Richard berasal dari keluarga dengan perekonomian yang pas pasan. Keluarga Richard sebenarnya tidak mampu membiayai pendidikan Richard sampai ketingkat perguruan tinggi meski Richard pintar. Beruntung Richard bersahabat dengan Ronan yang sudah terlahir kaya raya. Ronan membantunya agar bisa berkuliah.
Richard sekarang menjadi pejabat negara yang didihormati dan disegani. Richard sukses dan kaya raya, namun latar belakang Richard membuat Richard cukup otoriter mengatur anak anaknya terutama dari segi pendidikan. Richard takut anak anaknya akan merasakan keadaan hidup sepertinya yang susah dulu.
Richard ingin anak anaknya mengikuti jejaknya agar dia bisa membimbing mereka. Anak anak Richard sangat cerdas. Richard memiliki seorang anak lagi, Nicholas, kakak Bella, namun sayang putra sulungnya itu meninggal pada usia belia karena sakit berat.
Bella adalah harapan satu satunya kini. Bella dimatanya adalah anak yang cukup penurut. Dia tidak menyangka ternyata Bella menyembunyikan hal ini dari hadapannya. Richard sakit hati dan kecewa. Richard tidak menyukai hal hal yang tidak realistis. Baginya hal yang dilakukan Bella sangat buang buang waktu.
Kejadian 4 tahun lalu saat dia mengijinkan Bella berhenti dari kuliah di amerika yang sudah berjalan 2 tahun lantaran menganggap Bella tertekan karena kesulitan harus kuliah dan hidup sendiri jauh darinya dan istri karena harus bertugas di selandia baru, membuat dia menyesal dan merasa dibodohi karena ternyata saat ini Richard sadar bahwa Bella berhenti saat itu agar bisa melakukan hal yang tidak masuk akal baginya secara leluasa di sini. Richard tidak bisa percaya lagi kepada anaknya ini.
"...Papi kesini untuk itu? Apa aku tak salah dengar Pi?"
"Hm!"
"Papi sudah merencanakannya?! Bagaimana bisa papi?!..." Bella tak menyangka.
"Papi desperate mengandle kamu..." Ketus Richard.
Air mata Bella bercucuran. Bella seakan lupa pada kesalahannya serta kemarahan papinya, dan jadi merasa marah karena merasa tak dihargai. Bagaimana bisa papinya sudah berniat menikahkannya.
Disisi lain, Richard merasa dikhianati dan diremehkan. Richard sebenarnya bermaksud berhati hati untuk mengungkapkan niatnya kepada Bella, dimatanya Bella hanya belum dewasa, sehingga dia khawatir terkait hal itu. Namun kenyataan yang ditemui Richard sungguh membuatnya kecewa dan marah. Ternyata Bella mengimpi impikan hal lain yang tak masuk akal baginya. Bella tak seperti apa yang dia pikirkan selama ini. Richard merasa Bella tak pernah mendengar dan menganggapnya orang tua dan tak akan pernah mendengarkannya.
"...Menikahlah. Papi sudah mengatur semuanya. Jangan membantah karena papi tidak akan mendengarkanmu lagi. Ikuti papi kali ini! kamu membuat papi merasa buruk sebagai orang tua!" Richard berdiri dari tempat duduk bak tidak mau lagi panjang lebar, dia sudah mengatakan apa yang harus Bella lakukan.
"Begini papi membuangku ya?!!..." Dalam tangis Bella bersuara membuat Richard terhenti dan melototinya.
"...Aku tau, aku bukanlah anak yang membanggakan papi, maafkan aku karena punya mimpi yang berbeda dengan harapan papi...Tapi tidakkah papi merasa bahwa papi sungguh keterlaluan?! Papi tidak percaya pada apapun selain pikiran papi sendiri! Apa papi paham bahwa selama ini aku terbeban dan tidak nyaman? Aku selalu berusaha mendengarkan papi agar papi tidak kecewa. Aku mengikuti mau papi meskipun berat bagiku melakukan 2 hal sekaligus. Lalu apa ini?? Alih alih papi memahami aku, apa yang papi lakukan??"
Richard menatap Bella membisu, dahinya mengerut, Bella baru kali ini bicara meledak ledak kepadanya, Richard cukup terkejut. 'Anak ini benar benar! siapa juga yang membuangnya Justru dia yang membuangku!' Batin Richard kesal namun membiarkan Bella.
"...Papi membuatku selalu berpikir 'kenapa bukan aku yang pergi tapi kakak?!'..."
"Bella.." Diana yang dari tadi diam, kaget, Bella mengungkit sang kakak. Diana menyalip bermaksud mencegah Bella berbicara mengenai sang kakak yang telah berpulang, tapi Bella tak terbendung.
"...Kakak pasti bisa membanggakan papi. Mengapa aku yang tertinggal. Tapi sekarang aku berpikir apakah kakak juga bisa tahan jika ada di posisiku?! Mungkinkah Tuhan ambil kakak agar kakak tidak perlu sakit seperti aku?!"
Richard tiba tiba meneteskan air mata namun segera menyeka itu. Bella seketika sadar dan tidak tega. Meski itu yang ingin Bella sampaikan kepada papinya tapi dia sadar dia pasti membuat papinya luka, karena mengungkit kakaknya. Dia terlalu sakit hati karena papinya bilang putus asa mengurusnya dan mau menikahkannya, sehingga menjadi tidak bisa mengontrol perkataannya.
"Maaf, karena kalian menjadi anak papi kalian harus mengalami semua yang harus kalian alami." Suara Richard bergetar, kemudian Richard langsung berjalan ke arah pintu. Pandangan Diana mengikuti Richard.
"Papi... mau kemana." Diana mengejar Richard karena Richard melewati Bella dan keluar tapi Richard tak tertahan.
Kaki Bella menjadi loyo sehingga Bella tersimpuh. Bella hanya bisa menangisi keadaan ini. Maminya kembali masuk kedalam rumah tanpa papinya. "Mami..." lirih Bella ketika sang mami merangkulnya.
Senin pagi Bella terbangun pukul 9 pagi karena maminya berbicara dengan seseorang melalui ponsel. Semalam dia ditemani tidur maminya, mereka tidur larut karena Bella menangis dan berkeluh kesah kepada sang mami.
Usai meninggalkan rumah semalam papinya tidak memberi kabar dan papinya tidak kembali ke rumahnya melainkan pergi ke kediaman utama, itupun pukul 3 subuh, sebagai mana laporan dari penjaga rumah. Bella merasa papinya sangat marah dan kecewa terhadapnya. Bella cemas perkataan papinya akan menjadi kenyataan dan papinya akan menghentikan mimpinya.
"Bella kamu sudah bangun... Papi memanggil kita ke rumah. Bersiaplah... Sepertinya papi ingin bicara denganmu." Pintah sang mami, Bellapun dengan kalut mengikuti perintah maminya.
***
Sesampainya mereka di rumah, Richard sedang di ruang makan sehingga mereka duduk di situ.
"Papi, Aku minta maaf." Bella langsung minta maaf. Bagaimanapun dia sadar akan kesalahannya.
"Kenapa minta maaf. Biar saja, itu perasaanmu, apa dengan minta maaf perasaanmu berubah? Papi tidak apa apa."
Air mata Bella menetes lagi. Papinya hanya bersuara pelan, tapi dia tau papinya terluka dan masih marah. "Pi aku cuma ingin menjadi seorang desainer... Tidak bisakah papi hanya merestuiku dan menduk.."
"Papi memanggilmu untuk memberikanmu pilihan. Kamu dengarlah baik baik karena kamu harus segera memutuskannya."
Bella terdiam menatap papinya karena papinya memotong perkataannya, dia seakan tak berdaya karena papinya sangat dingin.
"Pertama, terserah kamu mau melakukan apa, tapi syaratnya kamu harus menikah dengan anak sahabat papi, dan selesaikanlah dulu kuliah bisnismu karena terlalu tanggung untuk berhenti, sudah banyak waktu dan uang yang terbuang. Atau kedua, kamu tidak perlu menikah tapi say goodbye kepada segala aktifitas mendesainmu karena papi akan menyekolahkanmu lagi di PR. kamu harus kuliah sesuai dengan keinginan papi, kamu akan tinggal dengan papi mami disini karena kamu harus fokus kuliah."
"Pi?" Maminya bergumam.
"Papi akan berhenti bekerja dan fokus mengawasinya, jika itu pilihannya mi. Papi tak mau kejadian 4 tahun lalu terulang lagi mi! Memikirkan itu papi sangat menyesal.
"Papi..." Bella langsung merengek, dia memikirkan betapa kedua pilihan itu berat baginya.
"Bukankah cukup adil?"
"...Biarkan aku menjadi desainer tanpa harus aku menikah, aku benar benar serius pada hasratku pi..."
"Tidak ada pilihan untuk itu!"
"Tidak bisakah papi percaya kepadaku?" Bella merintih
"Tidak!"
"Mi...?" Bella merengek pada maminya berharap maminya menyuarakan sesuatu kepada papinya karena semalam maminya cukup memahaminya dan mengatakan akan membujuk papinya meski maminya tak begitu percaya diri. Tapi maminya hanya menggeleng getir terhadapanya. Benar saja maminya tak berdaya juga dihadapan sang papi. Bella langsung berdiri, dia kecewa dan merasa tak mempunyai harapan.
"Jangan tinggalkan pembicaraan ini tanpa kamu memutuskan!"
"Lebih baik papi bunuh saja aku atau buang saja aku dari keluarga." Sahut Bella.
"Tch... Tidak realistis, inilah mengapa papi tidak bisa membiarkanmu! Kamu ternyata sangat tidak realistis ya."
"Papi mengabaikan aku! Tidak ada pilihan yang mengenakkan buatku!"
"Kalau kamu ingin mendesain maka menikah, Kalau kamu ingin tidak menikah, ya kamu berhenti mendesain! Katakanlah. Semua ada harganya."
"Nikahkan saja aku! itu kan tujuan papi sebenarnya! Papi memberiku pilihan yang sulit. Intinya papi hanya ingin membuangku. Iya kan!?" Bella menyahut kesal lalu ancang ancang pergi, tapi papinya segera menahannya.
"Bella naik!..." Panggil Richard, Bella terus berjalan. "...Bella naik papi bilang!!!!" Richard setengah berteriak, beberapa penjaga rumah menahan Bella.
Richard tidak akan membiarkan Bella keluyuran dengan suasana hati yang kacau begitu. Bella terpaksa berbalik dan menuju tangga ke lantai 2 dimana kamarnya berada dengan isak tangis terdengar dan kekesalan tampak di ekspresi wajahnya.