Fahri menghentikan mobil di lobi D’Sista Hotel. Ia tidak langsung turun meski petugas valet parkir sudah mendekat dan siap membukakan pintu mobil untuk mereka.
“Ya Qolbi, sudah yakin dengan keputusanmu? karena setelah kaki kita melangkah ke luar, kita tidak mungkin mundur lagi. Aku berhak atas istri-istriku kelak. Tidakkah hatimu akan sakit jika merasa aku mungkin bersikap tidak adil. Suamimu ini hanya manusia biasa, Zawjatii. Atau begini, coba bayangkan sekarang, akan ada wanita lain di sisiku yang memiliki posisi sama denganmu. Dia berhak atas diriku sepenuhnya, mendapatkan cinta dan kasih sayangku.” Fahri berkata sambil menatap lembut pada sang belahan jiwa. Di saat-saat terakhir, ia masih berusaha dan berharap bisa mengubah jalan pikiran Isyana.
Mereka berdua telah melakukan rangkaian salat malam dan istikharah untuk meminta petujuk-Nya. Namun, Isyana terlihat yakin sejak awal bahwa keputusannya adalah solusi terbaik. Wanita sholeha itu bisa jadi memiliki ilmu agama mendalam, tapi di usia 25 tahun, jiwanya belum matang sepenuhnya.
Isyana terlalu yakin bahwa cinta Fahri padanya demikian besar hingga ia berspekulasi, kalau pun Fahri menikahi wanita lain, hanya dirinyalah sang bidadari CEO tampan itu, selamanya. Apalagi pernikahan Fahri dan Arumi bukan berlandaskan cinta. Pertimbangan lainnya, selama ini ia sudah hidup nyaman. Berlimpah harta serta kasih sayang. Diberi keluarga yang harmonis, kita saatnya ia meraih pahala sabar, karena pahala sabar itu tanpa batas.
“Hubby, tolong jangan menakut-nakuti seperti itu. Bukankah Hubby sudah menyetujuinya?” jawab Isyana bernada rendah. Rasa perih yang pernah ia alami saat kejadian dalam mimpi itu kembali menyayat kalbu.
“Usulan itu darimu, Ya Qolbi, jika kau tarik kembali, apa yang harus aku setujui, tapi jika tetap akan diteruskan, maka usulanmu yang aku setujui berpindah sepenuhnya menjadi tanggung jawab suamimu ini dunia akhirat, baik atau pun buruk. ” Suara Fahri masih tetap lembut.
"Kita belum mengenal Arumi, tapi dari permintaan mendiang Madam Ivone, bahwa ia ingin menitipkan Arumi pada kita berdua, agar bisa menjadikannya wanita Sholeha sepertimu. Bisa dibayangkan, sang ibu saja tidak berdaya mengubah putrinya, apa tidak terlalu gegabah jika kita menerimanya? gadis itu tidak sekufu dengan kita, Zawjatii."
Mendengar ucapan sang suami, Isyana ingin segera menciumi punggung tangan pria itu sambil tersedu-sedan. Fahri bukan hanya belahan jiwanya, tapi lebih dari itu, ia sangat sadar bahwa ridho sang suami bagai tiket terusan menuju Jannah-Nya, tapi entah kenapa hal itu tidak ia lakukan.
Isyana tidak ingin terlihat ragu sedikit pun di hadapan sang suami, maka yang keluar dari lisannya adalah, “bismillah, Hubby, semoga Allah menjaga dan membimbing kita selalu.”
“Genggam tanganku,” ujar Fahri.
“Hubby, petugas sudah bersiap di luar untuk membukakan pintu, dan mobil mengantre di belakang, masa kita malah bermesraan,” ujar Isyana berwajah panik, tapi tak urung diturutinya juga perintah sang suami.
Entah sudah berapa sering mereka saling bergenggaman tangan, tapi kali ini, ia bisa merasakan getaran sehebat ketika pertama kali Fahri menyentuh jemarinya. Berada dalam genggaman sang suami, Isyana merasa kenyamanan yang hanya bisa ia ungkapkan dalam satu kalimat, yaitu, dirinya tidak perlu mengkhawatirkan apa pun, kini dan nanti.
“Kelak, jika hatimu tak berkenan mengenai sesuatu, apa pun itu, yang tidak bisa kau ucapkan dengan kata-kata, genggamlah saja tanganku seperti ini, insyaa Allah suamimu ini akan paham maksudnya,” ujar Fahri sambil memaksakan senyum penuh kasih sayang, karena jauh di dasar hati, ada yang lebih perih dirasakan pria itu. Perihnya mungkin setara seperti saat ia kehilangan kedua orang tuanya.
Isyana tidak sanggup berkata-kata. Tenggorokannya panas terbakar, dadanya bergemuruh seolah ada gelombang hebat di dalam sana, dan air matanya siap tumpah ruah, sederas hujan setelah musim kemarau panjang.
“Mari kita turun sekarang, bidadariku.”
Genggaman tangan mereka kini sudah terlepas. Keduanya keluar dari sedan putih mewah itu melalui pintu yang berbeda.
Kendaraan kesayangan Fahri. Kendaraan penuh kenangan, karena dengan kendaraan tersebut, pertama kali ia bersama sang tante menemui Isyana di pondok pesantren untuk berkenalan dengan putri kyai ternama itu. Kini dengan kendaraan yang sama, ia berjalan bersama Isyana, istri terkasih yang merupakan cinta sejatinya, akan diperkenalkan dengan seorang gadis bernama Arumi, wanita yang akan menjadi calon istri keduanya.
Isyana bagai sedang berjalan di atas papan titian. Mengerikan tapi tetap harus dilalui, walau begitu pancaran mata indahnya tetap cemerlang. Membuat siapa saja yang beradu pandang dengannya secara tak sengaja akan terpukau oleh pesona irisnya yang hitam paket. Terbingkai sempurna di bawah bulu mata panjang nan lentik, serta alis terpahat alami.
Yusuf Fahri Aryabrata, berjalan tenang penuh wibawa. Ia mengenak setelan jas biru lembut serta kaos putih polos di bagian dalam. Outfit tersebut tentu saja pilihan sang istri tercinta. Sebelum turun dari mobil, Fahri sempat menyambar dan mengenakkan kaca mata hitamnya.
“Hotel ini terlihat tidak sebaik dulu,” ujar Fahri terus melangkah.
“Betul, Hubby, isnyaa Allah dengan silaturahmi ini, kita bisa menyelamatkan Aryabrata juga mengembalikan D’Sista sebaik ketika masih ada almarhumah Madam Ivone.”
“Lalu bagaimana dengan hatimu sendiri, Ya Qolbi, siapa yang bisa menyelamatkannya jika tiba-tiba porak poranda?” bisik Fahri setengah bergurau, lebih tepatnya memberi semacam peringatan.
“Hubby, kita sudah membahasnya berkali-kali, hingga dalam mobil tadi. Hubby sendiri yang mengatakan tidak bisa mundur lagi saat kaki kita sudah melangkah ke luar.”
“Aku tidak mengatakan akan mundur, aku hanya meresahkah hatimu Zawjatii, apakah tidak boleh?”
“Terima kasih Hubby, semua yang kau ucapkan hari ini sudah lebih dari cukup untuk menguatkan hatiku selamanya.”
Pengacara Madam Ivone berserta General Manager hotel tersebut segera menyambut kedatangan Fahri dan Isyana, begitu melihat keduanya berjalan mendekati meja resepsionis.
Setelah saling bersalaman dan menyapa, keduanya mempersilakan Fahri dan Isyana menuju ruang pertemuan, yang telah ditentukan oleh Arumi.
Pertemuan itu sendiri hanya dihadiri oleh Fahri, Isyana, Arumi, sang pengacara dan GM Hotel tersebut, karena segala sesuatunya akan terkait dengan penyerahan kepemilikan hotel secara legal kepada Isyana, tepat saat Arumi sudah sah menjadi istri Fahri.
Menunggu sekitar sepuluh menit, Arumi terlihat turun dari tangga. Mengenakan gaun panjang dan lebar, berleher rendah. Warna gaunnya hampir senada dengan setelan jas Fahri saat itu. Renda serta bunga-bunga kecil putih di bagian depan hingga melewati pinggangnya yang ramping. Gadis belia itu benar-benar bagaikan seorang putri. Tidak heran jika sang ibu selalu memanggilnya Princess demikian pula para staff hotel D’Sista.
Namun, tidak di mata Isyana apalagi Fahri. Pria itu baru saja berjalan masuk ruangan, setelah dari toilet, ketika Arumi turun. Melihat penampilan Arumi, Isyana segera berpaling pada sang suami. Dari cara Fahri menatap, meski sedang mengenakan kaca mata gelap, Isyana sudah bisa menduga apa yang ada dalam benak suaminya.
Isyana segera berdiri, berusaha mengukir senyum meski hanya bisa terlihat dari ekspresi matanya. Sang pengacara memperkenalkan mereka satu persatu. Arumi bersikap penuh percaya diri dan sedikit acuh, tapi Isyana bisa melihat, gadis itu berkali-kali mencuri pandang ke arah Fahri. Ada rasa lega di hatinya. Minimal sang wanita sudah memperlihatkan tanda-tanda adanya ketertarikan. Sekarang tinggal bagaimana ia meyakinkan Fahri.