Tawaran itu datang lewat telepon Mas Gilang, suatu siang yang biasa, saat Ratri sedang membantu bapaknya mengulek rujak.
"Ada label dari Jakarta," kata Gilang di seberang. "Bukan abal-abal. Yang gede, yang bener. Mereka denger lagumu, denger ceritamu. Mereka mau ngajak kamu kontrak."
Tangan Ratri berhenti di atas cobek. Ada sesuatu yang menegang otomatis di dalam dirinya, refleks tua, refleks luka—kata "kontrak" masih membawa bayangan studio pengap, lirik yang diubah, citra yang diperdagangkan, tanda tangan di halaman kedua yang nyaris menghancurkannya. Selama bertahun ia berjuang justru untuk lepas dari satu kontrak.
"Kamu nggak harus mau, Ratri," Gilang menambahkan cepat, mengenal jeda itu. "Aku cuma nyampein. Mereka mau ketemu. Itu aja."
Ratri menarik napas. "Saya temuin."
Mereka bertemu di sebuah kafe di Surabaya, bukan di studio pengap, bukan di warung kopi tempat calo menawar. Dua orang dari label—seorang perempuan paruh baya berkacamata bernama Bu Andin, dan seorang lelaki muda yang sopan—membawa map dan laptop. Mas Gilang ikut, duduk di sebelah Ratri, lebih sebagai sahabat daripada perantara.
Dan kali ini, Ratri tidak datang sebagai gadis kampung yang gemetar di hadapan orang kota yang menjanjikan dunia. Ia datang sebagai biduan yang lagunya diputar di angkot, yang menang di pengadilan, yang membangun panggungnya sendiri, yang menuntun biduan muda. Ia datang dari posisi kuat.
Bu Andin menjelaskan tawaran itu. Album resmi, distribusi nasional, masuk ke layanan streaming yang besar, panggung-panggung di kota-kota luar Jawa Timur, bahkan kemungkinan tampil di televisi. Bayaran yang—Ratri harus menahan diri agar wajahnya tak berubah—jauh lebih besar dari semua yang pernah ia bayangkan. Angka yang bisa membeli puluhan gerobak rujak. Angka yang bisa membiayai sirkuit tanpa calo selama bertahun.
Tapi Ratri sudah belajar mendengar bukan apa yang ditawarkan, melainkan apa yang diminta sebagai gantinya. Maka ia bertanya, tenang, satu per satu.
"Lagunya, siapa yang nentuin?"
Bu Andin menjawab jujur: ada tim kreatif, ada masukan pasar, tapi suara Ratri yang utama. Tidak dipaksa.
"Citranya gimana? Saya harus tampil gimana?"
Di sini Bu Andin sedikit ragu, dan kejujuran kecil itu justru Ratri hargai. "Pasar koplo nasional itu... ada ekspektasi, Mbak. Penampilan, gaya panggung. Tim kami biasanya bantu... menyesuaikan."
Menyesuaikan. Kata yang sama yang dulu Hendra pakai. Tapi nadanya berbeda. Bu Andin tidak menjebak, tidak menyembunyikan. Ia menaruh ekspektasi itu di atas meja, terbuka, untuk dibicarakan.
"Saya nggak mau disesuaikan," kata Ratri pelan. "Saya naik panggung dengan suara saya, baju saya, cara saya. Itu yang dulu hampir hilang dari saya. Saya nggak mau gadeinnya lagi, berapa pun bayarannya."
Bu Andin menatapnya lama. Lalu, di luar dugaan Ratri, ia tersenyum—bukan senyum manipulatif, tapi senyum yang seperti lega. "Itu yang bikin kami tertarik sama kamu, sebenernya. Yang jual lagu kamu bukan goyangmu. Suaramu."
Mereka berbicara panjang. Ratri menerima sebagian dan menolak sebagian, persis dari posisi yang dulu tak pernah ia punya. Ia mau lagunya didistribusikan luas—itu bagus, biar suaranya sampai ke telinga yang lebih jauh. Ia mau dibayar layak—ia tak naif soal uang lagi. Tapi ia menolak kontrak eksklusif yang mengikatnya total. Ia menolak pindah ke Jakarta. Ia menolak meninggalkan sirkuitnya, orkesnya, panggung kampungnya. Ia menolak segala klausa citra yang menyentuh tubuhnya.
"Saya tetap tinggal di Tapal Kuda," katanya. "Saya tetap nyanyi di hajatan, di panggung kampung, di lapangan Ketapang. Kalau label mau lagu saya, ambil lagu saya. Tapi saya nggak dijual sebagai paket."
Bu Andin mencatat, berunding dengan rekannya, menelepon entah siapa. Negosiasi berjalan jam demi jam. Dan yang membuat Ratri sendiri kagum bukan pada labelnya, tapi pada dirinya: ia tidak takut. Tidak sekali pun. Karena ia tahu, kalau tawaran ini bubar, hidupnya tidak akan hancur. Ia punya orkes. Ia punya panggung. Ia punya bapak yang berjualan dengan kepala tegak. Ia punya sirkuit yang membayarnya utuh. Ia tidak terdesak. Dan orang yang tidak terdesak tidak bisa dijebak.
Ia ingat dulu, di awal, betapa lapar ia pada tawaran semacam ini, betapa ia hampir menukar apa saja untuk panggung besar. Hendra memanfaatkan kelaparan itu. Tapi kelaparan itu sudah lama hilang. Bukan karena ia sekarang kaya—ia tidak kaya. Tapi karena ia sudah merdeka, dan orang merdeka tidak lapar dengan cara yang sama.
Mereka akhirnya mencapai kesepakatan—jauh lebih ramping dari tawaran awal, tepat sesuai garis yang Ratri tarik. Album, distribusi, bayaran layak. Tanpa eksklusif. Tanpa pindah. Tanpa citra. Suaranya tetap miliknya, akarnya tetap di tanahnya.
Di mobil pulang, Mas Gilang menyetir, menggeleng-geleng. "Kamu tahu nggak, Ratri, jarang ada yang berani nolak setengah tawaran kayak gitu? Orang biasanya silau."
Ratri memandang jalan, sawah dan rumah-rumah dan laut yang sesekali muncul di tikungan. "Dulu saya silau, Mas. Dulu saya kira tawaran besar itu satu-satunya jalan naik, jadi saya nggak berani nolak apa-apa." Ia tersenyum tipis. "Sekarang saya tahu naiknya bisa banyak jalan. Jadi saya bisa milih jalan yang nggak bikin saya nunduk."
Ia teringat Selvi, yang dulu memilih jalan yang ia tolak, dan tak sepenuhnya salah, dan tak sepenuhnya bahagia. Ia teringat biduan yang hilang, yang menyerah total. Ia teringat dirinya sendiri yang dulu nyaris jadi salah satu dari mereka. Kemerdekaan, ia sadari, bukan soal selalu menolak yang besar. Kemerdekaan adalah bisa menimbangnya dengan tenang, menerima yang sehat, menolak yang merendahkan, tanpa rasa takut yang dulu mengikat tiap keputusannya.
Matahari turun ke arah barat saat mobil masuk wilayah Situbondo. Ratri menutup mata sebentar, dan untuk pertama kali sebuah tawaran besar tidak terasa seperti jebakan, tidak terasa seperti godaan, hanya terasa seperti pintu—yang bisa ia buka atau tutup sesuka hatinya.