"Carikan saya obat sakit kepala, penahan sakit, atau apa pun... ," ucap sang pimpinan masih menahan sakit tak terhingga. "Astagfirullah... ya Allah!" Wajah Fahri masih terbenam di meja.
"Katakan saja obatnya untukmu. Jangan sampai istri saya tahu," lanjutnya beberapa saat kemudian.
"Baik, Pak."
"Ingat, tidak boleh seorang pun tahu kondisi saya. Akan sangat berbahaya jika sampai ke telinga para pesaing Aryabrata."
"Baik, Pak, saya mengerti. Saya permisi dulu." Mashadi gegas ke luar ruangan. Tidak lupa menutup pintu dan menggantungkan tulisan "Don't Disturb" agar tidak ada yang nekat mengetuk pintu ruangan sang CEO itu.
Tidak sampai lima belas menit, Mashadi sudah kembali. Fahri segera menenggak obat yang disodorkan sang asisten, sekaligus dua butir.
Malam harinya.
“Hubby, jadwalku sepertinya akan bertambah padat. Sekarang saja kita bukan hanya jarang bisa makan siang bersama, tapi malah Hubby jadi repot harus menjemput, na, di hotel tiap hari.”
“Insyaa Allah, aku ridho melakukan semuanya, Ya Qolbi, tidak usah memberatkan pikiranmu,” jawab Fahri sambil meraih sang istri ke dalam pelukan.
Isyana pun menyamankan posisinya. Melingkarkan kedua tangan di tubuh Fahri dan menyandarkan kepalanya di d**a pria tercinta itu. Menyesap aroma parfum Fahri yang sepertinya tidak pernah luntur.
“Hubby... .”
“Hhmm... .”
“Na, akan meminta tolong Diandra jadi sekretaris di D’Sista, agar kita sama-sama merasa nyaman.”
“Boleh saja, tapi apa Diandra bersedia? bagaimana dengan kuliahnya?”
“Tadi pagi, na, sudah coba menghubunginya, ia sedang tahap menyusun skripsi, jadi sepertinya bisa sekalian untuk bahan skripsi.”
“Tidak bisa seperti itu, Sayang, Tugas sekretaris sangat kompleks. Ia harus menguasai semua unsur yang ditangani oleh pimpinannya, apalagi Ya Qolbi akan menjabat sebagai CEO di hotel tersebut.”
Jeda sejenak. Isyana melepas pelukan dan menegakkan posisi duduk, siap mendengarkan penuturan sang suami.
“Sekretaris CEO, harus seorang yang mau bekerja keras, cerdas dan cepat belajar. Ia adalah pintu ke luar masuk yang menghubungkan sang CEO dengan semua staff di bawahnya. Menyusun agenda pertemuan sesuai kapasitas tingkat kepentingannya, ikut menghadiri berbagi rapat dan membuat notulen.” Kini Fahri menegakkan tubuhnya. Sekarang mereka duduk berhadapan di atas ranjang.
“Coba bayangnya. Jika satu perusahaan memilik 10 departemen. Sang sekretaris harus bisa mengambil intisari dari laporan masing-masing departemen. Selain itu, sekretaris wajib memiliki kemampuan mengelola arsip yang efektif juga efisien, ia bagai google search pimpinannya setiap sang pimpinan membutuhkan data yang dkbutuhkan.”
“Alhamdulillah, jazaakallah khairan, Hubby, sudah memberi gambaran sangat detail. Besok akan na bicarakan lagi dengan Diandra lebih serius. Jika hanya akan menelantarkan kuliahnya, lebih baik ditunda dulu hingga ia lulus. Na bisa mencari asisten lain yang bisa dipercaya dan memiliki hubungan baik dengan kita berdua.”
“Sama-sama, Sayang. Oh iya aku hampir lupa, besok Ananta akan tiba.”
“Putranya, Om Andrian?”
“Yup... kuliahnya sudah selesai, mungkin ia akan membuka bisnis di sini, atau hanya sekedar jalan-jalan, aku juga kurang tahu.”
“Lalu... apa, Hubby akan menceritakan mengenai Aryabrata dan rencana kita padanya?” tanya Isyana berwajah prihatin.
“Sebaiknya tidak usah. Saat ini yang mengetahui masalah Aryabrata dan rencana kita hanya keluargamu. Kita akan memberitahu pada keluargaku setelah ada kepastian.”
“Marilah kembali ke pelukanku, sejak kapan kita berdiskusi hal-hal berat saat berada di area ini. Kita sudah sepakat sebelumnya, bahwa di atas ranjang ini, semua hal menjadi tidak penting selain... .” Fahri mendekatkan wajahnya pada sang istri.
“Hubby, nakal.”
Fahri tertawa mendengar protes manja Isyana.
***
Sebagaimana telah disepakati Fahri dan Isyana, Ananta, sepupu Fahri yang baru datang dari Boston, akan tinggal di D’Sista selama kunjungannya ke Indonesia, karena baik Fahri maupun Isyana tidak memiliki hari libur. Pada saat week end-Sabtu dan ahad-keduanya tetap datang ke kantor, serta jam kerja yang tidak terbatas.
Bukan karena ingin mengejar dunia, tetapi demi menyelamatkan ratusan karyawan Aryabrata yang sejak belasan, bahkan puluhan tahun sudah mengabdi di perusahaan multi nasional tersebut.
Setelah memperkenalkan Ananta dengan Isyana, Fahri segera kembali ke kantor, tanpa menemui Arumi. Alasannya, mereka belum halal, jadi cukup Isyana yang berkomunikasi dengan gadis itu.
Ananta sudah diantar petugas roomboy ke kamarnya setelah menyerahkan aneka oleh-oleh pemberian Gita dan orang tuanya untuk Fahri dan Isyana. Pemuda memiliki pesona hampir sama dengan sang sepupu itu, bersiap membersihkan diri. Ia hanya ingin beristirahat setelah menempuh perjalanan belasan jam.
Fahri dan Isyana pun sangat paham dengan kelelahan pemuda itu. Mereka maklum saat Ananta minta izin ingin segera istirahat seharian. Mungkin baru bisa menemui mereka kembali esok harinya, setelah jet leg yang ia alami hilang.
Pukul sembilan malam, Ananta baru terbangun, setelah tertidur selama tujuh jam sejak pukul dua siang tadi. Ia memegang perutnya yang tiba-tiba terasa lapar. Ananta melihat jam di ponsel.
Teringat pesan sang ibu sebelum ia berangkat, agar tidak meninggalkan salat lima waktu, Ananta memutuskan salat Isya lebih dulu, baru kemudian turun ke restoran. Menghilangkan kejenuhan, dari pada ia makan seorang diri dalam kamar.
Saat pemuda itu ke luar lift, Isyana pun baru ke luar dari lobi hotel. Fahri sudah menunggunya dalam kendaraan yang terpakir di lobi luar. Isyana memberi salam saat masuk mobil, mencium punggung tangan sang suami, kemudian Fahri membalasnya dengan mengecup mesra dahi Isyana.
Dalam hotel, Ananta melihat ke sekeliling.Iris tajamnya menyapu area lobi untuk menemukan restoran. Tanpa ia duga, tatapnya malah jatuh pada sosok yang entah bagaimana, setelah sekian lama ia masih bisa mengenalinya.
Tatapan Ananta langsung terbalaskan. Si wanita muda mengenakan pashima yang menutupi rambutnya meski belum benar-benar rapat. Kain tersebut hanya disampirkan seperti selendang.
Arumi tidak bisa menyembunyikan rasa terkejut saat beradu pandang dengan pria pemilik tatapan bak ‘Tiger Eyes’ itu. Tatapan yang tidak akan pernah bisa ia lupakan meski sudah berlalu sekian lama.
‘A r u m i!’ eja Ananta dalam hati.
Masa iya dia? tapi mata itu. Dan ia pun masih terus menatapku, pikir Arumi masih bergeming di tempat.
Tidak dapat memahan rasa ingin tahunya, Ananta melangkah, tapi tiba-tiba serombongan orang lewat tepat di hadapannya, menghentikan langkah pemuda itu. Ananta pun harus sabar menunggu beberapa saat, karena rombongan tersebut terdiri sekitar 10 orang, ditambah 2 troli barang serta 2 room boy.
Saat rombongan berlalu, Ananta terpaku mendapati gadis yang dilihatnya tadi tengah berdiri di depan meja resepsionis, tidak ada lagi di sana.