Kabar itu sampai ke kabupaten sebelah lebih cepat dari yang Ratri kira. Selvi keluar dari Hendra, dan dalam dunia kecil yang saling sambung lewat warung kopi dan grup pesan calo, sebuah berita seperti itu tidak bisa disembunyikan. Topo yang meneleponkannya, suaranya rendah seperti orang yang berbisik di balik tembok.
"Di sini geger, Nduk," kata Topo. "Orang-orang Mursid bingung. Hendra batalin tiga jadwal Selvi yang udah dipesan tuan rumah. Uang muka harus dibalikin. Ada yang minta ganti rugi." Ia diam sebentar. "Hendra marah besar. Tapi bukan marah yang teriak-teriak. Marah yang dingin. Itu yang bikin orang takut."
Ratri duduk di teras, mendengarkan, sambil tangannya tanpa sadar memilin ujung bajunya. Di kepalanya ia membayangkan kantor mewah itu—yang dulu pernah ia masuki sekali, dengan sofa empuk dan piala-piala palsu di lemari kaca—kini terasa lebih sepi. Bintang terbesar Hendra lepas. Dan bukan dibeli orang lain, bukan dibujuk lawan. Lepas karena melihat seorang biduan kampung bangkit.
"Dia bakal nyari kambing hitam," kata Topo lagi. "Dan kambing hitamnya kamu, Nduk. Hati-hati. Orang kalah pamor itu lebih bahaya daripada orang menang. Dia nggak punya yang bisa dijaga lagi."
Ucapan Topo itu menempel di dada Ratri sepanjang malam.
Dua hari kemudian, kabar berikutnya datang lewat Laras. Sang jurnalis menelepon pagi-pagi, suaranya cepat. "Mbak Ratri, Hendra ngumumin festival," katanya. "Festival Koplo Akbar. Dia majuin tanggalnya. Yang harusnya bulan depan, sekarang dua minggu lagi."
Ratri menahan napas. "Kenapa dimajuin?"
"Aku nduga," kata Laras, "dia mau buru-buru sebelum perkara kamu makin terang. Dia mau nunjukin ke rekanan-rekanannya bahwa dia masih kuat. Bahwa kehilangan Selvi nggak ada apa-apanya. Festival besar, panggung megah, banyak orkes—itu cara dia bilang ke semua orang: aku masih raja." Laras menarik napas. "Dan, Mbak, posternya masih pakai wajah kamu."
Ratri menutup mata. Poster itu. Wajah yang bukan wajahnya, dengan riasan tebal dan tubuh yang dijepret dari sudut yang membuatnya merasa telanjang meski berbaju lengkap. Wajah yang dulu membuatnya berdiri mematung di pinggir jalan, tak mengenali dirinya sendiri.
"Dia masih nganggep kontraknya berlaku," kata Ratri pelan.
"Iya. Dan dia bakal pakai itu buat nuntut kamu kalau kamu nggak naik. Wanprestasi penuh. Denda full." Laras berhenti. "Mbak Ratri, dia lagi nekat. Aku kenal tipe orang kayak gini dari liputan-liputan dulu. Pas dia masih kuat, dia main rapi, main citra, semua halus. Tapi pas dasarnya goyah, dia mulai pukul ke segala arah. Lebih nekat. Lebih kotor."
Siang itu Ratri ke Situbondo menemui Bu Wening. Kantor LBH kecil itu seperti biasa: meja penuh map, kipas angin berputar malas, bau kopi dan kertas tua. Bu Wening mendengarkan tanpa memotong, lalu meletakkan kacamatanya di meja.
"Ratri," katanya, "ini sebenarnya kabar baik dan buruk sekaligus."
"Baiknya?"
"Hendra panik. Orang yang panik bikin kesalahan. Selama ini dia main hati-hati, rapi, susah dicari celahnya. Kalau dia mulai nekat—majuin festival, maksain kontrak yang lagi disengketakan—dia bakal ninggalin jejak. Dan jejak itu bisa kita pakai." Bu Wening mengetuk meja dengan jari. "Buruknya, orang panik juga bisa nyakitin orang. Dan dia nggak akan nyerang kamu langsung. Dia bakal nyerang yang kamu sayang. Bapakmu. Orkesmu. Saksimu."
Ratri teringat Bu Tarsih, saksi yang berani itu. "Bu Tarsih—"
"Sudah kita jaga. Laras pantau. Polisi sudah ada laporannya." Bu Wening menatapnya. "Tapi Hendra punya banyak tangan. Dia bakal cari titik yang belum kita jaga."
Ratri pulang dengan kepala penuh. Di angkot ia menatap ke luar jendela, ke sawah-sawah yang mulai menguning, ke deretan warung yang memutar lagu koplo dari pengeras suara butut. Salah satu warung memutar lagu Selvi—lagu lama, lagu yang dibuat Hendra. Ratri mendengarnya dengan perasaan aneh. Suara Selvi indah, tapi liriknya kosong, dipoles untuk menjual, bukan untuk diakui. Dan kini perempuan pemilik suara itu sudah memutuskan tak mau menjadi corong orang lain lagi.
Sampai di rumah, Yusuf sudah menunggu di depan, duduk di bangku kayu sambil memilin kabel sound yang sobek. Wajahnya tegang.
"Ada kabar," kata Yusuf. "Pak Mulyono, carik yang ngizinin panggung kita di Krajan, tadi nelpon. Dia kena tegur dari atas. Katanya ada laporan soal izin keramaian yang dia keluarin buat kita. Yang ngelaporin nggak jelas siapa, tapi dia nyebut nama besar."
Ratri merasakan dingin merayap di tengkuknya. Inilah yang dimaksud Bu Wening. Bukan serangan langsung. Tangan-tangan kecil yang menggerogoti dari pinggir.
"Mursid," kata Ratri.
"Atau Hendra. Atau dua-duanya," kata Yusuf. "Yang jelas, mereka mulai gerak."
Ratri duduk di sebelah Yusuf, menatap kabel sound yang ia pilin. Kabel itu sudah disolder belasan kali, dibungkus selotip hitam yang menumpuk seperti luka yang tak pernah sembuh sempurna. Mereka masih saja menyolder yang patah, menambal yang bocor, sementara Hendra membangun festival megah dengan lampu LED.
"Dia majuin festival," kata Ratri akhirnya. "Dua minggu lagi. Posternya masih pakai wajahku."
Yusuf berhenti memilin. "Terus kamu mau gimana?"
Ratri tidak langsung menjawab. Ia menatap jauh, ke laut yang tak terlihat tapi terdengar—debur ombak samar di kejauhan, napas tetap dari sesuatu yang lebih besar dan lebih lama dari Hendra, dari Mursid, dari semua ketakutan ini. Ia teringat kata Selvi semalam: aku nggak mau mati nyesel karena nggak pernah nyoba.
"Aku belum tau," kata Ratri jujur. "Tapi aku tau satu hal. Dia majuin festival karena dia takut. Orang yang berani nggak buru-buru. Yang takut yang buru-buru." Ia mengusap wajahnya. "Selama ini dia yang nentuin medan. Panggung dia, aturan dia, citra dia. Mungkin sekarang waktunya aku mikir—gimana caranya medan itu jadi medanku."
Yusuf menatapnya lama. Lalu ia kembali memilin kabel, tapi kali ini dengan sesuatu yang berbeda di matanya—bukan ketakutan, tapi penantian. Di kejauhan, ombak terus berdebur, dan Ratri tahu malam-malam ke depan tidak akan tenang. Hendra tanpa bintang adalah Hendra yang putus asa. Dan orang yang putus asa, seperti kata Topo, tidak lagi punya apa pun yang harus ia jaga.