Lima tahun berlalu, dan rumah itu berubah tanpa pernah benar-benar terasa berubah.
Aruna tumbuh menjadi anak yang gemar bertanya. Bukan pertanyaan sopan yang bisa dijawab dengan anggukan, melainkan pertanyaan yang membuat orang dewasa diam sebentar di tengah sarapan.
"Kenapa orang harus kerja?"
"Kenapa Kakak boleh kunci pintu tapi aku tidak?"
"Kalau Ayah dulu bos, sekarang Ayah apa?"
Jason biasanya menjawab dengan serius, dan Valeri biasanya menunggu sampai anak itu menemukan lubang di jawabannya.
Lila mulai memasuki masa remaja. Ia lebih sering mengunci pintu kamar untuk menggambar, memutar musik yang tidak dikenali siapa pun di rumah, dan menjawab pertanyaan dengan satu kata. Tetapi setiap kali ia selesai dengan satu karya, ia tetap membawanya turun ke ruang tengah dan meletakkannya di meja tanpa berkata apa-apa, menunggu ada yang berkomentar.
Valeri masih memimpin program Asia, tetapi tidak lagi bepergian sesering dahulu. Ia belajar menolak, dan menolak ternyata keterampilan yang perlu dilatih seperti otot.
Jason mengembangkan yayasan panti menjadi jaringan pendampingan anak dan keluarga asuh di sebelas kota. Namanya tidak ada di papan mana pun. Ketika seorang staf pernah mengusulkan agar program besar itu memakai namanya supaya lebih mudah menggalang dana, ia menolak.
"Kalau programnya baik, dia akan hidup lebih lama daripada saya," katanya. "Jangan diikat ke orang yang bisa mati."
Pada ulang tahun keenam belas Lila, Ratih datang membawa sesuatu.
Ia duduk di ruang tamu, menunggu sampai kue selesai dipotong dan Aruna dibawa keluar bermain, lalu meletakkan sebuah amplop cokelat di atas meja.
Amplop itu sudah menguning di sudutnya. Ada tulisan tangan di depannya, hanya satu kata: Lila.
"Ini disimpan sejak proses adopsi," kata Ratih. "Ibumu menulisnya sebelum meninggal. Beliau menitipkannya dengan satu syarat—baru boleh diberikan kalau kamu sudah dianggap cukup siap."
Lila memandang amplop itu tanpa menyentuhnya.
"Siapa yang menentukan aku siap?"
"Kami berdiskusi. Tapi jujur saja, tidak ada yang benar-benar tahu. Kami hanya sepakat bahwa enam belas tahun cukup tua untuk memutuskan sendiri."
"Ibu sempat membacanya?" tanya Jason.
"Tidak," kata Ratih. "Amplopnya tidak pernah dibuka siapa pun. Itu juga bagian dari titipannya."
Lila membawa surat itu pulang ke kamarnya, tetapi tidak langsung membukanya.
Amplop itu berdiri di meja belajarnya selama empat hari, disandarkan pada kotak pensil. Setiap kali Valeri lewat dan pintunya terbuka, benda itu masih di tempat yang sama.
Pada malam keempat, Lila turun ke dapur.
"Kalau isinya membuatku sedih bagaimana?" tanyanya.
Valeri sedang mencuci gelas. Ia mematikan keran dan mengeringkan tangannya dulu sebelum menjawab, karena ia tahu pertanyaan seperti ini tidak boleh dijawab sambil melakukan hal lain.
"Kau boleh membaca sekarang, nanti, atau tidak sama sekali," jawab Valeri.
"Kalau tidak sama sekali, apa itu berarti aku jahat?"
"Tidak. Itu berarti kau belum mau. Surat itu tidak punya tanggal kedaluwarsa."
Lila menggigit bagian dalam pipinya.
"Aku mau sekarang," katanya. "Tapi jangan ada yang pergi."
Malam itu Lila memilih membacanya bersama Damar, Valeri, dan Jason.
Mereka duduk di ruang tengah. Lampu besar dimatikan lagi, seperti bertahun-tahun lalu. Damar datang dengan tergesa-gesa, masih membawa bau bengkel di bajunya, dan duduk paling dekat dengan Lila.
Surat itu ditulis dengan tinta biru yang di beberapa bagian menekan terlalu dalam ke kertas.
Ibunya menulis tentang penyakit yang dideritanya, dengan kalimat-kalimat yang berusaha terdengar tenang dan gagal di baris keempat. Ia menulis tentang ketakutannya meninggalkan Lila—bukan takut mati, tetapi takut anaknya akan tumbuh sambil merasa ditinggalkan dengan sengaja. Ia menulis tentang harapan agar putrinya tidak merasa bersalah karena tetap hidup bahagia.
Tidak ada rahasia besar dalam surat itu.
Tidak ada nama yang selama ini disembunyikan. Tidak ada warisan, tidak ada pesan misterius, tidak ada penjelasan yang membuat seluruh hidup Lila tiba-tiba masuk akal.
Justru kalimat-kalimat sederhana itulah yang membuat Lila menangis lebih keras.
Makan yang benar. Jangan lupa sarapan.
Kamu boleh sayang sama orang lain. Itu bukan selingkuh dari Mama.
Kalau kamu masih suka menggambar, teruskan. Mama suka melihat tanganmu kotor kena pensil.
Lila sudah lama membayangkan pesan terakhir yang dapat menjawab segala pertanyaannya. Ternyata ibunya hanya ingin ia makan dengan baik, terus menggambar, dan menerima kasih sayang tanpa merasa berkhianat.
"Dia tahu," kata Lila di sela tangisnya. "Dia sudah tahu aku akan merasa bersalah."
"Ibumu memang begitu," kata Damar pelan. "Dia selalu tahu apa yang akan orang pikirkan sebelum orangnya sendiri tahu."
"Kenapa dia tidak menulis yang panjang? Kenapa cuma soal sarapan?"
"Karena waktunya sedikit, dan yang tersisa di kepalanya cuma kamu."
Lila menekan surat itu ke dadanya dan menunduk lama sekali.
Damar mengusap punggung anak itu. Lalu ia mulai bercerita.
Ia menceritakan hal-hal yang belum pernah dibagikannya—bahwa ibu Lila tidak bisa menyanyi sama sekali tetapi tetap menyanyi di kamar mandi, bahwa perempuan itu pernah menabrak pagar tetangga dan menyalahkan pagarnya, bahwa ia menggambar di belakang struk belanja ketika sedang menunggu.
"Kamu dapat tangan itu dari dia," kata Damar.
Jason tidak bicara sepanjang malam itu.
Ia duduk di kursi paling jauh, menyediakan tisu, mengisi ulang air minum, dan mendengarkan. Ia tidak sekali pun mencoba mengubah kesedihan Lila menjadi rasa terima kasih kepada keluarga barunya. Ia tidak mengatakan "tapi sekarang kamu punya kami". Kalimat itu sempat ada di ujung lidahnya dua kali, dan dua kali ia menelannya kembali.
Setelah semua orang pergi dan Damar pulang lewat tengah malam, Lila melipat surat itu dengan sangat hati-hati dan menyimpannya di dalam buku gambarnya, di antara halaman yang berisi wajah ibunya.
Ia duduk di lantai, menyandar ke sofa, dengan mata bengkak.
"Aku mau kuliah seni," katanya tiba-tiba. "Mungkin di luar kota."
Jason terdiam terlalu lama.
Valeri melihat rahang suaminya mengeras, lalu melihat tangannya mengepal di atas paha, lalu melihat lelaki itu membuka mulut dan menutupnya lagi.
"Ayah boleh sedih," kata Lila. "Tapi Ayah tidak boleh membeli kampus dekat rumah."
"Aku tidak akan—"
"Ayah sudah mencari alamat kampusnya di ponsel, ya."
Jason menatap layar ponselnya yang memang sudah menyala. Valeri tertawa, sementara Jason mengangkat kedua tangan tanda menyerah.
"Aku akan berusaha menjadi ayah yang normal."
"Ayah tidak perlu normal," kata Lila. "Cuma jangan aneh."
Surat dari masa lalu ternyata juga menjadi surat menuju masa depan. Lila akhirnya memahami bahwa mencintai keluarga yang telah ia temukan tidak berarti meninggalkan ibu yang pernah melahirkannya.