"Maaf, Mas. Tidak boleh masuk."
Seorang petugas menahan bahu Nevan tepat ketika lelaki itu hendak menerobos garis polisi.
"Itu rekanku! Yang terduduk di sana itu rekanku!" Seru Nevan sambil menunjuk.
Petugas itu menoleh sebentar, lalu menghela napas dan akhirnya mengangkat garis pembatas itu sedikit, memberi celah bagi Nevan untuk menunduk masuk.
Nevan berlari.
"Kak Brian!"
Ia berlutut di depan rekannya itu, meraih kedua bahunya, mengguncangnya pelan.
"Kak, kau tidak apa-apa? Kau terluka? Kak Brian, jawab aku!"
Brian mengangkat wajahnya perlahan.
Dan detik itu juga, seluruh pertanyaan yang sudah tersusun rapi di kepala Nevan hancur seketika.
Wajah Brian basah. Bukan oleh keringat, melainkan oleh sesuatu yang jauh lebih deras. Kedua matanya merah, sorotnya kosong, dan bibirnya bergerak-gerak seolah sedang mencoba membentuk sebuah kata yang tidak mau keluar.
Brian.
Brian yang tidak pernah menangis di depan siapa pun. Brian yang selalu berdiri paling depan. Brian yang bahkan pada hari Deon dijadikan tumbal pun masih sanggup memegang pedang itu dengan tangannya sendiri.
Brian yang itu, kini terduduk di atas aspal seperti seseorang yang seluruh tulangnya sudah diambil.
"Kak…" Suara Nevan mulai bergetar. "Kak, katakan sesuatu."
"Aku…" Brian menelan ludah. "Aku sudah hampir sampai."
"Apa?"
"Aku sudah melihatnya, Nevan. Dari kejauhan. Dia berjalan di tengah jalan." Suara Brian pecah di kalimat terakhir. "Aku memanggilnya. Aku membunyikan klakson. Aku menurunkan kaca dan berteriak memanggil namanya."
Nevan menggelengkan kepalanya. "Kak, hentikan."
"Dia menoleh, Nevan."
"Kubilang hentikan!"
"Dia menoleh ke arahku." Brian mencengkeram lengan Nevan begitu erat sampai terasa sakit. "Dia melihatku. Aku yakin dia melihatku."
Nevan tidak sanggup lagi mendengarnya. Lelaki itu mengedarkan pandangannya ke sekitar, ke pecahan kaca yang berhamburan di aspal, ke bercak yang sudah ditutupi kain, ke sebuah mobil hitam yang berhenti miring di tengah jalan dengan bagian depan yang penyok dan pengemudinya yang duduk di trotoar sambil dipegangi dua orang petugas.
"Permisi." Seorang petugas kepolisian menghampiri mereka berdua. "Salah satu dari Anda bersedia melakukan identifikasi?"
Nevan langsung berdiri. "Aku—"
"Aku saja." Potong Brian.
"Kak."
"Aku saja, Nevan." Ulang Brian, sambil berusaha bangkit dengan bertumpu pada lututnya sendiri.
"Kak Brian, biar aku—"
"KUBILANG AKU SAJA!"
Bentakan itu menggema di sepanjang jalan. Beberapa orang di kerumunan menoleh. Nevan membeku di tempatnya, dengan mulut yang masih setengah terbuka.
Brian menutup matanya sejenak, menarik napas, lalu berkata dengan suara yang jauh lebih pelan.
"Maaf." Ujarnya. "Tapi biar aku saja."
Kemudian lelaki itu berjalan mengikuti sang petugas, melangkah pelan menuju ke arah kain putih yang terbentang tak jauh dari sana.
Dan Nevan hanya bisa berdiri di tempatnya, memunggungi semua itu, sebab ia tahu betul dirinya tidak akan sanggup melihat.
Ia menutup kedua telinganya dengan tangan.
Namun suara Brian tetap terdengar sampai ke sana.
***
Nevan tidak ingat berapa lama mereka berada di tempat itu.
Ia hanya ingat bahwa pada satu titik, seseorang menyodorkan segelas air mineral kepadanya dan ia menerimanya tanpa meminumnya sedikit pun. Ia ingat lampu merah biru yang terus berputar sampai matanya perih. Ia ingat suara petugas yang meminta nomor telepon, nama lengkap, hubungan keluarga.
Rekan.
Kami hanya rekan, Pak. Tidak ada hubungan darah sama sekali.
Kami hanya tujuh anak yang dulu tidak punya siapa-siapa, lalu memutuskan untuk saling memiliki.
Nevan menatap gelas di tangannya.
Tujuh.
Sekarang berapa?
Ia mulai menghitung dalam kepalanya, dan begitu sampai pada angka yang seharusnya, lelaki itu buru-buru berhenti sebelum jumlahnya benar-benar terucap di dalam pikirannya.
"Nevan."
Ia menoleh.
Brian sudah berdiri di sana. Jas hitamnya sudah kembali ditenteng di tangan, kemejanya kotor oleh debu jalanan, dan wajahnya sudah kering. Terlalu kering, seakan seluruh air di tubuhnya sudah habis dalam sepuluh menit terakhir.
"Kita pulang." Kata Brian.
"Kak, apa benar—"
"Kita pulang, Nevan."
Nada suara itu datar sekali. Datar seperti Aksa.
Nevan menundukkan kepalanya, lalu mengangguk.
***
Mereka menumpang taksi untuk kembali ke rumah sakit, sebab mobil Brian mesti ditinggal di sana untuk keperluan pemeriksaan.
Sepanjang perjalanan, tidak ada satu pun dari mereka yang bicara.
Nevan menatap ke luar jendela. Jalanan sudah lengang, dan lampu-lampu di sepanjang trotoar berlari mundur satu persatu seperti barisan orang yang sedang berjalan menjauh.
Kemudian Brian membuka suara.
"Nevan."
"Ya, Kak?"
"Petugas tadi menyerahkan barang-barangnya."
Nevan menoleh.
Di pangkuan Brian ada sebuah kantung plastik bening. Di dalamnya ada sebuah ponsel dengan layar yang sudah retak, sebuah dompet, dan sepasang kunci.
"Kunci apa itu?" Tanya Nevan.
"Aku tidak tahu."
Brian mengeluarkan dompet itu, membukanya perlahan.
Di dalamnya nyaris tidak ada apa-apa. Tidak ada uang. Tidak ada kartu. Hanya sebuah kartu identitas, dan selembar foto yang dilipat menjadi empat sehingga muat di dalam sana.
Brian membuka lipatan foto itu.
Tujuh lelaki yang berpose konyol, dengan rona bahagia di wajah mereka masing-masing.
Foto yang sama persis dengan yang ada di dalam figura di kamar Nevan, di kamar Arvin, dan di laci nakas Brian sendiri.
Hanya saja yang ini sudah lusuh, dengan garis-garis lipatan yang membelah wajah beberapa orang di dalamnya.
"Dia membawanya ke mana-mana." Lirih Nevan.
"Selama dua tahun." Sahut Brian. "Dan tidak sekali pun dia menyebutkannya kepada siapa pun."
Nevan menutup mulutnya dengan tangan.
"Kak, tolong hentikan."
Brian melipat kembali foto itu, mengembalikannya ke dalam dompet, dan memasukkan seluruhnya ke dalam kantung plastik.
Lalu lelaki itu memalingkan wajahnya ke arah jendela, dan tidak lagi mengeluarkan sepatah kata pun sampai taksi itu berhenti.
***
Rumah sakit itu sudah jauh lebih tenang ketika mereka tiba.
Koridor yang tadi penuh oleh langkah berlarian kini kembali sepi. Lampu-lampunya diredupkan, sebagaimana biasanya di jam selarut ini.
Seorang perawat menghampiri mereka begitu melihat keduanya datang.
"Ah, Bapak keluarganya Tuan Mirza?"
"Ya." Jawab Brian.
"Pasien sempat mengalami kejang cukup hebat beberapa jam lalu. Namun kondisinya sudah stabil kembali sekarang. Dokter akan menjelaskan lebih lanjut besok pagi."
Brian mengangguk pelan. "Terima kasih."
"Dan Tuan Darel sempat keluar dari kamarnya. Kami sudah mengembalikannya ke ranjang, tapi mohon nanti diingatkan untuk tidak berjalan sendiri dulu."
"Baik. Terima kasih."
Perawat itu berlalu.
Nevan menoleh ke arah Brian, menunggu sesuatu, apa pun. Namun Brian hanya berdiri di sana, memandangi pintu kamar Mirza yang tertutup.
"Kak, apa Darel perlu tahu—"
"Tidak malam ini."
"Tapi—"
"Tidak malam ini, Nevan." Ulang Brian. "Biarkan dia tidur satu malam lagi tanpa mengetahui apa-apa."
Nevan menutup mulutnya rapat-rapat.
***
Pintu kamar Mirza terbuka pelan.
Di dalam, hanya ada bunyi mesin yang berdenyut teratur dan cahaya kecil dari monitor di sisi ranjang.
Mirza terbaring di sana dengan wajah yang pucat, dengan selang yang melilit tubuhnya, dan dengan rambut ikal cokelatnya yang sudah semakin panjang menutupi sebagian dahinya.
Brian menarik kursi, menempatkan diri di sisi ranjang.
Untuk waktu yang cukup lama, lelaki itu tidak mengatakan apa-apa.
Nevan berdiri di sisi lain ranjang, meraih tangan Mirza yang dingin, menggenggamnya dengan kedua telapak tangannya sendiri.
"Mirza," panggil Brian akhirnya.
Tidak ada jawaban. Tentu saja.
"Aku dengar tadi kau sempat kesakitan." Lanjut Brian. "Maaf, aku tidak ada di sini."
Jemari Brian bergerak, merapikan poni Mirza yang menutupi dahi.
"Aku sedang mencari seseorang." Katanya, dan suaranya sedikit tersendat di sana. "Aku sedang mencari seseorang, Mirza."
Nevan menundukkan kepalanya semakin dalam.
"Tapi sekarang aku sudah kembali. Jadi kalau kau mau marah karena kutinggal, silakan. Marahi aku begitu kau bangun nanti."
Brian menarik napas, lalu mengembuskannya perlahan.
"Bangunlah cepat. Kumohon."
Kalimat terakhir itu keluar dengan suara yang nyaris tak terdengar. Bukan perintah, bukan permintaan, melainkan sesuatu yang lebih menyerupai doa.
Nevan meletakkan kembali tangan Mirza ke atas ranjang, membenarkan letak selimutnya sampai sebatas d**a.
"Mirza," ucapnya pelan. "Kalau kau bisa mendengarku dari mana pun kau berada sekarang, jangan tanya apa-apa dulu, ya."
Air matanya kembali jatuh.
"Aku belum siap menjawabnya."
Kemudian Nevan buru-buru mengusap wajahnya dengan lengan baju.
Brian bangkit dari kursinya, mengembalikan kursi itu ke tempat semula, lalu meletakkan tangannya di bahu Nevan.
"Ayo."
Keduanya melangkah menuju pintu.
Brian sempat berhenti sekali lagi di ambang, menoleh ke belakang, memandangi rekannya yang terbaring di sana untuk beberapa detik.
Lalu ia mematikan lampu, dan menutup pintu itu di belakang mereka.
Ruangan itu kembali gelap, hanya disinari cahaya kecil dari monitor yang terus menampilkan garis hijau yang naik turun dengan tenang.
Dan di sudut ruangan yang paling gelap, ada sesuatu yang mulai bergerak.