Surat itu datang pada hari biasa, di antara hari-hari biasa yang penuh latihan kasar di gudang dan menambal alat yang patah. Pengantar pos berhenti di depan rumah Pak Sahlan dengan motor bututnya, menyerahkan amplop cokelat berkop pengadilan negeri, lalu pergi seperti tak tahu bahwa amplop itu bisa berarti hidup atau mati bagi penghuni rumah.
Ratri menerimanya dengan tangan yang sedikit gemetar. Ia tidak berani membukanya sendiri. Ia menelepon Bu Wening, dan sang pengacara menyuruhnya datang segera.
Di kantor LBH, Bu Wening membuka amplop itu dengan tenang, dengan ketenangan orang yang sudah ratusan kali memegang kertas yang menentukan nasib orang lain. Ia membaca lembar demi lembar, bibirnya bergerak tanpa suara. Ratri duduk di seberang meja, tak berani bernapas terlalu keras. Kipas angin berputar. Di luar, seekor ayam berkokok di siang bolong.
Kemudian Bu Wening menurunkan kertas itu, dan ada sesuatu di matanya yang tidak pernah Ratri lihat selama ini. Bukan kemenangan—Bu Wening terlalu hati-hati untuk itu—tapi sesuatu yang lebih halus. Secercah.
"Putusan sela," kata Bu Wening. "Ini belum putusan akhir, Ratri. Ingat itu. Ini cuma keputusan sementara di tengah perkara. Tapi—" ia mengetuk kertas itu, "—ini celah pertama yang besar."
"Apa isinya, Bu?"
Bu Wening menarik napas, memilih kata-kata seperti orang menjelaskan obat pada anak kecil. "Hakim memerintahkan pemeriksaan keabsahan klausa citra dalam kontrakmu. Itu pasal yang bilang Hendra berhak ngatur penampilanmu, kostummu, goyangmu—semua yang merendahkan itu." Ia melanjutkan. "Dan ada kalimat di sini yang penting sekali. Hakim menyebut, ada indikasi penyalahgunaan keadaan saat penandatanganan."
Ratri mengernyit. "Penyalahgunaan keadaan?"
"Iya. Dalam hukum, kontrak bisa dibatalin kalau salah satu pihak nandatangin dalam keadaan terjepit, nggak ngerti isinya, atau ditipu soal apa yang dia tandatangani." Bu Wening mencondongkan tubuh. "Ratri, kamu inget cerita kamu sendiri waktu pertama datang ke sini? Gimana kamu nggak pernah baca pasal soal citra itu? Gimana Hendra buru-buru nyuruh kamu tandatangan di halaman kedua, sementara kamu masih bingung sama panggung besar dan studio yang dia janjiin? Gimana dia bilang itu cuma formalitas?"
Ratri mengangguk perlahan. Ingatan itu kembali—ruang ber-AC, Hendra yang ramah berlebihan, pulpen yang disodorkan, dan dirinya yang masih dua puluh tahun, masih lapar akan panggung, masih percaya bahwa orang kota yang berpakaian rapi tidak mungkin menjebak anak penjual rujak.
"Selama ini," kata Bu Wening, "masalahnya adalah tanda tanganmu asli. Itu fakta yang nggak bisa kita lawan. Kamu memang nandatangin. Tapi hakim sekarang nanya pertanyaan yang berbeda—bukan apakah kamu nandatangin, tapi apakah kamu ngerti apa yang kamu tandatangin, dan apakah kamu dalam keadaan bebas waktu itu. Itu pertanyaan yang bisa kita menangin."
Untuk sesaat Ratri merasa ringan, lalu rasa itu langsung dikejar oleh kewaspadaan yang sudah ditanam berbulan-bulan. "Tapi Ibu bilang ini belum menang."
"Belum," tegas Bu Wening. "Ini cuma berarti hakim mau dengerin kita lebih serius. Dia ngebuka pintu yang sebelumnya ketutup rapat. Sekarang tugas kita ngisi pintu itu dengan bukti. Saksi-saksi. Bu Tarsih. Kontrak lama yang identik dari biduan-biduan sebelum kamu. Pola, Ratri. Kita harus buktiin ini bukan kebetulan, tapi cara kerja Hendra yang berulang-ulang ke banyak orang."
Ratri menatap kertas itu, tulisan resmi yang dingin, bahasa hukum yang berbelit. Tapi di balik kalimat-kalimat kaku itu, ia merasakan sesuatu yang ia tunggu sejak hari pertama ia membawa salinan kontrak ke kantor ini: pengakuan. Untuk pertama kalinya, sistem yang ia kira selalu berpihak pada yang berduit dan berdasi, melirik ke arahnya.
"Bu," kata Ratri pelan, "Hendra bakal tau soal ini, kan?"
Bu Wening mengangguk. "Pengacaranya pasti sudah terima salinan yang sama. Dia tau hari ini juga."
Dan di situlah letak kekhawatiran Ratri. Karena ia tahu—seperti yang dikatakan Laras, seperti yang dikatakan Topo—Hendra yang terdesak adalah Hendra yang berbahaya. Putusan sela ini, yang bagi Ratri adalah secercah cahaya, bagi Hendra adalah lonceng peringatan bahwa kerajaannya bisa runtuh lewat jalan hukum.
"Dia bakal mikir," kata Ratri, lebih kepada dirinya sendiri, "bahwa dia bisa kalah beneran."
"Iya," kata Bu Wening, dan suaranya kembali serius. "Dan itulah kenapa kamu harus lebih hati-hati mulai sekarang, bukan kurang. Orang yang ngerasa masih bisa menang lewat cara bersih, dia bakal main bersih. Tapi orang yang ngerasa cara bersih udah nggak cukup—dia bakal cari jalan lain. Jalan yang lebih gelap."
Ratri pulang naik angkot, kertas putusan sela itu ia simpan dalam map plastik di pelukannya, dijaga seperti orang menjaga bayi. Di sepanjang jalan ia menatap ke luar, ke kampung-kampung yang dilewati, ke orang-orang yang menjalani hari biasa mereka tanpa tahu ada perang sunyi yang sedang berlangsung. Sopir angkot memutar lagu dangdut dari radio, sebuah lagu lama tentang nasib dan rezeki, dan Ratri mendengarkan setengah hati.
Sesampai di rumah, ia menemukan Pak Sahlan sedang membenahi gerobak rujaknya yang catnya sudah mengelupas di banyak tempat. Bapaknya menengadah, melihat map plastik di pelukan Ratri.
"Surat apa itu?" tanya Pak Sahlan.
Ratri ragu sejenak. Lalu ia memutuskan—tak ada lagi rahasia, tak ada lagi memikul sendirian, pelajaran yang ia dapat dengan menyakitkan dari urusan gerobak gadai dulu. "Dari pengadilan, Pak," katanya. "Kabar baik. Hakim mau dengerin kita."
Pak Sahlan meletakkan kuasnya, menatap anaknya lama. Ada yang berubah di wajah lelaki tua itu—garis-garis lelah yang sama, tapi punggung yang sedikit lebih tegak. "Bagus," katanya, suaranya serak. Lalu ia menambahkan, lebih pelan, "Tapi hati-hati, Nduk. Orang macam Hendra nggak akan nyerah cuma karena satu surat. Bapak ini orang kecil, tapi Bapak tau—orang yang punya banyak, kalau mau kehilangan, dia bisa lebih kejam dari maling."
Kalimat itu menggema di kepala Ratri sepanjang sisa hari. Bapaknya tidak tahu hukum, tidak tahu pasal, tidak tahu istilah seperti penyalahgunaan keadaan. Tapi ia tahu manusia. Dan kebijaksanaan tua itu, yang dipanggang dari puluhan tahun berjualan di pinggir jalan dan mengamati orang datang dan pergi, terasa lebih menusuk daripada peringatan Bu Wening yang resmi. Malam itu, untuk pertama kalinya sejak lama, Ratri mengunci pintu lebih awal.