"Bagaimana mi?" Tanya Richard memecah keheningan di jok belakang taksi yang sedang berjalan menuju rumah Bella.
"Apa kata papi saja... Papi sudah punya rencana kan?" Ujar Diana dengan ekspresi lunak, tak seperti biasanya kepada Richard.
"Hehehe..." Richard terkikih sambil menatap Diana penuh goda membuat Diana tersipu.
Mengenai perjodohan Bella dengan Josh, sejak pertama Richard membicarkan itu kepada Diana, istrinya itu selalu keberatan, karena sosok Josh.
Bagimanapun Richard dekat dan percaya kepada Ronan dan seberapapun mendesaknya mereka harus mengatasi Bella. Sebagai seorang ibu, Istrinya itu takut sekaligus tidak rela membiarkan putri satu satunya mereka jatuh ke tangan Josh yang adalah selebriti dengan kehidupan percintaan yang sensasional.
Diana selalu high tense dan berujung merajuki Richard jika mereka membahas perjodohan karena Richard tidak pernah menyerah dan Diana tidak pernah rela, tapi setelah pertemuan dengan Josh tadi, Diana mulai melunak.
"Papi punya feeling yang baik mengenai Josh mi." Richard memegang tangan Diana. "Dia punya banyak poin bagus. Pertama, Dia cukup patuh kepada orang tua meski kita tau kata Ronan, dia marah kepada Ronan. Kedua dia jujur... dengar kan tadi? Ketiga, dia pintar, kelihatan dari tutur katanya, lagipula dia juga lulusan bisnis internasional, siapa tau juga bisa membimbing Bella. Keempat, dia mandiri, sudah bisa cari duit sendiri. Bagaimanapun Ronan tidak suka karirnya dia tapi dia berbakat..."
"Kelima yang tak kalah penting, dia anaknya Ronan Narendra sahabat baikku yang sudah seperti saudaraku sendiri..." Tambah Diana menggoda, karena itu yang sebelumnya selalu Ronan katakan kepadanya untuk meyakinkannya.
"Hehehe, mami bisa saja...Iya... 5 poinnya! Hehehe"
"Ha..." Diana lalu menghembuskan nafas panjang.
"Mami tidak usah memikirkan pemberitaan, Anggap saja dia hanya seorang anak yang belum dewasa, sama seperti Bella. Lupakanlah apa yang buruk yang kita tau tentang dia. Kita lihat saja yang baik baiknya. Lagian perjodohan ini kan memang untuk merubah mereka berdua... Anak kita juga mi, ingat...?" Ujar Richard.
"Iya,, Mami tau pi, sekarang mami memikirkan Bella. Bagaimana kita bilang ke dia? Apa semuanya akan baik baik saja?"
"Ha...." Richard juga membuang nafas. "...Mami harus bantu papi, si Josh sudah mau, tugas kita sekarang membuat Bella mau.." Sahut Richard penuh harap.
Pukul 9 lewat 15 mereka sudah tiba di rumah Bella. Mobil Bella tak berada di halaman parkir, tentu saja bisa mereka tebak Bella belum pulang."Sudah larut Bella belum dirumah, kemana dia jam begini?" Richard bergumam cemas.
"Mungkin ada tugas kelompok atau apa, sebentar Mami telepon saja." Sahut Diana setelah membuka pintu rumah dengan kunci cadangan yang ada, tadinya mereka memang sengaja mau mengejutkan Bella, tapi karena Bella tidak ada, Diana bergegas menghubungi Bella karena tau betapa Richard adalah orang yang bawel dan cemas.
Richard langsung menyusuri rumah yang di tinggali Bella sendiri, dari ruang tamu sampai ke dapur. Baru kali ini dia menginjakkan kakinya di rumah yang dia belikan untuk Bella atas keinginan putrinya itu karena kediaman utama mereka cukup jauh dari kampus. Richard tiba tiba melow dan merasa sedih, karena dia merasa jauh dari putri kesayangannya yang merupakan anak semata wayangnya kini.
Sepanjang penelusurannya menelusuri setiap sudut sudut ruangan di lantai dasar tak satupun ditinggalkan Bella rapih. Richard hanya bisa geleng geleng sambil membatin, bagaimana bisa anak perempuannya hidup jauh darinya dan seperti ini. Richard lanjut menelusuri lantai atas, dimana kamar Bella berada. Pintu kamar itu tebuka lebar dan betapa terkejutnya Richard akan pemandangan yang dilihatnya.
Buku buku berhamburan di kamar Bella, mulai dari meja, lantai dan tempat tidur, begitu juga dengan selebaran selebaran. Richard mendekat dan ia makin terkejut. Bukan buku buku bisnis, juga bukan tugas kuliah Bella melainkan literatur busana dan sketsa sketsa desain pakaian serta brosur brosur even lomba busana yang tergeletak di seluruh penjuru kamar Bella.
Richard langsung memanggil Diana, dia sama sekali tidak suka dengan hal yang dia temukan. Richard marah dan curiga bahwa istrinya itu tau dan menyembunyikan darinya, tapi Diana juga terkejut, dan melihat ekspresi Istrinya, taulah Richard bahwa Bella menyembunyikan hal ini kepada mereka berdua. Mereka menelusuri kamar Bella dan mencari tahu tentang hal yang dilakukan Bella ini.
***
Bella tiba di kediamannya usai menghadiri even busana, hampir pukul setengah 11 malam. Saat memasuki halaman rumah, Bella langsung terlonjak panik memikirkan keberadaan maminya karena melihat rumah sudah terang benderang padahal dia tidak memasang lampu saat keluar.
Bella menduga maminya mengunjunginya karena tak ada orang lain lagi yang bisa mengakses masuk rumahnya selain sang mami. Bella sangat ketakutan, dia memikirkan rumahnya yang belum dia sterilkan dari desain desainnya.
Maminya biasa datang mengunjunginya sekali atau 2 kali sebulan, dan selalu memberitahunya, sehingga dia selalu membereskan barang barang yang berhubungan dengan desain sebelum kedatangan maminya agar tak ketahuan.
'Kenapa mami datang tanpa memberitahu seperti biasa, ada apa ini?' pikirnya sambil bergegas masuk. Pintu rumah tidak terkunci. Benar saja sosok maminya langsung dia lihat ketika membuka pintu.
"Mami... Eh?? P Papi...?!" Bella hendak mempertanyakan maminya tapi dia langsung terkejut berlipat ganda saat melihat papinya juga ada disitu sedang duduk menatapnya dingin. "Eeh.. K Ke Kenapa tidak telepon kalau mau datang? Mami? " Dengan gemetar Bella melempar pertanyaan kepada maminya alih alih mengucapkan salam. Matanya langsung terbelalak ketika menangkap beberapa buku dan sketsa pakaiannya di atas meja tepat didepan papi maminya. 'Ha...Mereka sudah melihatnya!' Bella resah.
"Kenapa? Biar kamu bisa menyembunyikan semua hal yang tak berguna ini?..." papinya dengan dingin menyahut.
Mata Bella langsung berkaca.'Tidak berguna?' Penolakan. Itu yang dia rasakan. Bella sakit hati karena penolakan telak papinya yang dia sendiri sudah tau pasti akan ditunjukkan papinya jika tau tentang mimpinya, namun selain itu dia juga sedih dan merasa bersalah karena mengecewakan papinya. Papinya terlihat sangat sedih meskipun dalam ekspresi yang dingin. Bella pernah melihat ekspresi papinya ini pada saat kakaknya meninggal. 'Kenapa keadaannya seperti ini? kenapa kalian harus tau sekarang?' Bibir Bella kelu, Bella hanya diam membatin karena tidak tau harus bagaimana berkata.
"...karena ini ternyata kenapa kuliahmu tidak pernah beres kan!? Tchh!..." Richard tersenyum pahit. "Apa yang kamu lakukan selama ini Bella?... Apa kami ini masih kamu anggap orang tua dalam hidupmu?" Suara Richard bergetar tanda betapa kecewanya Richard.
Air mata Bellapun jatuh dari matanya, sedih, sakit hati, takut, semua bercampur dalam hatinya. "Tentu saja papi." Sahut Bella tersedu. Papinya tidak tau betapa tersiksanya dia selama ini karena mengutamakan keinginan papinya itu.
"Tentu saja bagaimana kalau kamu seperti ini?! sudah sejak kapan? kamu menyembunyikannya dari kami... bahkan mamimu yang selalu kesini saja tak tau...!" marah Richard.
"Aku menyembunyikan karena aku tau papi mami takkan setuju dengan mimpi aku... Aku ber.."
"Kamu tau?! tapi memilih melakukan itu??!!!" Richard memotong.
"Papi, ini mimpiku..." Lirih Bella.
"Itulah kenapa papi tanya apakah kami ini masih orang tua bagimu?! Sepertinya tidak. Kalau orang tua pasti dilibatkan. didengarkan. Kami ini orang tuamu, kami mengarahkan kamu pada apa yang kami pikir baik buat kamu, tapi ternyata kamu menyeleweng, makanya kamu lihat hidupmu sekarang. Papi ini pusing memikirkan kamu selalu... Kamu.. Ahrk." Richard sangat frustrasi sampai tidak bisa lagi berkata kata.
Bella hanya diam dan menangis. Dia merasa papinya tidak akan pernah setuju dengan mimpinya, apalagi dengan terungkapnya semua seperti ini dan dengan keadaan ini. semua ini sama sekali diluar rencananya.
"Bella kamu menikah saja..." Richard bersuara setelah diam beberapa detik.
"Ha??" Bella yang sedang resah merasa papinya akan menghentikan mimpinya, terkaget dengan pernyataan tiba tiba papinya yang out of topic. 'menikah? apa aku tidak salah dengar?'
"Papi mau menikahkan kamu dengan anak sahabat papi, itulah tujuan papi datang kesini."
"Papi, apa apaan?!!!..."