Mimpi itu milik Yusuf sejak awal. Bukan panggung besar, bukan ketenaran, bukan rekaman. Mimpi Yusuf sederhana dan teknis: punya sound dan amplifier sendiri. Tidak perlu lagi menyewa dari rental yang memotong bayaran, tidak perlu lagi menyolder darurat kabel yang putus di tengah hajatan, tidak perlu lagi memohon-mohon pada pemilik sound yang menahan alat sampai uang sewa lunas.
Selama bertahun-tahun, mimpi itu tampak mustahil. Bintang Samudra selalu hidup dari tangan ke mulut. Tiap rupiah dari job langsung habis untuk solar genset, bagi hasil personel, dan sisa utang yang tak pernah benar-benar lunas. Beli sound sendiri sama saja dengan bermimpi beli kapal—indah, tapi tak ada uangnya.
Kini, perlahan, mimpi itu jadi mungkin.
Uang dari sirkuit tanpa calo mengalir lebih utuh sekarang—tak dipotong perantara, dibagi adil, transparan. Lagu Ratri yang tumbuh pelan dari mulut ke mulut membawa job-job baru; tuan rumah memesan orkes "yang ada biduan suaranya jujur itu", dan mereka bersedia membayar layak. Sedikit demi sedikit, Yusuf menyisihkan. Ia menyimpan uang dalam kaleng biskuit bekas yang ditaruh di gudang, mencatat tiap rupiah di buku tulis dengan tulisan tangan yang rapi mengejutkan untuk lelaki yang sehari-hari berkutat dengan kabel dan solder.
"Kurang berapa, Suf?" tanya Ratri suatu malam, mengintip catatan itu.
"Dikit lagi, Mbak," jawab Yusuf, matanya berbinar seperti anak kecil. "Aku udah survei ke toko di Situbondo. Ada sound bekas tapi masih bagus, eks orkes yang bubar. Speaker dua, mixer, mikrofon empat, sama amplifier yang nggak ngedengung. Plus genset baru yang nggak batuk." Ia menyebutkan harganya, lalu menambahkan, "Kalau job lancar dua bulan lagi, kebeli."
Tapi mereka tidak menunggu dua bulan. Karena ketika personel lain tahu Yusuf menabung untuk sound, mereka mulai ikut menyisihkan—tanpa diminta. Topo memasukkan sebagian bayarannya ke kaleng. Bagas, yang masih muda dan biasanya boros, ikut menyumbang. Bahkan Pak Hari dari Gelombang Biru, ketika mendengarnya, datang membawa amplop kecil. "Aku nggak punya banyak, Nduk," katanya. "Tapi orkes-orkes di sirkuit ini, kalau salah satu punya sound bagus, kita semua bisa pinjem kalau lagi kepepet. Anggap aja patungan."
Itu yang membuat sound itu akhirnya kebeli lebih cepat: bukan kerja satu orang, tapi solidaritas yang Ratri rintis kini berbalik menopangnya.
Hari pengambilan, mereka berangkat ke Situbondo dengan truk bak terbuka—truk tua yang sama yang dulu mengangkut alat dan personel ke hajatan demi hajatan. Yusuf duduk di depan, gugup seperti orang mau menikah. Ketika sound itu dimuat ke truk—speaker hitam besar yang masih kokoh, mixer yang lampunya menyala terang, amplifier yang berat—Yusuf mengusapnya pelan, seperti orang menyentuh sesuatu yang lama ia rindukan.
"Punya kita, Mbak," katanya, suaranya nyaris berbisik. "Bukan sewa. Bukan pinjem. Punya kita."
Di perjalanan pulang, Ratri memandang sound itu terikat di bak truk, dan merasakan sesuatu yang aneh: haru atas sebuah benda. Bukan karena bendanya. Tapi karena apa artinya. Selama ini, orkes mereka selalu disandera—oleh calo yang memotong, oleh manajer yang menjual citra, oleh rental yang menahan alat, oleh rentenir yang mengincar gerobak. Selalu ada tangan orang lain yang memegang sebagian dari hidup mereka, yang bisa menarik steker kapan saja.
Ia teringat malam di festival, ketika Hendra memerintahkan sound dimatikan di tengah lagunya untuk mempermalukannya di depan ribuan orang. Saat itu, kuasa atas suaranya ada di tangan orang lain—di tangan operator yang bisa disuruh, di tombol yang bisa ditarik. Yusuf dan operator sekutu menyelamatkannya malam itu dengan menolak menurut. Tapi itu keberuntungan, bukan kemerdekaan.
Sekarang berbeda. Sound ini milik mereka. Tombolnya di tangan mereka. Tak ada Hendra, tak ada rental, tak ada calo yang bisa menarik steker untuk membungkam suara Ratri. Kemerdekaan itu, ternyata, bisa diukur dalam barang nyata: dua speaker, satu mixer, empat mikrofon, dan genset yang tak batuk.
Malam itu juga, mereka mencoba sound baru di gudang ikan. Genset baru menyala mulus—tanpa batuk, tanpa asap hitam, tanpa mati mendadak di tengah lagu seperti yang selama ini mereka takuti. Speaker mengeluarkan suara yang bersih, bulat, tanpa dengung. Ketika Ratri menyanyi lewat mikrofon baru itu, suaranya terdengar jernih untuk pertama kali—tiap cengkok, tiap senggakan, tiap getar yang dulu tertelan sound butut, kini terdengar utuh.
Personel bertepuk tangan. Topo memukul kendang sekuat tenaga, tertawa. Bagas memutar tombol mixer dengan wajah berseri seperti anak diberi mainan baru. Paman Darto, dari balik keyboard, hanya mengangguk pelan, matanya berkaca.
Dan Yusuf—Yusuf berdiri di samping mixer-nya sendiri, tangannya di tombol-tombol yang akhirnya miliknya, menatap Ratri menyanyi dengan suara yang akhirnya terdengar sebagaimana mestinya. Ia tidak berkata apa-apa. Ia tidak perlu. Wajahnya sudah mengatakan semuanya: bahwa mimpi sederhana, mimpi yang membumi, mimpi yang tak megah dan tak romantis—mimpi punya alat sendiri—adalah salah satu bentuk kemerdekaan yang paling nyata.
Ketika lagu selesai, Ratri melepas mikrofon dan menghampiri Yusuf. "Suaranya beda, Suf," katanya. "Bersih."
Yusuf tersenyum lebar. "Karena nggak ada lagi yang megang tombolnya selain kita, Mbak."
Di luar, genset baru itu berdengung pelan dan stabil di kegelapan, lampu-lampu kecilnya menyala seperti perahu nelayan di laut. Tak batuk. Tak mati. Hanya menyala, terus, milik mereka sendiri.