Hari Sabtu memang hari libur, hanya beberapa orang staf dan direktur yang masuk kantor, termasuk Mashadi, meski Fahri tidak meminta asistennya itu untuk datang.
Namun, pria lajang yang telah mengabdi di perusahaan tersebut sejak mendiang ayah Fahri masih ada, akan merasa bersalah jika membiarkan sang pimpinan datang ke kantor, sementara ia berleha-leha di rumah atau jalan-jalan, padahal kondisi perusahaan tempatnya mencari rezki selama belasan tahun sedang berada di ujung tanduk.
Aryabrata memang memiliki karyawan yang loyal. Mulai dari petinggi hingga staf setara OB. Ada Yanto dan Nuri yang sering sesugukan di pojok pantry, setiap habis mengantar minuman untuk pimpinan tertinggi perusahaan tersebut. Mereka tidak tega melihat raut lelah pria rupawan yang amat dermawan itu.
Apalagi, jika sebelum masuk ruangan, mereka kerap mendengar lantunan suara Fahri sedang membaca ayat Alquran, penuh rintihan. Mereka tahu, hanya kepada sang Khaliq-lah tempat pria itu mengadu dan menyandarkan segalanya.
Fahri terus beristigfar demi melawan kelamahan hati. Sesungguhnya yang paling ia risaukan bukanlah dirinya, tapi nasib ratusan karyawan Aryabrata Grup yang menggantungkan kelangsungan hidup mereka pada perusahaannya. Perusahaan multinasional yang memiliki anak perusahaan mulai dari restoran, taman hiburan, properti hingga multimedia, dan migas sebagai bisnis induknya.
Jika perusahaan bangkrut, ia tidak yakin bisa memberi pesangon yang layak, tapi jika perusahaan ia alihkan sahamnya pada pengusaha lain, Fahri pun tidak yakin manajemen baru, bersedia menampung semua karyawannya. Mereka pasti akan memangkas dan membayar pesangon sesuka hati.
Kebijakan perusahaan pun dipastikan akan mengalami perubahan besar-besaran. Terutama untuk hal-hal yang menitik beratkan pada kesejahteraan karyawan secara syariah islam.
Seperti tunjangan cuti untuk wanita melahirkan dan datang bulan, tunjangan hijab syar’i, menyediakan buka puasa Senin-Kamis untuk seluruh karyawan Aryabrata grup. Baik muslim atau non muslim, semua mendapat jatah makanan buka puasa.
Iya, sejak Fahri mengenal Isyana, CEO muda itu sedikit demi sedikit membuat aturan-aturan yang bersifat religius. Kini dalam kurun waktu dua tahun, semua karyawan sudah terbiasa dan merasa nyaman atas semua fasilitas tersebut.
“Perusahaan Hubby saat ini sudah berada di ujung tanduk. Hubby harus segera mengambil keputusan. Maaf, bukan na ingin ikut campur. Tapi, saat ini nasib ratusan karyawan ada di tangan Hubby.”
kembali ucapan Isyana terngiang.
“Hubby, sekali lagi maafkan, na, tidak bisakah kita mempertimbangkan tawaran Madam... Ivone?” ucap Isyana hati-hati serta suara makin rendah.
“Astagfirullah, dirimu sungguh rela aku menikahi wanita lain?”
“Bukan seperti itu, Hubby, semua demi masa depan perusahaan ini dan seluruh karyawan Aryabrata yang jumlahnya ratusan. Apa Hubby rela perusahaan yang telah dirintis dengan susah payah oleh almarhum Papi jatuh ke tangan orang lain?”
“Ya Qalbi, sudah bertanya pada Allah sebelum menyampaikan semua ini padaku?”
“Sudah lama, na, terus melakukan istikharah, dan semakin yakin bahwa itulah jalan keluar terbaik yang bisa kita lakukan. Hubby, Rasulllah melakukan poligami untuk berbagai tujuan. Tujuan sosial agar bisa membantu mereka yang ditinggalkan suami saat perang, tujuan politik untuk meluaskan syiar Islam, jadi bukan karena hawa nafsu semata." Jeda sejenak.
"Kali ini pun Hubby melakukannya demi menyelamatkan para karyawan, kedua untuk mempertahankan perusahaan yang telah dirintis oleh almarhum Papi dan dipercayakan kepada Hubby sebagai putra tunggalnya. Ketiga sebagai amal sholeh kita membantu Madam Ivone yang telah menyerahkan putrinya agar bisa kita bimbing. Itu semua alasan yang mulia. Insyaa Allah sang Khaliq akan memberi Ridho-Nya.”
"Tapi Rasulullah pun tidak melakukan poligami selama 25 tahun pernikahan bersama istri pertama beliau, sampai Ibunda Khadijah berpulang."
"Hubby... ," rengek Isyana, kehabisan kata-kata menghadapi sang suami. Jika sudah seperti itu, hati Fahri pun akan luluh demi sang bidadari.
Meski dari luar terlihat tegar dan baik-baik saja, sebenarnya CEO muda pewaris tunggal kerajaan Aryabrata Grup itu sedang mengalami guncangan jiwa cukup mendalam. Ia merasa semua hal terjadi begitu cepat, padahal masih dalam suasana duka kehilangan sang ibu tercinta, enam bulan lalu.
Hanya ada satu cara cukup aman untuk ditempuh, yaitu memenuhi pemintaan mendiang Madam Ivone. Dengan begitu, Aryabrata bisa mendapat kucuran dana segar, sebagaimana saran Isyana.
Pilihan teramat sulit bagi seorang pria setia dan sangat mencintainya istrinya seperti Fahri, serta amat menyadari bahwa berlaku adil itu nyaris tidak mungkin dilakukan seorang pria biasa. Bagaimana pun, ia pasti akan zalim pada salah satu dari kedua istrinya kelak.
Terlebih Fahri memahami ayat-ayatnya. Poligami sebagaimana dijelaskan dalam surat An-Nisa ayat 3, nikahilah wanita-wanita yang kamu senangi, 1, 2,3 atau 4. Tapi jika kamu tidak bisa berlaku adil, pilih satu saja. Selanjutnya diberi penekan kembali pada surat An-Nisa ayat 129, dikatakan, sekali-kali kamu tidak dapat berlaku adil.
Walaupun Allah berjanji dalam surat Az Zumar ayat 10, bagi mereka yang sabar menerima apa pun, bisa dikategorikan termasuk sabarnya wanita yang ikhlas dipoligami, dikatakan, sesungguhnya hanya orang-orang yang bersabarlah yang dicukupkan pahala mereka tanpa batas.
Namun, sekali lagi tidak disebutkan kata poligami dalam ayat tersebut. Isyana, wanita sholeha yang paham dan mendalami Alquran. Ia hanya ingin merebut pahala sabar dari Robbnya, dan menurut Isyana, tidak ada sabar yang lebih tinggi dari kesabaran wanita yang rela dipoligami.
Isyana tidak mempertimbangkan dampaknya bagi sang suami. Wanita sholeha itu tidak pernah tahu, sejak penandatanganan kesepakatan pra nikah, yang berisi;
Arumi sudah harus hafal juz tiga puluh, dan mulai mengenakan hijab sebelum pernikahan berlangsung. Saat perjanjian ditanda tangani, tampuk pimpinan tertinggi D’Sista hotel mulai beralih pada Isyana, tapi kepemilikan syah secara legalitas sepenuhnya menjadi milik Isyana Zulaikha, baru akan dilakukan saat Fahri mengucap ijab kabul pada Arumi. Selanjutnya berlaku hukum Islam tentang hak dan kewajiban suami istri.
Sejak saat itu pula, Fahri mulai mengalami kejanggalan dalam dirinya, tapi tidak begitu ia pedulikan. Beberapa kali ia harus menggunakan google map padahal ia hanya berkendara dari kantornya menuju D’Sista, untuk menjemput Isyana. Rute yang selama ini sering ia lalui.
Kejanggalan lain, ia pernah mendadak tidak bisa menulis atau mengetik. Tiba-tiba saja ia lupa caranya menulis dan mengetik, hingga meminta sang asisten melakukannya. Mashadi sama sekali tidak curiga. Baginya sudah hal lumrah jika sang pimpinan minta bantuan mengetik ini itu.
Kini, dalam ruangan mewah yang dingin dan sepi, berbanding terbalik dengan isi benaknya yang amat berisik, tiba-tiba Fahri merasa kepalanya seperti terkena benda keras. Ia sempat melihat ke layar CCTV, memastikan Isyana sudah keluar dari lobi dan masuk dalam kendaraan.
Detik berikutnya, Mashadi terlompat dari kursi mendengar teriakan sang pimpinan memanggil namanya. Belum pernah terjadi Fahri berteriak pada karyawan.
Setiba di dalam ruangan, pria itu tercengang melihat pimpinannya memegang kepala. Tepatnya meremas rambutnya dengan kuat serta wajah tertelungkup di atas meja.
"Astagfirullah! Pak ada apa? apa yang bisa saya bantu? saya penggil ibu agar naik kembali, ibu pasti belum jauh atau jangan-jangan masih di lo...?"
"NO!!!" Sang asisten bagai tersedak sesuatu mendengar bentakan tersebut, tapi bukannya mundur, Mashadi malah melangkah lebih dekat.