Isyana dan Fahri duduk berdampingan pada sofa panjang. Arumi duduk sendiri pada sofa bersisian dengan sofa Fahri dan Isyana. Kuasa Hukum dan GM duduk berdampingan di hadapan mereka.
Sang kuasa hukum memulai dengan membacakan kembali surat wasiat madam Ivone. Saat itu Arumi menunduk lebih dalam. Ada kerinduan di hatinya pada sang ibu. Tanpa ia duga, pria yang duduk pada sofa bersisian dengannya mengulurkan lembaran tisu.
Arumi mengangkat wajah, tapi ternyata tatapan Fahri tetap fokus ke depan, hanya tangannya yang mengulurkan tisu tanpa menoleh ke arah Arumi. Kaca mata hitam masih bertengger pada hidung mancungnya yang sempurna.
Bukan tipikal Fahri masih mengenakan kaca mata hitam saat berbincang, terlebih menghadiri pertemuan dalam ruangan seperti sekarang, karena Fahri adalah pria yang selalu menghormati orang lain. Maka, jika saat ini ia masih mengenakan kaca mata hitamnya, pasti ada sesuatu yang membuatnya merasa lebih nyaman berlindung di balik kaca gelap itu.
Isyana bisa merasakan kejanggalan tersebut, tapi ia yakin sang suami pasti bisa mengendalikan segalanya, karena Fahri bukan pria biasa. Tiga puluh juz Alquran ada dalam kepalanya.
Tindakan kecil tadi pun tak luput dari pengelihatan Isyana, sekali lagi, ia merasa sangat mengenal Yusuf Fahri Aryabrata. Seorang pria berhati lembut dan penyayang. Fahri tidak akan tega melihat wanita menitikkan air mata. Isyana masih ingat semua kebaikan sang suami pada Diandra, Alena juga Nilam, saat mereka belum menikah.
Namun, yang Isyana tidak pahami adalah, kenapa hatinya masih saja seperti tercubit saat melihat sang suami berbuat baik pada wanita lain. Seperti yang terjadi beberapa detik lalu. Wanita sholeha itu segera menarik nafas panjang demi menetralsir kalbu.
Di bangkunya, Arumi dengan sesuka hati menyisik keras hidungnya setelah menerima uluran tisu dari Fahri. Ia tidak memedulikan sang kuasa hukum yang kini tengah membacakan surat perjanjian.
Arumi yang selalu bertindak sesuka hati, tidak menyadari bahwa pria setengah baya itu berhenti sejenak. Setelah Arumi selesai, baru melanjutkan kembali bacaannya.
Fahri sedang menyabar-nyabarkan hati. Ia terbiasa dididik dengan adab tinggi, sehingga tidak bisa bertoleransi pada orang yang tidak punya tata krama serta sopan santun. Sifat Arumi tadi, di mata Fahri sangat tidak bisa dimaklumi, apalagi gadis itu sama sekali tidak meminta maaf telah mengganggu jalannya pertemuan.
Baru saja perjanjian selesai dibacakan, terdengar suara lantang Arumi. Sekali lagi dengan gaya semena-menanya.
“Aku ingin menambahkan satu persyaratan lagi dalam perjanjian.” Serentak semua menoleh ke arah gadis cantik itu, kecuali Fahri. Ia bersikap acuh.
“Kak Isyana telah diwariskan hotel ini oleh mendiang ibuku, maka izinkan aku yang menjadi nyonya rumah pada mansion Aryabrata, sedangkan Kak Isyana silakan tinggal di hotel ini dan menguasainya," ucap Arumi penuh percaya diri.
“Mohon maaf, izinkan saya berbicara, hanya dengan istri saya dan Nona Arumi," ucap Fahri segera, masih terlihat tenang walau telinganya seperti terbakar mendengar kelancangan ucapan Arumi. Tidak bisa ia bayangkan bagaimana hati Isyana saat itu.
Arumi terkejut, walau bagaimana pun, ia gentar jika hanya seorang diri berhadapan dengan Isyana dan Fahri. Saat itu adalah untuk pertama kali ia berhadapan dengan keduanya, meski sudah beberapa kali saling berkirim pesan atau berbicara melalui telepon hanya dengan Isyana, serta melihat foto keduanya.
Namun, ketika berhadapan langsung seperti sekarang, gadis yang biasanya tidak pernah peduli dengan orang lain itu, bisa merasakan aura kecantikan seorang Isyana, meski pakaiannya tertutup rapat hingga wajah. Sedangkan kharisma Fahri, telah berhasil mengepung dirinya sejak awal melihat pria itu masuk ruangan. Pria itu lebih tampan dari yang ia lihat di foto.
Kini Arumi mengerti mengapa sang ibu sampai ngotot ingin menikahkan dirinya dengan Fahri, meski hanya menjadi istri kedua. Wanita mana yang tidak akan bertekuk lutut pada pria pemilik senyum lembut dan iris cokalt terang yang amat memesona itu, serta kharisma yang sulit dicari tandingannya.
Arumi yang selama ini sering semena-mena mempermainkan para pria, karena ia cepat jenuh pada suatu hubungan, paling lama hanya berlangsung selama tiga bulan. Gadis manja itu bahkan pernah memutuskan seorang pria hanya dalam jangka waktu satu kali dua puluh empat jam. Baru kali ini, gadis selalu bersikap egois itu merasa telah bertemu dengan pria yang sepadan.
“Tidak bisa, mereka harus tetap di sini mendampingiku. Kalian berdua adalah sepasang suami istri, lalu siapa yang akan melindungi aku?” ujar Arumi lantang. Masih menunjukkan sifat manja dan keras kepalanya.
Entah mengapa Isyana malah jadi iba. Ia mengerti rasa tidak nyaman gadis yang usianya hanya terpaut satu tahun di bawahnya itu.
“Dik, kami di sini pun akan melindungi dan memberi yang terbaik sesuai amanah mendiang ibumu. Seorang ibu tidak mungkin salah menilai, saat akan menitipkan putri semata wayangnya. Dan beliau menitipkanmu pada suamiku.”
Suara lembut penuh ketulusan itu, cukup menggetarkan relung hati Arumi.
Mana boleh seperti ini? Seorang Arumi takluk pada wanita yang rela berkorban, menyerahkan suaminya menikah lagi, hanya demi menjalankan amanah ibuku? OMONG KOSONG! Jika tidak diembel-embeli mendapat warisan hotel ini, aku yakin, ia tidak akan bersedia berbagi suaminya yang sempurna itu dengan wanita lain. Dasar Wanita materialistis! Kau tidak akan bisa memiliki semunya, kau hanya boleh memilih suamimu atau hotel ini, pikir Arumi dalam hati.
“Ya Qolbi, biarkan saja jika ia tidak bersedia, tugas kita pun selesai. Bukan kita yang menolak amanah ibunya, tapi dia sendiri. Ayo, kita pulang sekarang?” ucap Fahri ringan. Baginya akan sangat melegakan jika pernikahan tersebut batal.
“Hubby... .” Isyana berkata dengan suara amat rendah sambil menatap cemas dan penuh permohonan. Ia tidak mungkin menolak perintah sang suami. Ia sangat mengerti betapa tingginya kedudukan seorang suami.
Perintah suami adalah hal yang wajib ditaati seorang istri, kecuali jika perintah itu melanggar aturan agama.
Isyana selalu teringat pada sebuah kisah saat Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, ditanyakan, "Siapakah wanita yang paling baik?” Jawab beliau, “Yaitu yang paling menyenangkan jika dilihat suaminya, mentaati suami jika diperintah, dan tidak menyelisihi suami."
Isyana tidak ingin menjadi wanita Nusyuz, yaitu wanita yang membangkang pada suami. Allah SWT sudah menuangkan dalam ayat-ayat Alquran mengenai hubungan rumah tangga, di antaranya, dalam surta Al Baqarah ayat 187, Al Furqan ayat 74, Al Imron ayat 195, serta dalam surat An Nisa yang memang membahas secara detail tentang permasalahan kaum perempuan. Rasulullah juga menjelaskan lebih rinci di dalam banyak hadis-hadis beliau.
Isyana segera menundukkan wajah saat sang suami melihat ke arahnya dari balik kaca mata hitam. Kini ia akan menuruti apa pun keputusan Fahri. Ikhtiarnya sudah cukup. Isyana tidak ingin berlebih-lebihan, apalagi jika sampai menyakiti hati sang suami. Pria paling ia cintai dan hormati. Mana mungkin ia akan menentangnya, terlebih di hadapan orang lain.
Fahri mengulurkan tangan. Isyana menyambut patuh. Ia merasakan tangan sang suami begitu erat menggenggamnya, seolah ingin mengatakan, ‘jangan Khawatir, insyaa Allah Aryabrata akan baik-baik saja sekalipun pernikahan ini batal.’
Keduanya belum lagi sempat berdiri saat mendengar suara Arumi.
“Wait!”