Pagi itu Kalila tidak ada di rumah, dan itu bukan kebetulan.
Jam tujuh kurang, Sutini mengetuk kamarnya dengan wajah bingung. "Non, kata Tuan, Non Kalila hari ini antar Non Rania terapi. Ganti sopir. Sopirnya disuruh ke gudang."
"Terapi Rania hari Kamis."
"Katanya dimajukan."
Kalila berdiri di tengah kamar dengan sikat gigi di tangan, dan untuk beberapa detik ia betul-betul mempertimbangkan untuk menolak. Tapi Rania memang butuh diantar, dan ia tidak mungkin menjadikan adiknya alat tawar-menawar. Jadi ia pergi.
Di klinik, Rania menatapnya dari atas matras. "Kak, kamu dari tadi lihat jam terus."
"Tidak."
"Delapan kali. Aku hitung."
Kalila menaruh tangannya di pangkuan. "Ken menghadap bapak jam sembilan."
"Terus kenapa kita di sini jam sembilan?"
Mereka berdua diam. Terapisnya menghitung sampai sepuluh, menyuruh Rania menahan, melepas. Kipas angin di sudut berputar dan berbunyi klik setiap kali kepalanya sampai di ujung.
"Kak," kata Rania akhirnya, "yang dipindah hari ini bukan rapat. Yang dipindah kita."
Mereka sampai rumah pukul empat sore.
Kalila tahu sebelum mobil berhenti.
Pos jaga di depan pagar kosong. Bukan kosong seperti orangnya sedang ke belakang. Kosong seperti ditinggalkan. Kursi plastik hijau yang biasanya dipakai Ken untuk mengawasi dari seberang sudah tidak ada di bawah pohon asam. Motor butut itu tidak ada. Jaket hitam yang biasa disampirkan di pagar tidak ada. Di tanah cuma tinggal bekas standar motor, dua lubang kecil, dan puntung-puntung yang sudah disapu bersih oleh seseorang yang rajin.
Kalila keluar dari mobil dan berdiri di jalan.
"Ken?"
Tidak ada.
Ia masuk. Rumah bau kaldu ayam dan lantai basah. Sutini muncul dari dapur sambil membawa lap, dan begitu melihat Kalila, perempuan itu langsung menangis, tanpa suara, cuma bahunya yang naik turun.
"Bik."
"Pak Ken diberhentikan, Non."
Kalila mendengar kalimat itu, dan anehnya yang pertama datang bukan sedih. Yang datang adalah tenang yang aneh, dingin, seperti suara di dalam kepalanya mundur satu langkah dan mulai mencatat.
"Kapan."
"Jam sepuluh tadi. Sudah keluar dari pagar jam sebelas."
"Alasannya?"
Sutini menunduk. "Katanya bawa alat perekam ke dalam rumah majikan tanpa izin. Katanya melanggar kepercayaan."
Kalila tertawa. Satu kali, pendek, dan bunyinya sendiri membuatnya kaget.
"Alat yang hilang," katanya. "Dia dipecat gara-gara alat yang hilang dan tidak bisa siapa pun buktikan isinya."
"Non—"
"Bapak di atas?"
Kalila naik tanpa menunggu jawaban.
Di anak tangga keempat ia berpapasan dengan angin dari jendela atas, bau hujan yang belum juga turun. Di anak tangga kesembilan, kayunya berderit seperti biasa. Ia berhenti sebentar di situ, memegang pegangan tangga, memaksa napasnya melambat.
Di meja kecil depan ruang kerja ada map yang belum ditutup. Kalila melihatnya sekilas waktu lewat, lalu mundur satu langkah dan melihatnya lagi.
Surat pemberhentian. Diketik rapi. Satu halaman saja.
Ia membacanya sambil berdiri, cepat-cepat, telinganya memasang jaga ke arah pintu. Tanggal hari ini. Nomor surat. Alasan: membawa peralatan perekam ke dalam kediaman tanpa izin tertulis, dan menempatkan personel di dalam rumah di luar prosedur yang berlaku.
Di bawah kanan, tanda tangan bapaknya. Tinta biru. Agak miring, seperti ditulis buru-buru.
Di pojok kiri bawah, huruf kecil-kecil yang hampir tidak kelihatan: disiapkan oleh Bagian Umum.
Kalila menaruh map itu kembali persis seperti semula, sudutnya sejajar dengan tepi meja, dan sadar tangannya sudah dingin.
Pintu ruang kerja terbuka. Tuan Husain berdiri di depan jendela, memunggungi pintu, memandangi jalan yang sekarang tidak ada siapa-siapa di seberangnya. Di meja ada map plastik biru. Selalu map itu.
"Bapak memecat Ken."
"Duduk dulu."
"Bapak memecat Ken dan menyuruh aku pergi supaya aku tidak ada di sini."
Tuan Husain berbalik. "Kalila."
"Aku benar, kan?" Suara Kalila bergetar, dan ia benci itu. "Terapi Rania hari Kamis, Pak. Bapak pikir aku tidak tahu jadwal adikku sendiri?"
Bapaknya menghela napas dan duduk. Ia kelihatan kecil di kursi besar itu.
"Bapak tidak mau ada keributan di depan orang banyak."
"Jadi lebih baik aku tahu belakangan."
"Lebih baik kamu tidak menonton bapakmu dipermalukan," kata Tuan Husain, dan untuk pertama kalinya suaranya ikut naik. "Kamu tahu apa yang Ken bawa ke meja bapak tadi pagi? Pita rekaman. Dia bilang, Tuan, dengarkan dulu. Di rumah bapak sendiri, ada orang yang merekam pembicaraan orang-orang bapak, dan minta bapak duduk mendengarkan seperti pesakitan."
"Bapak dengarkan tidak?"
Hening.
"Bapak dengarkan tidak, Pak?"
"Tidak," kata Tuan Husain. "Bapak tidak mau jadi orang yang menghakimi anak buahnya dari rekaman gelap."
Kalila memejamkan mata sebentar. Ada rasa ingin menjerit yang harus ia telan bulat-bulat.
"Pak," katanya, sepelan yang ia bisa, "Bapak baru saja memecat satu-satunya orang yang berdiri di antara aku dan Elo. Dan Bapak melakukannya karena laporan Elo."
"Elo sudah dua belas tahun di perusahaan bapak."
"Dan aku dua puluh dua tahun jadi anak Bapak."
Tuan Husain menatap putrinya. Rahangnya bergerak. Ada yang mau keluar dari mulut lelaki itu, Kalila melihatnya, tapi yang keluar akhirnya cuma satu kalimat.
"Perusahaan ini nyaris tutup dua tahun lalu, Kalila. Kamu tidak tahu."
"Aku tidak tahu karena tidak pernah diberi tahu," kata Kalila. "Itu bukan salahku."
Bunyi roda di lantai kayu.
Rania di ambang pintu. Ia tidak bisa masuk lebih jauh; ada satu tinggian kecil di kusen, dua senti saja, tapi dua senti itu cukup. Jadi ia berhenti di sana, seperti selalu, lalu mengulurkan tangan.
"Pak. Ambil ini."
Tuan Husain berdiri dan mengambil kertas itu. Selembar, ditulis tangan, rapi.
"Apa ini?"
"Tanggal," kata Rania. "Lima tanggal rapat yang dipindah ke lantai dua. Di sebelahnya, topik rapatnya. Di sebelahnya lagi, siapa yang mengusulkan pindah." Ia menahan napas sebentar. "Bapak boleh tidak percaya sama rekaman. Boleh. Tapi ini tulisan tangan anak Bapak sendiri, dan ini cuma tanggal. Tanggal tidak bisa bohong, Pak."
Tuan Husain memandangi kertas itu lama sekali. Terlalu lama untuk orang yang cuma membaca lima baris.
"Bapak pikirkan," katanya akhirnya.
"Jangan pikirkan," kata Rania. "Hitung."
Ia memutar kursinya dan pergi.
Kalila tidak langsung menyusul. Ia berdiri di tengah ruangan itu bersama bapaknya, dan untuk beberapa saat yang terdengar cuma jam dinding.
"Pak."
"Hm."
"Waktu ibu masih ada," kata Kalila, "Bapak pernah bilang, rumah ini boleh berantakan, boleh bocor, boleh apa saja. Asal jangan ada yang takut di dalamnya."
Tuan Husain tidak menjawab.
"Aku takut, Pak."
Bapaknya menoleh cepat, dan Kalila melihat sesuatu retak di wajah lelaki itu, cuma sekejap, sebelum ditutup lagi.
"Takut sama siapa?"
Kalila tidak langsung menjawab. Ia memberi bapaknya waktu penuh sepuluh detik untuk menebak sendiri. Sepuluh detik itu lewat, dan tidak ada apa-apa yang datang.
"Kalau Bapak sampai harus bertanya," katanya pelan, "berarti Bapak sudah tahu jawabannya dan cuma tidak mau menyebutkan namanya."
Ia keluar. Pintunya tidak ia banting. Justru ia tutup pelan sekali, dan entah kenapa itu terasa jauh lebih keras.
Malamnya rumah terasa salah. Bukan sepi. Salah. Lorong depan kamar Kalila kosong; tidak ada bunyi kursi lipat yang digeser, tidak ada batuk kecil pak Adi jam dua pagi, tidak ada bayangan orang yang lewat di celah bawah pintu.
Pak Adi masih ada, tapi di pos depan sekarang, jauh, di balik dua pintu dan satu halaman.
Kalila turun jam sembilan malam dan menemukan lelaki tua itu duduk di kursi plastik di pos, memandangi jalan.
"Pak."
"Non Kalila." Pak Adi berdiri buru-buru.
"Duduk saja, Pak. Saya cuma mau tanya. Pak Ken tadi pamit apa?"
Pak Adi menggaruk lehernya. "Tidak banyak, Non. Beliau salaman sama saya. Terus bilang, Pak Adi tetap jaga, jangan berhenti, gaji Bapak saya yang tanggung."
Kalila menunduk supaya wajahnya tidak kelihatan.
"Terus?"
"Terus beliau titip ini." Pak Adi merogoh kantong dan mengeluarkan sesuatu, lalu meletakkannya di tangan Kalila.
Bukan surat. Bukan pesan.
Sebuah mangga. Kecil, hijau kekuningan, kulitnya masih ada bekas getah kering di dekat tangkainya. Baunya manis dan tajam, wangi yang langsung membuat mulut berair.
"Beliau bilang apa waktu kasih ini?"
"Beliau bilang, kasih ke Nona. Terus bilang, yang seperti ini di tempat saya ada dua ratus pohon." Pak Adi mengangkat bahu, bingung. "Saya tidak paham maksudnya, Non."
Tapi Kalila paham.
"Pak," katanya, "Pak Adi tahu tempatnya?"
"Tahu sedikit. Kebun mangga, arah selatan. Kilometer tujuh, belok kanan sesudah jembatan kecil, jalan tanah. Kata beliau tanya saja Bibi Mai, semua orang situ tahu."
Kalila menggenggam mangga itu dengan dua tangan.
"Pak Adi," katanya. "Bapak masih mau jaga di sini?"
"Masih, Non."
"Walaupun Bapak sudah dipindah ke depan? Walaupun nama Bapak sudah dikotori orang?"
Lelaki itu memandangi jalan yang gelap. Ada bunyi jangkrik. Ada suara televisi tetangga, samar, iklan sabun.
"Non," katanya, "saya ini cuma orang jaga. Saya tidak bisa lapor polisi, tidak bisa bicara di rapat, tidak bisa apa-apa." Ia mengangkat bahu. "Yang bisa saya lakukan cuma satu: berdiri di tempat saya sampai ada yang menggantikan. Kalau saya ikut pergi malam ini, di rumah ini tidak ada satu pun orang yang melek."
Kalila mengangguk. Tenggorokannya sakit.
"Terima kasih, Pak."
Di kamarnya, ia menaruh mangga itu di meja, di samping jam weker. Ia mematikan lampu dan berbaring, dan lewat celah gorden ia melihat pohon asam di seberang jalan. Kosong. Tidak ada motor. Tidak ada bara rokok yang menyala redup lalu padam.
Selama tiga minggu ini, tanpa pernah ia akui pada dirinya sendiri, ia selalu tidur dengan cara yang sama: melirik ke seberang dulu, memastikan ada orang di sana, baru memejamkan mata.
Malam ini tidak ada.
Kalila memandangi langit-langit sampai jam satu. Bau mangga memenuhi kamar, manis, keras kepala.
Jam setengah lima, sebelum azan, ia sudah bangun dan memasukkan kerudung, dompet, dan botol air ke dalam tas.
Bersambung.