Beberapa bulan kemudian, Bima mengayuh sepedanya. Seperti biasa setiap pagi sebelum berangkat sekolah Bima mengantarkan koran ke setiap komplek rumahnya. Di usianya yang masih muda harus dipaksa bekerja oleh kondisi untuk memenuhi kebutuhan sehari - harinya. Ini semua dia lakukan karena ulah ayahnya yang selalu berjudi dan mengutang kepada bos besar di sebuah club malam.
Setiap hari para pria berbadan besar dan kekar mendatangi rumahnya untuk menagih hutang. Kakek Bima yang selama ini merawat dan mengurusnya harus menanggung utang - utang kedua orang tuanya. Bima dan kakek yang bukanlah orang kaya harus bernasib maling. Mereka semua memukuli Bima dan kakek hingga babak belur karena tidak bisa membayar hutang - hutangnya. Jika Bima dan kakeknya tidak membayar semua utangnya, para debt kolektor itu akan menyita rumah mereka.
Karena itulah alasan Bima bekerja sangat giat semata - mata untuk membayar semua utang itu. Dia tidak sanggup melihat kakek yang sudah tua harus membanting tulang mencari uang. Bima juga tidak rela kakek menyerahkan rumahnya hanya karena utang - utang milik orang tuanya.
Lagi pula kakek bukanlah kakek kandung Bima, dia menemukan Bima duduk dipinggir pantai sendirian. Saat itu, Bima menangis karena ayahnya meninggalkan Bima seorang diri dan teman - temannya selalu mengecengin Bima kalau ayahnya adalah seorang penjahat. Kakek yang merasa kasihan akhirnya merawat Bima, dia tidak tega membiarkan Bima tinggal di panti asuhan, yang ada dia malah akan tambah diledekin oleh temannya.
Sekarang dia hanya mempunyai kakek, dia tidak mau kehilangan orang yang dia sayangi. Orang yang telah memberikan dia alasan untuk tetap hidup.
???
Ciittt!
Bima memberhentikan sepedanya tepat didepan gerbang sekolah yang tertutup rapat.
"Aduuuh, pak bukain dong gerbangnya." kata Bima pada pak Marto, satpam yang menjaga gerbang sekolah.
Pak Marto yang mendengar suara itu keluar dari pos penjaga.
"Bima , Bima . Kamu lagi, hari - hari terlambat sekolah. Mau Ampe kapan kamu kaya gini?" Kata pak Marto menasehati Bima.
"Yaeelah pak saya kan cuman telat 1 jam doang. Ayolah pak bukain gerbangnya" kata Bima memohon agar dibukakan gerbang untuknya. Hari ini Bima ada ujian praktek, dia harus berpresentasi tidak mungkin dia mengecewakan teman - temannya jika dia tidak ikut berpresentasi.
"Ayolah pak tolong saya sekali ini aja, please." timpal Bima menempelkan kedua telapak tangannya memohon.
"Kemarin - kemarin juga kamu bilangnya sekali lagi tapi sekarang diulangin lagi," kata pak Marto.
Memang ini bukanlah yang pertama kali bagi Bima, sudah berapa kali Bima terlambat sudah bosan pak Marto mendengar perkataan Bima yang sama berulang kali.
"Pak tolong lah please ini yang terakhir deh. Saya janji, nanti saya beliin rokok sama kopi buat bapak," kata Bima mengeluarkan jurus andalannya - nyogok pake rokok.
"Yaudah iya, iya, ayo masuk," kata pak Marto membukakan gerbang untuk Bima. Sebenernya walau tanpa disogok pun pak Marto tetap membuka gerbang untuk Bima. Dia tahu alasan mengapa Bima terlambat sekolah. Rumah pak Marto satu komplek dengan bima, dia melihat Bima setiap pagi mengantarkan koran ke setiap rumah pada pelanggannya. Itulah alasan mengapa pak Marto membukakan gerbang untuknya.
"Makasih ya pak Marto," Bima mengayuh sepedanya ke parkiran dengan cepat. Setelah memarkirkan sepedanya Bima berlari menuju kelas.
Untungnya kelompok presentasinya belom dipanggil untuk maju membuat Bima dipersilakan untuk masuk.
"Terlambat lagi?" tanya teman sebangku Bima, Marko.
Bima yang baru saja ingin duduk di kursinya menjawab pertanyaan temannya dengan singkat.
"Hm," singkat, padat dan jelas.
"Gua sebenarnya curiga sama lu, lu tuh siapa sebenernya?" Hendra menanyakan Bima dengan tatapan yang mengintimidasi.
"Gua cuman siswa biasa yang mencari ilmu untuk masa depan," kata Bima.
Marko hanya menggelengkan kepalanya melihat omongan temannya satu ini,"Ngomong udah kaya orang bener tapi peringkat paling bawah," kata Marko membuat Bima tidak bisa berkutik lagi.
Apa yang dikatakan Marko adalah benar. Walaupun Bima mempunyai tubuh yang proporsional, tinggi dan wajah yang tampan tetapi Bima adalah siswa bodoh dengan peringkat paling bawah, nilai - nilai akademisnya sangat kacau. Mungkin inilah mengapa Tuhan itu adil memberikan kelebihan dan kekurangan kepada umatnya.
Marko membalikkan posisi duduknya semula dan memperhatikan teman kelasnya yang sedang berpresentasi.
???
Setelah lama ber jam - jam Bima menghabiskan waktu dengan mendengarkan penjelasan gurunya yang Bima pun tidak mengerti sama sekali. Akhirnya, bel berbunyi dengan keras menandakan jam pelajaran telah berakhir, termasuk jam pelajaran kimia di kelas Bima berada.
"Ok, anak - anak. Jam pelajaran sudah habis, jangan lupa Minggu depan adalah ujian terakhir kalian disekolah ini. Jangan lupa untuk belajar, berikan nilai yang terbaik dan untuk kamu Bima," Bu guru menunjuk Bima yang sedang merapihkan barang - barangnya. " Tolong jangan terlambat dan pelajari semua yang telah diajarkan oleh para guru. Jangan sampai nilai - nilai mu dibawah rata - rata jika itu sampai terjadi kau tidak bisa diterima di SMA manapun walaupun kau mempunyai prestasi di cabang yang lain. Mengerti?"
"Mengerti, Bu" jawab Bima.
Setelah berbicara panjang lebar guru itu melangkah pergi meninggalkan kelas. Para siswa dan siswi pun berhamburan keluar untuk pulang kerumahnya masing - masing.
"Bim, mau ikut ga?" tanya Marko diikutin teman Bima yang lain - Rio dan Tiara. Mereka semua adalah teman - teman Bima semenjak bersekolah disini. Hanya mereka lah yang menemani Bima.
"Bimaaa!" Tiara yang baru saja datang berlari menghampiri Bima dan merangkul tangannya.
"Gausah centil , deh." Rio menyetil kepala Tiara dengan jarinya membuat Tiara memegangi kepalanya kesakitan.
"Aduh, sakit tau Rio. Gua kan cuman ngerayu Bima biar ikut!" bantah Tiara lalu menendang kaki Rio. Semua orang tau kalau Tiara menyukai Bima. Semenjak awal semester mereka masuk sekolah, sikapnya yang caper terhadap Bima membuatnya tidak bisa berbohong. Sayangnya, Bima hanya menganggap tiara sebagai teman, tidak lebih dari itu.
"Kayanya gua gaikut deh," jawab Bima merasa tidak enak. Akhir - akhir ini Bima jarang sekali ikut bermain dengan teman - temannya setelah di terima kerja di toko swalayan. Dia harus bekerja setelah sepulang sekolah dan akan pulang pada malam hari.
"Yah kenapa Bim kita kan dah lama ga pernah kumpul bareng, masa iya lu gaikut? Kalau lu gaikut gua juga gaikut." rengek Tiara.
"Tau lu Bim sehari aja gitu libur kerja, lu kan gapernah ngambil cuti kerja. Boss lu pasti ngerti kok kalau lu ga kerja sehari aja." ucap Marko mencoba membujuk Bima.
Memang benar Bima tidak pernah mengambil cuti kerja, dia melakukannya itu semua agar bisa membayar utang - utang kedua orang tuanya.
"Sorry, ya. Gua bener - bener gabisa, gua juga harus belajar. Minggu depan kan ujian, gua gamau nanti nilai gua jelek dan buat gua gabisa diterima disekolah manapun, nanti gua gabisa bareng - bareng kalian lagi," kata Bima.
"Belajar? Baru kali gua denger lu mau belajar, mustahil banget orang kaya lu belajar."
"Iya, Bim. Lagian kan lu punya beasiswa, lu pasti bisa diterima di SMA manapun yang lu mau." kata Rio.
Bima memang tidak pandai dalam bidang akademis tetapi Bima punya kemampuan di bidang olahraga. Dia pernah menjuarai kejuaraan taekwondo tingkat nasional itulah mengapa Bima bersekolah disini walaupun nilai - nilainya anjlok. Bukan hanya taekwondo saja, Bima juga berprestasi di olahraga renang, basket dan volly. Keren bukan?.
"Tapi tetep aja, gua harus belajar biar gua bisa naik kelas." Kata Bima sambil melepaskan tangan Tiara darinya dan memakai tasnya. " Udahlah gua harus pergi, gua dah terlambat kerja. Bye" Bima melangkahkan kakinya meninggalkan teman - temannya yang hanya bisa terdiam. Sebenarnya mereka sudah tahu kalau Bima akan menolak mereka. Tidak ada salahnya mencoba setidaknya kita sudah mengatakannya walau ditolak.
Mereka pun mengikuti Bima meninggalkan kelas itu bersama - sama.
To be continued.