Telepon itu masuk pukul setengah dua belas malam, dan Jason tahu dari nada suara Niko bahwa ini bukan urusan yang bisa menunggu pagi.
"Angkanya tidak cocok, Pak," kata Niko. "Bukan selisih kecil. Anak perusahaan kita di luar negeri sudah menyembunyikan kerugian selama hampir tiga tahun."
Jason duduk di tepi ranjang dalam gelap. Di sebelahnya, Valeri menyalakan lampu tidur tanpa bertanya.
"Berapa besar?"
Niko menyebut angkanya.
Jason menutup mata.
JYS Corp menghadapi krisis terbesar sejak ia meninggalkan jabatan CEO. Dalam empat puluh delapan jam, kabar itu bocor. Dalam seminggu, sejumlah pemegang saham besar mulai mengirim surat dengan satu isi yang sama, dibungkus dengan bahasa berbeda-beda: kembalilah.
Kembali sebagai CEO sementara. Kembali untuk enam bulan. Kembali sampai keadaan tenang.
Jason tergoda.
Ia tidak berpura-pura tidak. Ia mengenal perusahaan itu lebih baik daripada siapa pun—tahu di mana sambungannya lemah, tahu siapa yang bisa dipercaya, tahu kalimat apa yang harus diucapkan di depan bank supaya mereka tidak panik. Selama beberapa malam, ia tidur hanya tiga jam dan bangun dengan rencana yang sudah tersusun rapi di kepalanya.
Valeri mengamati itu selama lima hari sebelum bertanya.
Mereka sedang di dapur. Aruna sudah berangkat sekolah, Lila masih tidur karena libur, dan Jason berdiri menghadap jendela dengan kopi yang sudah dingin di tangannya.
"Boleh aku tanya satu hal?" kata Valeri. "Dan kau tidak harus menjawab sekarang."
"Tanya saja."
"Apa yang sebenarnya kau inginkan? Membantu perusahaan atau kembali merasa tidak tergantikan?"
Jason tidak langsung menjawab.
Ia berdiri di sana cukup lama sampai kopinya benar-benar dingin. Pertanyaan itu menyakitkan bukan karena tidak adil, tetapi karena sebagian jawabannya adalah yang kedua.
"Kalau aku bilang dua-duanya?" katanya akhirnya.
"Kalau begitu pastikan yang pertama yang memutuskan."
Sebagai ketua non-eksekutif, Jason memimpin pembentukan komite krisis.
Ia menolak tawaran menjadi CEO sementara dalam rapat dewan, secara resmi, dengan suaranya sendiri, supaya tidak ada yang bisa mengatakan ia menunggu dibujuk. Lalu ia melakukan hal yang lebih tidak populer: ia mendukung Niko mengungkap seluruh kerugian secara terbuka.
"Kalau kita cicil pengumumannya, kita akan diperiksa selama dua tahun," kata Jason di rapat. "Kalau kita buka sekaligus, kita babak belur sekali, lalu bisa bekerja."
Harga saham jatuh delapan belas persen dalam dua hari. Ada pemegang saham yang menelepon sambil berteriak sampai Jason harus menjauhkan ponsel dari telinganya. Ada yang menjual semuanya dan mengirim pesan perpisahan yang panjang dan pahit.
Tetapi perusahaan dapat menyusun rencana penyelamatan dari angka yang benar, bukan dari keadaan yang dipoles. Bank-bank yang semula mundur justru kembali ke meja setelah melihat laporan yang tidak disembunyikan.
"Mereka bukan takut pada kerugian," kata Niko suatu malam. "Mereka takut pada kerugian yang belum kelihatan."
Beberapa media menyebut Jason lemah karena tidak kembali. Satu artikel memakai judul yang cukup kejam: Pendiri yang Memilih Menonton.
Dalam rapat pemegang saham, seorang investor berdiri dan bertanya langsung.
"Bapak membangun perusahaan ini dari nol. Sekarang perusahaan Bapak sedang tenggelam. Kenapa pendiri malah bersembunyi ketika dibutuhkan?"
Ruangan hening. Beberapa kepala menoleh.
Jason berdiri dan menyalakan mikrofonnya.
"Saya tidak bersembunyi," jawabnya. "Saya hadir di setiap rapat komite krisis selama sebelas minggu terakhir. Tugas saya sekarang memastikan sistem bekerja, bukan mengambil kursi orang lain setiap kali keadaan sulit."
"Tapi Bapak yang paling mampu."
"Mungkin. Dan kalau saya kembali, apa yang terjadi lima tahun lagi ketika saya tidak ada? Kita akan mencari satu orang lagi untuk diselamatkan olehnya. Perusahaan yang hanya bisa selamat oleh satu nama bukan perusahaan. Itu ketergantungan."
Penyelidikan internal berjalan empat bulan.
Hasilnya tidak rumit dan justru karena itu memalukan: manipulasi dilakukan oleh manajemen lokal untuk mempertahankan bonus tahunan. Tidak ada konspirasi besar, tidak ada musuh dari luar. Hanya beberapa orang yang setiap akhir tahun memutuskan untuk menggeser angka sedikit, lalu sedikit lagi, sampai lubangnya tidak bisa ditutup.
Seluruh laporan diserahkan kepada otoritas. Para pelaku diberhentikan melalui proses hukum, bukan dengan pengunduran diri terhormat yang dibungkus siaran pers.
Pada minggu yang sama, Niko datang ke ruangan Jason membawa amplop.
"Saya mengundurkan diri," katanya. "Ini terjadi di bawah pengawasan saya."
Jason membaca surat itu, lalu meletakkannya di meja tanpa membukanya sampai habis.
"Kau tahu apa yang paling mudah sekarang?" katanya. "Pergi. Semua orang akan bilang kau bertanggung jawab, koran akan menulis kalimat manis, dan bulan depan tidak ada yang ingat. Lalu orang baru masuk, tidak tahu apa-apa, dan kita mengulang semuanya dari awal."
Niko diam.
"Tanggung jawab bukan selalu berarti pergi," kata Jason. "Kadang-kadang tanggung jawab berarti bertahan untuk memperbaiki apa yang terjadi di bawah kepemimpinanmu."
"Bagaimana kalau saya gagal lagi?"
"Maka kita akan tahu itu lebih cepat, karena sistemnya sudah kita perbaiki."
Niko bertahan. Ia mengubah cara pelaporan anak perusahaan, memindahkan audit ke jalur yang tidak bisa disaring manajemen lokal, dan memotong bonus yang selama ini dihitung dari angka yang paling mudah dimanipulasi. Sebagian keputusan itu membuatnya dibenci di beberapa kantor cabang.
Setahun kemudian JYS Corp kembali memperoleh laba.
Angkanya tidak spektakuler. Tidak ada pesta, tidak ada sampul majalah. Pemulihan itu tidak bergantung pada kembalinya sang pendiri, melainkan pada ratusan orang yang bekerja dalam sistem yang lebih terbuka—termasuk seorang staf keuangan di cabang luar negeri yang pertama kali berani mengirim surel tentang angka yang aneh, dan namanya kini ada di kebijakan perlindungan pelapor.
Di rumah, pada suatu Minggu sore, Jason mengeluarkan sebuah kotak dari lemari ruang kerjanya.
Di dalamnya ada papan nama kuningan dengan namanya, dan satu baris di bawahnya: Chief Executive Officer. Permukaannya sudah buram, dan salah satu sudutnya penyok karena pernah jatuh bertahun-tahun lalu.
Aruna ikut memandanginya dari balik lengan ayahnya.
"Itu Ayah?"
"Itu meja Ayah dulu."
"Sekarang mejanya siapa?"
"Om Niko."
"Ayah sedih?"
Jason memutar papan nama itu di tangannya sekali, lalu memasukkannya kembali ke kotak.
"Dulu sedih," katanya. "Sekarang tidak."
Ia menyerahkannya kepada museum kecil perusahaan pada hari Senin—ruang pamer sempit di lantai dasar yang dulu ia anggap pemborosan tempat, berisi mesin tik pertama, foto kantor lama, dan seragam satpam yang sudah usang.
"Akhirnya kau benar-benar melepaskannya," kata Valeri ketika mereka pulang.
"Aku tetap ingin meminta hak berkunjung."
"Ditolak."
"Sekali setahun. Lima menit."
Jason bercanda, tetapi hatinya terasa ringan dengan cara yang tidak ia duga. Perusahaan tersebut adalah ciptaannya, bukan anak yang harus tinggal di bawah kendalinya selamanya.