Saat membuka mata, ia amat terkejut karena wajah sang suami hanya beberapa senti di atas wajahnya. Isyana bisa merasakan tangan Fahri melingkar di pinggang.
“Hubby, kenapa ada di sini?”
“Lalu aku harus berada di mana pada jam 2 dini hari seperti ini?”
“Astagfirullah... ternyata aku hanya bermimpi.” gumamnya, tapi rasa sakit itu entah kenapa masih terasa menyayat kalbu.
“Pasti memimpikan tentang aku. Dalam tidur pun istriku yang jelita ini selalu merindukanku, tapi di dunia nyata, akulah yang lebih merindukanmu, ya Qalbi,” ucap Fahri. Menatap mesra, sambil mendekatkan wajahnya pada wanita terkasih.
Jika sudah seperti itu, Isyana tidak bisa berbuat apa pun selain memenuhi kewajibannya sebagai seorang istri. Sebenarnya, tanpa embel-embel kata kewajiban pun, Isyana tentu saja akan melayani Fahri dengan segenap keikhlasan. Pria itu selalu berhasil membuainya dengan sentuhan lembut. Isyana bak tenggelam dalam romantisnya warna musim gugur, sebagaimana warna manik coklat terang milik pria tercinta.
Pria tempat ia melabuhkan rasa cinta untuk pertama kali. Satu-satunya pria yang berhasil mengetuk pintu hatinya, bukan karena ketampanan, kekayaan atau pun kesholehan, tapi karena ketulusan dan kemurnian cinta Fahri lah yang membuat dawai hati seorang Isyana tergetar.
***
“Ya Qolbi, sebelum ke D’Sista kita mampir di studio Abimayu dulu. Ada pemotretan yang harus aku lakukan.”
Pagi itu keduanya sudah berada dalam BMW putih milik Fahri. Alphard yang biasa dipakai Isyana, telah dipindah tangankan ke orang lain, demi menutupi kekurangan pembayaran gaji karyawan bulan itu.
“Pemotretan?” tanya Isyana menoleh pada sang suami.
“Aku harus melakukan strategi dengan menggencarkan promo marketing. Mengecoh pasar, agar di mata mereka kondisi Aryabrata masih terlihat baik-baik saja, semoga dengan begitu, bisa sedikit mengerem pergerakan saham Aryabrata agar tidak terjun bebas.”
“Tapi... itu berarti akan ada cost di marketing, misalnya saja membayar model serta biaya iklan, dan sebagainya.”
“Sudah kupikirkan semuanya Ya Qolbi. Insya Allah anggarannya tidak akan melebihi dari perhitunganku, karena kita tidak perlu membayar model, dan sepupuku memangkas semua biaya kecuali biaya produksi. Mulai dari ide, pembuatan storybaord yang semua Abimayu kerjakan sendiri,” ujar Fahri melirik sang istri sambil tersenyum misterius.
“Masya Allah, semoga sang Khaliq membalas kebaikannya berlipat ganda dan memberi ganti seorang istri sholeha agar Raka memiliki ibu yang mencintai dan merawatnya dengan tulus dan baik."
Fahri segera mengaminkan doa sang istri.
"Lalu modelnya?” lanjut Isyana.
“Siapa lagi kalau bukan CEO Aryabrata sendiri.”
Isyana menatap tak percaya, hingga manik hitamnya membulat sempurna. Tatapan yang selalu membuat Fahri gemas. Diraihnya tangan sang istri dan dikecupnya lembut, sedangkan tangannya yang lain tetap memegang stir.
“Insyaa Allah, dengan izin-Nya aku akan melakukan apa pun untuk melindungimu, Aryabrata, dan mereka semua yang menggantungkan hidupnya padaku, selama kau ada di sisiku, Ya Qolbi " ucap Fahri, kini memindahkan tangan sang istri, melatakan di atas dadanya yang bidang.
Bagi Fahri, apa pun yang menghimpit kalbu akan lenyap setiap meraskan kelembuatn jemari Isyana di atas dadanya, tapi kali ini efek tersebut entah kenapa tidak terjadi seperti biasanya.
Isyana mengerjapkan mata untuk menormalkan netra yang mulai berembun. Ia segera berpaling menatap ke kaca depan. Wanita penuh kelembutan itu betekad dalam hati, jika suaminya akan melakukan apa pun untuk melewati kemelut ini, maka sebagai istri, ia harus memberi dukungan maksimal, dan salah satunya adalah, ia harus tetap terlihat tegar dan baik-baik saja di hadapan Fahri dalam kondisi apa pun.
Sesampai di kantor advertising ternama itu, Fahri disambut Abimayu-sang sepupu dari pihak ayahnya-. Mereka berbincang lebih dulu mengenai konsep yang telah Abimayu buat dalam storybaord, Fahri langsung menyetujuinya. Setelah itu, Abimayu sendiri yang mengantarkan Fahri dan Isyana menuju studio di mana fotografer andalannya sudah menunggu.
Fahri menyalami erat sang fotografer sambil menyebutkan namanya. Pemuda berwajah tampan dengan rambut panjang yang diikat menjadi satu ke belakang secara asal itu pun memperkenalkan diri dengan santun.
“Sakti,” ujarnya ramah.
Saat bersalaman, keduanya merasa seperti pernah bertemu sebelum ini, tapi sama-sama tidak berhasil mengingat persitiwa pertemuan di salah satu supermarket sepulang tarawih beberapa bulan lalu. Ketika itu Fahri sedang menunggu Isyana, sedangkan Sakti tengah menunggu Priska dan Rayya.
Saat melihat penampilan Isyana, Sakti langsung teringat seorang gadis teristimewa di hatinya. Ia sudah tahu bagaimana harus bersikap di hadapan wanita bercadar itu. Sakti pun hanya menangkupkan kedua telapak tangan di d**a sambil mengangguk sopan, dan Isyana membalasnya dengan cara yang sama serta pandangan tetap menunduk.
Aaiisshhh... bikin gue kangen sama Rayya aja, gumam pemuda itu dalam hati, menyebut nama Ukthi yang selalu melekat di hatinya.
Setelah semua saling berkenalan, Abimayu pamit meninggalkan mereka.
"Fa, sorry, gue gak bisa temenin, tapi jangan khawatir, lo, ditangani oleh fotografer terbaik gue."
"It's ok, Bi, terima kasih untuk semua bantuannya. Insyaa Allah gue sama Sakti bisa berkokaborasi dengan baik, Lo juga hati-hati, dan jaga pandangan," sindir Fahri bergurau, karena Abimayu tetap saja mencuri pandang ke arah Isyana, meski wanita sholeha itu sudah bersembunyi di balik tubuh suaminya.
Secantik apa sih pake ditutup segala tuh muka, malah bikin penasaran. Samaan kaya gebetan si Sakti, nih, jangan-jangan wajah mereka beti sama si mbak-mbak bakul jamu penulis kawe, batin Abimayu.
"Allah udah bikin yang indah-indah harus dinikmatilah, mubazir kalau enggak dilihat," jawab Abimayu tertawa. Fahri dan Sakti hanya bisa geleng-gelang kepala menimpali tawa pria yang selalu tampil charming itu.
"Gimana, menurut kamu, Na?" tanya Abimayu, masih sangat penasaran dengan istri sang sepupu, yang menurutnya terlalu kaku. Sudah sekitar dua tahun menikah dengan Fahri, tapi baru tiga kali ini dia dan Isyana bertemu. Suara wanita itu pun terdengar hanya pada saat memberi atau menjawab salam.
"Menurut Kak Abimayu saja bagaimana nyamanya, asalkan tidak berlebihan," jawab Isyana santun serta suara datar, sekali lagi, amat kaku menurut pendengaran seorang Abimayu.
"Thanks, Na, noted tidak berlebihan," ucap sepupu sang suami itu sambil tersenyum santun. Berhadapan dengan Isyana, membuat lelaki mana pun mendadak sopan. Pria yang suka cari perhatian itu pun pamit sambil mengucap salam.
Pemotretan segera dimulai. Isyana tidak menyangka jika sang suami punya bakat beraksi di depan kamera. Sakti memberikan instruksi dan arahan pada Fahri dengan sangat santai dan tidak menggurui, sehingga sang CEO pun dibuat nyaman dalam berekspresi. Melakukan berbagai pose yang terlintas dalam benaknya. Fahri sangat kagum dengan kepiawaian pria muda berambut panjang paling tampan yang pernah ia jumpai itu. Sakti berhasil membuatnya nyaman melalukan berbagai gaya bak model profesional.
Tanpa terasa, enam puluh menit berlalu. Sakti memperlihatkan hasil mentahan yang belum diedit pada keduanya. Sepasang suami istri itu terkagum-kagum melihat hasil jepretan sang fotografer.
“Masya Allah,” ucap Isyana tidak dapat menyembunyikan ketakjubannya. Jika saja tidak ada Sakti-pria asing baginya-Isyana pasti sudah memberi komentar panjang lebar.
Di sela keasyikan melihat hasil jepretan dan berbagai pose eksklusif Fahri, sang CEO tampan pemilik Aryabrata grup itu, ponsel Isyana berdering. Tertulis Arumi. Ragu-ragu, disertai jantung berdegup, ia menggeser tombol hijau. Penelepon di seberang bahkan tidak menjawab salamnya lebih dulu sebelum bicara.
“Di mana? aku tidak punya banyak waktu. Kalian kira kalian siapa membuatku harus menunggu begitu lama. Satu jam lagi dari sekarang, jika belum tiba di sini juga, maka semuanya dibatalkan.”