Dalam ruangan, Fahri masih duduk di atas sajadah. Hati dan jiwanya khusyuk berusaha menyatu dengan pemilik semesta, sementara kedua tangan tengadah penuh pinta. Di hadapan sang Khaliq, CEO tampan itu merasa amat kecil dan tak berdaya, hingga tanpa sadar air matanya sudah berderai-derai bak aliran anak sungai.
Suara sang asisten, menariknya dari alam kekhusyukan. Fahri spontan menoleh ke arah pintu. Merasa lega, ternyata sang asisten berhasil menahan Isyana sesuai arahnnya, agar wanita itu jangan sampai masuk mendadak sebelum ia mempersiapkan diri.
Fahri segera membersihkan jejak air mata di wajah. Berdiri dari sajadah dan pindah ke kursi kerja. Berpura-pura sibuk di hadapan laptop. Kemudian memberi jawaban dengan suara lantang.
“Istriku sudah datang? kenapa tidak langsung masuk saja?”
“Otw, Pak,” sahut Mashadi lega, karena berhadap-hadapan dengan wanita seanggun Isyana, membuat debur jantungnya tak kruan, dan itu sangat melelahkan. Sambil menghembuskan nafas, pria itu segera menepi, hingga Isyana bisa kembali meneruskan langkahnya.
Huufff... ampir aja Ibu liat Bapak lagi nangis darah di dalam, ya Allah bahaya kalau sampai kepergok Ibu, ucap pria itu dalam hati, segera menghempaskah tubuhnya di atas kursi. Tepat saat itu aipon berdering, Mashadi belum sempat mengucap salam, ketika suara yang sudah sangat dikenalinya langsung berceloteh.
“Mashadi, Mbak Isyana ada di dalam ruangan, Bapak, sekarang?”
“Iya.”
“Ngapain, sih, jadi sering datang?”
“Ya kalii... namanya juga istrinya,” jawab Mashadi tidak kalah sewot.
“Oke... .” Sambungan langsung terputus tanpa basa basi. Mashadi hanya bisa melihat gagang aipon sambil bersungut kesal.
Uda kaya istri kedua Bapak aja pake nanya-nanya and protes Ibu sering datang. Perusahaan lagi genting gini keponya tambah enggak jelas. Bukan mengundurkan diri aja, sih, biar bisa ngurang-ngurangin biaya gaji pegawai. Lalu mengembalikan aipon ke tempatnya.
Dalam ruangan.
Fahri tetap menunduk sambil menjawab salam Isyana. Khawatir matanya masih sembab. Isyana pun tidak memerhatikan. Ia berjalan ke arah sofa tamu dalam ruangan itu, dan segera merapikan perlengkapan makan di atas meja.
Setelah selesai, Isyana baru mendekati meja kerja Fahri. Merangkul mesra dari belakang, sambil meletakkan dagunya di bahu pria itu. Posisi favorit Isyana setiap berdekatan dengan suami tercinta. Entah kenapa ia tidak pernah bosan menyesap aroma maskulin dari tubuh sang belahan jiwa.
Ia ingin melewati kemesraan bersama sang suami sebelum harus berbagi dengan wanita lain. Sebenarnya jauh di lubuk hati, semakin hari ia makin ragu, apakah akan sanggup menjalaninya. Namun, Isyana sudah bertekad, jika ketiga ibunya bisa hidup harmonis dengan satu pria yang sama, maka ia pun harus bisa,
Iya, almarhum ayah Isyana memiliki tiga istri. Dari istri pertama tidak memiliki keturunan. Istri kedua adalah ibunda Maulana dan Basir, sedangkan ibunda Isyana merupakan istri ketiga, sehingga Isyana menjadi satu-satunya putri sang Kyai. Meski berbeda ibu, baik Maulana dan Basir sangat menyayangi adik mereka, pun istri-istri keduanya.
“Hubby, ayo, kita makan dulu.”
“Oke Dear, aku ke restroom sebentar, ya,” jawab Fahri memberi alasan. Ia mengecup tangan Isyana, sebelum melepaskan rangkulan sang istri dari bahunya. Masih tetap menghindari kontak mata dengan wanita tercinta. Berjalan ke luar ruangan menuju restroom untuk mencuci wajahnya agar terlihat lebih segar.
Isyana menarik nafas panjang menatap punggung sang suami. Serapat apa pun Fahri menutupi segala kesulitan dan kegelisahan di hatinya, sang istri tetap bisa merasakan beban itu. Tanpa terasa butiran bening jatuh menetes dan mengenai kaca meja Fahri. Ia segera mengambil tisu. Menekan-nekan kedua matanya dan membersihkan kaca meja sebelum sang suami kembali ke ruangan. Kemudian duduk di sofa menanti kedatangan Fahri.
Tidak perlu menunggu lama, pria pujaan hatinya itu sudah masuk kembali ke ruangan. Isyana segera mengambilkan makanan untuk Fahri. Menyodorkan piring yang telah terisi nasi dan lauk pauk, lalu bersiap mengambil piring lain untuk dirinya sendiri, walau sebenarnya sejak pertemuan dengan Arumi, selera makan Isyana makin menurun.
“Tidak usah ambil piring lain, kita makan berdua saja dengan piring yang sama,” ujar Fahri sambil menggeser duduknya merapat pada sang istri.
“Kita kan belum pernah pacaran, jadi anggap saja pacarannya mulai sekarang." Fahri mencoba berkelar. Ia sangat menyadari mereka berdua diliputi ketegangan selama dua pekan terakhir ini.
“Hubby, tapi kita sudah menikah hampir dua tahun.”
“Siapa bilang, baru satu tahun lebih, potong enam bulan saat dirimu koma, mana boleh itu dihitung.” Isyana tertawa mendengarnya. Ia tidak menyangka masih bisa tertawa pada saat segenting sekarang. Fahri memang selalu bisa membuatnya nyaman.
“Lagi pula, selama belum memiliki anak, anggap saja kita pacaran terus, tapi halal,” lanjut Fahri sambil melepaskan niqab yang menutupi wajah istrinya.
Saat kembali dari restroom tadi, Fahri sudah menutup pintu ruangan, serta vertikel blind, sehingga aman bagi sang Istri melepas kain penutup wajahnya.
Duh kenapa pake ditutup segala, sih, Pak? Bikin gue jadi berfantasi yang enggak-enggak. Enaknya punya bini. Nah, gue? Siapa yang bisa gue ajak merid? si Sofie uda merid duluan, tinggal penyihir nyinyir satu itu yang masih lajang, kalo sama dia, duh mending enggak deh, pikir Mashadi, sambil menggelengkan kepalanya, ketika terbayang wajah Yeye sang Direktur Personalia Aryabrata Grup.
Wanita lajang berusia 35 tahun itu sebenarnya cukup menarik dengan kulit dan wajah seputih porselen, tapi sikapnya membuat orang enggan berada di dekatnya meski hanya dalam hitungan menit, jika tidak dalam keadaan terpaksa.
Saran Fahri makan bersama dalam satu wadah, dan saling menyuapi, membangun rasa nyaman tersendiri, sehingga tanpa disadari, makanan di atas piring tersebut telah tandas.
Kecintaan dan kekaguman Isyana pada sang suami semakin berlipat. Ia tahu, Fahri sedang mempraktikkan kemesraan dan cara Rasulullah memanjakan istri-istri beliau. Makan dalam wadah yang sama juga menambah keberkahan. Makanan untuk dua orang, bisa cukup dimakan tiga orang, untuk tiga orang bisa cukup untuk empat orang, dan begitu seterusnya
Setelah membereskan perlengkapan makan, Isyana segera bersiap meninggalkan kantor Fahri, untuk menuju hotel D'Sista. Sang suami telah meminta sopirnya mengantarkan sang istri.
Kini ruangan itu kembali diliputi sepi yang tidak pernah Fahri rasakan sebelumnya. Dingin AC ruangan tidak lagi menyejukkan, tapi membuat suasana makin beku dan senyap. Ia amat merindukan kantornya yang dulu. Penuh kehangatan, serta aktivitas yang selalu memicu semangatnya.
Pria bersusia 29 tahun itu tiba-tiba teringat mendiang ibunya, tante Gitanya yang amat modern dan sigap dalam segala hal, karyawan andalan yang merupakan tangan kanannya-Tajab-lalu Melly, direktur keuangannya. Kini mereka semua tidak barada di kantor itu.
Sang pemilik semesta seolah sengaja menjauhkan mereka semua dari Fahri. Ingin menguji keteguhan imam pria itu saat harus berjuangan sendirian. Ketika sang Khaliq mencintai seorang hamba, maka DIA ingin hamba-Nya hanya bergantung pada-Nya semata.