“Nggak, ini nggak mungkin.” Mentari menolak percaya kalau yanga ada di hadapannya saat ini adalah pria yang pernah dia temui saat hendak masuk ke sebuah universitas ternama di Ibukota. Dia berusaha dengan sekuat mungkin untuk bangun dari mimpi buruk ini, tapi sayangnya saat ini dia tidak sedang tidur, itu poin yang paling penting untuk ini.
“Tapi sayangnya in adalah kemungkinan yang paling aku semogakan,” ucap Surya Jardana bahkan dia tidak segan untuk membelai pipi milik Mentari. Iya, memang benar kalau firma ini adalah milik keluarga Langit, kekasih Mentari.
“Kamu mau apa?” tanya Mentari dengan penuh ketakutan.
“Kamu yakin mau tahu apa mauku?” tanya Surya dengan menarik salah satu bibirnya. Tentu saja apa yang Surya lakukan saat ini kian menambah ketakutan di dalam Mentari.
“Kamu nggak mungkin nggak tahu ‘kan apa yang aku inginkan saat ini?” tambah Surya dengan mengambil langkah mengitari Mentari. Wanita cantik itu bahkan sangat kesulitan untuk mendorong salivanya seperti ada banyak duri yang menancap di dalam tenggorokannya saat ini, tapi dia juga tak memiliki pilihan lain selain mencoba untuk tampil baik-baik saja. Mentari tidak boleh kalah kali ini.
“Kita ulang apa yang telah kita lakukan 4 tahun yang lalu.” Mentari sontak menggelengkan kepalanya saat mendengar hal tersebut. Namun secara tidak langsung dia seperti disadarkan secara paksa kalau sosok yang sedang dia hadapi saat ini adalah sosok yang bukan tandingannya. Dibandingkan dengan seorang Surya Jardana dia hanya butiran debu. Tidak ada apa-apanya.
“Tidak, aku tidak mau.” Meskipun Mentari menolak apa yang menjadi keinginannya, tapi Surya juga tidak ingin buru-buru untuk hal tersebut.
“Aku tidak butuh persetujuanmu untuk itu, aku hanya butuh kamu di bawahku untuk membuka lebar pahamu.”
PLAK!
Satu tamparan secara spontan Mentari daratkan di pipi Surya dan pada saat itulah dia akhirnya sadar kalau dia sedang dalam masalah besar.
“Kamu—”
“M-maaf,” potong Mentari, tapi di saat yang hampir bersamaan juga dia sadar kalau dia hanya sedang membela dirinya. Namun semua itu sudah terlambat, Surya sudah tersulut emosi dan untuk meredakan amarahnya pun itu bukan perkara yang mudah.
“Kamu kenapa minta maaf?” Sontak Mentari tidak bisa dengan santai untuk menanggapi apa yang pria paruh baya itu katakan. Tidak sama sekali. Dan sangat tidak mungkin juga kalau tamparan yang tadi dia berikan mengakibatkan otak pria ini bergeser ‘kan? Itulah yang coba untuk Mentari temukan jawabannya, tapi tetap saja ini bukan hal yang mudah.
“Hah, maksudnya?” Dari sekian banyak tanya yang berkecamuk di dalam diri Mentari hanya itu yang bisa dia utarakan dengan baik.
“Kalau ada yang harus disalahkan di sini, itulah saya. Maaf kalau saya sudah lancang membahas apa yang terjadi di antara kita 4 tahun yang lalu gadis manis.” Mentari tidak butuh waktu yang lama dia langsung saja menepis perkataan Surya itu dengan sebuah gelengan kepala yang sangat mantap, tidak keraguan di dalam dirinya saat ini.
“Saya bukan lagi gadis tepat setelah kejadian itu,” bantah Mentari.
“Tapi kamu tetaplah gadisku. Aku sudah lama mencarimu, aku bahkan menghubungi Karin hanya untuk mempertemukan kita lagi, tapi dia bilang kamu tidak lagi terlihat saat itu.”
“Iya, itu memang benar. Dan kalau boleh saya tahu Anda mencari saya untuk apa?” tanya Mentari yang meskipun suasananya sudah mulai terkontrol kembali tetap saja dia harus waspada untuk ini, bukan tidak mungkin kalau ini adalah jebakan ‘kan?
“Untuk memperbaiki apa yang seharusnya aku perbaiki.”
“Aku ingin menikahimu dan mempertanggung jawabkan apa yang telah aku lakukan saat itu.”
“Tidak perlu untuk itu. Saya sudah mendapatkan apa yang saya butuhkan saat itu, uang 150 juta.”
“Kamu tidak ingin menikah?” tanya Surya dan kali ini dia menghunuskan tatapannya yang sangat tajam.
“Wanita yang mana yang mau hidup sendiri? Saya rasa tidak ada yang ingin untuk hal tersebut. Saya pun demikian adanya. Namun kalau saya harus menikah saya pastikan itu tidak dengan Anda.” Penolakan yang diberikan oleh Mentari seperti mengajarkan Surya bagaimana rasanya dikuliti secara hidup-hidupnya. Bahkan seharusnya semesta harus menciptakan lagi satu kata di atas kata perih karena perih saja tidak cukup untuk mendeskripsikan perasaan seorang Surya Jardana saat ini.
“Mungkin kamu hanya butuh jeda untuk hal ini. Aku akan maklumi itu. Silakan duduk dulu aku ingin menjelaskan sesuatu padamu.” Tanpa perlu untuk dikomando secara berulang Mentari pun langsung saja mengiyakannya kali ini dia mengerti kalau yang lelaki itu bicarakan hanya kapasitasnya sebagai seorang pengacara pendamping bukannya pemilik kehormatan Mentari.
“Mulai besok kamu akan resmi sebagai pengacara magang di sini, tadi papamu datang secara langsung permohonan tersebut. Dan aku pikir kamu juga sudah tahu tentang hal ini sebelumnya.”
“Jadi tugas kamu hanya satu di sini, dampingi aku apa pun agendaku.” Rahang bawah milik Mentari pun terbuka dengan sangat lebar saat mendengar apa yang dikatakan oleh Surya. Kalau memang dia pun bisa jujur, apa yang Surya katakan barusan adalah hal yang berada jauh dari ekspektasinya saat ini.
“Lalu?”
“Aku bilang tadi hanya, yang mana itu berarti adalah tugas kamu adalah satu. Berada di sampingku, atau kamu berada di tempat di tidurku juga?” Dengan sangat cepatnya Mentari pun langsung menggelengkan kepalanya sebagai bentuk penolakannya.
“T-tidak,” jawab dengan Mentari dengan terbata-bata.
“Kalau kamu merasa tidak nyaman kamu bisa cari firma lain dan aku tidak akan menghalangi kamu untuk itu.” Kedua alis milik Mentari pun saling bertautan satu sama lain, tapi sepertinya dia tahu apa yang membuat Surya dengan sangat cepatnya memiliki paham seperti itu.
“Silakan kamu cari firma yang memberi tugas seringan seperti yang aku berikan.” Mentari tertegun sambil berpikir kalau apa yang Surya katakan itu tidak sepenuhnya salah.
“Kamu mau—”
“Saya tidak.” Senyum yang teramat manis langsung saja tersungging di kedua bibir milik Surya mendengar hal tersebut dan tanpa dia sadari pun kalau saat ini Mentari merasakan tremor yang cukup kuat di sekujur tubuhnya hanya karena melihat senyum manis tersebut.
“Sepertinya tidak ada lagi yang harus kita bicarakan, kamu bisa pulang sekarang. Namun kalau kamu tetap mau—”
“Saya pulang.” Mentari tahu kalau dia akan sangat lancang untuk menyela apa yang atasannya itu katakan. Surya pun memilih untuk menahan Mentari lebih lama lagi, tidak untuk saat ini.
“Mari aku antar.”
“Terima kasih, tapi saya masih ingat jalan mana yang harus saya ambil untuk pulang.” Sekali lagi tidak banyak yang bisa dilakukan oleh Surya dia hanya bisa memperlihatkan senyum terbaiknya.
“Gerhana ke ruangan saya sekarang!” titah Surya lewat sambungan interkomnya. Dan tak butuh waktu lama sosok yang menjadi kepercayaannya di firma selama bertahun-tahun muncul juga. Sekaligus sahabatnya saat mereka saat menjadi mahasiswa jurusan hukum strata satu.
“Ada yang bisa aku bantu?” tanya Gerhana karena dia cukup tahu kalau atasannya itu tidak mungkin membuang-buang waktunya secara percuma.
Surya lalu menarik laci meja kerjanya dan menyodorkan sebuah foto kepada pria yang sedang berhadapan dengannya itu.
“Ini siapa? Jangan bilang anak harammu?” Rahang bawah milik Surya langsung mengeras saat mendengar spekulasi yang keluar dari bibir milik Gerhana tersebut.
“Namanya Mentari Anjani, mulai besok dia menjadi pengacara magang di sini. Aku mau kamu cari tahu tentang dia sedetail mungkin. Jangan ada yang kamu lewatkan dan aku mau informasi itu sudah ada di sini sebelum jam pulang kantor.” Meski semuanya masih ambigu untuk dirinya, tapi Gerhana mengiyakan saja hal ini. Yang Gerhana lihat kalau situasi hati Surya sedang dalam kondisi yang baik dan dia tidak ingin untuk merusaknya.
“Baiklah.”