Ulang tahun pertama Aruna dirayakan di halaman rumah, pada sore yang mendung tetapi tidak jadi hujan.
Tidak ada liputan media. Tidak ada undangan ke siapa pun yang namanya perlu dieja untuk wartawan. Hanya balon yang dipasang miring oleh Lila, meja panjang yang ditutup taplak kain, dan lampu kecil yang digantung Jason sendiri sampai jarinya tergores kawat.
Damar datang paling awal sambil membawa panci besar. Sup resep keluarga Lila, yang menurutnya harus dimasak sejak subuh atau tidak usah sekalian.
"Ini yang dulu dimasak mamanya setiap ulang tahun," katanya sambil meletakkan panci itu di meja.
Lila tidak berkata apa-apa. Ia hanya mengambil mangkuk pertama.
Mira membuat kue. Bentuknya agak miring ke kiri dan krimnya terlalu manis, tetapi ia membawanya dengan kedua tangan seperti membawa sesuatu yang mahal. Alena datang terakhir dengan hadiah yang ukurannya terlalu besar untuk anak satu tahun—rumah-rumahan kain setinggi orang dewasa, yang bahkan tidak muat lewat pintu depan.
"Aku sudah bilang," kata Valeri.
"Kau bilang jangan berlebihan. Ini tidak berlebihan. Ini cuma besar."
Sebelum meniup lilin, seorang fotografer mengambil gambar seluruh keluarga.
Mereka berdiri di depan pohon mangga. Lila berdiri di antara Valeri dan Jason sambil menggendong Aruna dengan bantuan mereka—satu tangan Valeri menyangga punggung bayi, satu tangan Jason menahan siku Lila supaya tidak goyah.
"Satu, dua—"
Aruna memilih detik itu untuk mencondongkan badan ke arah kue.
Fotografernya tetap menekan tombolnya. Lila memekik. Jason menangkap anaknya setengah detik sebelum semuanya menjadi bencana, dan Mira menjerit lebih keras daripada siapa pun di halaman itu.
"Ulang, ulang!" seru Alena.
"Tidak usah," kata Valeri setelah melihat layar kamera. "Yang ini saja."
Sesudahnya mereka menyalakan lilin. Aruna jelas tidak paham harus melakukan apa, jadi Lila meniupkannya untuk adiknya sambil memegang tangan bayi itu supaya ikut bergerak, dan semua orang bertepuk tangan seolah itu hal paling hebat yang pernah terjadi.
Beberapa hari kemudian, foto lama dari masa Jason bersama Sanna beredar kembali.
Foto-foto itu sudah bertahun-tahun umurnya. Acara amal, makan malam perusahaan, satu gambar di bandara. Sebuah akun anonim menyusunnya menjadi utas panjang, lengkap dengan keterangan yang ditulis seperti fakta.
Valeri merebut kehidupan yang seharusnya menjadi milik Sanna.
Lalu utas itu melanjutkan ke bagian yang membuat tangan Valeri berhenti di tengah layar. Anak adopsi itu cuma aksesori citra. Dipajang kalau perlu terlihat baik.
Valeri sudah terbiasa menghadapi fitnah tentang dirinya. Ia sudah pernah disebut perebut, penjilat, sekretaris yang tahu cara naik. Ia belajar membaca semua itu seperti membaca cuaca.
Tetapi ini bukan tentang dirinya.
"Aku mau tuntut semuanya," katanya kepada Jason malam itu. Suaranya bergetar. "Semua akun. Satu per satu. Aku tidak peduli berapa lama."
Jason, untuk pertama kalinya dalam hal seperti ini, justru yang menahannya.
"Duduk dulu."
"Jangan suruh aku tenang."
"Aku tidak menyuruhmu tenang. Aku menyuruhmu duduk, karena kau berdiri sejak empat puluh menit lalu."
Tim digital mereka bekerja dua hari. Hasilnya: unggahan itu berasal dari sekelompok penggemar lama yang bahkan tidak memiliki hubungan apa pun dengan Sanna. Sebagian akun dibuat dalam bulan yang sama.
Sanna sendiri yang lebih dulu mengirim pesan.
Aku baru tahu. Itu bukan dari pihakku, dan aku sudah melaporkannya dari akunku sendiri. Kalau perlu pernyataan, aku bersedia.
Mereka akhirnya mengambil langkah hukum hanya terhadap dua hal: penyebar data pribadi—nama sekolah Lila sempat muncul di sana—dan akun yang mengirim ancaman langsung. Bukan setiap komentar buruk, bukan setiap orang yang merasa berhak menilai.
"Kalau kita kejar semuanya, kita akan menghabiskan lima tahun hidup kita di ruang sidang," kata pengacara mereka. "Dan mereka akan menikmati setiap hari dari lima tahun itu."
Valeri butuh dua malam untuk menerima nasihat itu. Yang membuatnya akhirnya setuju bukan hitungan biaya, melainkan pertanyaan Jason di dapur.
"Kalau kita menang semua kasus itu, apa yang berubah untuk Lila?"
Valeri tidak bisa menjawabnya.
Foto anak-anak kembali dihapus dari seluruh akun publik, termasuk akun yayasan.
Lila mengetahui persoalan itu dari temannya di sekolah, yang menunjukkan tangkapan layar di kantin.
Ia pulang dan bertanya di dapur, sambil masih memakai seragam.
"Kenapa orang yang tidak kenal kita bisa bilang aku bukan keluarga?"
Valeri mengeringkan tangannya. Ia berjalan ke ruang tengah, membuka laci, dan mengeluarkan foto ulang tahun yang sudah dicetak dan belum sempat dipasang.
"Lihat ini," katanya. "Menurutmu, orang yang melihat foto ini tahu apa tentang kita?"
Lila mengangkat bahu.
"Mereka tahu ada empat orang berdiri di depan pohon." Valeri menunjuk. "Mereka tidak tahu kamu belajar menggendong adikmu selama dua minggu sebelum foto ini. Mereka tidak tahu malam-malam ketika kita saling menjaga, pertengkaran kita, permintaan maaf yang canggung, dan sarapan yang gosong."
"Sarapan gosongnya sering."
"Sangat sering." Valeri menyerahkan foto itu ke tangan anaknya. "Karena orang di luar hanya melihat satu gambar. Keluarga kita tidak ditentukan komentar mereka."
Sanna datang beberapa minggu kemudian untuk urusan yayasan.
Ia membawa berkas perjanjian kerja sama bantuan hukum, duduk di ruang tamu, dan seluruh percakapan berjalan sopan sampai batas yang hampir menyakitkan. Lila keluar dari kamarnya, menyapa, lalu berdiri di ambang pintu dengan tatapan seorang anak yang sedang menimbang sesuatu.
"Tante," katanya tiba-tiba, "Tante dulu pernah mau menikah sama Ayah?"
Jason hampir tersedak tehnya. "Lila."
"Tidak apa-apa." Sanna meletakkan cangkirnya. Ia memandang Lila, bukan Jason. "Dulu aku pikir begitu," jawabnya jujur. "Ternyata aku lebih ingin memenuhi rencana keluarga daripada menikah dengannya."
Hening sebentar.
"Jadi Tante tidak suka Ayah?"
"Aku menghormatinya. Itu beda."
Jason meletakkan cangkirnya dengan suara agak keras. "Aku duduk di sini, lho."
"Kami tahu," kata Valeri.
"Jawaban itu membuatku terdengar seperti perabot."
Semua orang tertawa, termasuk Sanna, dan entah bagaimana setelah itu ruangan menjadi jauh lebih longgar. Lila bahkan menunjukkan buku gambarnya sebelum Sanna pulang.
Malamnya Valeri memasang foto keluarga di ruang tamu.
Ia memakunya sendiri, sedikit terlalu tinggi, lalu mundur untuk melihat hasilnya. Tidak satu pun dari mereka tampak sempurna di sana. Rambut Jason berantakan karena angin. Aruna mencondongkan badan dan tangannya sudah setengah jalan menuju kue. Lila tertawa dengan mata tertutup rapat, mulut terbuka, sama sekali tidak menghadap kamera.
Justru itulah alasan Valeri menyukainya.
Foto tersebut bukan bukti untuk meyakinkan dunia. Itu sekadar penanda sebuah kehidupan yang nyata—kehidupan yang tidak diberikan oleh keberuntungan atau nama besar, melainkan dipilih, dijaga, dan diperbaiki bersama-sama.