Pak Adi menemukannya jam lima pagi.
Bukan menemukan. Justru sebaliknya: tidak menemukan apa-apa.
Gudang belakang rumah Husain sebenarnya bukan gudang. Dulu itu kamar setrika, lalu jadi tempat menaruh kursi lipat, lalu jadi tempat pak Adi menaruh tas, sandal jepit, termos, dan satu meja kayu kecil berlaci satu. Laci itu ada kuncinya. Kunci itu ada di kantong celana pak Adi, digantung bersama kunci motor, dan tidak pernah lepas dari sana sejak dua minggu lalu.
Laci itu tidak rusak. Tidak dicongkel. Tidak ada goresan.
Cuma kosong.
"Sudah tiga kali saya buka, Pak Ken," kata pak Adi lewat telepon umum di ujung gang, suaranya rendah dan serak. "Tiga kali. Perekamnya tidak ada. Buku jaganya juga tidak ada."
Ken diam di seberang sana. Diam yang lama.
"Bapak keluar dari kamar itu semalam berapa lama?"
"Dua kali ke belakang. Masing-masing lima menit. Sekitar jam satu, sama jam tiga."
"Lacinya Bapak kunci?"
"Saya kunci, Pak Ken." Suara pak Adi bergetar sedikit. "Sumpah saya kunci."
"Saya percaya," kata Ken. "Yang lain yang tidak."
Pukul tujuh, rumah Husain sudah tahu.
Kalila turun ke bawah dan mendapati ruang tengah penuh orang. Bapaknya duduk di kursi rotan. Elo berdiri di dekat jendela, tangan di belakang punggung, wajahnya prihatin dengan takaran yang sangat pas. Sutini berdiri di ambang dapur, memilin ujung kerudungnya. Pak Adi berdiri di tengah, masih pakai seragam semalam, kepalanya menunduk.
"Ada apa ini?" tanya Kalila.
"Barang hilang," kata Elo. "Dari kamar belakang."
"Barang apa?"
"Itu dia, Nona." Elo mengangkat kedua tangan sedikit, gerakan orang yang menyerah pada kenyataan. "Yang hilang itu barang yang seharusnya memang tidak ada di rumah ini. Alat perekam. Sama buku catatan jaga."
"Kalau memang tidak boleh ada, kenapa hilangnya jadi masalah?"
Elo tersenyum, dan Kalila melihat sesuatu berkedip di mata lelaki itu. Senang. Cuma seperseratus detik, tapi ada.
"Karena artinya penjagaan malam di rumah ini tidak pernah tercatat, Nona," kata Elo. "Buku jaganya hilang. Jadi kita tidak tahu Pak Adi semalam benar-benar jaga atau tidak. Tidak ada buktinya. Padahal beliau dibayar untuk itu."
Kalila menoleh ke bapaknya. "Pak, ini dibalik-balik namanya."
Tuan Husain menggosok pelipisnya. "Adi. Kamu semalam di mana saja?"
"Di lorong, Tuan. Dua kali ke belakang, sebentar."
"Kamu tinggalkan posmu."
"Manusia, Tuan," kata pak Adi pelan. "Saya juga buang air."
"Lima menit itu cukup buat orang masuk dan keluar," kata Elo, tenang. "Saya tidak menuduh Bapak mencuri. Saya cuma bilang Bapak lalai. Dan kelalaian di rumah yang ada dua anak gadis itu bukan perkara kecil, Tuan."
Kalila merasa darahnya naik ke telinga. "Yang punya kunci laci itu cuma pak Adi. Lacinya tidak dicongkel. Artinya orang yang ambil bisa membuka tanpa merusak. Kenapa tidak ada yang tanya kenapa?"
Sunyi sebentar.
"Kunci laci meja seperti itu dijual di pasar, Nona," kata Elo. "Semua sama. Anak kecil juga bisa."
"Bapak tahu banyak soal kunci."
"Saya kepala umum," kata Elo. "Kunci itu bagian pekerjaan saya."
Ia tidak membentak. Ia tidak sekali pun meninggikan suara. Justru itu yang membuat Kalila merasa seperti sedang mendorong tembok yang dilapisi kain.
Tuan Husain berdiri. "Adi, mulai malam ini kamu di pos depan. Tidak usah di dalam."
"Pak!"
"Kalila, cukup."
"Pak, kalau pak Adi di depan, lorong kamarku kosong."
"Ada pagar. Ada gembok. Ada anjing tetangga." Bapaknya berjalan ke tangga, lalu berhenti dan menoleh, dan untuk sesaat wajahnya kelihatan seperti bapak, bukan seperti pemilik perusahaan. "Bapak lakukan ini justru supaya kamu aman, Kalila. Kamu yang tidak mengerti."
Ia naik. Empat belas anak tangga. Bunyi kayu yang berderit di anak tangga kesembilan, seperti biasa.
Pak Adi masih berdiri di tengah ruangan, seperti orang yang lupa caranya duduk.
"Pak, duduk dulu."
"Tidak apa-apa, Non."
"Pak Adi." Kalila menarik kursi rotan mendekat. "Duduk."
Lelaki itu duduk di ujung kursi, punggungnya tidak menyentuh sandaran. Tangannya besar dan pecah-pecah, telunjuknya kuning kena rokok murah. Umurnya lima puluh lebih, tapi pagi ini kelihatan tujuh puluh.
"Saya tiga puluh tahun jaga, Non," katanya pelan. "Pabrik, ruko, sekolah. Belum pernah sekali pun ada yang bilang saya lalai."
"Saya tahu, Pak."
"Anak saya dua. Yang bungsu masih SMP." Ia menggosok lututnya. "Kalau nama saya kotor, saya susah dapat kerja lagi. Orang jaga itu jualannya cuma satu, Non. Nama."
Kalila menelan sesuatu di tenggorokannya. "Pak, saya minta maaf."
"Kenapa Non yang minta maaf?"
"Karena yang menyusahkan Bapak ini urusan keluarga saya," kata Kalila. "Bapak cuma kebetulan berdiri di tempat yang salah."
Pak Adi menggeleng pelan. "Bukan kebetulan, Non. Saya berdiri di situ karena Pak Ken yang minta. Dan saya mau, karena saya sudah lihat sendiri orang itu ngapain kalau Non lewat lorong."
Kalila mengangkat wajahnya cepat. "Bapak lihat apa?"
"Nanti saja," kata pak Adi. "Kalau nanti ada yang mau mencatat, saya cerita. Kalau cuma buat ribut di ruang tamu, percuma."
Elo pamit dengan sopan, mengangguk ke Kalila, lalu keluar. Dari jendela, Kalila melihat lelaki itu berhenti sebentar di halaman, menyalakan rokok kretek, dan menghisapnya sekali sebelum masuk mobil.
Kretek.
Kalila berbalik dan berjalan cepat ke gudang belakang.
Ruangan itu sempit, pengap, bau kardus dan minyak rem. Ia berdiri di tengahnya dan memutar badan pelan-pelan, memaksa dirinya melihat, bukan sekadar memandang. Meja kayu. Laci setengah terbuka. Termos. Sandal jepit pak Adi yang solnya sudah tipis.
Jendela.
Jendela kecil di atas meja, setinggi dada, menghadap ke samping rumah. Kalila mendekat. Kusennya berdebu, tapi debunya tidak rata: ada bagian yang bersih memanjang, selebar telapak tangan. Di sudut kusen ada abu. Sedikit. Warna kelabu, halus, sudah pecah jadi serbuk.
Ia mengendus. Bau tembakau dan cengkeh, samar, tapi ada.
Kalila menggeser daun jendela. Bergerak tanpa bunyi sama sekali. Ia menutupnya, membukanya lagi. Tetap tanpa bunyi. Ia meraba engselnya, dan jarinya kembali licin.
Ada yang meminyaki engsel jendela ini. Baru.
"Kak."
Rania ada di ambang pintu, tidak bisa masuk karena ada tinggian sepuluh senti di lantai gudang. Ia berhenti di garis itu, seperti biasa, dan seperti biasa tidak berkomentar soal itu.
"Rania, sini lihat—"
"Kak, aku mau cerita dulu. Sebelum aku berubah pikiran."
Sesuatu di suara adiknya membuat Kalila berhenti.
"Semalam sebelum kejadian ini," kata Rania, "aku lihat Bik Sutini di ruang kerja bapak. Jam sepuluh lebih. Dia tukar isi map. Ambil satu lembar dari map hijau, taruh yang lain, terus map hijaunya dia rapikan lagi seperti tidak ada apa-apa."
Kalila merasa dadanya turun.
"Dia lihat kamu?"
"Tidak. Tidak ada yang lihat aku, Kak." Rania tersenyum, tapi tidak ada senangnya di sana. "Itu untungnya jadi orang yang cuma dianggap duduk di sudut. Orang mengobrol di depanku seperti aku bagian dari sofa."
Sutini sedang mengulek sambal ketika mereka masuk dapur. Bau terasi dibakar dan cabai memenuhi ruangan. Perempuan itu mendongak, dan begitu melihat wajah Kalila, tangannya berhenti.
"Bik," kata Kalila. "Semalam Bibi di ruang kerja bapak."
Ulekan itu diletakkan pelan-pelan. Sutini mengusap tangannya ke lap, dua kali, tiga kali, padahal sudah kering.
"Iya," katanya.
"Bibi ambil apa?"
"Saya tidak ambil, Non." Mata Sutini merah dalam sepuluh detik. "Saya kembalikan."
"Kembalikan apa?"
"Lembar absen jaga bulan lalu." Sutini menarik napas panjang. "Kemarin sore Pak Elo minta saya bawa map hijau ke ruang depan. Katanya mau difotokopi. Saya bawa. Waktu saya taruh kembali, ada satu lembar yang beda, Non. Tulisannya bukan tulisan Pak Adi. Nama Pak Adi ada di kolom yang salah, di malam yang beliau justru libur."
Kalila merasa dingin merambat dari tengkuk ke bawah.
"Bibi yakin?"
"Saya yang cuci seragam Pak Adi, Non. Saya hafal malam mana beliau pulang." Sutini menunduk. "Saya ambil lembar palsu itu, saya taruh lembar aslinya balik. Aslinya saya simpan di dalam kaleng biskuit di bawah kompor. Saya tidak berani lapor. Saya cuma pembantu. Kalau saya lapor, yang dipercaya siapa?"
Sunyi. Cuma ada bunyi minyak menetes dari wajan.
"Bik," kata Rania dari kursinya, "kaleng biskuitnya jangan dipindah. Dan mulai sekarang kalau Bibi lihat apa-apa, bilang ke aku. Aku tulis tanggalnya."
Sutini menatap gadis itu, lalu mengangguk cepat-cepat, seperti orang yang baru saja diberi pekerjaan yang ia mengerti.
Sore harinya Rania memanggil kakaknya ke kamar dan menutup pintu.
"Kak, kita salah kalau menyimpan semuanya di rumah ini."
"Aku tahu."
"Aku sudah pikirkan." Rania mengeluarkan tiga amplop cokelat dari laci meja belajarnya. "Yang asli aku salin dengan tangan. Salinannya yang tinggal di sini. Jadi kalau nanti hilang, mereka pikir sudah dapat semuanya."
"Yang asli?"
"Kita titipkan ke luar rumah."
"Ke siapa?"
"Bu Ratih. Guru les-ku dulu, rumahnya tiga gang dari sini." Rania menutup lacinya. "Dia tidak ada hubungan apa pun sama perusahaan, dan dia masih sakit hati sama Pak Elo sejak urusan sumbangan sekolah dulu. Dua alasan itu cukup."
Kalila memandangi adiknya lama sekali.
"Rania."
"Apa?"
"Kamu ini sebenarnya kenapa baru sekarang begini?"
Rania mengangkat bahu, dan senyumnya miring lagi. "Karena baru sekarang ada yang bertanya."
Malam itu Kalila menyelinap ke pagar depan. Ken sudah di sana, berdiri, tidak lagi pura-pura membaca koran.
"Perekamnya hilang," kata Kalila.
"Aku sudah dengar."
"Ken, aku menemukan abu rokok di kusen jendela gudang. Kretek. Dan engselnya baru diminyaki."
Ken diam sebentar. Angin membawa bau melati dan bau got yang baru dikuras.
"Bagus," katanya akhirnya.
"Bagus?"
"Orang yang cuma memfitnah tidak perlu meminyaki engsel," kata Ken. "Yang meminyaki engsel itu orang yang sudah merencanakan jalan masuknya seminggu sebelumnya. Artinya dia bukan sedang marah, Kalila. Dia sedang bekerja."
Kalila memegang jeruji pagar. Besinya dingin.
"Terus kita bagaimana?"
"Aku punya salinannya," kata Ken pelan. "Satu pita saja, tapi ada."
Kalila mengangkat wajahnya cepat. "Kamu serius?"
"Aku bawa ke kantor besok pagi. Bapakmu harus dengar sendiri, bukan dari mulutku." Ken menatapnya. "Jam sembilan aku dipanggil menghadap."
"Dipanggil? Siapa yang panggil?"
"Suratnya ditandatangani bapakmu," kata Ken. "Tapi yang mengetik bukan bapakmu."
Bersambung.