“Tante Sky, aku nggak jadi jalan ama Mentari. Ya, kalau tante ada waktu bisa kok kita jalan hari ini.” Itu adalah kalimat yang terlontar dari kedua bibir Langit saat sambungan telepon di antara dia Sky terhubung satu sama lain.
“Bisa kok, kamu ke rumah sakit aja. Soalnya tempat yang mau kita datangi itu nggak jauh kok letaknya dari rumah sakit.” Tanpa perlu Sky mengulang perkataannya Langit pun mengiyakan saja hal tersebut tanpa ada tanya lebih jauh.
30 menit kemudian kini Langit telah berada di rumah sakit. Dengan langkah teramat mantap pria itu langsung membawa dirinya untuk menuju ruangan Sky.
“Masuk!” Langit memutar saja kenop pintu saat mendapatkan izin dari sang empunya.
“Tan, mau pergi sekarang?” tanya Langit, tanpa diselimuti ragu sama sekali ibu satu orang anak itu langsung saja menganggukkan kepalanya sebagai bentuk persetujuannya.
“Tentu, Ngit.” Menuju tempat tujuan mereka menggunakan mobil milik Sky karena tidak mungkin juga kalau Langit membonceng Sky dengan motor sportnya.
“Tan, ini seperti jalan menuju pemakaman Medika?” tanya Langit sambil mengedarkan pandangannya ke bahu jalan dan kali ini dia yakin dengan hal tersebut. Karena sebelum ini pun dia pernah ke sini.
“Iya, kita memang mau ke sana. Kamu duduk tenang aja, Ngit. Tentang kenapanya kamu juga akan tahu kalau kita sudah di sana.” Langit pun tidak memiliki opsi lain selain patuh pada hal tersebut.
Dan tak lama setelah itu Sky dan juga Langit telah turun dan langsung saja menuju tempat yang ingin Sky tunjukkan padanya.
“Assalamualaikum, Lan.” Langit yang tidak tahu apa-apa hanya diam tanpa ada sepatah kata pun yang keluar dari kedua bibirnya, dia hanya mengamati lekat makam yang disinggahi Sky.
“Lan, coba tebak aku datang ama siapa? Yang jelasnya nggak sama Mas Bintang atau sama Bumi.”
“Ngit, coba ke sini, Nak!” Langit pun bertingkah tak ubahnya seperti seekor sapi yang dicolok hidungnya dia menurut saja apa pun titah yang terlontar dari kedua bibir milik Sky tanpa ada pertanyaan yang berarti.
“Kamu lihat deh apa yang aneh dari makam ini.” Langit pun mulai meneliti dengan begitu telitinya apa yang aneh dari makam ini, tapi sayangnya ini bukan hal yang mudahnya untuknya.
“Tanggal wafatnya sama dengan tanggal lahirku, Tan.” Itu memang yang menjadi tujuan Sky ke sini. Namun semua masih terasa multitafsir untuk Langit, dia belum bisa meraih titik terang dari ini semua.
“Iya, karena dia adalah mamamu, Ngit. Dia wanita yang berjasa, rela menukarkan nyawanya hanya untuk kamu bisa melihat dunia ini.” Sekujur tubuh milik Langit membeku. Dia terus saja menilik ke dalam dua manik mata milik Sky dan yang dia temukan hanya kejujuran.
“Ini mama aku?” tanya Langit yang kenapa sangat sulit untuk mempercayainya, tapi di sisi yang lain pun sosok yang ada di hadapannya saat ini tidak mungkin untuk membohonginya.
“Tapi papa nggak pernah bicara tentang ini ama aku.” Sky sungguh tidak memiliki opsi yang lain selain memaklumi hal ini. Untuk hal apa pun yang ada hubungannya ama Bulan, maka Surya akan menjauhkannya dari Langit. Karena sampai pada titik ini pun pria paruh baya itu masih beranggapan kalau Langit adalah sosok yang paling bertanggung jawab kematian istrinya.
“Usia kamu udah 22 tahun kamu sudah lebih dari dewasa untuk mengetahui ini. Kalau papa kamu tidak mau jujur, maka kamu bisa percaya ama tante untuk ini.” Langit hanya diam, kedua manik matanya terus menatap Sky dengan tatapan yang penuh intimidasi.
“Mamamu meninggal bahkan saat kamu masih berlumuran darah saat itu, Ngit. Kamu dilahirkan secara caesar karena proses induksi pun tidak cukup untuk membuat mamaku melahirkan secara normal. Di tengah proses operasi yang sedang berjalan, tidak ada yang menduga sebelumnya kalau tensi mama kamu akan naik saat berada di meja operasi dan karena saat itulah kondisi mamamu tidak lagi bisa untuk diselamatkan.”
“Dan papa membenciku karena itu? Karena dia pikir secara tidak langsung akulah yang membuat mama meninggal?” Untuk pertanyaan yang ini entah kenapa menurut Sky diam adalah jalan ninja yang paling baik.
“Aku anggap diamnya Tante adalah bentuk persetujuan secara tidak langsung.”
“Aku nggak sakit aja papa pasti udah benci ama aku, apalagi kalau aku sakit. Kebenciannya akan semakin membabi buta. Karena tidak ada yang bisa dia banggakan dari aku.”
“Langit—”
“Makasih, Tante. Karena Tante aku tahu kalau papa ternyata pria yang baik. Pria yang hanya memiliki satu wanita di hidupnya.”
“Kamu mau pulang? Atau masih mau di sini?” tanya Sky dengan gemuruh sesak yang masih saja terasa di sekujur tubuhnya.
“Kita pulang aja gimana, Tan?” Sky pun mengiyakan saja hal tersebut tanpa ada tanya lebih lanjut yang melewatinya.
“Oke ayo kita pulang.”
Sedangkan di sisi lain kota ini atau lebih tepatnya kita kembali pada SJ Law Firm.
“Masuk!” teriak Surya dengan nada bariton yang mana itu memang khas dirinya.
KREK!
Saat pintu itu terbuka tak sedikit pun Surya mengalihkan atensinya dari berkas perkara yang sedang dia tangani, sepertinya dia telah memiliki feeling yang cukup kuat tentang siapa dalang dari ini semua.
“Ini yang kamu inginkan,” jelas Gerhana setelah dia duduk di hadapan Surya dan memberikan sebuah amplop coklat berukuran besar padanya.
“Ini valid?” Sebelah alis milik Gerhana pun mau tidak mau terangkat dengan sangat tingginya saat mendengar apa yang dikatakan oleh Surya.
“Kamu nggak sedang raguin aku ‘kan? Memangnya sejak kapan juga aku memberikan kamu informasi yang tidak valid, hah?” Kedua bibir Surya tidak lagi bertutur kata, sepertinya tanpa dia sadari dia telah membangunkan jiwa singa kelaparan milik Gerhana.
“Kamu baca sendiri atau aku yang bacakan?” tawar Gerhana, untuk beberapa kesempatan terkadang Surya juga terlihat seperti manusia normal pada umumnya, dia juga punya rasa ragu yang bersemayam di dalam dirinya.
“Aku baca sendiri aja.” Gerhana hanya mengangkat bahunya saat mendengar jawaban Surya dan dia tak sedikit pun memiliki niat untuk menghalangi hal tersebut.
Surya pun mulai membaca kata demi kata yang tertuang di dalam laporan yang diserahkan oleh sahabatnya itu.
“Kamu itu kenapa sih, Sur? Kamu terima anak magang, tapi kamu tidak memeriksa dulu rekam jejak yang dia miliki.” Akhirnya kalimat yang sejak tadi disimpan Gerhana sendiri di dalam dirinya bisa juga dia utarakan langsung di hadapan orang paling disegani di firma hukum ini.
“Masalahnya dia bukan sembarang anak magang, Ger.” Sayangnya tak peduli sekeras apa pun Gerhana memutar otaknya untuk memahami hal ini, tetap saja semua itu memiliki makna ambigu di dalam dirinya.
“Hah, bagaimana?” tanya Gerhana dengan sangat cepatnya.
“Dia calon ibu sambung Langit.” Kedua manik mata milik Gerhana langsung saja membulat, seperti ingin melompat keluar meninggalkan tempatnya saat ini juga. Pernyataan yang dilontarkan Surya barusan bagi Gerhana itu seperti berada di luar nalar.
“Hahaha … kamu pikir aku percaya ama bualanmu itu. Nggak sama sekali Surya Jardana.” Surya hanya memutar kedua manik matanya malas.
“Aku juga nggak butuh rasa percayamu, Ger.” Dengan apa yang dikatakan oleh Surya barusan kini tidak ada lagi alasan untuk Gerhana agar tidak menaruh kepercayaan yang besar untuknya.
“Kamu serius, Sur?”
“Apakah aku terlihat seperti orang yang sedang bercanda?”