan sedang mencari Lila. Kau sedang membuat kekacauan yang akan dilihat anak itu." Napas Valeri sendiri tidak stabil, tetapi suaranya tidak. "Kita telepon Ratih. Lalu polisi. Ikut prosedur."
"Prosedur butuh waktu."
"Dan kepanikanmu butuh korban."
Jason menatapnya lama, rahangnya bergetar, lalu menyerahkan ponselnya.
Damar menjawab telepon satu jam kemudian.
Mobilnya mogok di jalan pegunungan dan tidak ada sinyal sama sekali. Ia harus berjalan hampir satu kilometer sampai menemukan satu batang sinyal di depan warung kopi.
Lila ditemukan dalam keadaan aman. Tidak terluka, tidak sakit, hanya lapar dan kedinginan.
Tetapi ia sangat ketakutan.
Bukan karena mobil mogok. Bukan karena gelap. Melainkan karena ketika mereka akhirnya bertemu di pinggir jalan itu, orang-orang dewasa di sekelilingnya saling berteriak.
Jason menarik kerah Damar begitu mereka bertemu. Kain jaket itu terpuntir di tangannya, dan wajah keduanya hanya berjarak sejengkal.
"Kau tahu apa yang kami pikirkan selama tiga jam?"
"Mobilku mogok! Apa aku bisa mengatur mesin..."
"Kau melanggar lebih dulu!"
Valeri segera memisahkan keduanya. Ia menyelip di antara mereka, menekan dada Jason dengan telapak tangan.
"Lila melihat kalian," katanya tajam.
Kalimat itu bekerja lebih cepat daripada apa pun.
Jason melepaskan tangannya. Ia menoleh, dan di sana, di dekat pintu mobil yang terbuka, Lila berdiri memeluk tasnya sendiri, bahunya naik ke telinga.
Jason berlutut di depan anak itu, di aspal yang masih basah.
"Maaf," katanya. "Om takut sekali hari ini. Tapi rasa takut Om tidak boleh berubah jadi begini. Kau tidak seharusnya melihat itu."
Lila tidak menjawab. Ia hanya menyandarkan dahinya ke bahu Jason selama beberapa detik, lalu masuk ke mobil.
Sepanjang perjalanan pulang, anak itu tidak bersuara. Valeri duduk di belakang bersamanya dan tidak memaksanya bicara. Ia hanya menyalakan pemanas kursi dan membiarkan lampu kabin tetap menyala, meski Jason biasanya mematikannya supaya tidak mengganggu pandangan.
Malam itu Jason mengemudi jauh lebih pelan daripada biasanya.
Damar juga mengakui kesalahannya, meski butuh dua hari sampai kalimatnya benar-benar keluar tanpa pembelaan.
Ia mengira hubungan darah memberinya kebebasan melewati aturan yang ia anggap merepotkan. Aturan itu terasa seperti penghinaan baginya, seolah ia harus meminta izin untuk mengunjungi keluarganya sendiri.
"Saya tidak berpikir sampai ke sana," katanya di kantor Ratih. "Saya hanya berpikir dia keponakan saya."
"Dan dia anak yang ibunya meninggal," jawab Ratih. "Tiga jam tidak bisa dihubungi itu bukan keterlambatan biasa untuk anak seperti dia."
Pengadilan menghentikan sementara kunjungan tanpa pengawasan. Damar menjalani konseling dan pelatihan pengasuhan tambahan.
Malam itu, saat Valeri menyelimutinya, Lila bertanya.
"Paman Damar orang jahat?"
Valeri duduk di tepi ranjang. Ada jawaban mudah yang tersedia, dan ia menolaknya.
"Dia membuat keputusan yang salah dan berbahaya," jawab Valeri. "Orang bisa berbuat salah tanpa seluruh dirinya menjadi jahat. Tapi dia tetap harus bertanggung jawab."
"Bertanggung jawab itu apa?"
"Memperbaiki, dan menerima akibatnya. Bukan sekadar minta maaf lalu mengulang."
"Om Jason juga berteriak."
Valeri tidak berkelit. "Iya. Om Jason juga salah, dan dia sudah minta maaf kepadamu. Kalau dia mengulanginya, kau boleh bilang kepada Bunda."
"Boleh?"
"Boleh. Di rumah ini, tidak ada orang dewasa yang terlalu penting untuk ditegur."
Dari ambang pintu, Jason mendengar semuanya.
Ia terdiam lama setelah lampu kamar dimatikan, karena jawaban itu berlaku pula bagi dirinya.
Ia menemui Damar beberapa minggu kemudian di kantor Ratih. Ruangannya sempit, ada dua kursi plastik, dan kipas angin yang berbunyi.
Jason meminta maaf karena menyerangnya. Ia mengatakannya langsung, tanpa kata "tetapi" di tengah kalimat.
"Aku salah menarikmu seperti itu. Tidak ada alasan yang membenarkannya."
Damar mengangguk. "Saya juga salah."
"Kau memang salah," kata Jason. "Permintaan maafku tidak menghapus itu."
Untuk pertama kalinya, Damar tidak tersinggung.
"Aku takut kau membawa Lila pergi," kata Jason.
"Aku juga takut kalian membuatnya melupakanku," jawab Damar.
Keduanya diam. Kipas angin berputar. Di luar, ada suara anak-anak di ruang tunggu.
Mereka menyadari hal yang sama pada saat yang sama, bahwa rasa takut telah mendorong mereka memperlakukan Lila seperti sesuatu yang diperebutkan. Seperti barang yang harus dipegang lebih erat oleh salah satu pihak.
Mereka menyusun aturan komunikasi baru melalui Ratih. Semua perubahan jadwal lewat satu jalur. Semua keberatan disampaikan kepada orang dewasa, bukan dititipkan lewat anak.
Dan satu kesepakatan yang paling keras, yaitu tidak berbicara buruk tentang pihak lain di depan Lila. Sama sekali. Bahkan dalam bentuk sindiran.
Ketika kunjungan dimulai kembali, Damar datang tepat waktu.
Ia berdiri di depan pintu lima menit lebih awal, menunggu sampai jam yang tertulis, lalu mengetuk. Ia mengikuti setiap batas yang ditetapkan tanpa mengeluh sekali pun.
Ia tidak lagi membawa hadiah mahal.
Sebagai gantinya, ia membawa selembar kertas yang dilipat empat. Resep sup tulisan tangan milik ibu Lila, dengan tinta yang sudah memudar dan noda minyak di sudutnya.
"Paman menemukannya di kotak lama," katanya. "Tulisan Mama-mu jelek sekali."
Lila mengambil kertas itu dengan dua tangan.
Mereka memasaknya bersama di dapur rumah Valeri sore itu. Damar membaca takarannya keras-keras, Lila mengaduk, dan Jason bertugas memotong bawang sambil menahan mata yang perih.
Rasanya terlalu asin. Semua orang tahu itu.
Tetapi Lila menghabiskan satu mangkuk sambil tersenyum, dan tidak seorang pun berani mengomentari garamnya.
Kesalahan Damar tidak dilupakan. Catatannya tetap ada di berkas, dan konsekuensinya tetap berjalan.
Namun tanggung jawab yang diambil setelahnya memberi ruang bagi kepercayaan untuk dibangun kembali, sedikit demi sedikit.