Dari semua yang pernah Ratri inginkan, yang paling kecil dan paling lama ia simpan adalah ini: ia ingin namanya disebut dengan benar.
Mimpi itu lahir di malam pertama dalam cerita hidupnya, di hajatan sunatan di Ketapang, saat genset batuk dan terpal bocor dan ia naik menggantikan biduan yang ngambek. Malam itu MC menyebutnya asal—entah "biduan pengganti", entah cuma "Mbak yang ini", ia bahkan tak ingat persis—dan Ratri, yang masih sangat muda, menyimpan satu keinginan diam-diam: suatu hari, ia ingin MC menyebut namanya. Bukan julukan. Bukan "goyang maut". Bukan "ratu saweran". Bukan embel-embel vulgar yang dilekatkan orang pada biduan koplo perempuan untuk menjual mereka. Hanya namanya: Ratri Wulandari. Dan suaranya.
Sepanjang perjalanannya, namanya selalu dicuri, dipelintir, dikotori. Mursid menyebutnya sebagai "paket". Hendra mengubahnya jadi citra di poster vulgar dengan nama panggung yang bukan miliknya. Akun-akun gosip memberinya judul-judul kotor agar viral. MC-MC di sirkuit lama menyebutnya dengan julukan-julukan yang membuat bapaknya menunduk. Selama bertahun, namanya tak pernah benar-benar miliknya—selalu ada yang melekatkan sesuatu padanya untuk dijual.
Malam itu, di sebuah acara musik besar dan bersih di Surabaya, salah satu panggung yang ia pilih sendiri dari posisi merdeka, mimpi paling lama itu akhirnya datang.
Ratri berdiri di balik panggung, menunggu giliran, dan ia bisa mendengar MC di depan—seorang pembawa acara profesional, suara bulat dan sopan, bukan MC hajatan yang melempar candaan jorok. Ratri mendengarkan dengan jantung yang anehnya berdebar, padahal ia sudah naik ratusan panggung, padahal ia sudah tak gentar pada apa pun. Tapi ada sesuatu di malam ini yang membuat gadis kecil dari Ketapang itu bangun lagi dalam dirinya, gadis yang dulu menyimpan satu keinginan diam-diam di antara asap genset.
"Hadirin sekalian," suara MC mengalun, "berikutnya, penyanyi yang lagunya mungkin sudah sering Anda dengar di perjalanan, di warung, di mana-mana. Suara yang jujur, dari pesisir Tapal Kuda. Mari kita sambut..."
Ratri menahan napas. Ia hampir bisa menebak. Hampir berani.
"...Ratri Wulandari."
Dan itu saja.
Tidak ada "si goyang maut". Tidak ada "ratu saweran". Tidak ada julukan, tidak ada embel-embel, tidak ada citra yang ditempelkan. Hanya namanya, utuh, bersih, disebut dengan benar di depan ribuan orang. Ratri Wulandari. Dua kata yang diberikan bapaknya saat ia lahir, dua kata yang selama bertahun dicuri dan dikotori, malam ini dikembalikan padanya, terdengar persis seperti yang ia impikan saat masih jadi gadis kampung pemalu di antara asap genset.
Kakinya hampir tak mau melangkah. Ia berdiri sesaat di tepi panggung, dan seluruh perjalanannya melintas di belakang matanya—genset yang batuk, bayaran receh yang dibagi setelah dipotong solar, tawaran Mursid yang ia tolak, video yang salah viral, studio pengap Hendra, tanda tangan di halaman kedua, kontrak palsu, gerobak yang ia gadaikan, orkes yang vakum, menyanyi di pasar demi makan, pengadilan, putusan, panggung yang dibangun sendiri. Semua itu, seluruh harga yang ia bayar, tumpah jadi satu di dua kata yang baru saja diucapkan MC.
Lalu ia melangkah naik.
Lampu menyambutnya, hangat. Penonton bertepuk. Dan Ratri berjalan ke tengah panggung, menggenggam mikrofon, dan untuk sesaat ia tak menyanyi, hanya berdiri di sana, membiarkan namanya menggema di telinganya sendiri sekali lagi.
Ia teringat malam-malam ketika ia berpikir mimpi ini terlalu kecil untuk diperjuangkan—siapa yang bertarung bertahun, mempertaruhkan orkes, hampir bangkrut, hanya demi cara seorang MC menyebut namanya? Tapi sekarang ia tahu, mimpi itu tak pernah kecil. Nama yang disebut dengan benar berarti pribadi yang diakui dengan benar. Berarti ia tidak dijual sebagai tubuh, tidak dipasarkan sebagai sensasi, tidak direndahkan sebagai barang. Berarti ia, akhirnya, dilihat sebagai dirinya sendiri—seorang biduan, seorang perempuan, sebuah suara—dan bukan sebagai apa yang orang lain ingin perdagangkan darinya.
Seluruh konflik dalam hidupnya, ia sadari di atas panggung itu, sebenarnya bermuara pada hal sesederhana ini. Tubuh melawan suara. Citra melawan nama. Apa yang orang ingin jual darinya melawan siapa dirinya sebenarnya. Dan malam ini, dua kata dari mulut seorang MC menyatakan siapa yang menang.
Ratri membuka mulut, dan ia menyanyi. Cengkoknya keluar—serak-basah, jujur, caranya menangis tanpa menangis—dan ribuan orang itu diam, lalu hanyut, lalu mendengar. Bukan menonton tubuhnya. Mendengar suaranya. Persis seperti yang ia impikan di antara asap genset, bertahun lalu, ketika ia masih cuma gadis kampung yang menyimpan satu keinginan terlalu sederhana untuk ia ucapkan keras-keras.
Namanya disebut dengan benar. Suaranya yang dijual, bukan goyangnya. Mimpi paling lama dan paling kecil itu, yang ia bawa sejak halaman pertama hidupnya, akhirnya utuh.
Dan di barisan tertentu di antara penonton, ia tahu—meski tak bisa melihatnya dari silau lampu—ada orang-orang yang membawanya sampai ke sini. Bapaknya. Pamannya. Yusuf. Para senior. Seluruh kampung yang membangun panggungnya. Ia menyanyi untuk mereka semua, dengan nama yang akhirnya jadi miliknya kembali.