Pengumumannya keluar pukul empat sore, dan seluruh rumah tahu hasilnya sebelum Lila sempat mengatakan apa pun.
Anak itu berteriak dari lantai atas, lalu turun dengan melompati tiga anak tangga terakhir, lalu memeluk Valeri sambil melompat-lompat di dapur sampai gelas di rak bergetar.
"Aku diterima! Yogyakarta! Aku diterima!"
Aruna ikut melompat tanpa tahu apa yang sedang dirayakan.
Jason mengucapkan selamat, memeluk anaknya, dan tersenyum lebar. Lalu ia masuk ke ruang kerja.
Dua jam kemudian Valeri menemukannya di sana dengan tiga tab terbuka di layar: jarak tempuh Jakarta-Yogyakarta lewat darat dan udara, denah asrama kampus beserta sistem kuncinya, dan sebuah halaman berisi statistik kejahatan kota tersebut selama lima tahun terakhir, lengkap dengan grafik.
"Kau membuat grafik," kata Valeri.
"Aku mengunduh grafiknya. Berbeda."
"Jason."
"Angka pencurian kendaraan bermotor naik tujuh persen."
"Jason."
Ia mendorong kursinya menjauh dari meja dan menghela napas panjang.
"Aku tahu," katanya. "Aku tahu."
"Dia hampir delapan belas tahun," kata Valeri. "Kalau kita memutuskan semuanya untuk dia sekarang, dia akan pergi juga. Cuma nanti dia pergi tanpa memberi tahu kita."
Maka mereka melakukannya dengan cara yang lebih lambat.
Mereka mengunjungi kampus bersama pada akhir pekan. Berjalan kaki dari gerbang ke gedung studio, mencium bau terpentin dan kayu dari ruang patung, melihat mahasiswa tidur di lantai koridor dengan kertas gambar sebagai bantal. Lila tidak berkata apa-apa sepanjang jalan, tetapi wajahnya tidak bisa berbohong.
Mereka bertemu pengelola asrama, menanyakan jam kunci gerbang dan siapa yang bisa dihubungi bila ada masalah. Jason bertanya lima pertanyaan. Valeri menendang pelan sepatunya di pertanyaan keenam.
Malamnya, di warung dekat penginapan, mereka membahas anggaran. Semua angkanya ditulis di kertas dan dibagi tiga bagian: yang pasti, yang perlu dihemat, dan yang darurat.
"Kalau aku gagal satu mata kuliah, uangnya distop?" tanya Lila, setengah bercanda.
"Tidak," jawab Valeri langsung. "Uang bukan alat untuk membuatmu menurut. Kalau kau gagal, kita bicara kenapa."
Masalah muncul dua bulan kemudian.
Sebuah galeri di Jakarta menawarkan beasiswa penuh—kuliah, asrama, alat, bahkan uang bulanan. Syaratnya ada di halaman ketiga, ditulis dengan huruf yang sama besarnya dengan yang lain, dan justru itu yang membuatnya mudah terlewat: hak eksklusif atas seluruh karya Lila selama lima tahun.
Jason membaca kontrak itu selama dua belas menit lalu menaruhnya di meja.
"Ini merugikan. Jangan diambil."
"Ayah belum tanya aku."
"Aku sudah baca pasalnya. Semua yang kau buat lima tahun ke depan jadi milik mereka. Termasuk yang kau buat untuk dirimu sendiri."
"Ayah selalu berpikir semua orang mau memanfaatkan aku," kata Lila, suaranya naik.
"Karena memang ada orang yang pernah melakukannya."
Kalimat itu keluar sebelum Jason sempat menimbangnya, dan ia langsung tahu ia salah memakainya.
"Itu tidak sama," kata Lila. "Aku bukan anak dua belas tahun lagi. Dan itu tidak berarti Ayah boleh membuat semua keputusan."
Ia mengambil kontraknya, naik ke kamar, dan mengunci pintu.
Jason berdiri di ruang tengah cukup lama.
Valeri tidak mengatakan apa-apa. Ia tidak perlu. Jason sendiri yang akhirnya menyadari bahwa ia baru saja mengulangi kesalahan lama—kesalahan yang dulu ia lakukan kepada Valeri di kantor, bertahun-tahun sebelum apa pun di antara mereka dimulai. Ia menyampaikan kekhawatirannya dalam bentuk perintah, lalu bingung kenapa orang yang ia sayangi merasa dikecilkan.
Keesokan harinya ia mengetuk pintu kamar Lila sebelum berangkat.
"Ayah minta maaf."
Pintu terbuka sedikit.
"Bukan minta maaf karena isi kontraknya," lanjut Jason. "Ayah masih berpikir itu buruk. Tapi Ayah salah karena mengumumkan keputusan, bukan menjelaskan alasan."
Lila membuka pintunya lebih lebar.
"Ayah punya usul," kata Jason. "Ayah bayar pengacara yang tidak kenal Ayah, tidak kerja untuk yayasan, tidak kerja untuk perusahaan. Dia menjelaskan pasal demi pasal ke kamu. Ayah tidak ikut di ruangan itu. Yang memutuskan kamu."
"Ayah serius?"
"Ayah akan menunggu di lobi sambil menderita."
Pengacara itu menjelaskan selama satu jam empat puluh menit. Ia tidak menyarankan apa pun. Ia hanya membuka pasal, membacakannya, dan bertanya, "Kalau nanti kamu melukis sesuatu untuk dirimu sendiri, menurutmu ini milik siapa?"
Lila keluar dari ruangan itu dengan wajah yang berbeda.
"Ayah benar," katanya di lift.
"Ayah tidak akan menikmati kalimat itu."
"Ayah sudah menikmatinya."
"Sedikit."
Ia menolak tawaran tersebut minggu itu juga, dengan surat yang ia tulis sendiri. Dua bulan kemudian ia menerima beasiswa lain yang nilainya jauh lebih kecil, hanya menutup separuh biaya kuliah, tetapi tidak mengambil hak atas karyanya sama sekali.
"Aku masih bisa membuat keputusan yang salah suatu hari nanti," kata Lila ketika mereka mengemas barang.
"Tugas Ayah bukan memastikan kau tidak pernah salah," jawab Jason. "Tugas Ayah memastikan kau tahu rumah ini tetap terbuka saat membutuhkan bantuan."
Hari kepindahan tiba pada awal Agustus.
Aruna menangis sejak pagi karena kamar Lila akan kosong. Ia duduk di tengah kamar itu di antara kardus-kardus dan menolak pindah, sampai Lila berjanji akan menelepon setiap hari Rabu dan mengirim gambar setiap bulan.
"Kenapa Rabu?"
"Karena Rabu paling membosankan."
Damar datang membawa makanan yang jumlahnya cukup untuk satu asrama. Ada rendang, ada telur balado, ada dua toples keripik, dan ada panci kecil yang menurutnya wajib dibawa anak kos.
Valeri memeriksa daftar barang empat kali. Sprei, kotak obat, kabel, sandal, payung. Ia tahu itu berlebihan. Ia tetap melakukannya, dan di pemeriksaan keempat ia menemukan matanya ikut panas tanpa izin.
"Bunda," kata Lila dari ambang pintu. "Aku cuma pindah kota."
"Bunda tahu."
"Bunda menghitung sandal tiga kali."
"Bunda tahu."
Di depan asrama, ketika semuanya sudah diturunkan dan tidak ada lagi alasan untuk berlama-lama, Jason hanya memeluk Lila.
Itu saja. Ia tidak menyelipkan petugas keamanan di gedung itu. Ia tidak menyewa kamar di gedung sebelah, meskipun Valeri tahu persis bahwa suaminya sempat menanyakan harganya dan kemudian menutup halaman itu sendiri.
"Telepon kalau butuh apa pun," kata Jason. "Atau kalau tidak butuh apa-apa juga boleh."
"Iya, Ayah."
"Atau kalau cuma mau bilang makanan kantinnya jelek."
"Iya, Ayah."
Saat mobil menjauh dari gerbang, Valeri melihat suaminya menyeka mata dengan punggung tangan, cepat-cepat, seolah itu debu.
"Kau baik-baik saja, Boss?"
Jason menoleh mendengar panggilan lama itu. Ia tertawa pendek, lalu menggeleng.
"Tidak. Tapi aku akan baik-baik saja."
Melepaskan Lila bukan kehilangan. Itu hasil dari bertahun-tahun membangun rasa aman sampai anak tersebut cukup berani berjalan keluar dan tahu jalan pulang.