Keesokan harinya ….
“Sayang banget deh padahal kita masuk kampusnya bareng-bareng, tapi aku udah harus magang duluan dan kamu? Kamu baru mau daftar PKPA.” Langit hanya mengulumkan senyum manisnya saat mendengar apa yang dikatakan kekasihnya itu, Mentari Mahendra.
“Atau kalau kamu mau aku bisa kok tunggu sampai kamu selesai ujian profesi lalu abis itu kita daftarnya bareng-bareng,” usul Mentari yang sangat setuju dengan ide tersebut.
“NGGAK! Untuk yang ini aku sama sekali nggak setuju, Tar.” Mentari hanya mengerucutkan bibirnya saat mendengar apa yang dikatakan oleh Langit. Namun dia juga tidak memperlihatkan keterkejutannya, karena apa yang menjadi jawaban Langit pada dasarnya memang telah diprediksi sebelumnya oleh Mentari.
“Kamu dengan prosesmu dan aku juga begitu, Tar. Nggak semua bunga yang ditanam bareng-bareng bisa tumbuh dan mekar di saat yang bersamaan juga.” Kedua bibir ranum milik Mentari pun terkatup rapat saat mendengar apa yang dikatakan Langit dan dia sama sekali tak memiliki alibi yang pas untuk sekedar menimpalinya.
“Sekarang aku antar kamu ke tempat magang, ya? Kamu udah punya pilihan kan akan magang di mana?” tanya Langit lagi dan untuk kali ini Mentari tanpa sedikit pun ragu di dalam dirinya langsung saja menganggukkan kepalanya bentuk persetujuan.
“Udah kok, tapi itu papa yang urus. Aku percaya papa pasti akan menempatkan aku di firma terbaik selain firma Mahendra.” Sebelah alis milik Langit pun terangkat naik saat mendengar kata demi kata yang terlontar dari kedua bibir milik kekasih hatinya itu.
“Jadi kamu nggak magang di firma keluargamu?” tanya Langit dengan rasa penuh selidik, apakah mungkin ada yang dia lewatkan?
“Kak Kejora nggak izinin aku magang di sana, Ngit.”
“Katanya aku harus mandiri dulu, harus punya hal yang bisa diandalkan dulu sebelum aku duduk di salah satu kursi tertinggi di firma keluarga.”
Langit pun langsung saja menarik Mentari untuk masuk ke dalam dekapannya, mengunci dengan sangat erat tubuh wanita itu, mungkin ini adalah cara tersendiri yang Langit miliki untuk mengatakan pada wanita itu kalau semuanya akan baik-baik saja.
“Jadi sekarang kamu buktikan ama Kak Kejora kamu layak untuk itu.” Mentari bukan tipikal wanita bodoh, tanpa perlu dijelaskan secara mendetail dia juga sudah tahu tentang apa yang harus dia lakukan.
“Harapan yang sama juga untuk kamu, Ngit.”
Gawai milik Mentari yang saat ini berdering sangat nyaring seperti memberi jeda pada mereka. “Aku angkat telepon sebentar, ya?” Langit tentu saja mengiyakan apa yang menjadi keinginan kekasihnya itu, tanpa bertanya itu dari mana, dia tahu kalau kekasihnya itu juga butuh ruang untuk privasinya.
“Hallo, Pa?” Itu adalah kalimat pertama yang keluar dari kedua bibir ranum milik Mentari dan kini tanpa ada effort yang berarti, Langit juga sudah tahu kalau yang menghubungi Mentari adalah papanya Gunawan Mahendra.
“Kamu di mana, Tar? Ini sopir udah mau jemput kamu. Permohonan magang kamu telah diterima.” Raut penuh kebahagiaan terpancar jelas di kedua manik mata milik Mentari kala mendengar apa yang papanya katakan dan hal tersebut juga bisa dilihat oleh Langit.
“Aku bisa pergi—”
“Kamu dijemput sopir. Kamu di mana?” Dan kini Mentari pun seperti disadarkan secara paksa kalau sosok yang sedang dia hadapi saat ini adalah sosok yang sangat tidak menyukai penolakan. Sehingga apa pun yang menjadi keinginannya harus selalu terpenuhi tidak peduli apa yang menjadi alasan ke depannya.
“Oke, aku ada di kampus. Kalau mau aku tunggu di cafe depan aja.”
Mahendra memutus sambungan telepon di antara mereka saat merasa kalau tidak ada lagi yang perlu untuk mereka bicarakan.
“Sopir papa mau jemput, maaf aku nggak bisa temani kamu daftar PKPA.” Langit yang pada dasarnya memiliki hati seindah lembayung senja pun hanya mengiyakan saja hal tersebut, pikirnya ini bukanlah masalah yang berarti. Tidak perlu untuk diperdebatkan.
“Iya, sampai di sana kamu kabarin aku, ya?” Mentari hanya punya satu pilihan untuk ini. Dia pun mengiyakannya tanpa perlu untuk pikir panjang lagi.
Tak menunggu lama mobil alphard hitam langsung saja terparkir di depan area cafe dan tak sulit untuk Mentari mengenali itu milik papanya atau bukan.
“Sayang, itu sopir papa udah datang aku pergi dulu, ya?” Sepertinya kalian semua pun tahu tentang apa yang akan menjadi jawaban Langit.
Jalan demi jalan terus saja sang sopir lalu dan sebagai orang yang lahir juga tumbuh di Jakarta tentu saja Mentari tahu akan dibawa ke mana dirinya saat ini.
“Pak ini kita mau ke mana, ya? Kok kayak nggak asing.”
“Kita mau ke SJ Law Firm, Non.” Dan kini kedua manik mata milik Mentari pun seperti ingin melompat meninggalkan tempatnya saat mendengar apa sang sopir katakan, dia hanya tidak menyangka kalau papanya akan memilih SJ Law Firm sebagai tempat magangnya. Itu adalah kantor hukum paling bergengsi di Ibukota.
“Bapak yakin?” tanya Mentari yang ingin penjelasan dari ini semua sedangkan di sisi yang lainnya pun dia merasa kalau tidak ada yang salah dengan kedua indra pendengarannya.
“Sangat yakin, Non.”
Dan 20 menit berlalu mobil yang dikendarai oleh sang sopir benar-benar terparkir dengan sangat rapinya di pelataran SJ Law Firm.
“Bapak menunggu Non Mentari di lobi.” Mentari yang telah mengerti hanya memilih untuk mengangguk saja. Secepat yang dia bisa, wanita cantik itu pun memutuskan untuk turun dan melangkahkan kakinya dengan sangat mantap masuk ke dalam area firma.
“Papa?” panggil Mentari dengan sangat antusias. Mahendra bukan satu-satunya yang mendengar panggilan itu, tapi dia yakin kalau itu hanya ditujukan untuk dirinya.
“Hei, kamu sudah di sini, Tar?” Mentari pun dengan sangat cepatnya menganggukkan kepalanya sebagai tanda pembenaran.
“Papa serius urus aku untuk magang di sini? Pa … ini tuh di luar ekspektasiku sekali.” Mahendra yang mendengar racauan sang putri bungsu hanya mengulum senyumnya dengan begitu singkat, tapi masih terasa teduh.
“Kapan juga papa pernah bercanda masalah seperti, Tar?” Mahendra mengangguk lalu salah satu tangannya terulur untuk menepuk pelan salah satu pundaknya.
“Semua persyaratan telah papa urus. Kamu bisa langsung ke atas ketemu dengan pimpinannya langsung. Dia teman papa kok.”
“Papa nggak ikut?”
“Papa harus ke Bareskrim setelah ini. Kamu pulangnya ama sopir aja. Papa dijemput kakakmu.” Mentari hanya mengangguk, dia sungguh ingin menahan papanya untuk lebih lama di sini, tapi semesta kemudian membuatnya sadar kalau dunia sang papa tidak hanya berpihak pada dirinya.
“Ya udah, kalau begitu aku ke atas langsung ya?” Mahendra tidak memiliki lagi opsi yang lainnya selain mengiyakannya.
Dengan diantar oleh salah satu resepsionis Mentari pun melenggang menuju lantai tertinggi yang ada di gedung ini.
“Ini, Bu. Ruangan Pak Surya.” Tanpa rasa curiga sama sekali, Mentari langsung saja mengulurkan tangannya untuk mengetuk pintu ruangan yang ada di hadapannya tentu saja dia melakukan ini setelah resepsionis itu tidak lagi berada di dekatnya.
“Masuk!” Suara bariton itu mampu untuk menggetarkan hati milik Mentari. Sensasi yang sejauh ini tidak pernah dia rasakan saat bersama dengan Langit.
Tidak ingin diberikan instruksi kedua maka langsung saja Mentari membuka pintu tersebut dan saat dia telah berada di dalam ruangan tersebut, dia merasakan sensasi yang tidak kalah asingnya bahkan jika tidak mengingat sang papa bukan tidak mungkin kalau dia akan kabur saat melihat sosok di balik meja kerja tersebut.
“Kamu?” beo lelaki yang mungkin sebaya dengan Mahendra. Bahkan untuk memperjelas apa yang dia lihat saat ini dia bangkit dari duduknya menatap Mentari dengan begitu lekatnya.
“Takdir membawamu kembali, Anak Kecil!”