Kaki Darel menyentuh lantai yang dingin. Lututnya sempat goyah, dan lelaki itu harus berpegangan pada tiang infus untuk menahan tubuhnya sendiri agar tidak ambruk.
"Aduh…" Ringisnya.
Ia menyeret langkahnya menuju pintu, satu langkah, dua langkah, tiga langkah. Rasanya seperti berjalan di atas kapal yang sedang oleng.
Begitu tangannya berhasil meraih gagang pintu dan membukanya, suara dari koridor langsung menyerbu masuk.
Suara roda yang berdecit. Suara perawat yang saling meneriakkan sesuatu dalam istilah yang tidak Darel mengerti. Suara sepatu yang berlarian.
Dan semuanya menuju ke satu arah.
Kamar Mirza.
"Kak Mirza…" Lirih Darel.
Lelaki itu memaksakan langkahnya, berpegangan pada dinding koridor, menyeret tiang infusnya yang rodanya berbunyi berisik. Beberapa kali pandangannya berkunang-kunang, tapi ia terus melangkah.
"Tuan! Anda harus kembali ke kamar!" Tegur seorang perawat yang berpapasan dengannya.
"Rekanku… di dalam sana…"
"Anda belum boleh berjalan sejauh ini!"
"Tolong biarkan aku melihatnya!"
Perawat itu sempat ragu, tapi kemudian menyerah dan menuntun Darel sampai ke dekat pintu, tidak lebih.
Dari sana, Darel bisa melihat sebagian isi ruangan.
Tubuh Mirza berguncang hebat di atas ranjang. Kedua tangan lelaki itu menegang, punggungnya melengkung, dan mesin di sebelahnya mengeluarkan bunyi panjang yang membuat siapa pun yang mendengarnya merasa ada sesuatu yang ditarik keluar dari dalam dadanya.
Dua orang perawat menahan tubuh Mirza. Seorang dokter meneriakkan instruksi. Seseorang lagi berlari keluar membawa nampan kosong.
Kemudian pintu itu ditutup, tepat di depan wajah Darel.
Lelaki itu berdiri di sana, dengan tangan yang masih menggenggam tiang infus, dengan kaki yang gemetar hebat.
"Kak Mirza…" panggilnya lagi, kali ini nyaris tanpa suara.
***
Arwah Mirza berdiri di sudut ruangan, membeku.
Ia menyaksikan tubuhnya sendiri berguncang di atas ranjang. Melihat wajahnya sendiri yang memucat. Melihat mulutnya sendiri yang terbuka mencari udara.
Dan yang paling aneh, ia bisa merasakannya.
Rasa sakit itu datang seperti ribuan jarum yang ditancapkan sekaligus dari dalam. Dari dada, menjalar ke bahu, ke leher, sampai ke belakang kepala. Mirza terhuyung, bersandar pada dinding, menekan dadanya sendiri dengan kedua tangan.
"Kenapa… kenapa sekarang…" Erangnya.
Ia mencoba melangkah mendekat ke arah ranjangnya sendiri. Satu langkah saja rasanya seperti mengangkat batu.
"Kembali… kembalilah…" Ucapnya, entah kepada tubuhnya, entah kepada dirinya sendiri. "Kalau kau mati sekarang, siapa yang akan memberitahu mereka?"
Sebab Mirza tahu.
Selama berhari-hari melayang tanpa raga, Mirza sudah pergi ke mana-mana. Ia sudah mendengar apa yang tidak seharusnya ia dengar, sudah melihat apa yang tidak seharusnya ia lihat. Ia tahu apa yang Nevan sembunyikan. Ia tahu apa yang Aksa kerjakan di kamar bernomor itu. Ia tahu apa yang membuat Brian tidak bisa tidur setiap malam.
Ia tahu semuanya, dan tidak ada satu pun dari semua itu yang bisa ia sampaikan.
"Bertahanlah…" Lirih Mirza sambil menatap tubuhnya sendiri. "Bertahanlah dulu…"
Namun di tengah kekacauan itu, ada sesuatu yang lain yang tiba-tiba menyita perhatiannya.
Dingin.
Bukan dingin ruangan rumah sakit, bukan pula dingin karena pendingin udara. Ini dingin yang datang dari satu arah, seperti angin yang mengalir dari sebuah pintu yang baru saja dibuka di suatu tempat yang jauh.
Mirza menoleh ke arah jendela.
Di luar sana, langit sudah gelap sepenuhnya. Dan entah kenapa, ada sesuatu di dalam dadanya yang berkata bahwa malam ini belum selesai.
***
Beberapa kilometer dari rumah sakit, sebuah mobil hitam melaju pelan menyusuri jalanan malam.
Brian menurunkan kaca jendela di kedua sisi meski udara di luar sangat dingin, sebab dengan begitu ia bisa melihat trotoar dengan lebih jelas.
Sudah tiga jam.
Tiga jam ia berputar-putar di jalanan yang sama. Dari rumah ke arah utara, lalu berbalik ke selatan, lalu memutar ke arah motel itu, lalu kembali lagi.
"Aksa!" Serunya dari dalam mobil, ke arah sebuah gang yang gelap.
Tidak ada jawaban.
Brian menepikan mobilnya di depan sebuah warung yang masih buka, lalu turun.
"Permisi, Pak."
"Ya?"
"Apa Bapak melihat seorang lelaki lewat sini? Tubuhnya kecil, kulitnya sangat putih, memakai jaket."
Penjaga warung itu menggelengkan kepala. "Tidak, Mas. Dari tadi sepi."
Brian mengucapkan terima kasih, kembali ke mobilnya, dan melanjutkan pencariannya.
Di persimpangan berikutnya, ia bertanya lagi. Kepada seorang tukang parkir, kepada dua orang yang sedang duduk di halte, kepada seorang petugas keamanan sebuah ruko.
Semuanya menggeleng.
Sampai akhirnya, di persimpangan yang keempat, seseorang menjawab berbeda.
"Ah, iya. Tadi ada. Sekitar setengah jam lalu."
Brian nyaris melompat dari kursinya. "Ke arah mana?"
"Ke sana." Lelaki itu menunjuk ke arah barat. "Tapi jalannya aneh, Mas. Dia jalan di tengah jalan, bukan di trotoar. Saya sempat mau menegur, tapi dia sudah keburu jauh."
Di tengah jalan.
Brian merasakan sesuatu yang dingin merambat naik di tengkuknya.
"Terima kasih, Pak!"
Ia langsung menginjak pedalnya, membelokkan mobil ke arah barat.
Sambil menyetir, tangannya meraih ponsel di dasbor. Ia menekan satu nama, mendekatkannya ke telinga, dan sambungan itu langsung diterima.
"Kak Brian? Bagaimana?"
"Nevan, aku sudah hampir menemukannya." Ujar Brian, dan untuk pertama kalinya malam itu ada nada lega di suaranya. "Ada yang melihatnya berjalan ke arah barat sekitar setengah jam lalu."
"Syukurlah. Kak, tolong jangan bentak dia dulu ya kalau nanti bertemu."
"Aku tidak akan membentaknya."
"Kau selalu bilang begitu."
Brian terkekeh pelan sambil membelokkan mobilnya ke sebuah jalan yang lebih sempit.
Dan di ujung jalan itu, di bawah lampu jalan yang berkedip, ia melihatnya.
Sesosok bertubuh kecil, berjalan sendirian, tepat di tengah jalan.
"Nevan, aku melihatnya." Kata Brian, suaranya berubah. "Aku melihatnya sekarang."
***
"Pak, tolong lebih cepat lagi!"
"Sudah saya bawa cepat, Mas."
"Tolong, Pak! Tolong!"
Nevan duduk di kursi belakang taksi dengan ponsel yang menempel di telinga. Nada sambung itu berbunyi sampai habis, lalu terputus, lalu ia menekan nama yang sama lagi.
Berdering. Terputus. Berdering lagi. Terputus lagi.
"Angkat, Kak. Kumohon angkat." Gumamnya.
Sebelumnya Brian meneleponnya untuk mengabarkan bahwa ia sudah hampir menemukan Aksa. Bahwa ada orang yang melihat seorang lelaki bertubuh kecil berkulit sangat putih berjalan sendirian di sekitar jalan itu.
Lalu Nevan mendengar suara Brian berubah.
Lalu suara klakson yang panjang, terlalu panjang.
Lalu suara benda-benda yang pecah.
Lalu suara Brian yang berteriak, dan setelah itu tidak ada apa-apa lagi selain suara sirine.
"Kak Brian!" Nevan berteriak ke dalam ponselnya lagi, meski ia tahu panggilannya bahkan belum tersambung. "Angkat teleponnya!"
Sang supir taksi meliriknya melalui kaca spion. "Mas, sabar. Sebentar lagi sampai."
Nevan tidak menjawab. Lelaki itu menempelkan keningnya pada kaca jendela, memandangi lampu-lampu jalan yang berlari mundur satu persatu.
Dua tahun.
Dalam dua tahun terakhir, sudah dua kali ia mendapatkan telepon yang mengubah segalanya. Yang pertama tentang Deon. Yang kedua tentang Mirza.
Dan malam ini, seluruh tubuhnya berteriak bahwa ini akan menjadi yang ketiga.
"Tidak." Bisik Nevan pada dirinya sendiri. "Tidak, tidak, tidak."
***
Taksi itu tidak bisa masuk lebih jauh.
Jalan di depan sana sudah ditutup. Ada garis polisi yang dibentangkan dari satu tiang ke tiang lainnya, ada cahaya merah dan biru yang berputar memantul di dinding-dinding pertokoan, dan ada kerumunan orang yang berdiri sambil berbisik-bisik.
Nevan melempar beberapa lembar uang kertas ke kursi depan lalu berlari keluar tanpa menunggu kembalian.
"Permisi! Permisi!" Serunya sambil menyelinap di antara kerumunan.
Semakin dekat, semakin jelas pemandangan itu.
Kaca-kaca etalase toko di sepanjang jalan itu pecah berantakan. Serpihannya berhamburan sampai ke tengah jalan, memantulkan cahaya lampu polisi sehingga terlihat seperti pecahan bintang yang berserakan di atas aspal.
Bukan satu toko. Bukan dua. Melainkan hampir seluruh toko di sisi jalan itu.
Nevan berhenti melangkah.
"Apa ini…"
Ia pernah mendengar sesuatu tentang ini. Beberapa waktu lalu, ketika Aksa terbangun dari tidurnya dengan jemari yang berdarah, lelaki itu sempat menceritakan mimpinya sendiri dengan nada yang datar dan menyebalkan seperti biasa, dan tak satu pun dari mereka yang menanggapinya dengan serius.
Kaca-kaca yang pecah. Jalan yang sepi. Sebuah mobil hitam.
Nevan merasakan kakinya sendiri melemas.
"Tidak mungkin." Katanya. "Itu hanya mimpi. Itu hanya—"
Kemudian matanya menangkap sesuatu di balik garis polisi.
Seorang lelaki bertubuh tegap dengan kemeja yang sudah keluar dari celananya, dengan jas hitam yang tergeletak begitu saja di atas aspal di sebelahnya, tengah terduduk lemas dengan kedua lutut menyentuh jalan.
Punggung itu bergetar.
"Kak Brian!!" Teriak Nevan.