Selvi datang ke gudang ikan suatu sore, berdiri di pintu dengan ragu yang tak pernah Ratri lihat sebelumnya. Dulu, Selvi adalah bintang—biduan utama Mutiara Pantura, namanya di poster paling besar, panggungnya berlampu LED, kostumnya gemerlap. Ia perempuan yang dulu Ratri tatap dari kejauhan sebagai cermin yang menakutkan: inilah yang akan terjadi padaku kalau aku memilih jalan itu. Selvi yang memilih jalan yang Ratri tolak.
Kini perempuan itu berdiri di ambang gudang ikan berbau garam, mengenakan kaus oblong dan celana jins biasa, tanpa riasan tebal, rambutnya diikat sederhana. Ia tampak lebih muda begini. Lebih telanjang. Dan untuk pertama kali, tidak menakutkan sama sekali.
"Boleh aku masuk?" tanyanya.
Ratri menghampirinya, menyalami. "Boleh banget, Mbak. Masuk."
Selvi melangkah ke dalam, matanya menyapu gudang—jaring-jaring tua, alat musik yang sebagian masih darurat, personel yang menatapnya dengan rasa ingin tahu. Bagas, yang dulu mengaguminya dari jauh sebagai bintang, kini menatapnya canggung. Topo mengangguk hormat. Paman Darto, dari balik keyboard, hanya berkata, "Selvi, ya. Suaramu bagus. Dulu aku sering denger kamu di radio."
Selvi tersenyum tipis, tapi ada yang getir di sana. "Sekarang udah nggak ada yang muter aku di radio, Pak."
Keluar dari Hendra telah merenggut segalanya darinya, persis seperti yang ia takutkan. Hendra, sebelum tumbang, sempat menghancurkan namanya—memutarbalikkan fakta, menyebar kabar bahwa Selvi tak tahu diri, ingkar janji, berkhianat pada orang yang menghidupinya. Panggung-panggung besar menutup pintu, takut tersangkut perkara. Manajer lain enggan menyentuhnya. Dalam semalam, bintang Mutiara Pantura padam.
"Aku nggak punya panggung lagi, Ratri," kata Selvi, duduk di bangku kayu reyot. Ia memilin ujung kausnya. "Lucu, ya. Dulu aku kasihan sama kamu. Biduan kampung, panggung kayu, sound butut. Aku pikir aku lebih beruntung. Aku yang pinter milih jalan." Ia tertawa kecil, pahit. "Sekarang kamu yang punya orkes, punya lagu sendiri, punya sirkuit. Aku yang nggak punya apa-apa."
Ratri duduk di sebelahnya. Ia tidak merasa menang. Tidak ada bagian dirinya yang ingin berkata sudah kubilang. Ia hanya melihat perempuan yang pernah jadi cermin ketakutannya, kini retak, dan tahu betul bahwa di antara mereka berdua, perbedaannya tipis sekali. Selvi memilih jalan cepat karena ia juga butuh, juga terjepit, juga ingin keluar dari kemiskinan dengan cara apa pun yang ditawarkan. Bedanya, tak ada orang yang menunjukkan jalan lain padanya saat ia masih bisa memilih.
"Mbak Selvi," kata Ratri pelan, "sampeyan nggak salah milih. Sampeyan cuma nggak dikasih liat ada pilihan lain. Aku beruntung punya Paman Darto, punya bapak, punya Bu Wening yang nunjukin jalan. Sampeyan sendirian. Hendra yang nemuin sampeyan duluan, bukan orang kayak Mas Gilang."
Selvi menunduk, matanya basah.
"Dan jangan lupa," lanjut Ratri, "sampeyan yang ngasih aku rekaman trik formulir Hendra. Sampeyan yang berani bersaksi di sidang waktu sampeyan tahu risikonya kehilangan semua. Tanpa sampeyan, mungkin aku kalah. Sampeyan ngorbanin panggung sampeyan buat aku menang. Itu bukan orang yang salah jalan, Mbak. Itu orang yang akhirnya milih jalan yang bener, walaupun mahal."
Selvi terisak, menutup wajahnya. Ratri membiarkannya, tangannya mengusap punggung perempuan itu pelan.
Ketika tangisnya reda, Selvi mengangkat wajah. "Aku ke sini bukan buat ngeluh, sebenernya," katanya, mengusap mata. "Aku denger kamu bikin sirkuit tanpa calo. Orkes-orkes kecil saling bantu. Aku..." Ia ragu. "Aku mau nyanyi lagi, Ratri. Tapi nggak ada yang mau pakai aku. Dan aku nggak mau balik ke jalan yang dulu, ke goyang, ke citra. Aku capek jadi yang bukan aku." Ia menelan ludah. "Boleh aku numpang nyanyi di sirkuit kamu? Panggung kecil nggak apa-apa. Hajatan pelosok nggak apa-apa. Aku mulai dari bawah lagi. Aku cuma mau nyanyi bener."
Ratri menatapnya. Perempuan yang dulu adalah cermin ketakutannya, kini meminta tempat di panggung kayu yang dulu Selvi kasihani. Mengulang dari bawah, sama seperti Ratri dulu. Tak ada dendam di antara mereka, tak ada kemenangan yang dipamerkan. Hanya dua biduan yang akhirnya, dengan cara yang berbeda, merebut diri mereka kembali.
"Bukan numpang, Mbak," kata Ratri. "Sampeyan bagian dari sirkuit ini kalau sampeyan mau. Bayaran utuh, dibagi rata, disebut nama sampeyan dengan bener. Nggak ada calo, nggak ada citra yang harus dijaga." Ia tersenyum. "Cuma satu syarat."
Selvi menegang. Refleks lama—menunggu klausa tersembunyi, syarat tubuh, jebakan. "Apa?"
"Nyanyi dengan suara sampeyan sendiri. Bukan suara yang Hendra mau. Aku pengin denger Selvi yang asli. Bukan bintang Mutiara Pantura."
Selvi tertawa di sela air matanya—tawa yang lega, tawa orang yang baru sadar bebannya boleh diletakkan. "Itu syarat paling gampang yang pernah aku denger."
Malam itu, Selvi naik ke panggung kecil di hajatan pelosok, di lapangan becek bekas hujan, sound seadanya, penonton tak sampai dua ratus. Ia menyanyi tanpa goyang yang dulu diminta, tanpa kostam gemerlap. Hanya suaranya—yang ternyata, ketika tak dipaksa menjual, indah dengan caranya sendiri, beda dari cengkok Ratri tapi sama jujurnya.
Ratri menonton dari samping panggung, dan untuk pertama kali, cermin yang dulu menakutkannya itu memantulkan sesuatu yang lain. Bukan ketakutan. Bukan jalan yang harus ditolak. Tapi seorang sahabat yang, seperti dirinya, akhirnya merdeka.