"Duduklah dulu." Kata ibu pemilik toko sambil menggeser sepiring kecil redvelvet ke seberang meja.
"Tapi Bu, sebentar lagi pelanggan akan—"
"Ada David di depan. Dia bisa mengurusnya sendiri untuk sepuluh menit." Potongnya. "Duduk, Nevan."
Nevan akhirnya menurut, menarik kursi dan duduk dengan punggung yang terlalu tegak, sebagaimana orang yang merasa sedang dipanggil untuk dimarahi.
Wanita berusia empat puluhan itu memandanginya cukup lama sebelum akhirnya buka suara.
"Berapa kilo yang kau turunkan dalam dua minggu ini?"
"Eh?"
"Jangan mengelak. Celanamu sudah kedodoran, dan aku melihatmu mengencangkan tali apron sampai dua lubang lebih dalam dari biasanya."
Nevan menundukkan kepalanya, jemarinya bermain di atas pangkuan.
"Saya baik-baik saja, Bu."
"Kalimat itu selalu diucapkan oleh orang yang paling tidak baik-baik saja." Balasnya.
Nevan tidak menjawab.
Ibu pemilik toko menghela napas, lalu mendorong piring kecil itu semakin dekat.
"Makan."
"Saya belum lapar."
"Aku tidak bertanya kau lapar atau tidak. Aku menyuruhmu makan."
Terpaksa, Nevan meraih garpu kecil di sisi piring dan memotong sedikit ujung kuenya. Ia memasukkannya ke dalam mulut, mengunyahnya perlahan, dan entah kenapa, rasa manis itu justru membuat matanya seketika memanas.
"Salah satu rekanmu meninggal, bukan?"
Garpu di tangan Nevan berhenti.
"Bagaimana Ibu tahu?"
"Kau mengambil izin tiga hari berturut-turut, padahal selama tiga tahun bekerja di sini kau tidak pernah absen bahkan ketika demam." Jawabnya. "Dan sejak kau kembali, kau menyapa pelanggan dengan senyum yang tidak sampai ke matamu."
Nevan meletakkan garpunya. Kepalanya semakin tertunduk, sampai poninya jatuh menutupi sebagian wajah.
"Namanya Kak Arvin." Lirihnya. "Dia yang paling banyak tertawa di rumah kami."
"Sakit apa?"
Ada jeda panjang sebelum Nevan menjawab.
"Sakit yang… tidak bisa saya sebutkan, Bu."
Ibu pemilik toko tidak memaksa. Wanita itu hanya mengangguk pelan, lalu meraih cangkir tehnya sendiri.
"Aku pernah kehilangan suamiku sepuluh tahun yang lalu." Katanya. "Waktu itu aku berpikir, kalau saja aku lebih rajin mengingatkannya untuk periksa, kalau saja aku tidak membiarkannya bekerja terlalu keras, kalau saja aku memaksanya berhenti merokok. Kalau saja, kalau saja, kalau saja."
Nevan mengangkat wajahnya perlahan.
"Butuh bertahun-tahun bagiku untuk mengerti satu hal, Nevan." Lanjutnya. "Bahwa mencintai seseorang tidak pernah sama dengan bisa menyelamatkannya."
Bahu Nevan bergetar. Lelaki itu buru-buru mengusap kedua matanya dengan punggung tangan, tapi tetap saja air itu tidak bisa dibendung.
"Maaf, Bu. Maaf." Katanya di sela isak.
"Untuk apa minta maaf? Menangis itu tidak dikenakan biaya di toko ini."
Nevan tertawa di tengah tangisnya, tawa yang terdengar patah-patah dan menyedihkan.
Ibu pemilik toko bangkit dari kursinya, berjalan memutari meja, kemudian menepuk-nepuk punggung Nevan seperti seorang ibu yang menenangkan anaknya sendiri.
"Ambil cuti seminggu."
"Bu, saya tidak—"
"Ini bukan permintaan." Tegasnya. "Kalau kau tetap datang besok, akan kupulangkan lagi. Kalau kau datang lusa, akan kupulangkan lagi. Jangan buang tenagamu."
Nevan tak lagi bisa membantah.
***
"Jadi kau libur seminggu?" Tanya David sambil menata deretan kue tart ke dalam etalase.
"Katanya begitu." Jawab Nevan yang berdiri di sebelahnya, melipat apron merah mudanya menjadi persegi kecil.
"Enak sekali."
"Kalau kau mau, ambil saja jatahku."
"Aku tidak sedang berduka, Nevan. Kalau aku minta libur seminggu, aku dipecat."
Nevan terkekeh kecil.
David adalah orang pertama yang menyapanya ketika ia baru masuk kerja tiga tahun lalu. Lelaki itu yang mengajarinya cara memegang pisau kue tanpa merusak lapisan krimnya, yang mengajarinya cara menulis di atas tart tanpa gemetar, dan yang selalu menukar giliran shift setiap kali Nevan harus mengantar Arvin ke rumah sakit.
Tanpa pernah sekali pun bertanya kenapa.
"David."
"Hm?"
"Terima kasih."
David menghentikan tangannya, lalu menoleh dengan kening yang berkerut.
"Kau ini kenapa? Jangan bicara seperti orang yang mau pindah kerja."
"Aku serius."
"Justru itu yang menyeramkan."
Nevan tertawa, tapi tawanya berhenti terlalu cepat.
"Selama setahun terakhir, aku sering sekali menukar shift denganmu. Kadang mendadak, kadang tanpa kabar." Katanya. "Kau tidak pernah marah, dan tidak pernah bertanya."
David mengangkat bahunya sambil kembali menata kue.
"Kalau seseorang menukar shift setahun penuh dan wajahnya selalu seperti orang yang habis menangis di kamar mandi, aku tidak perlu bertanya untuk tahu bahwa alasannya penting." Ujarnya.
Nevan menundukkan kepalanya, menyembunyikan matanya yang kembali memanas.
"Sudah, pergi sana." Kata David sambil mendorong bahu Nevan pelan. "Istirahat yang benar. Kalau minggu depan kau datang dengan wajah yang sama, akan kulaporkan ke Ibu."
"Kau memang tukang lapor."
"Dan kau memang tukang bohong."
Keduanya saling melempar senyum.
***
Nevan keluar dari toko kue itu sekitar pukul dua siang, dengan sebuah kantung kain di tangannya yang isinya jauh lebih banyak daripada yang ia minta.
"Titip salam untuk rekan-rekanmu di rumah!" Seru ibu pemilik toko dari ambang pintu.
"Iya, Bu! Terima kasih banyak!" Balas Nevan sambil membungkukkan badan berkali-kali.
Di dalam, David sempat melambaikan tangan ke arahnya sambil meneriakkan sesuatu yang tidak terdengar jelas sebab terhalang kaca. Nevan hanya membalas dengan mengangkat kantung kainnya tinggi-tinggi.
Kemudian ia berjalan menuju halte, dan begitu tubuhnya duduk di bangku panjang di sana, senyum yang tadi ia pasang seketika luruh.
Kantung kain itu ia letakkan di pangkuan, kedua tangannya menekan sisi-sisinya.
Titip salam untuk rekan-rekanmu di rumah.
Nevan menghitung di dalam kepalanya. Dulu ada tujuh. Sekarang tinggal lima. Satu di antaranya masih terbaring tanpa kesadaran, satu lagi baru saja bisa duduk sendiri di ranjang rumah sakit, dan satu lagi entah sedang berada di mana.
"Rekan-rekan…" Gumam Nevan.
Bus datang, berhenti, membuka pintunya, lalu pergi lagi tanpa membawa siapa pun.
Nevan bahkan tidak menyadarinya.
***
Sementara itu, di lorong rumah sakit, Brian masih berdiri di tempat yang sama sejak beberapa menit lalu.
"Kak Aksa!" Panggilnya sekali lagi.
Sosok itu sudah berbelok di ujung koridor, dan tidak sekali pun menoleh.
Brian akhirnya berlari kecil menyusul, melewati beberapa perawat yang membawa nampan obat, sampai akhirnya ia tiba di pertigaan koridor.
Kosong.
Ada tiga arah di sana. Satu menuju lift, satu menuju tangga darurat, dan satu lagi menuju sayap bangunan yang lain.
Brian berdiri di tengah pertigaan itu, menoleh ke kanan, ke kiri, lalu ke depan.
"Kemana dia…"
Lelaki itu memilih tangga darurat, menuruninya sampai lantai dasar, dan ketika ia tiba di halaman depan, yang ia dapati hanyalah sebuah taksi yang baru saja meninggalkan area rumah sakit.
Brian mengembuskan napasnya kasar, kedua tangannya bertumpu di lutut.
Bukan hanya soal Aksa yang berlari tanpa menoleh. Melainkan soal wajah Aksa saat berlari tadi.
Brian sempat melihatnya, meski hanya sepersekian detik. Wajah itu bukan wajah orang yang sedang panik, bukan pula wajah orang yang sedang marah.
Itu wajah orang yang sedang berharap.
Dan entah kenapa, justru itulah yang membuat Brian merasa dingin di tengkuknya.
"Sebenarnya apa yang sedang kalian sembunyikan…" gumam Brian.
Lelaki itu berdiri tegak kembali, mengusap wajahnya, lalu berbalik untuk kembali masuk ke dalam gedung.
Ada Darel yang masih menunggu di kamarnya. Ada Mirza yang masih terbaring di kamar sebelah. Dan ada satu kursi kosong di ruang rapat perusahaan yang sejak tadi pagi belum juga ia isi.
Brian memilih untuk mengurus apa yang bisa ia urus lebih dulu.
***
Di sudut kamar tempat tubuhnya terbaring, arwah Mirza duduk bersandar pada dinding, memeluk lututnya sendiri.
"Kak Aksa berlari ke suatu tempat. Kak Brian mengejarnya tapi kehilangan jejak. Nevan menangis di halte bus, dan sekarang dia melewatkan busnya untuk yang kedua kali." Ucapnya, seolah sedang melapor pada seseorang.
Ia menoleh ke arah tubuhnya sendiri di atas ranjang. Dada itu naik turun perlahan, dibantu oleh selang dan mesin yang berbunyi teratur.
"Kau dengar itu semua, bukan?" Tanya Mirza pada tubuhnya sendiri. "Aku tahu semuanya. Aku melihat semuanya. Tapi aku tidak bisa mengatakan apa pun kepada siapa pun."
Tidak ada jawaban. Tentu saja.
Mirza menyandarkan kepalanya ke dinding, memandangi langit-langit ruangan yang putih dan kosong.
"Kalau memang seperti ini, kenapa aku tidak dibiarkan mati saja sekalian?"
Layar monitor di sebelah ranjang berkedip sekali, lalu kembali menampilkan garis hijau yang naik turun dengan tenang, seakan menolak permintaan itu.