Tiga hari telah berlalu sejak Elisa dan Noa berhasil membawa Gral ke Shanaz untuk membantunya mencari putrinya. Akan tetapi, selama itu pula Gral masih belum menunjukkan tanda-tanda bahwa ia akan terbangun. Di sisi lain, Elisa tengah menjenguk Noa yang tengah diisolasi dibalik sebuah jeruji blackstone.
"Hey."
Noa yang tengah melamun segera menoleh ke arah datangnya suara. Perempuan berdada besar itu datang sambil membawa sekeranjang roti kering. Dengan sigap, Noa menangkap roti pemberian Elisa yang ternyata masih panas.
"Bagaimana kondisimu saat ini?" tanya Elisa yang terus melemparkan roti yang dibawanya ke arah Noa.
"Lumayan, meskipun aku masih merasa sedikit sakit di bagian tengkukku, " kata Noa sambil melahap roti yang diterimanya. Keringat dingin bercucuran membasahi Elisa ketika menyadari bahwa hantaman palunya lah yang menyebabkan Noa merasakan sakit di tengkuknya. "Jadi apa yang membawamu ke sini?" tanya Noa.
"Mengenai Gral, untuk saat ini dia kurawat di dalam kamarmu. Apa tidak apa-apa?"
"Kenapa harus di kamarku?" tanya Noa dengan nada meninggi. "Bukankah kamar di rumah sakit masih banyak?"
Elisa menggeleng.
"Jumlah pasien di rumah sakit saat ini melebihi kapasitas. Semua karena ledakan yang terjadi dari dalam Gua Blackstone beberapa hari yang lalu," ucap rekan Noa tersebut.
Ingin rasanya Noa menolak. Akan tetapi, dia sadar kalau apa yang menimpa Gral saat ini juga merupakan kesalahannya. "Lakukan saja sesukamu," ucap Noa. "Tapi pastikan dia tidak mengacak-acak kamarku saat dia terbangun nanti, ya."
"Bukannya kamarmu memang sudah berantakan?"
Mendengar ucapan Elisa, Noa mengambil sebuah kerikil dari sudut selnya dan melemparkannya tepat di dahi temannya itu. Warna merah pun menghiasi dahi Elisa. Elisa mencibir ke arah Noa lalu beranjak pergi meninggalkan temannya itu. Baru beberapa langkah, sebuah teriakan terdengar dari arah sel Noa.
"Tolong panggil Marco ke sini sebelum kau menjalankan misi bersamanya, ya!"
Tanpa menoleh, Elisa mengangkat ibu jarinya.
***
Imposiu merupakan satu-satunya penjara yang berada di Shanaz. Awalnya, penjara ini digunakan sebagaimana mestinya, yaitu untuk menghukum dan memenjarakan mereka yang melakukan kejahatan. Akan tetapi, semakin berkurangnya kejahatan yang terjadi, apalagi setelah pembentukan pasukan perahanan, membuat sebuah lantai di Imposiu digunakan untuk menahan pasukan penjelajah yang kehilangan kendali seperti halnya yang terjadi pada Noa. Dinding dan jeruji dilapisi oleh blackstone, sebuah batuan misterius yang mampu menangkal Black Mark. Selain dialihfungsikan untuk menahan pasukan penjelajah, Imposiu juga digunakan untuk menahan shadow yang sengaja ditangkap untuk diuji coba oleh CAST.
Marco berjalan perlahan-lahan menuju sel tahanan Noa. Remaja berusia 16 tahun itu masih kebingungan untuk memutuskan apakah dia harus mendatangi Noa atau kabur. Selama beberapa detik dia hanya berjalan mondar-mandir di sepanjang lorong penjara. Meskipun saat ini dia memegang jabatan sebagai pemimpin salah satu regu dalam pasukan pertahanan, tetap saja usianya yang masih belia membuatnya seringkali gugup dan tidak percaya diri saat mengambil sebuah keputusan. Dia pun menarik nafas dalam-dalam dan akhirnya berjalan menuju sel tahanan Noa.
"Lama," ucap Noa sambil mengetuk-ngetuk lantai sel dengan telunjuknya.
"Maaf," kata pemuda itu sambil membungkuk.
"Kudengar kau mengajak Elisa untuk menjalankan misi penyelidikan di Gua Blackstone?" Marco mengangguk. Noa menyelipkan tangannya dari sela-sela jeruji sel dan mencengkram kerah baju Marco dan menariknya hingga menghantam jeruji. "Kau tahu, kan, kalau Elisa selalu bertugas di balik layar saat bersamaku? Kenapa kau mengajaknya ke tempat yang berbahaya seperti itu?"
"Aku jelaskan dulu! Tolong lepaskan cengkramanmu."
Noa pun melepaskan cengkraman dan Marco pun terbatuk beberapa saat sebelum merapikan pakaiannya yang dikenakannya.
"Pasukan pertahanan saat ini tidak mengetahui hal yang menjadi penyebab terjadinya ledakan. Bisa jadi shadow atau bukan. Akan berbahaya jika pasukan pertahanan yang tidak memiliki pengalaman harus berhadapan dengan sebuah shadow. Selain itu, Elisa adalah satu-satunya pasukan penjelajah yang bebas dari tugas karena kau sebagai rekannya sedang melakukan pemulihan."
"Lalu apakah kau siap mengorbankan dirimu untuk Elisa jika dia berada dalam bahaya?" tanya Noa yang masih belum yakin.
Marco membuka beberapa kancing bajunya dan memperlihatkan balutan perban di seluruh badannya. Namun, beberapa bekas luka masih terlihat di permukaan kulitnya yang tidak terjangkau oleh perban. "Ini adalah bekas luka ketika melindungi Elisa saat kau lepas kendali beberapa hari yang lalu."
Noa memutar kedua bola matanya. "Kalau begitu, jangan harap kau boleh membawa temanku satu-satunya menjalankan misi bersamamu."
"Kenapa!?" tanya Marco dengan nada yang mulai meninggi.
"Badanmu belum pulih seutuhnya, bodoh. Jika sesuatu menimpa Elisa, aku juga nantinya yang akan kerepotan."
Marco memutar keras otaknya untuk mencari cara agar Noa memperbolehkannya untuk mengajak Elisa menjalankan misi bersamanya. Bagaimanapun juga, Elisa saat ini berada dalam pasukan penjelajah sehingga dia tidak bisa seenaknya sendiri mengajak seseorang dari pasukan lain untuk mengikutinya. Terdiam cukup lama, akhirnya Marco membuat sebuah perjanjian.
"Ayo kita berduel. Jika aku menang, aku boleh membawa Elisa ke dalam misiku, bagaimana?"
"Fine by me. Sebagai gantinya, jika aku yang menang maka nyawa ayahmu akan terancam. Tentu saja aku tidak akan memakai kekuatan Black Mark milikku."
Marco menggertakkan giginya. Untuk mencapai kesuksesan dalam misinya kali ini, dia sangat membutuhkan bantuan Elisa. Terlebih lagi hubungan buruk antara pasukan penjelajah dan pertahanan membuat dia ragu jika ada pasukan penjelajah yang sukarela membantunya. Namun, dia juga tidak bisa semudah itu membahayakan nyawa ayahnya.
"Jika kau menolak, maka perjanjian ini kuanggap batal," paksa Noa yang kini berada di atas angin.
"Baiklah! Kita bertemu setengah jam lagi di arena. IOngat, kau tidak boleh menggunakan kekuatan Black Markmu."
"Sampai jumpa setengah jam lagi, Marco," ucap Elisa yang duduk bersila sambil melambaikan tangannya. Wanita itu tersenyum karena berhasil mendorong Marco untuk menyetujui syaratnya.
Imposiu memiliki sebuah arena di lantai terbawah dari bangunannya. Arena tersebut digunakan sebagai tempat untuk menghukum tahanan yang mencoba untuk kabur. Noa melangkah memasuki arena dengan gelang blackstone yang menempel di kedua pergelangan tangannya untuk mencegahnya menggunakan kekuatan Black Marknya. Di sudut arena yang lain, Marco masuk dengan kedua bilah pedang yang digenggamnya dengan erat. Beberapa sipir dan tahanan yang ada di tempat itu bersiul menyambut hiburan yang akan mereka saksikan. Beberapa mereka bahkan bertaruh. Tentunya sebagian besar orang di sana memegang Marco yang menjadi pemenangnya.
"Bertarunglah hingga kalian tak sanggup untuk bergerak atau hingga salah satu dari kalian menyerah!" teriak salah satu sipir yang membacakan peraturannya.
Baik Marco dan Noa pun segera bersiap dan memasang kuda-kuda mereka. Gong berbunyi dan seketika itu juga, Marco segera berlari dan menghunuskan pedangnya ke arah perut Noa. Akan tetapi, dengan mudah Noa menghindar. Wanita itu menggeserkan tubuhnya ke kiri dan dengan bertumpu pada kaki kirinya, dia memutar tubuhnya untuk melakukan serangan balik. Dia menendang tungkai kaki Marco sehingga pemuda itu jatuh.
"Fokus. Perhatikan langkah lawanmu dengan benar," ucap Noa.
Tidak terima diceramahi oleh Noa, Marco segera bangkit dan kembali menyerang Noa dengan bertubi-tubi. Namun, dengan mudahnya wanita yang ada dihadapannya itu menangkis dan menghindari seluruh serangannya, seolah-olah dia mampu membaca pikiran lawannya itu.
"Redam amarahmu! Bukankah itu hal dasar yang Paul ajarkan padamu!?"
"Berisik! Jangan kau sebut nama ayahku!"
Sebuah tebasan pedang kembali mengarah ke tubuh Noa. Namun, kali ini dia hanya diam dan menangkis serangan Marco dengan kedua gelang blackstone yang terpasang di lengannya. Gelang tersebut retak dan akhirnya hancur berkeping-keping.
Noa tersenyum penuh kemenangan. Bercak hitam mulai merambat di lengan kiri Noa, menandakan kekuatannya telah kembali dan siap untuk dikeluarkan. "Hey, Marco. selalu perhatikan lingkunganmu. Gunakan pergerakan musuh sebagai keuntunganmu."
Menyadari dirinya salah langkah, Marco segera menjauh dan kembali memasang kuda-kudanya. Kali ini kedua pandangannya terlihat lebih fokus dan sudah siap untuk mengantisipasi serangan yang akan Noa lancarkan. Akan tetapi, diluar dugaan, Noa mengangkat kedua tangannya dan menyerah. Gong pun berbunyi dan sipir mengumumkan bahwa Marco lah yang keluar sebagai pemenangnya.
"Kenapa kau lakukan itu?" tanya Marco sambil menurunkan pedang yang dipegangnya. "Bukankah kau tidak ingin melepas Elisa untuk menjalankan misi denganku?"
"Aku hanya tidak mau menjadi alasan jika misimu gagal karena tidak membawa Elisa," ucap Noa.
"Ah, satu lagi. Kudengar Paul sedang sakit, ya?"
Marco tidak menjawab dan hanya melihat Noa dengan wajah tegangnya ketika mendengar Noa menyebut nama ayahnya.
"Selama Paul sakit, aku tidak akan berbuat sesuatu padanya. Anggap saja ini adalah ucapan terima kasihku karena kau telah melindungi Elisa saat aku lepas kendali waktu itu," bisik Noa. "Semoga ayahmu cepat sembuh!" lanjutnya sambil berjalan kembali ke selnya.
Marco terpaku berdiam diri, kebingungan karena harus berterima kasih kepada Noa atau tidak. Pada akhirnya, dia pun beranjak pergi menuju Gua Blackstone untuk bersiap memulai misinya.