Orang itu datang ke gerobak rujak Pak Sahlan pada sore yang berdebu, ketika matahari sudah miring dan pelanggan mulai surut. Ia bukan pelanggan. Ratri, yang kebetulan sedang membantu bapaknya mengulek sambal, langsung tahu dari cara lelaki itu berdiri—terlalu rapi untuk kampung nelayan, sepatu kulit yang tak cocok dengan tanah berdebu, senyum yang dipasang seperti topeng.
"Pak Sahlan, ya?" kata lelaki itu ramah. "Saya Pram. Saya kenalan Pak Hendra."
Nama itu membuat ulekan di tangan Ratri berhenti.
Lelaki bernama Pram itu memesan satu porsi rujak, makan dengan tenang, memuji rasanya, lalu—setelah suapan terakhir—berbicara dengan nada yang berubah, masih ramah tapi dengan dasar yang dingin.
"Begini, Pak," kata Pram. "Saya cuma bawa pesan. Pak Hendra prihatin sama keluarga Bapak. Beliau denger anak Bapak punya utang sama rentenir di pasar. Bu Yati, ya? Bunga dua puluh persen sebulan. Itu kejam, Pak. Bisa nyekik orang."
Ratri merasakan dingin menjalar dari ujung jari sampai ke dada. Utang Bu Yati. Utang yang ia ambil dengan nekat dulu untuk menyelamatkan istri Topo, dengan gerobak bapaknya sebagai jaminan diam-diam. Utang yang sudah membuat ayah-anak ini bertengkar hebat. Bagaimana Hendra tahu detailnya sampai sejauh ini?
"Itu urusan kami," kata Pak Sahlan, suaranya datar, tapi Ratri melihat tangannya mengepal di sisi gerobak.
Pram tersenyum lebih lebar. "Tentu, tentu. Tapi Pak Hendra orang baik, Pak. Beliau nggak tega liat orang dicekik rentenir. Jadi—" ia berhenti, menikmati efek kata-katanya, "—beliau udah beli utang itu. Dari Bu Yati. Lunas. Sekarang utang anak Bapak bukan ke Bu Yati lagi." Senyum itu mengeras. "Tapi ke Pak Hendra."
Ulekan jatuh dari tangan Ratri, menghantam tanah dengan bunyi tumpul.
Selama beberapa detik tak ada yang bicara. Hanya suara lalat berdengung di sekitar gerobak, dan di kejauhan, deru truk lewat jalan raya. Ratri menatap Pram, lalu menatap bapaknya, lalu kembali ke Pram, dan dalam kepalanya semua kepingan tiba-tiba jatuh ke tempatnya dengan kengerian yang dingin.
Hendra membeli utangnya. Diam-diam. Lewat pintu belakang. Sekarang, justru ketika Ratri mulai menang di pengadilan, ketika putusan sela memberinya secercah cahaya, jebakan finansial yang ia kira sudah ia kenali—rentenir Bu Yati—berubah menjadi sesuatu yang jauh lebih buruk. Ia tak lagi berutang pada lintah pasar yang dingin tapi sederhana. Ia berutang pada musuhnya sendiri.
"Berapa," kata Ratri akhirnya, suaranya hampir tak terdengar.
Pram menoleh kepadanya, pura-pura baru menyadari kehadirannya. "Oh, Mbak Ratri. Kebetulan ada. Bagus." Ia merogoh tas, mengeluarkan selembar kertas. "Pokok plus bunga yang udah jalan. Lumayan, Mbak. Tapi Pak Hendra baik. Beliau bilang, utang ini bisa hapus total. Nol. Bersih." Ia meletakkan kertas itu di meja gerobak. "Asal satu syarat."
"Festival," kata Ratri.
Pram tersenyum, dan kali ini senyum itu tak berpura-pura ramah lagi. "Mbak pinter. Iya. Mbak naik di Festival Koplo Akbar, sesuai kontrak, sesuai poster. Sekali aja. Habis itu utang hapus, kontrak dianggap selesai, dan—" ia melirik Pak Sahlan, "—gerobak Bapak aman, rumah aman, semua aman." Ia berdiri, merapikan celananya. "Tapi kalau Mbak keukeuh lawan di pengadilan... ya, utang tetap jalan. Bunga tetap jalan. Dan Pak Hendra, sebagai pemilik utang, punya hak nuntut. Bisa sita jaminan. Gerobak ini." Ia menepuk gerobak rujak itu pelan, seakan menepuk kepala anjing. "Sayang, ya, gerobak sebagus ini."
Lalu ia pergi, langkahnya santai, sepatu kulitnya mengangkat debu kecil di belakangnya.
Ratri berdiri mematung. Tangannya gemetar. Di dalam dirinya, dua perasaan bertabrakan: amarah yang membakar, dan ketakutan yang membekukan. Ia baru saja menang setapak di pengadilan, dan di saat yang sama Hendra mengatup jebakan yang sudah ia tanam jauh hari—bukan jebakan baru, tapi jebakan lama yang ia beli dan ubah jadi rantai pribadi.
Pak Sahlan meraih kertas yang ditinggalkan Pram, membacanya dengan susah payah, lalu meletakkannya kembali. Wajahnya pucat. "Nduk," katanya pelan. "Angka ini... ini lebih dari harga gerobak. Lebih dari—" ia berhenti, menelan ludah. "Kalau kita nggak bayar, dia bisa ambil semuanya."
"Pak," kata Ratri, suaranya pecah, "jangan dipikirin dulu. Aku yang bikin utang ini. Aku yang—"
"Itu masalahnya," potong Pak Sahlan, dan ada kelelahan yang dalam di suaranya, bukan marah seperti dulu, tapi sesuatu yang lebih sedih. "Kamu selalu mikir kamu yang harus nanggung sendiri. Padahal ini rumah Bapak yang jadi taruhan. Gerobak Bapak. Ini bukan utang kamu sendiri lagi, Nduk. Ini utang kita."
Malam itu Ratri menelepon Bu Wening, suaranya bergetar saat menjelaskan kunjungan Pram. Bu Wening mendengarkan dengan diam yang panjang, lalu berkata dengan nada yang menahan amarah, "Dia memang nekat. Dia majuin festival, dan sekarang dia pakai utang itu sebagai pemaksa. Dia nggak cuma mau menang perkara, Ratri. Dia mau maksa kamu naik panggung itu sebelum perkaranya selesai—biar dia bisa pamer ke rekanannya bahwa dia masih punya kamu."
"Bu, kalau dia sita gerobak Bapak—"
"Tunggu," potong Bu Wening tajam. "Pertama, jangan panik. Kedua—dan ini penting—pembelian utang yang dia lakukan ini ada caranya sendiri dalam hukum. Tidak boleh sembarangan. Ada syarat, ada pemberitahuan, ada prosedur. Kalau dia beli diam-diam dan langsung mengancam pakai itu, ada kemungkinan caranya cacat." Suaranya menguat. "Besok kamu ke sini bawa semua kertas. Kuitansi Bu Yati yang lama, kertas dari orang Hendra ini, semuanya. Kita periksa. Kalau pembelian utangnya nggak sah, justru dia yang masuk masalah baru."
Ucapan itu memberi Ratri pegangan kecil, tapi malam itu ia tetap tak bisa tidur. Ia mendengar bapaknya batuk-batuk di kamar sebelah, dan ia tahu lelaki tua itu juga tak tidur, sama-sama membayangkan gerobak yang menjadi sumber hidup mereka, rumah yang menjadi satu-satunya tempat berteduh, semuanya tergantung di ujung tali yang kini dipegang Hendra. Ratri menggenggam kertas putusan sela yang ia simpan—secercah cahaya itu—dan baru menyadari betapa tipisnya cahaya itu di hadapan kegelapan yang baru saja datang mengetuk gerobak rujak bapaknya.