Semalam hujan, jadi pagi itu seluruh kaca berembun dari dalam.
Ruang kaca di ujung kebun itu tidak besar. Enam langkah kali sepuluh langkah, rangka besi yang catnya sudah dua lapis, atap kaca yang di sudut timurnya baru diganti minggu lalu dan warnanya masih terlalu bening dibanding yang lain. Rak bibit didorong ke dinding. Peti-peti kayu dikeluarkan dan disusun di luar jadi tempat duduk. Lantai semennya disapu dua kali, lalu dipel, lalu ditaburi apa pun yang jatuh dari pohon di atasnya dalam sepuluh menit berikutnya.
Baunya bercampur: bunga mangga, semen basah, dan kopi dari termos Bibi Mai.
Kalila datang pukul tujuh, memakai kebaya putih tulang yang dijahit tukang jahit langganan ibunya dulu, tanpa payet, tanpa apa pun yang berkilau. Rambutnya disanggul rendah. Di pergelangannya cuma jam tangan biasa.
"Kakak," kata Rania dari pintu. "Sini dulu. Ada yang harus kamu lihat."
Di depan pintu ruang kaca ada undakan setinggi dua puluh senti. Kemarin sore Bibi Mai dan anak-anaknya memasang papan miring dari kayu peti.
"Bagus, kan?" kata Bibi Mai bangga.
"Terlalu curam," kata Rania. "Kalau aku naik sendiri, aku terguling ke belakang. Kalau didorong orang, yang mendorong yang encok."
"Aduh, Non, maaf."
"Tidak usah maaf, tinggal diperbaiki." Rania mengeluarkan kertas dari pangkuannya, sudah ada gambarnya, sudah ada angkanya. "Panjangnya harus tiga kali tingginya. Jadi enam puluh senti tingginya dua puluh, papannya minimal enam puluh. Kita punya papan sisa berapa?"
Dalam empat puluh menit, dua anak muda dan satu gergaji menyelesaikannya. Rania naik sendiri, turun sendiri, naik lagi.
"Sekarang boleh mulai," katanya.
Yang datang tidak sampai dua puluh orang.
Keluarga Bibi Mai, semuanya, sampai yang paling kecil yang terus-terusan menempelkan telapak tangan ke kaca berembun dan menggambar wajah. Pak Adi dengan istrinya, memakai batik yang sama, jelas dibeli sepasang. Tuan Husain duduk di peti paling depan, punggungnya tegak, tangannya di lutut.
Dan di baris belakang, dengan tas selempang yang sama, Dini.
"Saya kaget diundang," katanya waktu Kalila menghampirinya.
"Yang mengundang saya," kata Rania dari sebelah. "Dan saya tidak menerima penolakan."
Dini mengeluarkan bungkusan dari tasnya. Kertas kado polos, direkat selotip terlalu banyak.
"Bukan barang mahal, Bu," katanya. "Saya bingung mau kasih apa."
Kalila membukanya di situ juga. Sebuah buku tulis tebal, bersampul karton biru, dijilid benang. Halamannya kosong semua, bergaris, dengan kolom sempit di sisi kiri untuk tanggal.
Tenggorokan Kalila langsung tercekat.
"Bu Dini."
"Yang dulu itu buat mencatat yang jelek-jelek," kata Dini cepat, seperti takut kalimatnya jadi terlalu besar. "Yang ini buat mencatat yang baik-baik. Panen berapa peti. Hujan hari apa. Begitu-begitu saja. Kalau tidak dicatat, besok jadi cerita, dan cerita bisa diubah orang."
Penghulu datang pukul delapan lewat sepuluh, memakai peci, membawa map dan bolpoin yang tintanya macet sehingga harus dicoret-coret dulu di sudut kertas.
Ken sudah berdiri di depan sejak setengah jam sebelumnya. Kemeja putih. Rambut disisir dan tetap tidak mau rapi di satu bagian. Tangannya, yang selama tujuh tahun Kalila lihat tenang di setang motor dan di kusen jendela, hari ini tidak bisa diam sama sekali.
"Gemetar," bisik Rania.
"Aku lihat," bisik Kalila.
"Kakak juga."
"Aku tahu."
Tuan Husain duduk menghadap Ken, sebagai wali. Ia sudah dua kali melakukan ini untuk anak yang sama, dan dua-duanya untuk laki-laki yang ia pilih sendiri.
Sebelum mulai, ia menoleh ke Kalila.
"Kamu mau Bapak yang menikahkan?" tanyanya, pelan, cuma untuk mereka bertiga. "Kalau kamu mau orang lain, Bapak tidak akan sakit hati."
Kalila memandang ayahnya. Rambut di pelipis laki-laki itu sudah putih semua sekarang.
"Bapak," katanya. "Kali ini bukan Bapak yang memilih. Tapi tetap Bapak yang menikahkan."
Tuan Husain mengangguk cepat-cepat, lalu menghadap ke depan lagi dan membetulkan letak kopiahnya dua kali.
Akadnya sebentar sekali.
Satu tarikan napas, satu kalimat, dan Ken mengucapkannya tanpa putus, suaranya lebih keras dari yang ia perlukan, seperti orang yang takut kalau pelan nanti tidak dihitung.
"Sah?"
"Sah."
Anak-anak Bibi Mai bertepuk tangan paling keras, dan yang paling kecil ikut bertepuk tanpa tahu untuk apa. Tuan Husain menunduk lama sekali, lalu mengusap mata dengan punggung tangan, lalu berpura-pura ada yang masuk ke matanya.
Tidak ada pelaminan. Tidak ada organ tunggal. Tidak ada fotografer, kecuali keponakan Bibi Mai yang memegang telepon dengan dua tangan dan lupa menekan tombolnya di detik yang penting.
Cincinnya sederhana, dibeli di toko emas pasar kecamatan, dan waktu Ken memasukkannya ke jari Kalila, benda itu tersangkut di buku jari dan mereka berdua harus mendorongnya bersama-sama sambil menahan tawa.
Lalu Kalila berkata, "Sebentar."
Semua diam.
Ia mengeluarkan sesuatu dari lipatan selendangnya. Kertas kecil, terlipat empat, sudah lunak di garis-garis lipatannya karena terlalu sering dibuka, dengan satu sudut yang menguning dan satu bekas cincin gelas di pojok bawah.
Ken melihat kertas itu, dan seluruh wajahnya berubah.
"Kamu masih simpan," katanya.
"Kamu pikir aku buang?"
"Aku pikir kamu lupa."
Kalila menoleh ke orang-orang di peti kayu.
"Saya mau bacakan sesuatu," katanya. "Supaya ada yang mendengar selain saya."
Ia membuka lipatannya pelan-pelan, hati-hati di bagian yang sudah mau sobek.
"Ini ditulis bertahun-tahun yang lalu," katanya. "Waktu itu hujan besar dan saya baru pulang dari kantor ayah saya, dan saya sedang sangat marah pada semua orang laki-laki di dunia. Kami berteduh di ruang kaca yang lama, yang atapnya bocor itu."
Ia menoleh sebentar ke Ken. Laki-laki itu memandangi lantai semen.
"Dia bilang satu kalimat," lanjut Kalila. "Saya bilang itu terlalu kecil. Lalu saya sadar itu justru satu-satunya hal yang tidak pernah saya dapat dari siapa pun."
Ia mengangkat kertasnya supaya orang di belakang bisa melihat.
"Saya tidak punya buku waktu itu. Yang ada cuma nota pembelian pupuk dari meja Bibi Mai. Saya tulis di baliknya, pakai pensil tukang yang gepeng, tangan saya gemetar jadi hurufnya jelek. Terus saya suruh dia tanda tangan."
Ada yang tertawa kecil di belakang. Lalu diam lagi.
"Kenapa disuruh tanda tangan, Neng?" tanya seseorang.
"Supaya kalau dia langgar, saya punya buktinya."
Kali ini tawanya lebih banyak. Ken masih memandangi lantai, tapi telinganya merah.
Kalila memiringkan kertas itu ke arah cahaya. Kertas kuning kasar, sudah lunak di garis lipatannya, dengan angka-angka harga pupuk yang masih terbaca samar di sisi sebelah sana.
Ia membacanya keras-keras.
"Aku tidak akan pergi tanpa memberitahumu ke mana."
Angin menggerakkan pohon di atas atap kaca dan sisa air hujan semalam jatuh berhamburan di atas mereka, berbunyi seperti kerikil.
"Itu saja," kata Kalila. "Satu baris. Tidak ada janji akan membelikan rumah, tidak ada janji akan menjaga saya seumur hidup, tidak ada janji akan mati untuk saya."
Ia melipat kertas itu kembali, di garis yang sama.
"Selama bertahun-tahun ada orang yang mengurus hidup saya seperti mengurus barang," katanya, dan suaranya rata sekali karena kalau tidak rata ia akan hancur. "Dia yang mengatur siapa yang boleh dekat. Dia yang membuat laporan hilang. Dia yang memutuskan siapa yang berhenti bernapas. Semua dia lakukan sambil bilang itu demi saya."
Tuan Husain menunduk lebih dalam.
"Jadi buat saya," kata Kalila, "satu baris ini lebih besar dari seluruh pesta di kota."
Ia menoleh ke Ken.
"Aku juga mau menulis punyaku," katanya. "Boleh?"
Ken mengangguk. Ia tidak bisa bicara.
Bolpoin penghulu yang tintanya macet dipinjamkan lagi, dicoret-coret lagi di sudut, lalu diserahkan. Kalila menaruh kertas itu di atas peti kayu, membaliknya, dan menulis di belakangnya sambil berdiri, dengan tulisan yang lebih kecil dan lebih rapi.
Lalu ia mengangkatnya dan membaca.
"Aku memilih, dan yang aku pilih kamu."
Ken menutup mata sebentar. Waktu ia membukanya, ia mengambil kertas itu dari tangan Kalila, melipatnya empat kali di garis yang sudah ada, dan memasukkannya ke saku kemeja, di sisi kiri.
"Di situ nanti keringatan," kata Kalila.
"Biar," kata Ken.
Makan siangnya nasi liwet dari dua kastrol besar, ayam kecap, sambal terasi, dan mangga muda diiris tipis dicocol garam sampai anak-anak menjerit kepedasan dan meminum teh yang masih panas dan menjerit lagi.
Tidak ada sambutan. Tidak ada yang berdiri untuk berpidato.
Kecuali Rania, yang mengetuk gelas belimbing dengan sendok satu kali.
"Aku cuma mau bilang satu hal," katanya. "Kakak menikah tiga kali. Dua yang pertama bukan salahnya dan bukan salah mereka. Kalau nanti ada orang di pasar bicara soal itu di belakang, tolong dibetulkan. Bukan nasib. Bukan kutukan. Ada orangnya, dan orangnya sudah dihukum."
Ia duduk lagi dan meneruskan makan.
Bibi Mai mengusap mata dengan ujung kerudung, lalu langsung sibuk menambah nasi ke piring orang-orang, karena begitu caranya bertahan.
Sorenya tamu pulang bergantian. Motor-motor menyalakan lampu di jalan setapak. Dini pamit paling awal karena harus mengejar bus terakhir, dan Kalila menitipkan dua peti mangga untuk anaknya di rumah.
Pukul enam, tinggal mereka berdua di kebun.
Hujan mulai lagi, pelan, dan di dalam ruang kaca bunyinya menjadi sesuatu yang tidak ada di tempat lain: ribuan ketukan kecil di atas kepala, rapat, hangat, seperti berdiri di dalam kerang.
Kalila menyentuh rangka besi di sudut, yang catnya menggelembung sedikit.
"Faris marah-marah waktu memasang bagian ini," katanya. "Katanya kacanya meleset satu senti."
"Meleset memang," kata Ken. "Sampai sekarang."
"Kamu tidak perbaiki?"
"Tidak. Itu ukurannya dia." Ken berdiri di belakangnya, cukup dekat, tidak menyentuh. "Biar saja."
Kalila menoleh. Kaca di sekeliling mereka sudah gelap dan memantulkan wajah mereka berdua, dua bayangan yang bertumpuk di antara tetes-tetes air.
Ia mengulurkan tangan dan mematikan lampu petromaks di lantai.
Lalu ia menuntun laki-laki itu keluar, menyeberangi halaman yang basah, ke rumah kecil di seberang kebun tempat lampu terasnya sudah dinyalakan sejak sore.
Pintunya ditutup dari dalam.
Hujan turun lebih keras, keras di atap seng gudang dan lembut di atas daun, dan kebun itu gelap sepenuhnya kecuali satu jendela yang menyala kuning, lalu padam.
Bersambung.