Musim semi 2018.
Ruang kerja itu berbau kayu tua dan tinta. Rak-rak tinggi berjajar di ketiga sisinya, penuh oleh buku-buku yang Deon yakin tidak pernah sekali pun dibaca oleh pemiliknya.
Papa Deon berdiri membelakangi meja kerjanya, menatap keluar jendela.
"Sudah berapa lama kau masuk ke ruangan itu?" Tanyanya.
"Baru saja, Pa."
"Jangan berbohong padaku."
"Aku tidak berbohong." Deon melangkah lebih dekat. "Pintunya terbuka sedikit. Aku hanya ingin tahu apa yang ada di dalamnya, sebab seumur hidupku ruangan itu selalu terkunci."
Papanya tidak menjawab. Lelaki paruh baya itu masih berdiri di tempatnya, dengan kedua tangan yang disatukan di belakang punggung.
Deon merogoh tas kerjanya, lalu meletakkan sesuatu di atas meja.
Sebuah buku bersampul merah yang sudah usang, dengan tulisan Omelas pada bagian depannya.
Dan detik itu juga, punggung papanya menegang.
"Dari mana kau mendapatkan itu?" Tanyanya, tanpa membalikkan badan.
"Dari kota bernama Omelas. Aku dan teman-temanku berlibur ke sana bulan lalu."
"Omelas." Ulang papanya dengan suara yang nyaris tak terdengar.
"Papa mengenal nama itu."
Akhirnya lelaki itu membalikkan badan. Wajahnya, yang biasanya keras dan tenang, kini terlihat seperti wajah orang yang baru saja melihat sesuatu yang seharusnya sudah lama terkubur.
"Buang buku itu."
"Pa—"
"Bakar. Buang. Kembalikan ke tempat asalnya. Apa pun. Asal jangan kau simpan."
"Kenapa?" Tanya Deon. Suaranya meninggi. "Kenapa aku harus membuangnya kalau Papa bahkan tidak mau menjelaskan apa-apa?"
"Karena aku ayahmu, dan itu sudah cukup."
"Tidak cukup!"
Suara Deon menggema memantul di dinding ruangan itu.
Untuk pertama kalinya seumur hidupnya, Deon membentak ayahnya sendiri. Dan untuk pertama kalinya pula, ayahnya tidak membalas dengan kemarahan.
Lelaki paruh baya itu justru menarik kursinya, lalu duduk dengan sangat perlahan, seakan seluruh tulangnya tiba-tiba menjadi berat.
"Duduklah." Katanya.
Deon menurut.
***
"Kau tahu bagaimana perusahaan ini bisa berdiri?" Tanya papanya.
"Papa memulainya dari nol. Papa selalu menceritakan itu di setiap wawancara."
Lelaki itu tersenyum kecut. "Itu setengah dari ceritanya."
"Lalu setengahnya lagi?"
"Setengahnya lagi adalah bagian yang tidak akan pernah kuceritakan kepada siapa pun, termasuk kepadamu."
Deon mengepalkan tangannya di atas pangkuan.
"Dua puluh delapan tahun yang lalu, perusahaan ini nyaris runtuh." Lanjut papanya. "Aku sudah menjual apa saja yang bisa kujual. Aku sudah meminjam dari siapa saja yang mau meminjamkan. Dan pada titik ketika sudah tidak ada lagi yang tersisa, seorang rekan datang menemuiku, dan menawarkan sesuatu."
"Menawarkan apa?"
"Jalan keluar."
"Jalan keluar seperti apa?"
Papanya menatap Deon lekat-lekat. Ada sesuatu di dalam sorot mata itu yang membuat Deon merasa dirinya sedang duduk di ruangan yang jauh lebih dingin daripada seharusnya.
"Jalan keluar yang selalu punya harga, Deon."
"Berapa harganya?"
"Tidak dihitung dengan uang."
Deon menelan ludahnya sendiri.
"Lalu dengan apa?"
Lelaki paruh baya itu tidak menjawab. Ia justru bangkit dari kursinya, berjalan menuju rak buku, dan menarik satu buku tebal dari sana hanya untuk mengembalikannya lagi ke tempat semula. Sebuah kebiasaan lama yang selalu ia lakukan setiap kali pikirannya sedang tidak berada di tempat.
"Papa."
"Ada satu hal yang harus kau ingat baik-baik." Ujarnya, tanpa menoleh. "Kalau suatu hari kau berada di posisiku, jangan pernah kau berpikir bahwa kau bisa memilih siapa yang akan membayarnya."
Kening Deon berkerut. "Apa maksudnya?"
"Sebab pengorbanan tak mengenal siapa yang mesti dikorbankan."
Kalimat itu jatuh di ruangan itu seperti batu yang dilempar ke dalam sumur yang sangat dalam. Deon menunggu bunyi pantulannya, tapi tidak pernah datang.
"Pa, aku tidak mengerti."
"Bagus." Jawab papanya. "Berdoalah agar kau tidak pernah mengerti."
Kemudian lelaki itu berjalan menuju pintu, membukanya lebar-lebar, memberi isyarat kepada putra semata wayangnya untuk pergi.
"Pulanglah. Dan bawa buku itu keluar dari rumah ini."
***
Deon tidak langsung pulang.
Lelaki itu duduk di dalam mobilnya yang terparkir di halaman selama hampir satu jam, memandangi rumah megah tempat ia dibesarkan, rumah yang selalu terasa terlalu besar dan terlalu sepi untuk dua orang penghuni.
Ketika lampu-lampu di lantai dua akhirnya padam satu persatu, barulah Deon keluar dari mobilnya.
Ia masuk melalui pintu samping, melangkah tanpa suara menyusuri koridor panjang yang membelah rumah itu. Lampu-lampu kecil di dinding memberi penerangan seadanya, cukup untuk membuat bayangan tubuhnya memanjang di lantai.
Langkahnya berhenti di depan pintu terakhir.
Pintu yang sejak Deon kecil selalu terkunci. Pintu yang setiap kali ia tanyakan, jawaban yang ia terima selalu sama, bahwa itu hanya gudang tua yang berbahaya untuk anak kecil.
Jemari Deon meraih gagangnya.
Terkunci.
Namun kali ini Deon tahu di mana kuncinya berada. Sore tadi ia sempat melihat papanya mengembalikan sebuah kunci kecil ke dalam laci meja koridor, dengan gerakan yang terlalu cepat untuk sesuatu yang katanya hanya gudang.
Deon membuka laci itu.
Dan kunci itu memang ada di sana.
***
Pintu terbuka dengan bunyi berderit yang panjang.
Deon meraba dinding, menemukan sakelar, lalu menekannya. Satu bola lampu di langit-langit menyala redup, memandikan ruangan itu dengan cahaya kekuningan yang lemah.
Untuk beberapa detik, Deon tidak bisa bergerak sama sekali.
Ruangan itu bukan gudang.
Di dinding sebelah kanan, tergantung jubah-jubah hitam panjang yang berjajar rapi, seluruhnya tampak sudah sangat tua tapi terawat. Di bawahnya, di atas sebuah rak kayu, berjajar topeng-topeng putih dengan lapisan emas pada bagian atasnya. Deon menghitungnya tanpa sadar.
Tujuh.
Di sudut ruangan ada sebuah meja rendah, dengan lingkaran yang tergambar di atasnya. Sebuah bintang berujung lancip di dalam lingkaran. Di sekelilingnya, kelopak-kelopak bunga lily putih yang sudah lama mengering dan berubah warna menjadi cokelat kekuningan.
Dan di dinding paling ujung, sebuah lukisan potret.
Seorang wanita muda dengan rambut panjang tergerai, tersenyum lembut ke arah pelukisnya. Wajahnya sangat asing bagi Deon, tapi di saat yang sama, ada sesuatu di garis mata wanita itu yang membuat Deon merasa seperti sedang menatap cermin.
"Mama…" Lirih Deon.
Ia melangkah mendekat. Di bagian bawah lukisan itu, terukir sebuah nama pada lempengan kuningan kecil yang sudah menghitam.
Diana.
Deon mengulurkan tangannya, mengusap debu yang menutupi nama itu.
Seumur hidupnya, Deon hanya mengetahui satu hal tentang ibunya. Bahwa wanita itu meninggal saat melahirkannya. Papanya tidak pernah mau membahasnya lebih jauh dari itu, tidak sekali pun, bahkan ketika Deon masih terlalu kecil untuk mengerti bahwa pertanyaannya menyakitkan.
Sekarang wanita itu ada di sini, di dalam ruangan yang penuh jubah hitam, topeng putih, dan kelopak lily yang mengering.
Bulu kuduk Deon meremang.
"Kenapa Mama ada di ruangan seperti ini?"
Di bawah lukisan itu ada sebuah meja kecil, dan di atasnya tergeletak sebuah buku catatan bersampul kulit yang sudah retak-retak.
Deon membukanya.
Halaman pertama berisi deretan tanggal dan angka, ditulis dengan tulisan tangan yang sangat ia kenal. Tulisan papanya. Catatan keuangan perusahaan pada tahun-tahun awal, lengkap dengan jumlah utang yang membuat Deon menahan napas ketika membacanya.
Ia terus membalik halaman.
Angka-angka itu terus menurun, semakin kecil, semakin mengkhawatirkan, sampai pada satu halaman di pertengahan buku.
Di sana tidak ada angka.
Hanya ada satu baris kalimat yang ditulis dengan tinta yang berbeda, dengan tekanan pena yang begitu dalam sampai kertasnya nyaris robek.
"Ia sudah datang."
Deon membalik halaman berikutnya.
Kosong.
Dan halaman setelahnya, dan setelahnya lagi, semuanya kosong. Seolah sejak hari itu, papanya tidak pernah lagi sanggup menuliskan apa pun di dalam buku tersebut.
Deon menutup buku itu, meletakkannya kembali persis di tempat semula.
Tangannya bergetar.
Angin dari entah mana membuat lampu di langit-langit berkedip sekali.
Deon buru-buru mundur, keluar dari ruangan itu, mengunci pintunya kembali dan mengembalikan kunci ke dalam laci persis seperti posisinya semula. Jantungnya bertalu terlalu keras, sampai ia bisa merasakannya di ujung jari.
Malam itu ia pulang dengan kecepatan yang tidak masuk akal.
***
Sesampainya di rumah, seluruh penghuninya sudah terlelap.
Deon menutup pintu kamarnya, mengunci dari dalam, kemudian mengeluarkan buku bersampul merah itu dari dalam tasnya.
Ia duduk di tepian ranjang, membuka halaman pertama.
Lalu halaman kedua.
Lalu ketiga.
Waktu berjalan tanpa Deon sadari. Semakin jauh ia membaca, semakin dingin pula ujung jarinya. Ada nama-nama di sana yang tidak pernah ia dengar seumur hidupnya, ada gambar-gambar yang bentuknya persis sama dengan yang baru saja ia lihat di atas meja rendah di ruangan terkunci itu.
Dan ada satu bagian, yang membuat Deon berhenti bernapas selama tiga detik penuh.
Sebuah bagian yang menjelaskan tentang tujuh jubah, tujuh topeng, dan satu nama yang harus dilepaskan.
Deon menutup buku itu keras-keras.
Ia berbaring, menarik selimut sampai ke d**a, dan memejamkan matanya rapat-rapat.
Namun malam itu, mata itu tidak benar-benar terpejam sampai pagi datang.