Yang paling Ratri inginkan dari panggung sendiri bukan untuk dirinya. Itu yang ia sadari saat menyusun daftar siapa yang akan tampil di Malam Koplo Ketapang. Ia bisa saja menjadi bintang tunggal—lagu-lagunya yang menyebar membuatnya cukup terkenal untuk itu. Tapi ia teringat sesuatu yang lebih tua dari dirinya, sesuatu yang pernah dikatakan Paman Darto tentang kakeknya, dan tentang generasi biduan dan pemain orkes yang mati miskin karena dijepit sirkuit yang sama yang nyaris menjepitnya.
Maka ia memanggil Nining.
Nining sudah lama tak naik panggung besar. Ia biduan senior, lebih tua dari Ratri, perempuan yang dulu sempat bersaing dengannya sebelum keduanya sadar mereka diadu oleh mesin yang sama. Nining-lah yang dulu, di saat orkes nyaris beku, datang menawarkan diri menyanyi gratis karena ia tahu rasanya dijepit. Suaranya tak semuda dulu, ada serak yang datang dari tahun-tahun dan rokok dan kekecewaan, tapi justru serak itu yang membuat cengkoknya dalam.
"Aku, Nduk?" tanya Nining saat Ratri datang ke rumah kontrakannya yang sempit. "Orang masih mau dengerin aku?"
"Bukan soal orang masih mau, Mbak," kata Ratri. "Soal Mbak pantes naik. Pantes dibayar. Pantes disebut namanya."
Nining diam lama. Lalu ia tertawa kecil, tawa yang basah. "Terakhir aku naik panggung gede, MC-nya manggil aku 'Nining si goyang ngebor'. Aku udah lima puluh dua tahun waktu itu, Nduk. Goyang ngebor." Ia menggeleng. "Aku berhenti. Capek."
"Di panggung saya, Mbak nggak bakal dipanggil gitu."
Dan tidak hanya Nining. Ratri mencari yang lain—biduan-biduan dan pemain orkes tua yang dulu mengisi sirkuit Tapal Kuda sebelum era video viral dan calo licin. Ada Bu Tari, peniup suling perempuan yang langka, yang sekarang menganggur dan menjaga cucu. Ada Pak Gimin, penabuh gendang yang tangannya masih cepat meski rambutnya sudah putih, yang dulu sepanggung dengan kakek Paman Darto. Ada Mbak Rohati, biduan yang suaranya pernah jadi legenda kecil di Situbondo sebelum sirkuit memakannya dan membuangnya.
Mereka datang, satu per satu, dengan keraguan yang sama—orang masih mau dengar kami? Pantaskah kami naik lagi? Ratri menyaksikan keraguan itu dan mengenalinya, karena keraguan itu pernah jadi miliknya juga. Perbedaannya, ia sekarang berada di sisi yang bisa menjawab.
Malam pertunjukan, ia memberi para senior tempat yang terhormat. Bukan di awal, bukan sebagai pemanas yang dilupakan sebelum bintang utama. Ratri menempatkan mereka di tengah malam, di puncak, saat lapangan paling penuh dan paling khidmat. Dan ia memastikan satu hal: tiap nama disebut dengan benar.
Yusuf yang jadi pembawa acara malam itu—canggung, suaranya bergetar di mikrofon, tapi tulus. "Berikutnya," katanya, membaca dari kertas yang ditulis Ratri sendiri, "biduan yang suaranya pernah bikin pasar Situbondo berhenti dagang. Mbak Rohati."
Tidak ada "goyang ngebor". Tidak ada "ratu saweran". Hanya nama, dan satu kalimat tentang suara.
Rohati naik dengan tangan gemetar. Ia berdiri di tengah panggung, menatap kerumunan, dan untuk sesaat Ratri takut perempuan itu akan menangis sebelum sempat menyanyi. Tapi lalu Paman Darto menurunkan nada pembuka, dan sesuatu yang tua dan kuat bangun dalam diri Rohati. Suaranya keluar—tak semuda dulu, tapi penuh, jujur, dengan cengkok yang dibentuk oleh seluruh hidup yang sudah ia jalani—dan lapangan Ketapang mendengarkan seperti mendengarkan sesuatu yang sakral.
Nining naik setelahnya. Lalu Bu Tari mengisi sela lagu dengan suling yang membuat angin laut terasa masuk ke dada. Pak Gimin menggebuk gendang di samping Topo yang sudah pulang, dua generasi penabuh duduk berdampingan, yang tua mengajari ritme lama yang hampir hilang, yang muda menjaganya tetap hidup.
Ratri berdiri di belakang panggung, menonton. Ia bisa saja iri—malam ini bukan tentang dirinya. Tapi yang ia rasakan justru kebalikannya: sesuatu yang lebih besar dari kemenangan pribadi, sesuatu yang terasa seperti keadilan yang datang terlambat tapi tetap datang. Para senior ini, yang dulu diperas, dibuang, dilupakan, malam ini berdiri di panggung dengan nama mereka disebut benar, dibayar dengan uang utuh tanpa potongan, ditatap dengan hormat bukan dengan dahaga sensasi.
Selesai lagunya, Nining turun panggung dan menemukan Ratri di belakang. Mata perempuan senior itu basah. Ia menggenggam tangan Ratri erat-erat, tak bisa bicara sebentar. Lalu ia berkata, suaranya pecah, "Aku kira aku bakal mati tanpa pernah denger orang nyebut namaku bener lagi, Nduk."
Ratri memeluknya. "Mbak masih panjang. Masih banyak panggung kita."
"Kita," ulang Nining, seakan kata itu makanan yang sudah lama tak ia rasa. "Kita."
Di panggung, Pak Gimin menutup malam dengan gebukan gendang yang ia pelajari dari generasi yang sudah tiada—generasi kakek Paman Darto, generasi yang mati miskin. Tapi malam ini, ritme itu tidak mati. Ia menggema di lapangan Ketapang, dibawa oleh tangan tua dan tangan muda bersama, ke arah laut yang gelap.
Dan Ratri menyadari: ia tak menang sendirian, dan ia tak ingin menang sendirian. Yang ia menangkan adalah tempat—tempat di mana seluruh kelasnya, dari yang termuda sampai yang tertua, bisa berdiri dengan kepala tegak dan nama yang benar.