Isyana menahan nafas, saat melihat sang suami mengurut pelipisnya dengan kedua jari. Ia sangat hafal ekspresi Fahri jika sudah merasa kesal. Kini pria itu pasti tengah menyabar-nyabarkan hatinya.
“Baiklah, aku bersedia kita bicara bertiga,” ucap Arumi menyerah.
Mendengar hal tersebut, sang kuasa hukum serta manajer hotel yang memang sangat menginginkan persoalan cepat selesai, sehingga tugas dan tanggung jawab mereka pun berkurang, serta merta berdiri, dan pamit pada ketiganya.
Kedua pria yang disegani oleh para karyawan hotel itu berjalan tergesa menuju pintu keluar, seolah khawatir, Fahri atau siapa pun akan mencegah langkah mereka, dan perjanjian kembali mendapat jalan buntu. Mengingat masalah ini sudah tertunda-tunda selama satu tahun lebih.
Kini tinggal Fahri, Isyana dan Arumi yang ada dalam ruangan. Sebuah ruang pertemuan yang didesain khusus hanya untuk beberapa orang saja. Merupakan fasilitas yang diberikan untuk para tamu VIP hotel berbintang lima tersebut. Terkesan nyaman dan mewah.
“Nona Arumi, sebelum kita membahas persyaratan yang tadi anda ajukan. Saya ingin memberitahu Nona lebih dulu, bahwa sebagai seorang pria, saya pun punya kriteria wanita seperti apa yang akan saya nikahi. Nona bisa lihat bagaimana penampilan istri saya," ujar Fahri sambil melepas kaca mata. Kini pupil coklatnya terlihat jelas. Membuat Arumi seketika terpana.
Mendengar ucapan sang suami, Isyana mulai tidak nyaman, ia duduk gelisah sambil melihat bergantian ke arah Fahri dan Arumi. Gadis berwajah mungil memiliki bola mata besar itu sedang menatap Fahri tanpa kedip dengan ekspresi yang tak bisa diartikan.
“Istri saya adalah seorang hafizah, ia hafal 30 juz Alquran. Itu mengapa mendiang ibu anda bisa memberikan kepercayaannya kepada istri saya untuk mengelola hotel ini, dibanding kepada putrinya sendiri. Dan, demi kebaikan Nona, beliau mengajukan syarat agar saya bisa menikahi Nona,” ujar Fahri penuh penekanan.
“Nona tahu apa syarat yang diajukan istri saya, saat saya ingin melamarnya? yaitu hafal minimal 15 juz Alquran." Netra Arumi tambah membulat. Siapa pun akan sepakat bahwa gadis itu sangat cantik, tapi tidak di mata Fahri.
"Saat ini, saya hanya minta Nona bisa hafal 1 juz saja. Juz ke 30. Syarat kedua, tolong tutup aurat Nona. Saya tidak punya banyak waktu mengajari seorang istri mengenal agama seperti membimbing balita. Apalagi mendidik orang dewasa itu jauh lebih sulit dibanding mendidik anak-anak yang masih bersih hati dan jiwanya.”
Arumi langsung menelan saliva. Duduk bergeming mendengar dua persyaratan Fahri.
“Dik, tenanglah, nanti akan saya bantu mempelajari semuanya,” ucap Isyana seperti sedang menenangkan anak kecil.
“Bagus kalau begitu, Aku tidak akan melarang kalian berdua saling membantu, bekerja sama, whatever, apa pun istilahnya. Mungkin memang harus dilatih mulai sekarang, agar dapat chemistri-nya," sindir Fahri.
Ia tidak mengerti, apakah harus kesal karena Isyana malah bersikap seolah berpihak pada wanita yang jelas-jelas akan menjadi saingannya, atau kagum pada keluhuran budi wanita sholeha itu.
Isyana mencubit kesal lengan sang suami. Ia tahu Fahri sedang menggodanya.
“Aauuww... kau menyakitiku, Ya Qalbi.”
“Habis, Hubby, suka menggoda ana,” ujar Isyana menatap manja.
Ia lupa jika sedang ada Arumi bersama mereka. Fahri memberi isyarat pada sang istri dengan menggerakkan bola matanya ke arah Arumi. Menyadari hal tersebut, Isyana segera mengubah posisi kembali menghadap ke depan. Untung saja wajahnya tertutup niqab, hingga tidak ada yang melihat rona merah meliputi pipi seputih dan selembut pipi bayi itu.
Di tempat duduknya, Arumi masih shock memikirkan syarat yang diajukan Fahri, hingga ia tidak memperhatikan kemesraan yang terjadi di hadapannya barusan.
Gadis cantik itu merasa serba salah. Jika ia tidak menyetujui persyaratan Fahri, ia akan dihantui rasa bersalah pada mendiang sang ibu karena tidak menuruti amanahnya. Di samping itu, D’Sista akan semakin tidak terurus, karena status kepemilikannya yang masih terus menggantung. Dan ia tidak memiliki kemampuan menangani hotel berbintang lima tersebut.
Hal lain, hati Arumi mulai terjerat pada pesona pria di hadapannya, walau gadis itu belum mau mengakui meski pada dirinya sendiri.
"Deal, hanya demi mendiang ibuku dan kelangsungan hotel ini sebagai peninggalan beliau," jawab Arumi bernada angkuh.
***
Sepekan sejak pertemuan, Fahri dan Isyana disibukkan oleh kegiatan masing-masing. Fahri mengurus Aryabrata, sedangkan Isyana lebih banyak menghabiskan waktu di D’Sista, untuk membimbing Arumi.
Di samping itu, sesuai saran dan permintaan kuasa hukum Madam Ivone serta General Manager D’Sista, meskipun Arumi dan Fahri belum resmi menikah, tapi secara bertahap Isyana sebaiknya mulai mengambil alih kepemimpinan hotel tersebut, sehingga mau tidak mau, ia ikut serta dalam berbagai pertemuan intern.
Isyana melihat jam di dinding pukul sepuluh tepat. Ia harus bergesa ke dapur untuk membuat makan siang Fahri. Wanita itu pun segera membuka mukena. Tidak terasa hampir satu jam ia duduk di atas sajadah sehabis melaksanakan salat Dhuha. Tenggelam dalam rentetan peristiwa yang tiba-tiba datang silih berganti.
Beberapa hari sejak kepergian Gita ke Boston, gelombang ujian kembali datang menerpa mereka. Aryabrata Oil Company, induk perusahaan Aryabrata Grup yang bergerak di bidang migas mengalami kerugian jutaan dollar.
Sejak itu, Isyana lebih fokus melayani sang suami. Ia sengaja menyiapkan sendiri makanan Fahri dan akan menemani sang suami makan siang di kantor, demi memastikan pria itu tidak melewati makan siangnya. Seperti Sabtu itu, karena Isyana baru akan ke D'sista siang hari. Ia selalu mengusahakan bisa makan siang bersama Fahri setiap ada kesempatan.
Setelah semua siap dan selesai menunaikan salat Zuhur lebih dulu, Isyana memesan taksi online. Sejak Alphard milik mendiang ibu mertua yang biasa ia gunakan sudah dijual, Isyana berusaha menekan rasa takut menggunakan taksi, akibat trauma kecelakaan dua tahun silam, tepatnya saat menjelang pernikahan, yang mengakibatkan nyawanya hampir melayang. Koma selama 6 purnama, dan harus menjalani rekonstruksi wajah, meski tetap memakai wajah aslinya.
Mengenakan gamis hitam, hijab warna khaki dan cadar hitam, ia kini sudah tiba di lobi menara Aryabrata. Beberapa karyawan mengangguk sopan ke arahnya. Seorang petugas keamanan siap mendampingi dalam lift.
Isyana terus mengucap zikir dan bersalawat. Ia tahu persis kondisi perusahaan tersebut makin terpuruk. Meski Fahri tidak menyampaikan padanya, tetapi Isyana bisa mendapatkan semua info tentang Aryabrata, dan apa pun yang terjadi di kantor, dari Ida-marketing manager Fahri-.
Setiba di lantai 25. Ia masuk melewati pintu kaca menuju ruang sang suami. Mashadi segera berdiri dari kursi begitu melihat istri pimpinannya tiba. Pria itu mengucap salam dengan suara cukup lantang, tetapi Isyana tidak menaruh curiga. Ia menjawab sambil terus berjalan melangkah ke arah ruangan Fahri yang pintunya terbuka.
Tanpa diduga, Mashadi langsung berdiri menghalangi, sebelum Isyana mencapai ambang pintu. Wanita itu pun menghentikan langkah. Perlahan mengangkat wajah, melihat ke arah pria bertubuh kecil dan berkacamata-asisten sang suami-.
“Ibu sudah datang!” ucap Mashadi, kembali bersuara lantang. Pria berkepribadian ramah dan pering itu tersenyum kikuk. Isyana marasa ada yang aneh. Ia pun mundur selangkah.