Pemandangan tampak tak biasa di depan mulut Gua Blackstone. Gua yang biasanya dipakai sebagai tempat menambang batuan blackstone ini kini tampak dipenuhi oleh pasukan pertahanan. Seluruh aktivitas penambangan dan jual beli yang ada di tempat itu telah dibubarkan semenjak adanya ledakan yang tiba-tiba terjadi 2 hari yang lalu. Marco dan Elisa yang baru saja datang segera berjalan menuju sekelompok pasukan sedang bersantai.
"Pasukan bersiap!" teriak Marco.
Kesembilan orang yang tadinya tengah berbincang sambil menunggu Marco langsung terdiam dan segera berbaris dalam formasi 3 banjar dengan serentak. Pandangan mereka terarah kepada pemimpin mereka yang membawa seorang perempuan tepat di hadapan mereka.
"Di misi kali ini, kita akan bekerja sama dengan seseorang dari pasukan penjelajah!"
Mendengar kata penjelajah, raut wajah mereka pun berubah seketika, menunjukkan ketidakpuasan. Akan tetapi, Marco tidak peduli dan segera mempersilakan Elisa untuk memperkenalkan dirinya.
Elisa melangkah maju dan membentuk sikap hormat. "Elisa Gayle, anggota pasukan penjelajah di divisi pendukung." Menyudahi perkenalannya, Elisa pun menghentikan sikap hormatnya dan kembali ke posisi awalnya.
"Saya tahu bahwa beberapa dari anda tidak suka karena kita bekerja sama dengan salah seorang dari pasukan penjelajah. Jika ada keluhan, silakan sampaikan sekarang juga!" teriak Marco kembali.
Seorang pria yang berdiri di tepat di tengah barisan mengangkat tangan kanannya dan mengutarakan pendapatnya. "Saya keberatan jika harus bekerja sama dengan pasukan penjelajah, terlebih lagi dia berada di divisi pendukung. Dari yang saya ketahui, divisi pendukung hanya bertugas untuk mendeteksi shadow sehingga kebanyakan dari mereka tak memili kemampuan bertarung."
"Divisi pendukung memang tidak difokuskan untuk bertugas di lapangan. Tugas utama kami pun juga untuk mendeteksi shadow dan memberikan rute serta arahan kepada rekan kami. Akan tetapi, anda perlu tahu jika kami juga bertanggung jawab untuk menghentikan rekan kami sendiri ketika mereka mengalami kebocoran dan kehilangan kendali atas kekuatan mereka sendiri," jelas Elisa mencoba untuk mengubah pemikiran pria itu.
"Sebagai tambahan," ucap Marco. "Nona Gayle ini merupakan rekan dari Noa Skylark. Saya sebagai komandan kalian sendiri yang menjamin bahwa dia tidak akan mengacaukan misi kita."
Mendengar nama Noa Skylark membuat pasukan yang dipimpin oleh Marco ini tak lagi ragu dengan Elisa. Bagaimana pun buruknya hubungan pasukan pertahanan dengan pasukan penjelajah, semua orang yang bekerja bagi CAST pasti tahu bahwa kekuatan Black Mark Noa tidak dapat dianggap remeh. Bahkan, kabar angin menyebut Noa sebagai salah satu pemilik Black Mark terkuat. Melihat bahwa tak ada lagi masalah, Marco pun membawa masuk pasukannya dan segera memulai misinya untuk menyelidiki penyebab dari ledakan yang terjadi beberapa hari yang lalu.
***
Permukaan yang tidak rata, terlebih langit-langit gua yang rawan longsor membuat mereka melangkah berhati-hati sambil terus memperhatikan hal yang mereka anggap janggal. Sinar senter yang mereka bawa hanya mampu menerangi langkah mereka beberapa meter ke depan sebelum akhirnya ditelan oleh kegelapan gua.
"Kau tidak akan menggunakan palumu itu, kan?" tanya Marco sambil melirik ke arah palu yang terikat di punggung Elisa. Dia takut kalau Elisa menggunakan palu tersebut dan menyebabkan langit-langit gua runtuh dan menimpa mereka semua.
"Tentu tidak. Aku membawa ini, kok," jawab perempuan itu sambil menepuk-nepuk pisau yang terbungkus dalam kantong kulitnya.
Sesaat kemudian, Elisa terdiam dan menyuruh seluruh pasukan untuk berhenti tanpa bertanya. Dia pun mengisyaratkan bahwa ada tiga buah shadow di depan mereka. Beruntung, bagian gua tempat mereka berpijak saat ini memiliki ruang yang sangat luas. Noa pun memancing salah satu shadow ke arahnya, sementara Marco bersama pasukannya akan melawan sisanya. Meskipun tidak memakai palu, Elisa cukup mahir dalam menggunakan pisau. Tak perlu memakan waktu yang lama, dia berhasil menaklukan shadow yang ada di depannya. Begitu pula dengan pasukan Marco. Lewat komando dari Marco, mereka mampu bekerja sama dengan baik dan melenyapkan kedua shadow yang mereka hadapi dengan cukup mudah.
"Hey, bukankah kalau hanya sebatas ini kita tidak memerlukan bantuan pasukan penjelajah itu?" ucap salah satu anggota pasukan pertahanan.
"Benar," ucap Marco. "Tapi jika ada hal yang tidak terduga seperti shadow abnormal apa kita punya pengalaman untuk menghadapinya?"
Mereka pun terdiam untuk beberapa saat hingga Elisa membuka mulutnya.
"Aneh," ucap Elisa. "Kenapa ada shadow di dalam gua yang penuh dengan blackstone ini?"
"Mungkin mereka bermutasi menjadi jenis baru?" duga Marco.
"Jenis yang bisa muncul di daerah penuh blackstone? Tidak mungkin. Shadow dan blackstone sangat bertolak belakang. Shadow tidak akan muncul di tempat yang dipenuhi blackstone, begitu pula dengan blackstone yang tidak pernah ditemukan di tempat-tempat yang sudah terkontaminasi shadow, ucap Elisa. "Lagipula ketiga shadow tadi mati ketika diserang menggunakan senjata kita, kan?"
Tak ada yang tahu pasti kenapa shadow-shadow tersebut dapat muncul di gua ini. Mereka pun terus berjalan lebih dalam lagi sambil dipenuhi tanda tanya. Akan tetapi, beberapa saat kemudian, Elisa kembali berhenti. Wajahnya kali ini pucat. Marco yang mengerti segera menyuruh pasukannya untuk bersiap. Kemudian, dia pun menampar pelan wajah Elisa untuk menyadarkannya.
"A-Ada dua buah shadow," ucap Elisa. Ketakutan tampak terpancar jelas dari suaranya. "Satu... satu shadow berserker dan sebuah s-shadow yang begitu terasa. Tak kuketahui jenisnya, tapi auranya begitu menakutka—"
Belum selesai Elisa berbicara, raungan terdengar memekakkan telinga terdengar dan sebuah tinju tiba-tiba bersarang di wajah salah satu pasukan pertahanan, membuatnya hancur tak berbentuk. Melihat salah satu anak buahnya gugur, amarah pun mulai memenuhi jiwa Marco. Begitu pula dengan sisa pasukannya.
"Maju!" teriak Marco untuk memompa semangat pasukannya yang tersisa.
Marco dan kedelapan anggota pasukannya bahu membahu melawan shadow yang tingginya 2 kali lipat dari tinggi mereka itu. Akan tetapi, kurangnya pengalaman dan ketidaksiapan mereka membuat mereka pun gugur satu per satu. Mati terinjak, dimakan, atau terpukul. Hanya itulah nasib yang menunggu mereka. Sementara itu, Elisa masih bergetar ketakutan akibat merasakan aura yang belum pernah ia rasakan itu.
"Hey, awas Elisa!" teriak Marco.
Sebuah tendangan dari shadow berserker mengarah kepada Elisa, namun perempuan itu tak bergerak. Beruntung, Marco sadar dan segera memeluk dan menjatuhkan Elisa sehingga mereka terhindar dari maut.
"Kau baik-baik saja komandan!?" tanya salah seorang pasukan pertahanan yang khawatir melihat pimpinannya menolong Elisa.
"Aku baik-baik saja!" teriak Marco. Kini dia menatap Elisa dengan tajam dan mencubit pipi Elisa. "Aku tak tahu betapa seramnya aura shadow yang kau rasakan, tapi tolong fokus dan bantu kami. Aku tahu kau jarang bertugas langsung di lapangan, tapi kami memerlukan setiap kaki dan tangan untuk bertarung saat ini. Paham?"
Elisa mengangguk pelan.
"Bagus. Ayo kita lawan shadow itu," ucap Marco sambil mengulurkan tangannya.
Elisa yang telah kembali fokus mengeluarkan pisau dari kantung kulitnya dan menebas kaki shadow tersebut. Sayangnya, pisau miliknya patah. Secepat mungkin, Elisa mundur sebelum shadow berserker itu mampu melancarkan serangan balasan.
Melihat pisau milik Elisa patah, Marco berpikir dan melihat sekitarnya. Dia menyadari bahwa dinding gua dipenuhi oleh blackstone dan seketika itu juga, dia mendapatkan sebuah ide.
"Gunakan palumu," kata Marco.
"Tapi gua ini nanti akan runtuh."
"Lakukan saja apa yang kukatakan," ucap Marco meyakinkan Elisa.
Marco segera menyuruh kedua anggotanya yang tersisa untuk mundur, berganti dengan Elisa yang segera berlari dan menumbukkan palunya ke wajah shadow itu. Getaran pun merambat memenuhi gua dan blackstone pada langit-langit gua mulai berjatuhan. Elisa segera kabur menuju perut gua, diikuti oleh Marco yang menarik kedua anggotanya untuk menghindari runtuhan blackstone. Shadow berserker yang mereka lawan pun mati tertimbun oleh reruntuhan blackstone.
Mereka pun berhenti di sebuah ruangan yang luas, tepat di mana batuan blackstone berhenti berjatuhan. Kelelahan, Marco dan sisa-sisa pasukannya beristirahat dan tertidur. Sementara itu, Elisa menyadari bahwa aura shadow yang ia rasa semakin kuat. Dirinya bergetar ketakutan sambil berjalan dan mengarahkan cahaya senternya ke arah sumber aura tersebut. Seorang pria tua yang memakai perlengkapan bagaikan seorang penambang sedang duduk bersender pada dinding gua ketika cahaya senter Elisa mengarah pada dirinya.
"Apa kau... manusia?" tanya Elisa.
"Mungkin iya, mungkin juga tidak," katanya sambil terkekeh pelan.