Reymond dan Rizal rupanya menginap di rumah sakit menemani Ana di rumah sakit, dua pria berbeda usia sepertinya ingin bersaing sehat, walau kenyataannya Ana memilih Reymond. Akan tetapi memang dasar Rizal orang yang memang pantang menyerah walau sudah ditolak, ia akan terus maju sampai ia bosan sendiri.
Reymond bangun lebih dulu melihat kondisi Ana sudah membaik atau masih sama Seperti kemarin, kemudian ia menuju kamar mandi untuk membersihkan diri dan Shalat subuh. Setelahnya ia duduk di samping brankar Ana dan melihatnya. Perlahan Ana membuka matanya dan tersenyum melihat Reymond yang memandangnya penuh cinta.
“Pagi.,” sapa lembut Reymond mengusap rambut Ana.
“Pagi Bang.”
“Bagaimana? Sudah lebih baik?”
“Iya, mau pulang!”
“Iya nanti pulang, dokter bilang pagi ini sudah boleh pulang, dan kamu harus banyak istirahat di rumah.” Ana mengangguk dan meraih tangan Reymond yang mengusap rambutnya.
“Terima kasih yang Bang.”
Mereka berdua tersenyum lalu melihat Rizal yang bangun dan duduk di sofa. Sepertinya nyawanya belum sepenuhnya terkumpul.
“Woi…! Bangun, Shalat subuh!”
“Berisik!” Ana dan Reymond kompak tertawa melihat wajah bantal Rizal saat bangun tidur. Wajah yang begitu semrawut seperti kisah cintanya bersama Sarah. Rizal bangkit lalu menuju kamar Mandi.
“Abang tinggal sebentar ya, mau cari kopi,” ucap Reymond.
“Iya Bang, boleh minta sesuatu gak Bang?”
“Apa?
“hati-hati, jangan nyasar.” Keduanya tertawa, kemudian Reymond keluar menuju kantin untuk membeli kopi.
Setelah Reymond keluar Rizal pun keluar dari kamar mandi lalu ia Shalat subuh. Setelahnya ia mengambil ponselnya dan melihat begitu banyak pesan dan panggilan dari Sarah.
“Ck, ini kenapa bocah satu?” Rizal kemudian menghubungi Sarah.
“Ha…, ada apa?” tanya Rizal di seberang ponselnya.
“Kamu di mana dari kemarin aku tunggu!” omel Sarah dari seberang ponselnya. Rizal begitu kesal pagi-pagi sudah ada yang mengajaknya ribut, apa tidak tahu saat ini dirinya tidak ingin diganggu dan tidak ingin mencari gara-gara, apa lagi di tempat umum.
“Aku di rumah sakit Mandala.”
“Ha…?! Kamu kenapa? Kamu sakit? Tunggu aku, aku ke sana!” Sarah kemudian memutuskan sambungan ponselnya, sementara itu Rizal hanya heran mendengar jawaban Sarah yang mengkhawatirkan dirinya.
“Ini bocah kenapa sih?” gumam Rizal kemudian melihat Ana yang sedang memainkan ponselnya lalu pandangannya mencari keberadaan Reymond,lalu ia berjalan menghampiri Ana.
“Pagi na,” sapa Rizal. Ana terkejut membuat ponselnya terjatuh di wajahnya.
“Auh!”
“Maaf na, Abang gak sengaja,” Sesal Rizal seraya mengusap dahi Ana.
“Ahem…!” Terdengar suara Reymond tiba-tiba dan melihat tajam Rizal yang sudah berani memegang dahi Ana. Sedangkan Rizal bersikap santai dan tidak menghiraukan tatapan Reymond.
“Abang kok kopinya Cuma satu,” tanya Ana melihat Reymond membawa kopi hanya satu cup gelas.
“Kamu kan belum boleh minum kopi na,” balas Reymond menganggap Ana menginginkan kopi.
“Bukan untuk aku Bang, buat Bang Rizal. Masak Mantan calon adik iparnya gak di beliin sekalian.
“Beliin dia? Hem, ogah!” Cibik Reymond lalu menyeruput kopinya di depan Rizal seolah meledek.
“Siapa juga yang mau kopi dari kau Bang.” Sunggut Rizal meninggalkan mereka dan memilih ke kantin rumah sakit sendiri.
“Siapa juga yang mau kopi dari Calon kakak ipar gak jadi,” gerutu Rizal sepanjang jalan meluapkan kekesalannya pada Reymond. Lama-lama dekat dan berdebat dengan Reymond bisa membuat darah tingginya naik karena ia tidak pernah bisa menang berdebat dengan Reymond.
Dari kejauhan tampak seorang gadis berlarian menuju arahnya. Gadis tersebut jelas sekali sangat begitu cemas. Gadis itu akhirnya melihat Rizal berbelok ke arah kantin. Tanpa pikir panjang ia mengikuti Rizal, ia juga tidak mungkin berteriak di lingkungan rumah sakit untuk memanggil Rizal.
“Rizal!” Panggil saat di kantin membuat Rizal terkejut.
“Astaghrirullah!” Pekik Rizal tiba-tiba dihampiri Sarah dari belakang, beruntung kopinya tidak tumpah.
“Sarah! Kenapa hobby banget bikin orang kaget!”
Sarah hanya menunjukkan gigi putihnya tanpa rasa berdosa kemudian mengekor Rizal yang mencari tempat duduk. Mereka duduk berhadapan dan masih sama-sama diam.
“Aku pikir kamu yang sakit, aku sampai gak mandi nyusul kemari,” ucap Sarah membuka pembicaraan sambil melihat Rizal meminum kopinya.
“Siapa yang sakit?” tanya Sarah mulai penasaran.
“Bukan urusanmu.”
“Ya emang bukan urusanku, kalau bukan kamu yang sakit.”
“Terus kenapa tanya!” kesal Rizal melihat Sarah.
“Emang tanya aja gak boleh!”
“Gak!”
“Ngeselin ya lama-lama, Bodo’ ah!” Sarah kemudian meninggalkan Rizal begitu saja sedangkan Rizal masih duduk santai meminum kopinya sambil melihat Sarah meninggalkan kantin.
“Gadis aneh,” batin Rizal.
“Ih…! Dasar ya cowok gak peka, dikhawatirkan malah santai dan cuek. Eh tapi kira -kira siapa yang sakit? gebetannya? Halah gak mungkin dia punya gebetan,” racau Sarah sepanjang lorong rumah sakit, dan tiba-tiba melihat Reymond berada di bagian administrasi.
“Kak Rey?” gumamnya menyipitkan matanya memastikan bahwa yang dilihat itu adalah Kakaknya, Reymond.
Diam-diam Sarah mengikuti Kakaknya yang saat ini sudah berjalan masuk lorong dan memasuki lift. Sarah kemudian bertanya ke bagian administrasi untuk bertanya apa yang dilakukan Reymond.
“Sus,” panggil Sarah.
“Ya Mbak bisa saya bantu?”
“Pria tadi ngapain ya Sus?”
“Mohon maaf mbak, kami tidak bisa memberitahunya,” jawab Suster ramah.
“Saya istrinya Sus, tolong beritahu!” Bohong Sarah membuat Kedua suster yang ada di ruangan administrasi saling pandang, karena Suster tersebut mengetahui Reymond adalah suami pasien.
“Istri? Tapi yang di dalam juga istrinya,” Celetuk salah satu Suster.
“Apa? Istri? Ini tidak bisa dibiarkan!”
Sarah mulai seperti istri pertama yang ingin melabrak istri kedua. Sarah mulai menggulung lengan bajunya dan berkacak pinggang di depan Suster.
“Di mana ruangannya,”
“ Lantai 7 Ruangan Vanilla nomor 15.” suster sedikit ketakutan melihat ekspresi wajah Sarah.
“Terima kasih,” jawab Sarah kemudian menuju lift.
“Mampus. Ada perang dunia ke empat,” gumam salah satu suster yang melihat Sarah menuju lift.
“Dasar buaya buntung, punya kakak satu, eh..., Kakakku kan kembar. Ah pokoknya yang satu ini benar-benar bikin geger, nikah gak bilang-bilang. Awas saja aku kerjain!” Omel Sarah Seraya menekan tombol lift.
Sarah berjalan menuju ruangan yang dimaksud suster. Dengan rasa penasaran gadis bodoh mana yang mau dengan kakaknya yang konyol itu, suka memerintah tidak jelas. Akhirnya Sarah menemukan ruangannya.
‘BRAKK’ Sarah membuka pintu dengan kasar membuat Ana dan Reymond terkejut.
“Oh...! Jadi kamu gak pulang gara-gara pelakor ini, Hem…, bagus Reymond Mahendra! Lupa istrimu ini rumah!” Reymond menatap heran pada adiknya dan juga melihat ekspresi Ana yang juga heran, karena Ana sudah mengetahui wajah Sarah dan status Sarah sebagai Adik Reymond. Karena Reymond sempat memberitahu foto-foto keluarganya.
“Kamu kesambet apa? Datang-datang ngaku-ngaku istri. Ana sudah tau kau siapa?” tanya Reymond melihat adiknya mulai salah tingkah.
“He..., Aktingku gagal dong,” Cicitnya malu lalu berjalan menghampiri Ana dan Reymond.