Jason semakin banyak mengurus Aruna ketika Valeri kembali bekerja.
Awalnya ia mengira itu akan seperti proyek yang lain: dipelajari, disusun sistemnya, lalu berjalan. Kenyataannya lebih berantakan. Ia pernah memimpin rapat yayasan sambil menggendong bayi yang menarik-narik kerah kemejanya, dan dua kali datang terlambat karena harus mengganti popok tepat lima menit sebelum acara dimulai.
Ada satu rapat ketika Aruna menangis di tengah paparan anggaran. Jason berhenti, menepuk punggung anaknya, lalu melanjutkan kalimatnya dari tempat ia berhenti. Seorang peserta merekam dan mengunggahnya.
Dalam dua hari, potongan video itu ada di mana-mana.
Ayah panutan. Pemimpin yang tidak gengsi. Suami idaman. Judul-judul itu berbaris di layar ponsel Jason, dan ia—kalau harus jujur—menikmatinya.
"Aku ternyata lumayan," katanya sambil menyodorkan layar ke Valeri di meja makan.
Valeri membaca sekilas. Lalu ia membuka tab lain, mencari sebentar, dan meletakkan ponselnya sendiri di depan suaminya.
Artikel itu terbit di hari yang sama. Judulnya menyebut namanya lengkap. Isinya bertanya-tanya apakah pantas seorang ibu dengan bayi empat bulan kembali memimpin program lintas negara, apakah anak-anak tidak dikorbankan, apakah ambisi perempuan ada batasnya.
Jason membacanya sampai selesai. Senyumnya hilang di paragraf kedua.
"Aku mendapat pujian karena melakukan tugas biasa," katanya, "sedangkan kau dihukum karena memiliki pekerjaan."
"Begitulah."
"Ini tidak adil."
"Tidak." Valeri menyendok bubur Aruna. "Tapi aku sudah lama tahu itu."
Jason berdiri dan berjalan ke jendela. Ia sudah menyusun kalimatnya di kepala—pernyataan resmi, tajam, menyebut nama media itu, mungkin disertai sedikit ancaman hukum yang halus.
"Aku akan membuat pernyataan."
"Jangan."
"Valeri—"
"Coba pikirkan apa yang terjadi sesudahnya." Valeri meletakkan sendoknya. "Mereka akan membalas. Lalu ada yang menggali foto Lila. Lalu ada yang bertanya berapa jam aku di rumah. Anak-anak kita akan tumbuh sambil membaca perdebatan tentang apakah ibunya layak."
Jason diam cukup lama.
"Jadi kita diam saja?"
"Bukan diam. Pindahkan medannya."
Mereka membicarakannya sampai lewat tengah malam dan berhenti pada satu kesepakatan: Jason hanya akan membahas kebijakan cuti orang tua dalam kapasitasnya sebagai pemimpin yayasan. Tidak ada cerita rumah tangga. Tidak ada nama anak. Tidak ada kalimat yang dimulai dengan "istri saya".
Tiga bulan kemudian, yayasan meluncurkan program pendampingan bagi perusahaan kecil yang ingin menyediakan cuti ayah dan jam kerja fleksibel. Programnya sederhana: contoh kebijakan yang bisa disalin, hitungan biaya yang jujur, dan pendamping yang bisa dihubungi ketika pemilik usaha bingung.
Yang membuat program itu jalan bukan pidatonya, melainkan hitungan biaya tadi. Banyak pemilik usaha kecil ternyata bukan tidak mau memberi cuti ayah; mereka takut kehilangan satu orang selama dua minggu akan menutup tokonya. Yayasan membuatkan skema penggantian sementara dan menanggung sebagian upahnya pada tahun pertama.
Empat puluh satu perusahaan ikut di gelombang pertama. Angkanya kecil. Jason tetap menyimpan daftarnya di laci mejanya.
Dalam peluncurannya, Jason mengatakan satu hal yang tidak ada di naskah.
"Dulu perusahaan saya sendiri juga begitu. JYS Corp menaruh hampir seluruh beban pengasuhan di pundak karyawan perempuan, lalu menyebut mereka kurang berkomitmen ketika tidak sanggup. Saya tidak sedang mengkritik orang lain. Saya sedang menyebut kesalahan saya sendiri."
Di rumah, menjadi ayah yang hadir tidak selalu terlihat mengagumkan.
Tidak ada kamera ketika Jason salah membawa tas Lila ke tempat pemeriksaan Aruna dan baru sadar setelah mengeluarkan kotak pensil dari dalamnya. Tidak ada judul berita ketika ia menghanguskan bubur sampai dapur berbau gosong selama dua jam dan alarm asap berbunyi. Tidak ada yang memuji ketika ia lupa menandatangani formulir sekolah sampai Lila hampir tidak bisa ikut karyawisata.
"Ayah lupa lagi," kata Lila di dapur, dengan nada yang sudah tidak kaget.
"Ayah akan tanda tangan sekarang."
"Sudah lewat tiga hari."
"Tiga hari itu masih bisa dinegosiasikan."
"Sama Bu Retno? Tidak bisa."
Jason menelepon sekolah keesokan paginya dan berbicara dengan suara paling sopan yang pernah didengar Lila seumur hidupnya.
Malam itu, Lila mengambil spidol dan menulis daftar di papan dapur. Hari Senin sampai Minggu. Jadwal dokter, jadwal sekolah, jadwal susu, jadwal cucian, tanggal formulir.
Ia menulis satu kalimat di bagian bawah: Supaya Ayah tidak mengandalkan Bunda mengingat semuanya.
Jason berdiri di depan papan itu cukup lama.
Ia bisa saja tersinggung. Ia hampir tersinggung. Tetapi ia teringat bagaimana selama ini pertanyaannya selalu sama—"Apa yang harus kubantu?"—dan bagaimana pertanyaan itu, kalau dipikir baik-baik, selalu menaruh beban mengingat pada orang lain.
"Kau benar," katanya kepada Lila.
"Aku tahu."
"Kau tidak perlu sesenang itu."
Sejak minggu itu, Jason mulai mengelola sendiri jadwal dokter, sekolah, dan kebutuhan rumah. Ia memasukkan semuanya ke kalender, memasang pengingat, dan mulai tahu hal-hal yang dulu tidak pernah masuk ke kepalanya: kapan sepatu Lila mulai kesempitan, merek sabun mana yang tidak membuat kulit Aruna merah, siapa nama guru kelas anaknya.
Suatu malam Valeri pulang setelah perjalanan kerja dua hari.
Ia membuka pintu pukul sebelas lewat. Rumah itu berantakan. Ada mainan di tangga, ada tumpukan cucian bersih yang belum dilipat di sofa, dan ada satu kaus kaki kecil di atas meja makan entah bagaimana caranya.
Tetapi kedua anak sudah tidur. Di dapur, kotak bekal Lila sudah terisi dan disimpan di kulkas. Botol Aruna sudah dicuci dan berdiri terbalik di rak. Seragam sudah tergantung di balik pintu, lengkap dengan dasinya.
Valeri berdiri di dapur dan memandang semua itu.
Jason muncul di belakangnya, rambut basah setelah mandi, dengan wajah orang yang baru selesai perang kecil.
"Aku tidak akan bertanya apakah kau sanggup tanpa aku," kata Valeri.
"Bagus, karena jawabannya sanggup, tetapi dengan banyak kesalahan."
"Seberapa banyak?"
"Aruna sempat memakai baju Lila hari Selasa. Lila memakan mi instan dua kali. Dan aku tidak akan membahas apa yang terjadi pada tanaman di teras."
Mereka tertawa, pelan supaya tidak membangunkan siapa pun, sampai Valeri harus menutup mulutnya dengan punggung tangan.
Sesudahnya, di tangga, Valeri menyadari sesuatu yang selama ini salah ia ucapkan. Selama bertahun-tahun ia menyebut Jason "membantu". Padahal orang membantu di rumah orang lain. Rumah ini rumahnya juga, dan dua anak itu tanggung jawabnya juga—bukan titipan yang dijaga sementara sampai ibunya pulang.
Jason tidak menjadi ayah hebat karena sesekali tinggal di rumah. Ia menjadi ayah dengan terus hadir, mempelajari pekerjaan yang tidak terlihat, dan memahami bahwa pengasuhan bukan hadiah yang ia berikan kepada istrinya.