Paman Darto tidak pernah benar-benar pulih. Itu kenyataan yang pelan-pelan diterima semua orang di orkes, termasuk lelaki itu sendiri. Sakit yang menyerangnya saat orkes vakum—campuran kelelahan, stres, dan tahun-tahun memikul beban sendirian—meninggalkan jejak yang tak terhapus. Tangan kirinya kadang gemetar di tengah lagu. Ia cepat lelah. Setelah dua jam main, ia harus duduk, mengatur napas, sementara keringat dingin membasahi punggungnya.
Ia menyembunyikannya selama mungkin. Paman Darto bukan tipe yang mengeluh. Tapi Ratri melihatnya—cara pamannya berhenti di tengah aransemen yang dulu ia mainkan tanpa berkedip, cara jemarinya tersendat di tuts yang dulu ia kuasai dengan mata terpejam. Dan suatu malam, setelah latihan, Paman Darto memanggilnya dan Yusuf untuk duduk.
"Aku mau ngomong serius," katanya. Wajahnya tenang, bukan wajah orang yang menyerah, tapi wajah orang yang sudah memutuskan sesuatu. "Aku nggak bisa terus mimpin orkes ini."
Ratri membuka mulut hendak membantah, tapi pamannya mengangkat tangan.
"Dengerin dulu, Nduk. Aku nggak ngomong mau berhenti main. Aku masih mau pencet keyboard sampai tanganku nggak bisa lagi. Tapi mimpin orkes—ngurus job, ngatur bayaran, mutusin kita main di mana, gimana ngadepin calo, gimana jaga personel tetep makan—itu beban yang nggak bisa aku pikul lagi. Dan jujur," ia tersenyum getir, "aku udah buktiin aku nggak cukup kuat buat itu. Waktu orkes susah, aku yang pertama nyerah. Aku yang bilang bubar. Kamu yang nggak."
"Paman nggak nyerah," kata Ratri pelan. "Paman cuma capek."
"Capek itu juga sejenis nyerah, Nduk, kalau kamu pemimpin." Paman Darto menggeleng. "Aku liat kamu sama Yusuf ngerakit orkes ini dari serpihan. Aku liat kamu bikin sirkuit tanpa calo. Aku liat kamu manggil Topo balik dengan cara yang aku nggak kepikiran. Kalian berdua udah mimpin orkes ini lama sebelum aku nyadar. Aku cuma belum resmi nyerahin."
Ia berdiri, lalu berjalan ke sudut gudang tempat keyboard tuanya tersimpan dalam tas yang sobek di sana-sini. Ia mengeluarkan sesuatu dari dalam tas—bukan alat musik, tapi sebuah buku catatan tebal, sampulnya kusam, halamannya menguning dan menggembung karena lembap.
"Ini punya bapakku," katanya, menyerahkannya pada Ratri. "Catatan job orkes dari jaman dia masih hidup. Harga, nama tuan rumah, mana yang bayar bener mana yang nakal, mana calo yang bisa dipercaya—dulu nggak ada yang bisa dipercaya, ya—dan di belakang, ada catatan-catatan dia soal gimana ngurus personel biar nggak lari. Aku simpen ini puluhan tahun. Nggak pernah aku tunjukin ke siapa-siapa. Sekarang aku kasih kamu."
Ratri menerima buku itu dengan kedua tangan. Berat. Bukan beratnya kertas, tapi beratnya tahun-tahun. Ia membuka halaman pertama dan melihat tulisan tangan kakeknya—orang yang tak pernah ia kenal, yang mati miskin sebelum sempat melihat mimpinya soal orkes-orkes yang tak saling makan. Di halaman depan, ada satu kalimat yang ditulis besar-besar: Panggung sejati dibangun, bukan dipinjam.
Kalimat yang sama yang dulu diucapkan Paman Darto padanya. Kalimat yang dulu tak ia mengerti, dan kini ia jalani.
"Aku nggak yakin aku pantes, Paman," kata Ratri, suaranya tercekat.
"Nggak ada yang pernah ngerasa pantes, Nduk. Bapakku juga nggak. Aku juga nggak waktu dia nyerahin orkes ke aku." Paman Darto duduk lagi, lelah tapi lega, seolah beban yang dipikulnya puluhan tahun baru saja diletakkan. "Yang penting bukan ngerasa pantes. Yang penting nggak ninggalin orang-orang ini." Ia menunjuk ke arah personel yang masih membereskan alat di seberang gudang—Topo, Bagas, Pak Hari yang ikut latihan, pemain suling tua. "Mereka percaya sama kamu, Nduk. Bukan karena suaramu. Karena kamu nggak pernah ninggalin mereka, bahkan waktu ninggalin mereka itu jalan paling gampang."
Yusuf, yang sejak tadi diam, akhirnya bersuara. "Kita berdua, ya, Mbak. Aku nggak bisa kayak Paman Darto urusan musik. Tapi urusan alat, sound, truk, jadwal—itu bagianku. Mbak yang di depan, aku yang di belakang."
Ratri menatap keduanya. Lelaki yang menyerahkan tongkatnya dengan tangan gemetar, dan lelaki muda yang berjanji menopang dari belakang. Ia teringat dirinya di masa paling awal hidupnya sebagai biduan—gadis pemalu yang naik panggung menggantikan biduan utama yang ngambek, takut salah, takut tak cukup. Dan kini ia diminta memimpin. Bukan karena ia merasa kuat, tapi karena orang-orang ini, yang sudah melewati neraka bersamanya, memilihnya.
"Iya," katanya akhirnya, memeluk buku catatan kakeknya ke dada. "Kita berdua. Tapi Paman tetep di kursi keyboard, ya. Orkes ini nggak ada suaranya kalau nggak ada Paman."
Paraman Darto tertawa kecil, matanya basah. "Selama tanganku masih nurut, Nduk. Selama tanganku masih nurut."
Malam itu, ketika orkes berlatih lagi, ada yang berbeda dalam cara mereka bermain. Bukan suara yang berubah—suara mereka masih kasar, masih jujur, masih membumi. Yang berubah adalah arahnya. Paman Darto memencet keyboard dengan tenang, tak lagi memikul seluruh orkes di pundaknya yang sakit. Dan di depan, Ratri berdiri bukan cuma sebagai biduan, tapi sebagai nakhoda muda yang tahu betul bentuk ombak yang akan datang—karena ia sudah pernah hampir tenggelam, dan tahu persis cara bertahan tanpa harus menundukkan kepala pada siapa pun.