Bima mengayuh sepeda ditengah teriknya panas matahari, seperti biasa Bima melangkah kakinya untuk bekerja di toko swalayan. Sesampainya disana, Juan, pria yang lebih tua 3 tahun darinya itu yang merupakan salah satu pegawai toko menyapa Bima
"Lu ngapain disini bang?" ucap Bima.
"Apa maksud lu gua ada disini? Gua kan emang hari ini jaga toko lu lupa?" Bima tersadar. Dia tahu kalau hari ini adalah hari liburnya tapi dia ingin bekerja agar bisa menambah uang sakunya.
"Gua kesini buat gantiin shift lu, ini kan malam minggu. Lu pasti mau pergi kencan kan , bang" kata Bima
"Oh beneran nih? Bagus deh kalau gitu, lu emang perhatian banget Ama gua. andai saja ade gua kaya elu. Bahagia banget hidup gua kalau punya ade perhatian kaya elu. Gua kira lu dateng kesini buat nemuin cewek lu," timpal Juan.
"Cewek?"
"Iya cewek, pacar lu."
"Sejak kapan gua punya cewek?" Bima malah balik bertanya kebingungan.
"Lah terus cewek yang nunggu disana siapa?" Juan menunjuk seorang wanita yang sedang duduk dimeja luar sambil meminum es coklat miliknya. Bima pun menoleh ke arah dimana Juan menujuk, wanita itu merapihkan rambut halusnya yang bertebaran karena ulah angin. Tampak jelas memperlihatkan lehernya yang putih dan jenjang. Membuat hati Bima merasa berdebar - debat seketika.
Wanita yang Bima lihat itu seketika menoleh dan melambaikan tangan ke arah Bima. Wajah wanita yang tersenyum itu membuat Bima tidak bisa menyembunyikan kegembiraannya.
"Hallooo, ada orang disini?" Juan mencoba menyadarkan Bima yang daritadi hanya diam mematung sambil tersenyum seperti orang bodoh.
"Eh? Iya kenapa?" Ucap Bima gelagapan.
"Itu cewek lu bukan?
"Bukan bang itu dia temen, iya cuman temen ." Ucap Bima.
"Iyakah? Soalnya dia nungguin cukup lama, dia nanya ke gua tentang lu, terus gua jawab kalau dia ga bekerja hari ini tapi dia bakalan dateng ke toko ini. Jadi gua suruh tungg-"
Belom selesai Juan menyelesaikan perkataanya, Bima berpamitan keluar begitu saja.
"Sorry bang gua lupa kalau hari ini gua libur," Bima lalu meninggalkan Juan sendirian.
"Sialan tuh anak, tadi dateng - dateng bilang mau gantiin gua giliran ketemu cewek cantik lupa diri, dasar manusia kalau udah bucin emang nyebelin ye." Dumel Juan sambil memaki.
??
Bima berlari menghampiri wanita itu. Nafasnya yang terengah - engah terdengar sangat keras membuat siapapun tahu kalau Bima abis berlari.
"Kenapa lu harus lari - lari segala sih? Gaharus lari juga kan bisa" ucap wanita itu yang melihat Bima dengan nafasnya yang tak beraturan.
"Nih minum dulu" wanita itu menyodorkan es coklat miliknya kepada Bima.
"Gausah gapapa gua gahaus kok,"
"Yakin nih gamau?" Tanya wanita itu sekali lagi. Sebenarnya Bima ingin menerima tawaran wanita itu, tenggorokannya yang kering membuat dirinya merasa haus tapi disisi lain dia tidak bisa terima karena minuman itu milik wanita tersebut. Tidak mungkin dia meminum minuman bekas mulut wanita yang tidak dia dikenal.
Bima menggeleng kepalanya pelan.
"Yaudah kalau lu gamau," wanita membuang es coklat tersebut ke tong sampah di dekatnya.
"Kenapa dibuang?"
"Katanya lu gamau, jadi gua buang." Jawab wanita itu enteng.
"Tapi kan sayang masih banyak,"
"Gua gabisa minum es terlalu banyak, nanti tenggorokan gua sakit jadi banyak dahaknya terus suara gua jadi kaya bapak - bapak. Jadi gua buang aja, lagian sapa suruh lu gamau," kata wanita itu.
Seandainya saja Bima menerima es coklat tersebut. Mungkin dia bisa menikmati nya sekarang karena tubuhnya yang panas karena habis berlarian dan kapan lagi dia bisa minum starbuck, minuman mahal yang tidak mungkin dia beli pakai duitnya sendiri.
"Ngomong - ngomong lu ngapain disini?"tanya Bima yang sebenarnya dia sudah tahu dari Juan kalau dia mencarinya dan menunggu Bima.
"Gue kebetulan lewat karena panas gue mampir deh ke toko ini beli Starbuck."
'Bohong' batin Bima dalam hati.
"Ohh gitu, gue kirain nyariin gue."
"Dih kepedean banget lu."
"Terus kenapa lu dadah dadah ke gue kalau bukan karena lu manggil gue, " tanya Bima.
"Siapa juga yang dadah dadah ke elu , geer banget sih jadi cowo. Gue tuh dadah ke temen ghoib gue, gue sebenernya punya indera keenam." Ucap wanita itu ngarang. Bima tahu kalau wanita itu berbohong kepadanya, memang semua perempuan itu sama saja. Mereka semua gengsi untuk mengatakan hal - hal yang jujur.
"Yaudah kalau gitu gue pergi aja," Baru saja Bima ingin berdiri, wanita itu memegang tangan Bima membuatnya kembali duduk seperti posisi semula.
"Eh, Iya, iya gua cuman bercanda kali. Gue kesini buat nyariin elu," ucap wanita itu.
Bima tersenyum senang tapi dia sembunyikan wajahnya agar tidak terlihat oleh wanita itu.
"Nyariin gue? Emang ada perlu apa ya?" Ucap Bima dengan tampang sok cool.
"Dih gausah kegeeran deh lu, gua kan cuman..." Wanita itu menggantungkan kalimatnya, mencoba berpikir alasan apa yang bagus agar Bima tidak mencurigainya.
"Cuman apa?"
"Cuman mau memenuhi janji gue! Iya bener , cuman mau memenuhi janji gue."teriak wanita itu.
"Janji? Janji apa ya? Emang lu punya janji apa gue?" Tanya Bima bingung. Bima tidak pernah tahu kalau dia punya janji dengan wanita ini.
"Gua kan pernah janji, gua bakalan bales kebaikan elo waktu itu. Gua janji bakalan traktir ," ucap wanita itu.
Bima menepuk jidatnya. Dia tidak menyangka perempuan ini benar - benar datang hanya untuk mentraktirnya padahal dia hanya memberikan pulpen gratis kepadanya, itupun sebagai ucapan terimakasih Bima kepada wanita ini karena telah menolongnya.
"Astaga, gausah terlalu dipikirin kali. Gua cuman ngasih lu pulpen gratis kok. Lagian gua juga ikhlas ngasihnya, jadi gausah terlalu dipikirin."
"Tetap aja gua kan udah janji, gue tuh orangnya kalau dah ngomong janji itu harus gue tepatin," ucap wanita itu. Bima hanya menggelengkan kepalanya tak percaya. " Yaudah iya deh, emang lo mau traktir gue apa sih?" tanya Bima.
"Gue mau ngajak lo jalan, denger - denger malam ini ada festival kembang api. Jadi gue mau ngajak lo kesana. Gimana? mau ga? Ini bukan karena gua bermaksud apa - apa ya, gua cuman mau nepatin JANJI," tegas wanita itu.
Malam ini ada festival kembang api, biasanya warga mengadakannya setiap setahun sekali sebagai rasa tanda syukur mereka terhadap sumber daya alam yang melimpah. Maka dari itu, banyak orang yang membangun stand dan menjual aneka makanan. Disana juga terdapat wahana - wahana atraksi atau pertunjukkan yang bisa kita mainkan seperti bianglala, kora - kota dan masih banyak lagi. Bagi - bagi orang seperti Bima yang tinggal di desa, ini adalah acara festival yang sangat besar yang diadakan setiap setahun sekali. Walaupun begitu Bima sama sekali belum pernah datang ke festival, dia menghabiskan waktunya hanya untuk bekerja. Baginya, itu membuang waktu saja.
Tetapi itu berbeda dengan hari ini, Bima menerima ajakan wanita itu untuk datang ke festival.
"Oke, gua mau."
to be continued