Sore hari Reymond kembali pulang ke rumahnya untuk mandi dan mengganti baju sedangkan Ana di rumah sakit sendiri. Ana duduk di kursi roda di jendela, pandangannya mengarah ke luar jendela tampak di luar sana gedung berjejer rumah dan pusat perbelanjaan serata lalu lalang kendaraan.
Kota yang begitu ramai dengan hiruk pikuknya penduduknya. Kota yang tidak pernah sepi dari ia lahir hingga dewasa, Ana menyaksikan semua keramaian dan indahnya Jakarta saat sore hari.
Namun suasana kota yang ramai Berbanding terbalik dengan suasana hati dan kehidupannya. Sepi, mungkin gambaran tersebut yang pas untuk hidup Ana saat ini. Kepergian kedua orang tuanya membuat dirinya kesepian dan selalu merindukan sosok Kedua orang tuanya. Akan tetapi ia sadar hidup harus tetap berjalan, Ana hanya bisa tersenyum miris pada dirinya sendiri, menguatkan hatinya sendiri.
“Aku pasti bisa,” batinnya.
‘klek’ suara pintu terbuka.
“Ana!” Panggil seseorang. Ana menoleh dan melihat Rizal menghampirinya.
“Bang Rizal!” Rizal melihat Ana cemas dan tanpa sadar langsung berlutut di hadapan Ana lalu memeluknya. Ana terkejut berusaha melepaskan pelukan Rizal karena ia risih dengan pelukannya.
“Bang lepas!” Rizal melepaskan pelukannya lalu meraih Kedua jemari Ana dan menatapnya.
“Kamu kenapa? Kenapa gak kasih tahu Abang kalau kamu sakit.” Ana berusaha melepaskan genggaman tangan Rizal lalu sedikit memundurkan kursi rodanya.
“Ana udah kirim pesan sama Abang, tapi yang kirim Bang Reymond,” balas Ana meyakinkan.
“Tapi gak ada pesan masuk dari kamu na?”
“Masak sih? Tapi Bang Rey bilang udah di kirim pesan buat Abang kalau saya izin gak masuk. Terus Abang tau saya ke sini dari siapa?” Tanya Ana melihat Rizal berdiri.
“Dari tetangga kamu, tadi siang setelah nganterin Sarah pulang. Abang ke rumah kamu, tetangga kamu bilang kamu di bawa pacar kamu ke rumah sakit, jadi aku keliling rumah sakit terdekat cariin kamu dan aku baru ingat yang dimaksud pacar sama tetangga kamu itu pasti Bang Reymond. Ya udah aku langsung ke rumah sakit ini, karena Abang tahu Bang Reymond pasti bawa kamu ke rumah sakit yang bukan sembarangan,” Jelas Rizal.
Ana tersenyum dalam hati saat tahu jika tetangga mengira Reymond adalah pacarnya. Jadi benar selama ini Reymond tidak pernah membantah jika tetangganya selalu mengatai dirinya adalah pacarnya. Itu artinya Reymond mengaku dirinya adalah kekasihnya.
“Tunggu, tadi Abang bilang nganterin Sarah?”
“Iya, tapi Cuma nganterin.”
“Oh...” Ana sekilas tersenyum lalu melirik buah-buahan yang dibawa Rizal. Rizal yang mengetahui arah mata Ana pun tersenyum.
“Kamu mau buah?”
“Boleh?”
“Tentu, aku bawa kan, memang buat kamu.” Rizal mulai membuka buahnya dan sisanya ia letakan di meja, kemudian ia menghampiri Ana dan duduk di depannya lalu mengelupas buah jeruk untuk Ana.
“Ini makan.” Rizal menyerahkan jeruknya yang sudah dikupas dan sudah ia letakan di piring kecil.
“Terima kasih Bang,”
“Hem.”
“Mana Bang Reymond?” Tanya Rizal mencari keberadaan Reymond.
“Pulang, mau mandi dulu katanya. Sebentar lagi juga datang.”
“Oh..., Ana boleh Abang bilang sesuatu?”
“Boleh.” Jawab Ana santai tanpa curiga gelagat Rizal yang ingin mengutarakan isi hati padanya.
Rizal berlutut di hadapan Ana lalu meraih kedua jemarinya. Perasaan Ana sudah mulai tidak enak karena ia juga tahu Rizal menaruh hati padanya.
“Ana Felicia, Apa kamu mau menjadi pacarku?” Dugaan Ana tepat sekali, namun ia hanya tersenyum dan tidak mungkin menerima ataupun menolak. Perlahan Ana menarik tangannya dan tersenyum.
“Abang, Ana juga suka sama Abang tapi sebagai bawahan dan atasan. Selama Ana kerja di restoran Abang, Abang udah sangat baik sama Ana. Ana makan apa aja di sana juga Abang gak marah. Ana menganggap Abang sebagai kakak tidak lebih Bang,” jelas Ana membuat Rizal begitu kecewa, Akan tetapi Rizal tidak akan menyerah ia akan tetap mendekati Ana.
“Iya, Abang tahu tapi Abang boleh berusaha kan buat dapetin kamu?” Ana hanya tersenyum tidak tahu harus berkata apa lagi. Semua serba salah jika Ana mengatakan iya itu artinya memberikan kesempatan pada Rizal jika tidak itu artinya ia sudah membuat seseorang kecewa. Akhirnya Ana memutuskan hanya diam dan tersenyum.
“Diam mu Abang artikan kamu memberiku kesempatan untuk membuatmu jatuh cinta sama Abang,”
“Ana sudah menyukai seseorang Bang, tapi kalau Abang bersikeras terserah Abang,” balas Ana melihat sekilas kedatangan Reymond yang tersenyum padanya.
Rupanya Reymond sedari tadi menguping pembicaraan mereka berdua, Reymond juga senang Ana menolak pernyataan cinta Rizal. Dan ia paham siapa yang dimaksud Ana yaitu dirinya. meskipun masih sama-sama diam dan enggan untuk menyatakan cinta masing-masing.
“Abang,” Sapa Ana pada Reymond. Rizal pun menoleh ke arah Reymond yang berjalan menghampiri Ana.
“Hai...,lama nunggu Abang?” Sapa Reymond seraya mengusap kepala Ana.
“Gak kok Bang, gak balik juga gak apa-apa,”
“Kok gitu?”
“Bukan gitu Bang, Nanti Mama Abang cariin Abang.” Ralat Ana cepat takut Reymond salah paham karena adanya Rizal, Rizal kini paham siapa yang disukai Ana. Terlihat jelas tatapan keduanya begitu penuh cinta. Akan tetapi Rizal tidak akan pernah menyerah untuk mendapatkan cinta Ana.
“Mana mungkin tua Bangka kayak dia dicari, hilang juga gak ada yang cari,” ledek Rizal sambil duduk di sofa.
“Sial lo! Tua-tua gini banyak pengalaman daripada lo.”
“Halah, Preet! Buktinya sampai sekarang masih jomblo, udah tua bos, cari istri yang seumuran sana!” Cibir Rizal yang mengetahui jika Reymond dari dulu tidak pernah langgeng dengan kekasihnya.
“Gak usah lemes punya mulut, lo juga sama kan, jomblo!”
Ana dan Reymond terkekeh melihat ekspresi Kesal Rizal saat Reymond mengatai dirinya jomblo. Rizal sepertinya terjebak dengan ucapannya sendiri karena ia juga sama-sama jomblo.
“Terserah aku mau jomblo mau gak, masih muda, situ udah tua.”
“Muda gak jaminan hidup sampai usia 30 tahun,” ledek Reymond lagi.
“Jadi Abang nyumpahin aku?!”
“Gak!”
Rizal semakin kesal dengan ucapannya Reymond. Walau ia tahu itu semua candaan hanya saja Rizal malu di depan Ana. Kekesalan Rizal bertambah saat melihat Reymond menggenggam tangan Ana. Sepertinya ia benar-benar tidak ada celah masuk di hati Ana.
“Abang sudah, mana pesanan Ana?” Ucap Ana agar candaan mereka berhenti, Ana juga tidak tega melihat Rizal menahan malu.
“Oh iya, hampir saja lupa, sebentar Abang ambilkan,” balas Reymond yang kemudian mengambil pesanan Ana berupa baju dan keperluan Ana yang tadi ia letakkan di meja.
“Ini. Semoga pas ya.” Ana melihat paper bag yang di bawa Reymond
“Terima kasih ya Bang, maaf sudah merepotkan.”
“Tidak apa-apa, Abang tidak merasa direpotkan.” Keduanya tersenyum dan mengabaikan Rizal yang melihat sikap Reymond yang menurutnya berlebihan pada Ana, rasanya Rizal ingin muntah melihat itu semua. Halah iri kau bos haha.